Penulis: Fachruddin

Salah Untuk Benar

The Ega Of Deception

295Siapapun kita maka dipastikan akan melakukan keslahan, itulah sebabnya maka kita selalu berdoa, ya Allah tunjukkanlah yang benar itu benar di mata saya, dan tunjukkanlah yang salah itu salah di mata saya, dan berikanlah saya kekuatan untuk menegakkan kebenaran dan memerangi kesalahan minimal yang ada di diri saya sendiri. Maka manakala kita mendapati diri kita telah melakukan kesalahan maka segeralah kita istighfar dan berusaha membenarkan atau meluruskan kesalahan yang kita lakukan selama ini.  Terkait saudara kita Abu Aly,  lalu salah dia ?. belum tentu. Dan Benarkah Saya? Lebih belum tentu lagi.

Saya belum membaca buku buku yang ditulis oleh Abu Aly sehingga saya tidak tahu gagasan beliau seutuhnya seperti apa, hanya sebatas memutar youtube beliau, itupun hanya dua kali putar saja. Sementara posisi kami jauh beda. Maka tak mungkin saya bisa mengungkapkan sesuatu yang berimbang. Saya sangat menyadari itu.

Kita harus bisa menghargai ijtihad Abu Aly dengan menggunakan segala keterampilan akademisnya, sementara saya tidak menggunakan keterampilan akademis seperti itu, malainkan hanya membaca saja. Kita tahu barang siapa yang berijtihad, maka sekalipun keliru kita akan mendapatkan satu pahala. sementara kita yang belajar juga diberikan ganjaran karena mau belajar.

Namun demikian ingin saya katakan bahwa teori untuk mengakali, menipu dan menjebak itu adalah teori Barat yang memang hingga sekarang belum ada pengantinya. Sehingga kta bersedia terakali, tertipu dan terjebak di satu urusan, tetapi kita harus mengakali, menipu dan menjebak di urusan lainnya. Hubungan billateral antar kedua negara bersahabat menurut teori dan praktik Barat juga seperti itu, dengan segala kesadaran kedua negara bersahabat saling ngakali, saling menipu dan saling menjebak.  Syah adanya. Dan politik ekonomi dalam satu negarapun hampir semua transaksi baik dengan atau tampa campur tangan Pemerintah maka praktik seperti itu hampir rata di praktekkan.  Ingin bukti praktik itu dilaksanakan adalah dengan melihat rakyat tambah sengsara atau tambah sejahtera. Semakin teori tersebut diatas yang diwujudkan dengan praktik riba maka rakyat sengasara adalah produknya.

Tetapi manakala hal itu terus menerus dilaksakanakan, maka nasib bangsa akan seperti penduduk kota Irom yang diceritakan dalam al-Quran. Dua kali kota Irom berdiri, yang dihuni para orang pintar, tetapi kepintaran masyarakat kota Irom berakhir dengan kehancuran karena penduduknya bersepakat untuk saling mengakali, saling menipu dan saling menjebak, tetapi juga saling memuji.

Tugas kita yang bodoh harus belajar lebih giat, yang keliru harus segara istighfar dan berijtihad kembali untuk mencari kebenaran, bila selama ini terpaksa belajar dari teori teori Barat yang mematikan, maka sudah saatnya mencari teori dari al-Quran dan hadits yang menghidupkan.  Bila Abu Ali merasa benar, silakan diteruskan, bila merasa belum sempurna maka sempurnakanlah, agar tidak menebar racun melain menebar keberkahan. Hanya itu saja harapan dari orang yang masih merasa perlu belajar lebih dalam, tentu dengan segala keterbatasannya.

Iklan

Kader PII Harus Islami

295Saleh Miftahussalam, yang kini punya nama komersil sebagai Dr. Abu Aly. Dahulu sempat bersama sama menjadi kader PII Wilayah Provinsi Lampung. Secara usia memang saya lebih tua, tetapi secara kualitas baik dalam kader PII ataupun di masyarakat dan dunia akademik  beliau jauh lebih tinggi derajatnya dari saya, Dalam istilah Surabaya saya ini “Gak ono Taek Taek o”  terjemahannya saya tak seujung kuku beliau, demikianlah gambaran yang rasanya paling pas jika mencari persamaan dan perbedaanm antara saya dengan beliau. Demikian gambaran kebesaran beliau yang mau tidak mau harus kita akui sebagai sesama kader.

Lama tak jumpa tiba tiba jumpa di group WA, jelas Saleh Miftahussalam yang dahulu kini jauh  berubah setidaknya namanya sudah menjadi Abu Aly dan dan wajahnya sudah berubah tua. Kini beliau menjadi motivator kesohor, ada dibarisan motivator kenamaan. Walaupun buku yang sering disebut sebut sebagai hasil karyanya berjudul Pawang Manusia,  tetapi saya belum membaca buku itu, termasuk resensinya juga saya belum baca, Hanya karena melalui WA kami digiring untuk menyaksikan belaiu beraksi mensosialisasikan berbagai gagasannya dalam menerapkan pemikiran dan keyakinannya tentang cara berkehidupan yang baik, untuk itu saya memutar youtube kegiatan itu.

Setelah dua kali saya putar youtube beliau yang diedarkan oleh acun youtube atas nama Pariman Pari yang diedarkan pada 6 Mei 2015 dan pada  hari ini 20 Agustus 2017 tercatat sudah 1.387 dikunjungi. Sukses, sukses, sukses. Mungkin ini karena kebodohan saya manakala ada aspek yang saya bedai. Yang mungkin nanti pada suatu saat saya pintar dan cerdas sehingga saya mampu memahami apa yang gagasan cemerlang beliau.

Beliau dalam gagasannya mengatakan bahwa “Seseorang baru dianggap sukses manakala memiliki kemampuan untuk menipu orang lain, sementara yang ditipu justeru berterimakasih dan memohon untuk ditipu kembali”  atas dasar kebodohan saya maka saya mengalami gagal paham. Padehal sudah disampaikan oleh beliau bahwa dengan teori seperti itu beliau mengalami sukses besar.  Sukses yang didapat untuk aksi tipu tipu adalah pujian. Nampaknya tipuan dan pujian sesuatu yang bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.  Mendengar teori itu sayapun mulai merasa gemetaran,  tetapi gemetar bukan karena cerdas, melaikan karena masih bodoh saja.

Sebagai contoh praktis dari beliau bahwa seseorang dikatakan cerdas dan sukses adalah ketika berhasil menipu atau mengakali seorang wanita sehingga mau dikawini dan merasa berteima kasih atas perkawinan itu. Ditambahkan bah selaku motivator beliau menikah, keliling Indonesia bahkan beberapa kali ke luar negeri  semua didapat secara gratis, dengan mempraktekkan dua sisi yang tak terpisahkan tersebut, yaitu tipuan dan pujian.

The Ega Of DeceptionSaya langsung teringat dengan sebuah buku yang ditulis oleh Frassminggi Kamasa yang berjudul The Age Of Deseption. menurut buku ini teori tipuan dan pujian tidak islami, sehingga menjadi sesuatu yang tak boleh diajarkan kepada generasi muda. Karena kehancuran bangsa adalah karena memuji muja teori ini, dikatakan bahwa menurut teori ini tidak akan terjdi kaya manakala tidak memiliki aksi yang bersifat tipuan, yang rupanya oleh Abu Aly tipuan belaka justeru masih kurang jitu manakala tidak disertai pujian pujian.

Memang tak dapat dipungkiri Teori ini telah dibuktikan kebenarannya oleh dunia perbankan, bila bank ingin benjir nasabah maka lakukanlah gerak tipuan agar orang bisa teratarik, apalagi sejalan dengan situasi perekonomian yang memang mengarah kepada ekonomi liberal. Berbagai pujian yang menjanjikan bernagai prestise, sebagai rayuan kepada para pelanggan, yang sejatinya jerat jerat yang penaklukan yang mematikan.

Bukan hanya perbankan dan berbagai perusahaan besar menggunakan teori ini, justeru Pemerintahpun tak juga ketinggalan melakulkan praktik ini, dibuku tersebut dia tas telah dikupas lumaian tuntas, dan hasilnya adalah kesusahan Bangsa Indonesia untuk mampu berkembang, semua menjadi berjalan di tempat dan bahkan berjalan mundur, semua adalah karena mendewakan teori tipuan dan rayuan, yang nampak juga dianut oleh Abu Aly.

Jika Abu Aly akan mengatakan bahwa buktinya dia telah berhasil sukses memeraktekkan teori ini,  maka saya tak ingin membantah dan bahkan saya mampu menunjukkan bukti lain akan keberhasilan menerapkan teori ini.  Tetapi dalam buku The Age Of Deception ini adalah upaya yang sangat gencar bagaimana caranya mengalahkan teori tipuan dan pujian yang datang dari barat ini, sungguh teori ini  adalah sebagai teori laknat yang harus kita perangi.

Pemerintah Bersama PII Mengantisipasi Radikalisme di Lingkungan Pelajar.

295Sebagai mantan aktivis PII di tingkat Wilayah Provinsi Lampung ada terbersit sedikit rasa banga mendengar kabar bahwa Pengurus Besar (PB) PII akan bergandengan tangan dengan Pemerintah untuk menyelenggarakan kagiatan yang dimaksudkan sebagai antisipasi sikap radikalisme dikalangan pelajar. Letak kebanggaan saya adalah karena PII yang saya kenal adalah sebuah organisasi pelajar yang tak segan membela kepentingan ummat Islam secara keseluruhan. Tekala Presiden Soekarno hendak membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) maka tampil PII dengan gagah dan berani mengatakan secara lantang “Langkahi Dahulu Mayat Kami Baru Bubarkan HMI” katanya. Hal itulah yang membuat ummat Islam Indonse semakin sayang dan merindukan PII. Apalagi pernah PKI menyembelih seluruh peserta training pada saat mereka sedang melaksanakan sholat subuh. Sehingga sutradara merasa perlu menampilkan cuplikan pristiwa itu pada film dokumenter Penghianatan G 30 S PKI. Sejatinya PII menempati tempat yang sangat dihormati.

Tak ingin rasanya saya memesankan sesuatu terkait masalah besar ini, karena tentunya kalian lebih memahami kondisi kalian sekarang, yang bisa saja banyak hal yang telah berbeda dan mengalami perubhan apakah itu positif maupun negatif karena ciri alam  sebagai ciptaan Allah ini adalah perubahan. Dan sayapun meyakini bahwa adik adik PB PII itu adalah kader, dan kalian telah melalui kaderisasi  tingkat akhir, yang mengerti betul apa yang harus dilakukan sesuai dengan amanat organisasi yang digariskan dalam Khittah perjuangan dan AD ARTI PII tentunya.

Hanya saja yang harus kami tekankan adalah jika hal terebut terrealisasi maka bekerjalah untuk rakyat dangsa dibanding membentu Pemerintah. Bekerjalah sesuai aturan yang ada, bersikap tak terlepas dari jiwa dan semangat kebangsaan dengan belajar kepada perjalanan sejarah bangsa bukan kepentingan sesaat. Karena manakala kita terikat kepada kepentingan sesaat  maka dalam perjalanan sejarah pada saatnya apa yang kita lakukan adalah akan dianggap sampah oleh generasi yang akan datang.

Lakukanlah itu dengan rasa cinta, bahwa para pelajar itu merupakan asset untuk masa depan bangsa yang nantinya mereka akan memiliki zaman tersendiri, akan berbeda dengan masa lalu dan bahkan beda dengan masa kini. Oleh karenanya hindarilah sikap arogan yang merasa paling benar, paling panacasilais, paling cinta terhadap NKRI, paling patuh kepada UUD 1945, yang pada saat ini telah beberapa kali mengalami amandemen.  Dengan bermodalkan rasa cinta maka bagi mereka yang dituduh belum menjadi Pancasilais sejati, murni dan konsekuen atau berbagai istilah lainnya bukan berarti harus membenci mereka.

Pemerintah saja dari rezim ke rezim adalah selalu gagal melaksanakan Pancasila yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa,  Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipinpin oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Oermusyawaratan/ Perwakilan, dan Keadilan Soaial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bila kita urai satu persatu, maka belum ada sisla sila Pancasila itu yang tercapai secara sempurna, bahkan ada yang masih dari sempurna, utamanya terkait bidang kesejahteraan dan keadilan soial.

Mengapa Pemerintah sulit mencapai Pancasila secara sempurna, tentu banyak faktor yang menyebabkannya, maka tugas kita adalah bagaimana caranya berpartisipasi membantu Pemerintah untuk mengatasi kesulitan. Apalagi Pemerintah sesungguhnya tidak diperkenankan menjadi pihak penafsir Pancasila, karena berdasrakan sejarah manakala Pemerintah dibiarkan menafsirkan Pancasila, maka tafsirannya akan berubah rubah karena memang sudah menjadi karakter Pemerintah yang berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai Pancasila. Oleh sebab itu maka bagi mereka yang dianggap belum Pancasilais itu harus diajarkan dan ditanamkan Pancasila, bukan dimusuhi, melainkan dicintai, karena Pemerintah bersama ummat bangsa ini pada hakekatnya belum mencapai Pancasila dari waktu ke waktu.

 

 

Pancasilais dan Diktator.

Hampir dapat dipastikan bahwa tdak ada hubungannya antara Pancasilais dan Diktatur, dan dari pakar manapun tak akan menmukan korelasi antara Pansila dengan sikap diktator seseorang dalam memimpin, dan kalaupun ada maka kita akan sepakat menolaknya karena justeru  bertentangan sila sila dalam Pancasila, tetapi kenapa Presiden yang paling lantang klaim  tentang Pancasila terpancing menjadi diktator. Presiden yang paling lantang mengklaim diri sebagai Pancasilais itu adalah tiga Presiden Indonesia, Sokekarno, Soeharto dan yang ketiga adalah Jokowi. Dua terdahulu tidak disangsikan lagi benar sebagai Presiden yang memimpion secara diktator sesuai zamannya, tetapi Presiden Jokowi masih harus menunggu waktu untuk disimpulkan ya atau tidak. Tetapi yang pasti bukan lagi di era kepemimpinan diktatur.

Walaupun Presiden Soekarno disebut sebut sebagai penggali Pancasila tetapi tidaklah berarti Soekarno telah melaksanakan Pancasila, ternyata tidak banyak pihak yang mengatakan Soekarno justeru mencoba mengoplos ulang Pancasila menjadi Nasakom. bahasa beliau mampu menyandingkan antara agama dengan komunis.  Sibuk dengan kampanye Nasakomnya, maka Pancasila itu sendiri sangat keteter, bukan hanya gagal mewujudkan ambisinya Presiden Soekarno justeru lengser dengan cara yang kurang terhormat.

Muncul Presiden kedua Sueharto yang mengumumkan akan melaksanakan Pancasila yang murni dan konsekuen. Pemerintah tampilsebagai badan tunggal penafsir Pancasila dan menyusun Pedoman Penghayatan Pancasila yang ujung ujungnya berisikan omongkosong dengan istilah pandangan hidup, pegangan hidup dan perjuangan hidup yang diimagekan sebagai nuansa kamasutra, alias ngeres, pembicaraan dan pembangunan tentang Pancasila yang menampilkan para pejabat tinggi sebagai personifikasi Pancasilais yang murni dan konsekuen. Ketika KKN Korupsi, Koneksi dan Nepotisme maka segala sesuatu justeru berantakan. Sehingga tetkala diselenggarakan Ijian Akhir Nasional bagi Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan tidak perlu menjawab sejumlah pertanyaan terkait Pancasila.

Kedua Presiden terdahulu walaupun memimpin secara diktator, tetapi itu semua dapat diterima kepemimpinanya karena sesuai zamannya, sayang keduanya memimpin terlalu lama, sehingga ending kepemimpinan keduanya kurang indah dikenang. Apakah nanti Presiden Jokowi yang menunjukkan gejala gejala seperti Presiden Soeharto yang mengaku paling Pancasilais  dan berkembang diktator serta akan berujung pada kekecewaan dan bahkan kehinaan. Entahlah. Dibutuhkan waktu.

Sebagai perbandingan belaka maka fenomena Ahok dan Ahoker adalah sangat menarik. Ketakutan sejumlah orang terhormat kepada Ahok membuat Ahok memiliki wibawa jauh melampaui jabatannya. Serasa Ahok sudah menjadi Presiden, maka ketika terjadi Pilgub DKI yang juga diikuti Ahok sebagai calon petahana serasa Pilgub DKI adalah Pilpres adanya. Itu karena Ahok telah lama diperlakukan melebihi Presiden adanya. Yang kita tak tahu dari mana awal mulanya maka  “Siapa yang menentang Ahok maka berarti menentang Pancasila, Siapa yang menentang Ahok berarti anti UUD 1945, siapa yang menentang Ahok berarti anti NKRI” dan selanjutnya dan sterusnya. Tentu Ahoker dan tergabung dalam netizen memiliki peran yang signifikan.

Dahulu dizaman Suharto yang belakangan kita sepakat sebagai menerapkan kepemimpinan secara diktator maka siapa yang menentang Presiden Soeharti berarati anti pancasila dan anti pembangunan. Wajar saja pada saat itu Soeharto sebagai Presiden dan Panglima tertinggi. Tetapi bagaimana dengan Ahok yang baru menjadi Gubenrnur pengganti setelah jabatan itu ditinggalkan oleh Jokowi yang terpilih sebagai Preside. Serasa nayata dipelupuk mata Ahok akan tampil sebagai pengganti Jokowi, pada saatnya. Sekali lagi fenomena Ahok sebagai pengandaian, bahwa mengklaim diri sebagai Pancasilais berkembang menjadi diktator. Gejala gejala diktator besar bagi Ahok memang tergambar di pelupuk mata.

Lalu apakah nanti Presiden Jokowi akan terjebak ke jalan yang pernah ditempuh Presiden Soeharto dengan menerapkan kepemimpjnan yang diktator, Dahulu orang tak sanggup menentang Suharto larena manakala berselisih paham akan dituduh sebagai anti Pacasila dan anti pembangunan, dahulu Presiden Soehatro anti kritik karena sama saja dengan mengeritik Pancasila, apakah nantinya akan sama ketika Presiden Jokowi sudah mengatakan Saya Jokowi, Saya Indonesias, Saya Pancasila. Apakah para pengeritiknya nanti akan dicap sebagai pengeritik Indinesia, penegeritik Pancasila. Ini membutuhkan waktu karena sejarah yang akan mencatatnya.

Hanya saja perlu diingat bahwa Presiden Suharto yang mengklaim diri sebagai Pancasilai justeru tidak memiliki kemampuan sedikitpun bahwa dia adalah pengemban Pancasila karena belakangan justeru keadaan masyarakat semakin jauh dari kreteria yang ditetapkan dalam sila sila Pancasila. Bagaimana dengan sekarang.

Memakmurkan Masjid Belajar Ke Jogokariyan

Masjid kita belum makmur, maka belajarlah kepada Masjid Jogokariyan Yogyakarta, karena masjid itu mulai dari zero, hingga menjadi masjid yang selain makmur juga mampu memfasilitasi berbagai kebutuhan, dari anak anak bermain sehingga kebutuhan manusia dewasa. Masjid ini terletak di suatu komunitas yang semua muslim, lalu menjadi komunis, lalu non muslim pasca 1965 kamunis berontak, yang ada sekitar 8 keluarga yang bertahan muslim. Semula masjid ini dibangun Muhammadiyah, tetapi pengelolaannya diserahkan kepada ummat, tampa harus sistem Muhammadiyah.

Kini masjid itu sangat makmur, ukuran kemakmuran di Masjid itu dapat dilihat dari jumlah jama’ah. Jumlah jama’ah subuh semula ditargetkan 70%, konon kini sudah mencapai 80% kali jama’ah sholat Jum’at. Kehebatan muslim bisa diukur dari jumlah jama’ah subuhnya. Manakala suatu komunitas muslim masjidnya makmur sama dengan sholat jum’at. Maka berarti komunitas itu banyak melaksanakahan kehidupan menurut ajaran Islam.

Anda ingin membangun bangsa ini, maka sebetulnya gampang sekali, yaitu libatkan diri untuk mengusahakan masjid makmur dan memperbesar jama’ah subuh. Maka manakala itu terlaksana, maka sesungguhnya kita telah melakanakan pembangunan angsa dan Negara. Lalu bagaimana caranyabisa membuat sholat subuh menjadi makmur, semua membutuhkan langkah panjang. Mesjid makmur harus diawali dengan masyarakat suka mendatangi masjid.

Makmurnya masjid bukan hanya sejumlah orang dewasa melaksanakan sholat berjamah saja. Tetapi ibu ibu juga harus memiliki aktivitas di masjid, seperti menyelenggarakan pengajian ibu ibu, pelatihan kewanitaan dan lain sebagainya. Ibu ibu juga harus berpartisipasi atas berbagai kegiatan. Dan kegiatan dimasjid sejatinya bukan hanya sholat. Tetapi juga dakwah dan ada semacam pelatihan dan pendidikan yang bermanfaat bagi jama’ah. Lalu juga masjid harus memberikan memberikan ruang bagi remaja dan anak anak secara terpisah, artinya remaja memiliki ruang sendiri, dan anak anak juga memiliki ruang yang harus mendapatkan perhatian yang serius.

Selain itu semua masjid juga harus memberikan perhatian atas kebutuhan bagi orang yang berlalu atau orang dalam perjalanan, itulah sebabnya maka dimasjid harus tersedia air yang cukup representatif, bukan hanya untuk wudlu, tetapi juga BAB dan bahkan madi.  Artinya masjid yang akan makmur bukan hanya masjid yang memfasilitasi sejumlah orang dewasa, melainkan juga harus berfungsi mempersiapkan mereka yang lebih mudan dan bahkan anak anak yang juga harus dipersiapkan menjadi calon jama’ah aktif di masjid itu.  Itulah sebabnya masjid juga dirasakan oleh masyarakat sekitar dan bahkan mereka yang sedang dalam perjalanan. Selanjutnya lisakan simak youtube di atas.

Menyimak Perubahan Sikap Ulil

Sepertinya sudah ada kesadaran pada diri Ulil. Ulil secara terus terang (dalam tulisannya ini) menyatatkan sudah berubah pandangan. Ulil menyatakan sekarang ini menempatkan kembali Kitab Suci sebagai acuan, bukan lagi sebagai ma’mum atas perkembangan zaman seperti yang dulu didakwahkannya.

“Saya dulu mengikuti, bahkan mendakwahkan secara antusias pendekatan ini (Kitab Suci hanyalah makmum bagi perkembangan zaman -red). Saya sekarang (mungkin karena umur yang bertambah dan penjelajahan intelektual terus-menerus) mulai merevisi pandangan saya sendiri. Saya sekarang bergerak ke pendekatan ketiga yang akan saya jelaskan dalam bagian berikut,” kata Ulil dalam tulisannya yang terbaru “Tiga Sikap Atas Kitab Suci” yang ditulis di akun fb-nya (30/4/2017).

Semoga husnul khotimah.

Selamat menyimak tulisan Ulil:

“Tiga Sikap Atas Kitab Suci”

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Saya harus mohon maaf karena menulis status yang mungkin akan membikin jidat mengernyit pada hari Minggu. Ini adalah tindakan yang tidak “empan papan”. Seharusnya, status di hari Minggu adalah yang asyik-asyik saja, semacam ajakan minum kopi atau menyantap singkong goreng. ?

Dengan tetap meriskir untuk “merusak” akhir pekan Anda, perkenankan saya menuliskan renungan ini.

Salah satu tema yang banyak didiskusikan oleh para sarjana Muslim, baik di era klasik atau modern, adalah bagaimana cara menyikapi ayat-ayat yang seolah-olah sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman. Atau, bagaimana cara mengatasi ayat-ayat dalam Kitab Suci yang dalam penampakan lahiriahnya berlawanan dengan akal atau pengalaman manusia pada suatu zaman.

Lanjutkan membaca “Menyimak Perubahan Sikap Ulil”

Jadilah Pembela Islam Mulai Sekarang, Bagaimana Caranya ?

new-pictureIndonesia sebagai negeri kaya mulai dilirik oleh kekuatan luar yang ingin menguasai kekayaan negeri tercinta ini,  pintu masuk mereka adalah dengan cara melemahkan ummat Islam,  karena dalam dada ummat Islam ada semangat yang disebut jihad, dan dengan semangat jihad itu akan melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan.  oleh karena itu kelompok Muslim harus dilumpuhkan lebih awal. Dengan demikian maka tugas kita sekarang adaah membela Islam dengan berbagai cara.

Berikut ini adalah sikap standar yang harus kita tanamkan, walaupun bula ini kita laksanakan, kita masih jauh dari sebutan sebagai pejuang Islam, disebut pejuang Islam adalah menyiapkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya untuk Islam. Rasul dahulu untuk berjuang sering berangkat pagi, pulang sare bahkan malam, berangkat rapih dan bersih, pulang lusuh dan bahkan berdarah, hingga gigi gerahamnya tanggal. Apa yang saya tuliskan ini hanya standar dan tak ikut bikin kisruh, belum berhak disebut mujahid.

Allah Maha Benar,  Sikap yang pertama yang harus kita tanamkan adalah bahwa Allah Maha Benar, bahkan kebenaran dari Allah adalah kebenaran mutlak. Bila muncul teori teori yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Allah melalui Al-Quran, maka segeralah bahas dan kalahkan teori itu dan menangkan teori Allah, misalnya teori Darwin,janganlah sekali kali memangkan teori Darwin.

Mulyakan Al-Quran. Benarkan seluruh isi Al-Quran, bacalah dan anjurkan orang lain membacanya. Mulyakan juga fisik kitabnya, jangan ditaruh sebarangan dan jangan dipegang sembarangan. Manakala ada yang menyerang atau merendahkan al-Quran, maka belalah dengan berbagai dalih, bila tak mampu  berdalih maka marahlah, tunjukkan kemarahan atau ketidak senangan terhadap orang yang meremehkan Al-Quran.  Agar orang orang tahu kita sangat menghormati Al-Quran

Menangkan Rasul Allah.  Bacalah hadis sebanyak banyaknya.  Benarkan apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan oleh Rasul Allah. Manakala  ada orang atau kelompok yang menghinakan Rasul maka belalah dengan berbagai dalih, manakala anda tidak memiliki kemampuan berdalaih maka tunjukkan kemarahan dan ketidaksenangan ketika ada orang yang meremehkan ztzu menghina Rasul.

Muliakan Para Ulama Dan Habaib, Ulama adalah pewaris Nabi sedangkan para Habaib adalah cucu cucu Rasul, Rasul sendiri meminta agar mennyayangi dan menghormati anak keturunanya. Belalah ulama dan habaib manakala ada yang menghina dan meremehkan mereka. Carilah dalih dan dalil membela ulama dan Habaib manakala ada yang meremehkan dan bahkan menyerang mereka. Manakala kita tidak memiliki kemampuan berdalil dan berdalih maka tunjukkan ketersinggungan dan ketidak senangan kita terhadap orang atau pihak yang meremehkan dan menghina Ulama dan Habaib, termasuk juga Kiyai, ustadz, guru agama dan lain sebagainya.

Muliakanlah Para Pemimpion Islam di Indonesia. Dalam rangka membela Islam maka biasakanlah bersikap hormat terhadap para pemimpon Islam,  tidak terbatas kepada pemimpn dari organisasi yang kita ada di lingkungan komuniotas yang dipimpin, tetapi juga pemimpin Islam dari komunitas yang lain manakala terdapat organisasi atau kelompok komunitas lain. Manakala terdapat perbeaan yang mendasar antara satu dengan komunitas atau organisasi lain, maka perbedaan itu cukup dibahas pada kalangan terbatas saja, tidak mengumbar perbedaan yang terjadi. Perbedaan yang besar, kecilkan, dan perbedaan yang kecil hilangkan. Jangan biarkan perselisihan pendapat di kalangan pimpinan ummat berkembang, dan tetaplah memiliki rasa hormat kepada para pemimpin, walaupun dalam perbedaan yang sulit dipersamakan.

Tambahkan Ilmu Keislaman. Bacalah al-Quran dan hadits setiap hari upayakan hingga tamat, kita akan salah bersikap manakala kita tak banyak mengenal al-Quran dan hadits. Bagaimana akan membela Allah, Rasul, Islam, Ulama, Kiyai, Ustadz, pemimpin Islam lainnya, jika tak tahu dengan ajaran islam.

Bersahabat Dengan Orang Sholeh. Carilah sahabat yang sholeh, memiliki sikapkeislaman yang  lurus dan benar, tidak memanfaatkan agama untuk mencari keuntungan pribadi, mereka yang mampu menambahkan ilmu keagamaan, keislaman, sahabat yang memiliki kemampuan menegur kita manakala kita salah. Carilah sahabat yang bisa mengajak kita ke syurga.

Upayakan Sholat Lima Waktu Berjama’ah di Masjid, Sholat berjama’ah di masjid memiliki manfaat ganda.  sholat kita akan lebih sempurna, tidak asal selesai, sholat sunnat rawatib, qobliyah dan ba’diyah rutin dilaksanakan. Komunikasi dengan sahabat, tetangga, seiman akan terbina, bisa mendapatkan informasi yang baik baik.

Carilah Guru atau Ustadz. Bergabunglah di jama’ah pengajian yang dipimpinm atau dikelola diajar oleh orang yang benar benar faham Islam dan melaksanakannya. Atau bentuklah  kelompokpengajian. Anda bisa membentuk kelompok baru, carilah guru yang bisa menjelaskan sedetilnya tentang suatu kitab, tentukan jadwal pertemuannya serta target apakah untuk satu buku atau bab bab tertentu yang dipilih. Bicarakanlah dan pilihlah sistem belajarnya, sebagai pendengar dan bertanya alakadarnya, atau benar benar berdiskusi, yang setiap kali pertemuan masing masing telah membaca buku yang sama. Tetapi ini harus disesuaikan dengan jama’ah, masing masing harus memiliki level pendidikan dan pengalaman yang tak terlalu jauh berbeda.

Buatlah Naik Kelas.  Masing masing pribadi atau kelompok buatlah pemahaman keagamaan kita setiap tahun bisa mengalami naik kelas. Artinya jika tahun ini menamatkan buku, maka tahun berikutnya ganti buku yang lain yang  juga untuk di tammatkan. Bila tahun ini menyelasaikan satu masalah maka tahun berikutnya membahas masalah yang lain lagi. Bila dipandang perlu maka untuk menghindari kebosanan dan untuk penyegaran bisa mencari guru baru, untuk itu bisa juga kita memintakan guru yang sekarang untuk mencarikannya. Karena guru guru itu tahu siapa diantara guru guru itu yang lebih mumpuni.

Apa yang dituliskan ini jelas sangat tidak memadai, apalagi lalu dibilang mujahid, belum,  tetapi manakala ini telah kita lakukan maka kita akan memiliki peluang untuk menjadi mujahid. Mari kita coba saja, manakala ada yang belum kita lakukan, makala lakukanlah mul;ai dari sekarang.