Ulama Penjilat Memang Ada ?

18222418_1482439551787900_670597004008016640_n

MARI BERDOA UNTUK PARA ULAMA AGAR MENDAPAT HIDAYAH

18194111_1482439485121240_3154087562682265347_nBila tak mendapat hidayah dari AllahSwt, maka keluasan ilmu seseorang belum tentu menjadi liniar dengan keimanannya, dan dengan demikian akan mendatangkan sejumlah kontroversi  dan bahkan perpecahan dikalangaan ummat. Maka tugas kita sebagai Ummat adalah memahon kepada Allah agar ulama kita senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah, sebagai perbandingan dan antisipasi agar negeri Indonesia tercinta tetap kondusip. Marilah kita jadikan bandingan tulisan  Sufyan Jazairi merangkumnya secara apik dalam kitabnya yang berjudul  Ashnaful Ulama wa Aussafuhum, buku ini telah diterjemahkan oleh Muhammad  Syaefuddin dan Editor Yasir Amri, buku ini diterbitkan oleh Jazera Solo tahun 2011, 232 halaman (XXVIII)

Buku ini menjadi penting diterbitkan, kata penerbit adalah karena terdapat sejumlah orang yang terlanjur dikenal sebagai ulama, tetapi mereka ternyta tidak konsisten melaksanakan tugas sebagau ulama, tetapu justeru memusuhi ulama yang yang lain yang dikenal gigih melaksanakan missionnya sebagai ulama, berarti ada ulama yang konsisten dan ada ulama yang penjiolat dan menyaru sebagai ulama (hal Vl).  Firman Allah, “Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantara kalian dan orang orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Maidah 11)

Firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba hamaba-Nya hanyalah ulama” (Fatir 28)

Nabi bersabda,  “Yang akan membawa ilmu (agama) ini dari tiap generasi adalah orang yang adilnya.Mereka akan membersihkannya dari (1) penyelewengan orang orang yang berlebihan, (2) kedustaan ara pendusta, (3) dan takwil orang orang bodoh”

18221551_1482439411787914_6966365959691878741_nBuku ini menegaskan bahwa memang ada sejumlah orang yang berbaju ulama, bermerk sebagai ulama tetapi sesungguhnyamereka tidak lagi sepenuhnya mewarisi peninggalan Rasul, yakni Al-Quran dan sunnah, tetapi mereka beraktivitas yang kurang konsisten dan bahkan mereka mencari keuntungan dari stempel ulama yang mereka miliki, mereka lebih mendekatkan diri kepada penguasa dan pemilik modal, dan mereka tak segan segan memfatwakan sesuatu untuk keuntungan penguasa dan pemilik modal, walaupun jelas jelas bertentangan dengan apa yang digariskan dalam al-Quran dan sunnah.

Para Ulama dimusihi dan bahkan Diusir dari Negerinya.        Saikh Abu Muhammad Al Maqdisy, dipercayai menuliskan pengantar di buku ini, beliau banyak bercerita tentang nasib para ulama diberbagai negara terbelah, ada yang berjuang untuk Islam, dan juga yang merapat ke Penguasa dan Pemilik Modal, beliau menghabarkan  perkembangan terakhir diberbagai tempat ulama yang rabbani semakin langka, karena ulama yang ada mengalami, pembunuhan, pengusiran, pemenjaraan (kriminalisasi), pemboikotan dan pemerangan. Para ulama tidak lagi bebas menyhampaikan Risalah, manakala mereka melaksanakan dakwah dan pembinaan ummat, maka langsung majelis yang mereka bina melalui ceramah ceramag mereka, maka tak segan segan pihak untuk membubarkannya, ulama benar benar menjadi barang langka kata Syaikh Abu Muhammad Al Makdisy.

Lanjutkan membaca “Ulama Penjilat Memang Ada ?”

Islam Adalah Kekuatan Indonesia

Memang tak dapat dipungkiri bahwa Islam adalah kekuatan yang menakutkan bagi siapa saja yang ingin menguasai Indonesia, karena bagi pihak pihak yang berminat menguasai  Indonesia maka Islam Indinesia harus dilumpuhkan terlebih dahulu, keberhasila Isndonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah tak terlepas dari gigihnya ummat Islam mengusir penjajah, bukan berarti tak ada upaya dari pihak luar Islam, dipastikan ada, tetapi dari kuwantitas tentu dapat dihitung secara mudah. Dengan demikian manakala didada ummat Islam masih memiliki semangat juang mempertahankan Indonesia, adalah hal yang sangat mustahil bagi bangsa lain akan menguasai Indonesia dengan mudah.

Kepatuhan ummat Islam Indonesia kepada para ulama adalah kekuatan luar biasa, memang tidak mudah para ulama mengeluarkan komando kepada ummat, karena ulama sangat menghindari perpecahan, keuntungan dan kerugian sangat dipertimbangkan, para ulama umumnya mengharap jalan damai manakala ada perbedaan antar kelompok Warganegara Indonesia.

Dengan telah beredarnya investigasi murahan yang dilakukan oleh Alan Nairm dengan menggambarkan seolah olah ada upaya makar dan melibatkan TNI dalam hayalan dan fitnah Nairm itu. Namun demikian kebiadaban yang dilancarkan oleh Alan Nairm pasti adalah racun yang dapat memecahbelah bangsa. Maka dalam hal ini tentu saja kita kembali berharap kepada ulama untuk secara aktif melakukan upaya mempersatukan ummat.

Ulama diharapan melupakan perbedaan yang hanya bersifat furukiyah itu, satukan dan kuatkan ummat untu membela bangsa, karena Islam adalah pertahanan akhir yang dimiliki Indonesia. Lupakanlah berbagai perbedaan kecil, ada suatu tantang yang sangat mengancam kesatuan bangsa. Dan janganlah hendaknya ulama mengala kekliruan, justeru lebih mengobarkan kebencian antar sesama. Manakala itu yang terjadi maka akan dengan mudah bangsa luar akan menguasai Indonesia.

Peta Pemilih Pilkada DKI di Hari Hari Akhir.

Partai  biasanya yang membayar lembaga surey, sehingga hasil survey tidak jernih, tetap saja memihak kepada yang membayar, sehingga ada tradisi lembaga ini untuk membesar besarkan kememnangan yang sejatinya kecil, atau sebaliknya mengecilkan kemenangan yang besar. Tetapi konon lembaga survey serentak memberikan hasil kememangan kecil kepada Paslon Anies – Sandi dalam Pilkada DKI 19 April 2017, tetapi kenyataannya justeru kemenangan besar yang terjadi.

Dengan jernih Eep Syaifullah memberikan gambaran  tentang peta pemilih di Pilkada DKI, data ini dipastikan tidak diketemukan oleh para sureyor yang menyelenggarakan survey di hari hari terakhir, karena masyarakat DKI cukup banyak, sekitar 20% baru menetapkan pilihan justru pada saat minggu tenang, dan bahkan jumlah yang lebih kecil lagi ditetapkan pada hari H, dan jumlah itu adalah penentu kemenangan di Pilkada DKI 2017 pada tanggal 19 April yang lalu. Data ini didapatkan  dengan exit poll.

Walaupun sudah mulai samar diingatan kita tentang apa saja yang terjadi pada saat minggu tenang, hingga hahri H pelaksanaan pemungutan suara DKI, di mana sejumlah gerakan yang dilakukan  sebagai manuver akhir  cari simpati, dalam bentuk bagi sembako, serangan fajar dan juga entah apalagi yang biasanya dilakukan pada saat saat itu,  ternyata bahwa pada saat yang sama ada sekitar 20%  bahkan lebih pada saat itu sedang berfikir keras untuk menentukan pilihan, Dan jawaban dari itu semua adalah hasil pemungutan suara yang dimenangkan oleh pasangan Aris Sandi.

Segmen klas menengah ke atas secara pendidikan dan penghasilan justeru menentapkan pilihan pada minggu tenang dari hari pelaksanaan, 60% dinatara mereka ternyata memilih Anis – Sandi dan 30% memilih Basuki. Memang pada saat survey terakhir pendukung kedua Paslon terdapat mereka yang belum mantap dan masih memungkinkan untuk berubah. Mereka  10%  dari pendukung Ahok, masih menyatakan belum mantap, masih bisa berpindah dukungan atau mungkin juga Golput. dan  8% dari pendukung Anis Sandi juga menyatakan belum mantap, bisa berubah dukungan dan bahkan juga bisa Golput. Tetapi nampaknya itulah keputusan mereka, dan mereka itu semua menjadi penentu kemenangan dalam Pilkada DKI.

Nampaknya guyuran semabko tidak menyentuh sasaran, kalaupun ada junlahnya sedikit sekali dann tidak memiliki dampak yang siginifikan, karena justeru yang sedang berijtihad untuk menentukan pilihan adalah segmen kelas menengah keatas, mereka adalah 10% dari pendukung  Ahok – Jarot dan 8% dari pendukung Anis – Sandi. Kelas menengah keatas selain tidak  tersentuh guyuran sembako, mereka hampir dapat dipastikan adalah Pemilih yang perhiutungan dan analisis rasional.

SENSASI MURAHAN, Alan Nairm Ngaco ?

TNI BANTAH INVESTIGASI ALAN NAIRM SOAL RENCANA MAKAR

Sabtu, 22 April 2017 | 10:16:33

Jakarta (SIB) -Wartawan Alan Nairn meluncurkan tulisan investigasi mengenai rencana makar di Indonesia yang menyebut ada keterlibatan militer. TNI membantah mentah-mentah tulisan jurnalis asal negeri Paman Sam itu.

“Jadi mengenai tulisan Alan Nairn saya menyatakan yang berkaitan dengan TNI itu hoax,” kata Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto dalam perbincangan, Jumat (21/4).

Tulisan Nairn itu juga menyinggung mengenai keterlibatan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai salah satu pihak yang mendukung rencana makar.
Selain menepis tuduhan terhadap Gatot, Wuryanto ragu mengenai kebenaran kutipan narasumber yang menuduh Gatot itu.

“Kalau dikatakan bahwa Pak Kivlan Zein menyatakan soal Panglima, siapa yang menjamin bahwa Pak Kivlan menyampaikan hal itu,” kata Wuryanto.

Tulisan Alan Nairn dengan judul “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President” itu pertama kali diluncurkan di situs The Intercept. Tulisan itu kemudian diterjemahkan dan ditampilkan di situs berbahasa Indonesia, Tirto, dengan seizin Nairn.

Pihak yang mempunyai situs, yakni Tirto, sebelum mengangkat mengenai tulisan itu semestinya mengonfirmasi ke Panglima TNI atau paling tidak ke saya. Ini kan ada tuduhan sensitif,” sambung Wuryanto.

TNI, kata Wuryanto, tengah mempertimbangkan untuk mengajukan langkah hukum mengenai tulisan Nairn tersebut.

“Dalam waktu dekat kami akan mengambil langkah hukum. Kami akan melaporkan ke polisi,” ujar Wuryanto.

Dikonfirmasi secara terpisah, pemimpin redaksi Tirto, Sapto Anggoro, mengaku sudah menghubungi Mabes TNI mengenai artikel Alan Nairn yang dimuat ke media Tirto. Namun, redaksi Tirto baru mendapat respons dari Mabes TNI kemarin.

“Kita coba hubungi tapi baru bisa nyambung tadi siang. Semalam kita hubungi, nyambung ke Humas Mabes TNI tapi tidak mau memberikan tanggapan langsung karena Pak Wuryanto yang berhak memberikan pernyataan. Beliau di-SMS dan WA tidak menjawab, baru siang dapat konfirmasi,” ujar Sapto.

Sapto mengatakan, redaksi Tirto belum menerima surat keberatan dari Mabes TNI. Tirto mengaku siap jika Mabes TNI melakukan upaya hukum.

“Sekarang TNI mau melakukan tindakan hukum. Karena ini bagian dari proses liputan, kami tidak bermaksud jemawa. Kita akan menyiapkan diri apabila Mabes TNI melakukan upaya hukum,” ujar Sapto.

Mengenai tulisan Alan Nairn, redaksi Tirto mengatakan sudah mengantongi izin dari penulis yang bersangkutan sekaligus media The Intercept, media yang pertama kali memuat laporan orisinal Alan Nairn.

“Kita sebenarnya membaca tulisan itu menarik, kita terjemahkan dan minta izin The Intercept. Setelah kita tayangkan, semuanya dilakukan oleh Alan Nairn jadi dia yang lebih tahu, dia pertanggungjawabkan liputan tersebut,” jelas Sapto. (detikcom/l)

Dikutip dari hariansib.co

Pertimbangkan Untuk Tobat Nasuha

Setidaknya sekali seumur hidup, sempatkanlah untuk mendngarkan dengan segala kerendahan hati ceramah yang disampaikan oleh Ust. Chalid Basalam ini, siapa tahu kita mendapatkan ketetapan hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tulisan ini lebih ditujukan kepada Saudaraku teman Ahok yang bergama Islam, atau mereka yang dalam Pilkada DKI beberapa hari yang lalu terlanjur memilih Ahok. Dan juga ditujukan kepada pihak yang telah menganjurkan untuk memilih Ahok dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernyr DKI. Atau pihak lain yang sempat tak sependapat dengan beberapa ayat Al-Quran yang melarang memilih orang kafir untuk menjadi pimpinan sementara ada calon lainnya yang Muslim.

Ayat ayat yang melarang memilih orang kafir sebagai pimpinan sementara calon yang muslim ada, kesemuanya jelas dan tidak membutuhkan penafsiran, baca saja terjemahannya kita sudah mengerti apa maksudnya. Mereka yang mengatakan tidak boleh atau haram memilih pemimpin kafir dan meninggalkan orang Islam, bicara dengan mudah dan lurus, sementara pihak yang membolehkan memilih pemimpin kafir, walaupun dengan surat dan ayat yang sama, tetapi mereka dengan susah payah, yang terjemahan dibolak balik dan ditafsir tafsir sekehendak hati. Silakan baca lagi youtube mereka.

Pilihlah waktu yang paling, yang dapat membuat anda berfikir jujur,  evaluasilah ketika anda memilih atau menganjurkan orang untuk memilih Ahok, apakah anda memiliki alasan theologis, sesuai dengan aqidah keagaan Islam,  atau anda hanya memiliki alasan dan pertimbangan politis semata seperti demi Pancasila, UUD 1945, NKRI yang lazim diungkap para politisi, atau ditambah lagi dengan alasan keagamaan yang dicari cari, atau alasan keagamaan apa adanya.

Terkait kewajiban memilih  pimpinan Muslim, itu asemua jelas terjemahannya dan tak perlu menggunakan penafsiran,  tetapi ada satu dua ulama yang mencoba menterjemahkannya dengan versi lain yang kalkulasinya adalah boleh dan bahkan dianjurkan  memilih orang kafir menjadi pemimpin.  Pertimbangkanlah hal ini sejujur mungkin disaaat hati sedang lapang. Lalu simpulkan sendiri, apakah kita telah melawan al-Quran atau melaksanakan printah ajaran al-Quran.

Bila ternyata anda merasa telah melawan atau bertentangan dengan ajaran agama, maka bersegeralah melakukan taubatan nasuha, manakala anda belum tahu melaksanakan taubatan nasuha, maka tanyakanlah kepada mereka yang paham bagaimana cara bertaubat itu. Sebagai perbandingan bahwa Nabi Muhammad bertaubat setiap saat,  maka bandingkanlah, apakah anda termasuk diantara orang orang tang tidak mau bertaubat, dan merasa benar dengan apa yang telah kita lakukan.

Menakar Perjuangan Dengan Iman

Banyak mereka yang dikenal sebagai pakar pengamat politik yang mengatakan bahwa Pilkada DKI kali ini memiliki kualitas yang rendah, Pilkada dikatakan berkualitas rendah adalah jika pemilih tidak bebas memilih, sehingga hasil pemilihan tidak mewakili  aspirasi pemilih.  Lalu apakah pemilih Pilkada kali ini tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan.  Ternyata bukan, mereka bebas dalam memilih tetapi dalam waktu yang bersamaan, sebagai akibat ucapan yang dianggap menista agama yang dilakukan oleh Ahok terkait al-maidah 51.

Karena Ahok dianggap telah menista agama, maka serentak menjawab dan membantah ucapan Ahok, mereka adalah Alim ulama, Kiyai, Ustadz, guru dan lain lain, rata rata mereka memiliki ummat binaan dalam jumlah yang banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Terbukti unjukrasa terkait Al-Maidah 51 yang dilaksanakan berjilid itu diikuti oleh ummat islam seindonesia, mereka adalah jama’ah dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan NTB serta berbagai kepulawan dan pulau pulau kecil lainnya.

Penyuaraan tentang al-Maidah 51 selalu disuarakan sejalan adanya gejala gejala Pemerintah bermain mata tentang terdakwa penista agama akan mendapatkan kebebasan atau setidak tidaknya hukuman yang sangat ringan. terkait hal ini maka semua yang memiliki panggung sebagai dai dan guru yang memiliki banyak jama’ah bertekad akan berjuang sehingga Pemerintah menegakkan hukium seadil adilnya, dan penista agama harus dihukum seberat beratnya.

Adalah keuntungan tersendiri bagi pasangan   Anies – Sandi  sebagai pesaing Ahok – Jarot  mereka tidak perlu menjelaskan tentang al-maidah 51, bahkan menyebut nyebutpun tidak. Dalam almidah 51 dikatakan : ” Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orabg orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin pemimpin(mu) sebagian mereka adalah  pemimpin bagi yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil  mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk  golongan mereka,  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zalim”

Tersangkup masalah pemilihan pemimpin dalam surat itu setidaknya ada beberapa kelompok person yang dibahas (1) Orang yang beriman,  (2) Orang kafir Yahudi dan Nasrani,  (3) Orang yang mengangkat orang kafir sebagai pimpinan mereka. Jelas untuk menjelaskan prihal tersebut membutuhkan beberapa kali pertemuan. Termasuk panjang uraiannya adalah bagaimana ancaman terhadap mereka yang memilih atau menangkat orang hakfir sebagai pimpinan.

Untuk itu membutuhkan tabligh akbar, pengajian rutin, pengajian temporal dari penceramah internal ceramah, ceramah dari penceramah tamu, ceramah dari penceramah terkenal, khutbah jum’at, ditambah lagi dengan ceramah pada saat khitanan, perkawinan, kematian dan lain lain acara. Artinya panggung tempat membicarakan masa;ah ini sangat terbuka luas.

Tetapi bukan berarti Anies – Sandi tidak berbuat, mereka berbuat sesuai dengan aturan dan perundang undangan yang berlaku  seperti memperkenalkan visi-missi serta program unggulan. Mereka tentu sangat menghindari membicarakan masalah almidah 51 dalam kampanye mereka, artinya bahwa pasangan Anies – Sandi sudah melaksanakan kampanye sesuai aturan, tidak memaksa dan lain sebagainya.

Sedang ulama, kiyai, habaib, ustadz, guru, bahkan pengurus masjid dan lain sebagainya adalah melaksanakan tugas sosialnya, dan merekapun mendapat kebebasan dan lindungan hukum, mereka bicara sesuai dengan tuntunan agama yang diyakini, serta tidak bisa dipersalahkan. Maka tidakl dapat dikatakan bahwa warga DKI tidak paham demokrasi sehingga Pilkada DKI diklassifikasikan sebagai mutu rendah. Lalu bagaimana pula bila yang menang pasangan Ahok – Jarot, baru disebut bermutu. terlalu ente.

Siapa bilang tidak boleh memilih pimpinan dengan berpegang kepada iman seseorang, adalah wajar orang Kristen memilih calon yang beragama Kristen dan menang di daerah yang mayoritas Kristen, dan sebaliknya juga wajar manakala orang Muslim meilih calon Muslaim dalam Pilkada serta memenangkan pemilihan dalam wilayah yang penduduknya mayoritas muslim. Dan itu sama sekali tidak melanggar aturan yang ada.

Kamu Sehat … ? Paham Hitungan Pilkada

Pihak yang sangat mengagumi kemampuan manusia menghitung secara matematis politik hingga saat ini dan mungkin akan sampai kapanpun akan sulit menerima dengan pikiran warasnya ala mereka, akan kemenangan telak Anis – Sandi dalam Pilkada DKI beberapa hari yang lalu.  Benar,  nalar yang biasa dipakai sehari hari pasti akan mengatakan Ahok jauh lebih berhak memang dengan angka yang jauh lebih tinggi dibanding apa yang diraih Anis Sandi, itu bilan dibanding dengan dana dan usaha yang telah dilakukan dan dikuasai oleh Tim Ahok. Ahok tergelincir dalam masalah remeh dan kecil.

Tim Ahok yang semula dikenal dengan teman Ahok, pendukung Ahok dan nama nama lain yang sejatinya telah bekerja untuk Ahok dalam rangka Pilkada telah bekerja bekerja jauh jauh waktu sebelum tahap tahapan Pilkada, mereka telah bekerja jauh sebelum jelas  siapa lawan yang akan dihadapi  dalam Pilkada, sehingga Ahok sempat dikenal sebagai satu satunya calon dalam Pilkada. Mereka bekerja secara provesional dan dibayar.

Sampai dengan beberapa hari lagi dilaksanakannya masa pemungutan suara putaran pertama masih banyak pemegang hak pilih dan suara yang hanya mengenal seorang saja sebagai Calon Gubernur  dalam Pilkada DKI, yaitu Ahok, dan piral di media sosial. Sehingga semua orang yang menggunakan  pemikiran matematis politis. Dan kesimpulannya Ahok pasti menang telak.

Memang hasil hitung cepat dengan menggunakan metode tertentu mengkalkulasi kemenangan tipis pasangan Anis Sandi sekitar 1,5%, tetapi kemungkinan kelirunya (eror) justeru cukup besar dan melebihi angka kemenangan berdasarkan hitingan sehingga sangat besar peluang kemenanganpun beralih ke Ahok, itulah sebabnya pihak Ahok dianjurkan memberikan berbagai polesan, sehingga banyak yang beralih memilih Ahok.

Semua taktik dan strategi telah dilancarkan, jangan tanya hoak dan meme, kelompok Ahok benar benar merajai, tetapi tampa mereka sadari Hoak yang  dan meme yang mereka lancarkan secara keterlaluan, mereka mulai memfitnah orang orang yang sangat dihormati selama ini, menjadi manusia hina sehina hinanya di medsos,  mereka lupa bahwa  mayoritas pemilih adalah ummat Islam, yang sejatinya telah diajarkan sejak kecil untuk hormat kepada ulama, kiyai, ustadz, guru mengaji dan bahkan pengurus masjid. Bila mereka mereka ini terlalu dihinakan, maka hampir dapat dipastikan hati ini akan terluka, walaupun sangat  halus,  luka ini, semakin lama akan membesar sejalan dngan hinaan demi hinaan yang ditimpakan kepada para  Ulama, kiyai, habaib, Ustadz, Guru, bahkan Pengurus Masjid.Merajai dunia maya tidak dijamin mendapatkan sespon positif, karena diskusi di warung kopi juga jangan dianggap kecil pengaruhnya, apalagi mereka di diskusi warung kopi itu mulai melukai pribadi pribadi yang tak siap bicara.

Tampa disadari ujaran kebencian terhadap para tokoh iti melalui media sosial. Tidak jarang para simpatisan, dan bukan timses  Ahok, dan dikenal sebagai Islam yang taat serta berilmu,  dari kalangan Islam yang gigih mencoba coba membela Ahok dengan berbagai dalih, justeru lama kelamaan, tokoh bermulut nyinyir itu sangat dibenci di lingkungannya sendiri.  Tokoh seperti itu bukan hanya seorang, tetapi mencapai  puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan dan tidak tertutup menembus angka jutaan  seluruh Indonesia, karena kasus penistaan  agama oleh Ahok bukan hanya bagi masyarakat pulau serubu atau DKI, tetapi seluruh Indonesia,  karena sekelompok kecil saja di lingkungan saya ada saja yang diluar DKI Jakarta, banyak  terselip orang yang gigih membela Ahok, dan semakin mereka membela bela Ahok, semakin orang antipati kepada Ahok. Semakin lama kemarahan kepada Ahok semakin merata di kantong kantong Muslim.

Ujaran Ahok tentang al-Maidah di Pulau Seribu barangkali di luar  strategi dari Tim Pemenangan, Ahok sendiri yang berinisiatif,  yang justeru itu yang menjadi malapetaka besar bagi kekalahan Ahok, karena musuh Ahok jadinya bukan hanya rival dalam Pilkada, tetapi justeru para ulama, kiayai, habaib, ustadz, guru dan bahkan Pengurus masjid. Mereka semua menjadi corong di luar aturan dan tatacara kampanye, dan memang mereka merasa bukan sedang kampanye, tetapi mereka menegakkan akidah Islamiyah di hati sanubari ummat. Dan sekali lagi ini juga terjadi di luar DKI di semua kantong kantong Muslim di Jawa, di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi  dan NTB serta di pulau pulau kecil  lainnya secara serentak. Dan merekapun hadir di aksi bela Islam berjilid dalam jumlah yang sangat signifikan.

Gaya gaya teman Ahok yang sejatinya muslim, tetapi tidak menggambarkan sikap keislamannya dalam tampilan di tolkshow live di TV bukan memberikan pengaruh positif  bagi Ahok, tetapi justeru membuat matang antipati masyarakat muslim, utamanya ketika mereka menampilkan vedeo kampanye Tim Ahok, melalui vedeo yang terlanjur viral itu, kini musuh Ahok bukan lagi sebatas ulama, kiyai, Habaib, ustadz, guru,  dibisikkan bhawa Timses Ahok telah mulai menyerang rakyat kecil, dengan tuduhan rasialis,  rakyat kecil akan dihadapkan dengan etnis China yang banyak uang itu. Sebetulnya vedeo kampanye Timses Ahok telah mulai dimanfaatkan untuk serangan balik, tetapi pertolongan dari Stevanus lebih telak. Pekikan Stevanus Tiko … Tiko … Tiko … sangat menghunjam dan secara bersamaan membangkitkan reaksi akar rumput, teriakan tika menjadi terjemahan yang paling tepat untuk memahami di mana semangat vedeo kampanye milik Ahok Jarot.

Belum lagi kesalahan pengertian  dari Tim gempuran sembako, kembali ini merupakan senjata makan tuan, ketika penerima sembako dibisiki agar memilih nomor dua, benar benar dipahami secara lugu, karena memang hanya ada dua pasangan, dan mereka benar benar memilih pasangan nomor dua yang ada di kertasa suara yang hanya menampilkan dua pasang paslon. Pasangan Paslon pertama adalah Ahok Jarot, sedang pasangan Paslpn kedua adalah Anis Sandi. Kembali pasangan Anois Sandi sangat menikmati pristiwa pristiwa konyol yang sejatinya telah disusun dengan segala kesombongan dan kepercayaan diri yang luar biasa.

Alhasil kalkulasi perhitungan cepat dengan selisih perbedaan yang sangat mencolok itu tak lagi menarik untuk disimak, karena kalaupun meleset maka jumlahnya tak seberapa.  Allah mengatakan dalam al-Quran bahwa orang munafik bersama orang kafir memasang jerat dan strategi, tetapi jerat dan strategi dari Allah takkan terkalahkan. Bayangkan betapa banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh Timses Ahok Jarot, tetapi justeru pasangan Anis – Sandi yang sedang ketiban pulung itu yang menikmatinya.  Gam musdeng aku.