Bulan: Juli 2017

Pemerintah Bersama PII Mengantisipasi Radikalisme di Lingkungan Pelajar.

295Sebagai mantan aktivis PII di tingkat Wilayah Provinsi Lampung ada terbersit sedikit rasa banga mendengar kabar bahwa Pengurus Besar (PB) PII akan bergandengan tangan dengan Pemerintah untuk menyelenggarakan kagiatan yang dimaksudkan sebagai antisipasi sikap radikalisme dikalangan pelajar. Letak kebanggaan saya adalah karena PII yang saya kenal adalah sebuah organisasi pelajar yang tak segan membela kepentingan ummat Islam secara keseluruhan. Tekala Presiden Soekarno hendak membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) maka tampil PII dengan gagah dan berani mengatakan secara lantang “Langkahi Dahulu Mayat Kami Baru Bubarkan HMI” katanya. Hal itulah yang membuat ummat Islam Indonse semakin sayang dan merindukan PII. Apalagi pernah PKI menyembelih seluruh peserta training pada saat mereka sedang melaksanakan sholat subuh. Sehingga sutradara merasa perlu menampilkan cuplikan pristiwa itu pada film dokumenter Penghianatan G 30 S PKI. Sejatinya PII menempati tempat yang sangat dihormati.

Tak ingin rasanya saya memesankan sesuatu terkait masalah besar ini, karena tentunya kalian lebih memahami kondisi kalian sekarang, yang bisa saja banyak hal yang telah berbeda dan mengalami perubhan apakah itu positif maupun negatif karena ciri alam  sebagai ciptaan Allah ini adalah perubahan. Dan sayapun meyakini bahwa adik adik PB PII itu adalah kader, dan kalian telah melalui kaderisasi  tingkat akhir, yang mengerti betul apa yang harus dilakukan sesuai dengan amanat organisasi yang digariskan dalam Khittah perjuangan dan AD ARTI PII tentunya.

Hanya saja yang harus kami tekankan adalah jika hal terebut terrealisasi maka bekerjalah untuk rakyat dangsa dibanding membentu Pemerintah. Bekerjalah sesuai aturan yang ada, bersikap tak terlepas dari jiwa dan semangat kebangsaan dengan belajar kepada perjalanan sejarah bangsa bukan kepentingan sesaat. Karena manakala kita terikat kepada kepentingan sesaat  maka dalam perjalanan sejarah pada saatnya apa yang kita lakukan adalah akan dianggap sampah oleh generasi yang akan datang.

Lakukanlah itu dengan rasa cinta, bahwa para pelajar itu merupakan asset untuk masa depan bangsa yang nantinya mereka akan memiliki zaman tersendiri, akan berbeda dengan masa lalu dan bahkan beda dengan masa kini. Oleh karenanya hindarilah sikap arogan yang merasa paling benar, paling panacasilais, paling cinta terhadap NKRI, paling patuh kepada UUD 1945, yang pada saat ini telah beberapa kali mengalami amandemen.  Dengan bermodalkan rasa cinta maka bagi mereka yang dituduh belum menjadi Pancasilais sejati, murni dan konsekuen atau berbagai istilah lainnya bukan berarti harus membenci mereka.

Pemerintah saja dari rezim ke rezim adalah selalu gagal melaksanakan Pancasila yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa,  Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipinpin oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Oermusyawaratan/ Perwakilan, dan Keadilan Soaial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bila kita urai satu persatu, maka belum ada sisla sila Pancasila itu yang tercapai secara sempurna, bahkan ada yang masih dari sempurna, utamanya terkait bidang kesejahteraan dan keadilan soial.

Mengapa Pemerintah sulit mencapai Pancasila secara sempurna, tentu banyak faktor yang menyebabkannya, maka tugas kita adalah bagaimana caranya berpartisipasi membantu Pemerintah untuk mengatasi kesulitan. Apalagi Pemerintah sesungguhnya tidak diperkenankan menjadi pihak penafsir Pancasila, karena berdasrakan sejarah manakala Pemerintah dibiarkan menafsirkan Pancasila, maka tafsirannya akan berubah rubah karena memang sudah menjadi karakter Pemerintah yang berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai Pancasila. Oleh sebab itu maka bagi mereka yang dianggap belum Pancasilais itu harus diajarkan dan ditanamkan Pancasila, bukan dimusuhi, melainkan dicintai, karena Pemerintah bersama ummat bangsa ini pada hakekatnya belum mencapai Pancasila dari waktu ke waktu.

 

 

Iklan