Bulan: Agustus 2017

Salah Untuk Benar

The Ega Of Deception

295Siapapun kita maka dipastikan akan melakukan keslahan, itulah sebabnya maka kita selalu berdoa, ya Allah tunjukkanlah yang benar itu benar di mata saya, dan tunjukkanlah yang salah itu salah di mata saya, dan berikanlah saya kekuatan untuk menegakkan kebenaran dan memerangi kesalahan minimal yang ada di diri saya sendiri. Maka manakala kita mendapati diri kita telah melakukan kesalahan maka segeralah kita istighfar dan berusaha membenarkan atau meluruskan kesalahan yang kita lakukan selama ini.  Terkait saudara kita Abu Aly,  lalu salah dia ?. belum tentu. Dan Benarkah Saya? Lebih belum tentu lagi.

Saya belum membaca buku buku yang ditulis oleh Abu Aly sehingga saya tidak tahu gagasan beliau seutuhnya seperti apa, hanya sebatas memutar youtube beliau, itupun hanya dua kali putar saja. Sementara posisi kami jauh beda. Maka tak mungkin saya bisa mengungkapkan sesuatu yang berimbang. Saya sangat menyadari itu.

Kita harus bisa menghargai ijtihad Abu Aly dengan menggunakan segala keterampilan akademisnya, sementara saya tidak menggunakan keterampilan akademis seperti itu, malainkan hanya membaca saja. Kita tahu barang siapa yang berijtihad, maka sekalipun keliru kita akan mendapatkan satu pahala. sementara kita yang belajar juga diberikan ganjaran karena mau belajar.

Namun demikian ingin saya katakan bahwa teori untuk mengakali, menipu dan menjebak itu adalah teori Barat yang memang hingga sekarang belum ada pengantinya. Sehingga kta bersedia terakali, tertipu dan terjebak di satu urusan, tetapi kita harus mengakali, menipu dan menjebak di urusan lainnya. Hubungan billateral antar kedua negara bersahabat menurut teori dan praktik Barat juga seperti itu, dengan segala kesadaran kedua negara bersahabat saling ngakali, saling menipu dan saling menjebak.  Syah adanya. Dan politik ekonomi dalam satu negarapun hampir semua transaksi baik dengan atau tampa campur tangan Pemerintah maka praktik seperti itu hampir rata di praktekkan.  Ingin bukti praktik itu dilaksanakan adalah dengan melihat rakyat tambah sengsara atau tambah sejahtera. Semakin teori tersebut diatas yang diwujudkan dengan praktik riba maka rakyat sengasara adalah produknya.

Tetapi manakala hal itu terus menerus dilaksakanakan, maka nasib bangsa akan seperti penduduk kota Irom yang diceritakan dalam al-Quran. Dua kali kota Irom berdiri, yang dihuni para orang pintar, tetapi kepintaran masyarakat kota Irom berakhir dengan kehancuran karena penduduknya bersepakat untuk saling mengakali, saling menipu dan saling menjebak, tetapi juga saling memuji.

Tugas kita yang bodoh harus belajar lebih giat, yang keliru harus segara istighfar dan berijtihad kembali untuk mencari kebenaran, bila selama ini terpaksa belajar dari teori teori Barat yang mematikan, maka sudah saatnya mencari teori dari al-Quran dan hadits yang menghidupkan.  Bila Abu Ali merasa benar, silakan diteruskan, bila merasa belum sempurna maka sempurnakanlah, agar tidak menebar racun melain menebar keberkahan. Hanya itu saja harapan dari orang yang masih merasa perlu belajar lebih dalam, tentu dengan segala keterbatasannya.

Iklan

Kader PII Harus Islami

295Saleh Miftahussalam, yang kini punya nama komersil sebagai Dr. Abu Aly. Dahulu sempat bersama sama menjadi kader PII Wilayah Provinsi Lampung. Secara usia memang saya lebih tua, tetapi secara kualitas baik dalam kader PII ataupun di masyarakat dan dunia akademik  beliau jauh lebih tinggi derajatnya dari saya, Dalam istilah Surabaya saya ini “Gak ono Taek Taek o”  terjemahannya saya tak seujung kuku beliau, demikianlah gambaran yang rasanya paling pas jika mencari persamaan dan perbedaanm antara saya dengan beliau. Demikian gambaran kebesaran beliau yang mau tidak mau harus kita akui sebagai sesama kader.

Lama tak jumpa tiba tiba jumpa di group WA, jelas Saleh Miftahussalam yang dahulu kini jauh  berubah setidaknya namanya sudah menjadi Abu Aly dan dan wajahnya sudah berubah tua. Kini beliau menjadi motivator kesohor, ada dibarisan motivator kenamaan. Walaupun buku yang sering disebut sebut sebagai hasil karyanya berjudul Pawang Manusia,  tetapi saya belum membaca buku itu, termasuk resensinya juga saya belum baca, Hanya karena melalui WA kami digiring untuk menyaksikan belaiu beraksi mensosialisasikan berbagai gagasannya dalam menerapkan pemikiran dan keyakinannya tentang cara berkehidupan yang baik, untuk itu saya memutar youtube kegiatan itu.

Setelah dua kali saya putar youtube beliau yang diedarkan oleh acun youtube atas nama Pariman Pari yang diedarkan pada 6 Mei 2015 dan pada  hari ini 20 Agustus 2017 tercatat sudah 1.387 dikunjungi. Sukses, sukses, sukses. Mungkin ini karena kebodohan saya manakala ada aspek yang saya bedai. Yang mungkin nanti pada suatu saat saya pintar dan cerdas sehingga saya mampu memahami apa yang gagasan cemerlang beliau.

Beliau dalam gagasannya mengatakan bahwa “Seseorang baru dianggap sukses manakala memiliki kemampuan untuk menipu orang lain, sementara yang ditipu justeru berterimakasih dan memohon untuk ditipu kembali”  atas dasar kebodohan saya maka saya mengalami gagal paham. Padehal sudah disampaikan oleh beliau bahwa dengan teori seperti itu beliau mengalami sukses besar.  Sukses yang didapat untuk aksi tipu tipu adalah pujian. Nampaknya tipuan dan pujian sesuatu yang bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.  Mendengar teori itu sayapun mulai merasa gemetaran,  tetapi gemetar bukan karena cerdas, melaikan karena masih bodoh saja.

Sebagai contoh praktis dari beliau bahwa seseorang dikatakan cerdas dan sukses adalah ketika berhasil menipu atau mengakali seorang wanita sehingga mau dikawini dan merasa berteima kasih atas perkawinan itu. Ditambahkan bah selaku motivator beliau menikah, keliling Indonesia bahkan beberapa kali ke luar negeri  semua didapat secara gratis, dengan mempraktekkan dua sisi yang tak terpisahkan tersebut, yaitu tipuan dan pujian.

The Ega Of DeceptionSaya langsung teringat dengan sebuah buku yang ditulis oleh Frassminggi Kamasa yang berjudul The Age Of Deseption. menurut buku ini teori tipuan dan pujian tidak islami, sehingga menjadi sesuatu yang tak boleh diajarkan kepada generasi muda. Karena kehancuran bangsa adalah karena memuji muja teori ini, dikatakan bahwa menurut teori ini tidak akan terjdi kaya manakala tidak memiliki aksi yang bersifat tipuan, yang rupanya oleh Abu Aly tipuan belaka justeru masih kurang jitu manakala tidak disertai pujian pujian.

Memang tak dapat dipungkiri Teori ini telah dibuktikan kebenarannya oleh dunia perbankan, bila bank ingin benjir nasabah maka lakukanlah gerak tipuan agar orang bisa teratarik, apalagi sejalan dengan situasi perekonomian yang memang mengarah kepada ekonomi liberal. Berbagai pujian yang menjanjikan bernagai prestise, sebagai rayuan kepada para pelanggan, yang sejatinya jerat jerat yang penaklukan yang mematikan.

Bukan hanya perbankan dan berbagai perusahaan besar menggunakan teori ini, justeru Pemerintahpun tak juga ketinggalan melakulkan praktik ini, dibuku tersebut dia tas telah dikupas lumaian tuntas, dan hasilnya adalah kesusahan Bangsa Indonesia untuk mampu berkembang, semua menjadi berjalan di tempat dan bahkan berjalan mundur, semua adalah karena mendewakan teori tipuan dan rayuan, yang nampak juga dianut oleh Abu Aly.

Jika Abu Aly akan mengatakan bahwa buktinya dia telah berhasil sukses memeraktekkan teori ini,  maka saya tak ingin membantah dan bahkan saya mampu menunjukkan bukti lain akan keberhasilan menerapkan teori ini.  Tetapi dalam buku The Age Of Deception ini adalah upaya yang sangat gencar bagaimana caranya mengalahkan teori tipuan dan pujian yang datang dari barat ini, sungguh teori ini  adalah sebagai teori laknat yang harus kita perangi.