Kamu Sehat … ? Paham Hitungan Pilkada

Pihak yang sangat mengagumi kemampuan manusia menghitung secara matematis politik hingga saat ini dan mungkin akan sampai kapanpun akan sulit menerima dengan pikiran warasnya ala mereka, akan kemenangan telak Anis – Sandi dalam Pilkada DKI beberapa hari yang lalu.  Benar,  nalar yang biasa dipakai sehari hari pasti akan mengatakan Ahok jauh lebih berhak memang dengan angka yang jauh lebih tinggi dibanding apa yang diraih Anis Sandi, itu bilan dibanding dengan dana dan usaha yang telah dilakukan dan dikuasai oleh Tim Ahok. Ahok tergelincir dalam masalah remeh dan kecil.

Tim Ahok yang semula dikenal dengan teman Ahok, pendukung Ahok dan nama nama lain yang sejatinya telah bekerja untuk Ahok dalam rangka Pilkada telah bekerja bekerja jauh jauh waktu sebelum tahap tahapan Pilkada, mereka telah bekerja jauh sebelum jelas  siapa lawan yang akan dihadapi  dalam Pilkada, sehingga Ahok sempat dikenal sebagai satu satunya calon dalam Pilkada. Mereka bekerja secara provesional dan dibayar.

Sampai dengan beberapa hari lagi dilaksanakannya masa pemungutan suara putaran pertama masih banyak pemegang hak pilih dan suara yang hanya mengenal seorang saja sebagai Calon Gubernur  dalam Pilkada DKI, yaitu Ahok, dan piral di media sosial. Sehingga semua orang yang menggunakan  pemikiran matematis politis. Dan kesimpulannya Ahok pasti menang telak.

Memang hasil hitung cepat dengan menggunakan metode tertentu mengkalkulasi kemenangan tipis pasangan Anis Sandi sekitar 1,5%, tetapi kemungkinan kelirunya (eror) justeru cukup besar dan melebihi angka kemenangan berdasarkan hitingan sehingga sangat besar peluang kemenanganpun beralih ke Ahok, itulah sebabnya pihak Ahok dianjurkan memberikan berbagai polesan, sehingga banyak yang beralih memilih Ahok.

Semua taktik dan strategi telah dilancarkan, jangan tanya hoak dan meme, kelompok Ahok benar benar merajai, tetapi tampa mereka sadari Hoak yang  dan meme yang mereka lancarkan secara keterlaluan, mereka mulai memfitnah orang orang yang sangat dihormati selama ini, menjadi manusia hina sehina hinanya di medsos,  mereka lupa bahwa  mayoritas pemilih adalah ummat Islam, yang sejatinya telah diajarkan sejak kecil untuk hormat kepada ulama, kiyai, ustadz, guru mengaji dan bahkan pengurus masjid. Bila mereka mereka ini terlalu dihinakan, maka hampir dapat dipastikan hati ini akan terluka, walaupun sangat  halus,  luka ini, semakin lama akan membesar sejalan dngan hinaan demi hinaan yang ditimpakan kepada para  Ulama, kiyai, habaib, Ustadz, Guru, bahkan Pengurus Masjid.Merajai dunia maya tidak dijamin mendapatkan sespon positif, karena diskusi di warung kopi juga jangan dianggap kecil pengaruhnya, apalagi mereka di diskusi warung kopi itu mulai melukai pribadi pribadi yang tak siap bicara.

Tampa disadari ujaran kebencian terhadap para tokoh iti melalui media sosial. Tidak jarang para simpatisan, dan bukan timses  Ahok, dan dikenal sebagai Islam yang taat serta berilmu,  dari kalangan Islam yang gigih mencoba coba membela Ahok dengan berbagai dalih, justeru lama kelamaan, tokoh bermulut nyinyir itu sangat dibenci di lingkungannya sendiri.  Tokoh seperti itu bukan hanya seorang, tetapi mencapai  puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan dan tidak tertutup menembus angka jutaan  seluruh Indonesia, karena kasus penistaan  agama oleh Ahok bukan hanya bagi masyarakat pulau serubu atau DKI, tetapi seluruh Indonesia,  karena sekelompok kecil saja di lingkungan saya ada saja yang diluar DKI Jakarta, banyak  terselip orang yang gigih membela Ahok, dan semakin mereka membela bela Ahok, semakin orang antipati kepada Ahok. Semakin lama kemarahan kepada Ahok semakin merata di kantong kantong Muslim.

Ujaran Ahok tentang al-Maidah di Pulau Seribu barangkali di luar  strategi dari Tim Pemenangan, Ahok sendiri yang berinisiatif,  yang justeru itu yang menjadi malapetaka besar bagi kekalahan Ahok, karena musuh Ahok jadinya bukan hanya rival dalam Pilkada, tetapi justeru para ulama, kiayai, habaib, ustadz, guru dan bahkan Pengurus masjid. Mereka semua menjadi corong di luar aturan dan tatacara kampanye, dan memang mereka merasa bukan sedang kampanye, tetapi mereka menegakkan akidah Islamiyah di hati sanubari ummat. Dan sekali lagi ini juga terjadi di luar DKI di semua kantong kantong Muslim di Jawa, di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi  dan NTB serta di pulau pulau kecil  lainnya secara serentak. Dan merekapun hadir di aksi bela Islam berjilid dalam jumlah yang sangat signifikan.

Gaya gaya teman Ahok yang sejatinya muslim, tetapi tidak menggambarkan sikap keislamannya dalam tampilan di tolkshow live di TV bukan memberikan pengaruh positif  bagi Ahok, tetapi justeru membuat matang antipati masyarakat muslim, utamanya ketika mereka menampilkan vedeo kampanye Tim Ahok, melalui vedeo yang terlanjur viral itu, kini musuh Ahok bukan lagi sebatas ulama, kiyai, Habaib, ustadz, guru,  dibisikkan bhawa Timses Ahok telah mulai menyerang rakyat kecil, dengan tuduhan rasialis,  rakyat kecil akan dihadapkan dengan etnis China yang banyak uang itu. Sebetulnya vedeo kampanye Timses Ahok telah mulai dimanfaatkan untuk serangan balik, tetapi pertolongan dari Stevanus lebih telak. Pekikan Stevanus Tiko … Tiko … Tiko … sangat menghunjam dan secara bersamaan membangkitkan reaksi akar rumput, teriakan tika menjadi terjemahan yang paling tepat untuk memahami di mana semangat vedeo kampanye milik Ahok Jarot.

Belum lagi kesalahan pengertian  dari Tim gempuran sembako, kembali ini merupakan senjata makan tuan, ketika penerima sembako dibisiki agar memilih nomor dua, benar benar dipahami secara lugu, karena memang hanya ada dua pasangan, dan mereka benar benar memilih pasangan nomor dua yang ada di kertasa suara yang hanya menampilkan dua pasang paslon. Pasangan Paslon pertama adalah Ahok Jarot, sedang pasangan Paslpn kedua adalah Anis Sandi. Kembali pasangan Anois Sandi sangat menikmati pristiwa pristiwa konyol yang sejatinya telah disusun dengan segala kesombongan dan kepercayaan diri yang luar biasa.

Alhasil kalkulasi perhitungan cepat dengan selisih perbedaan yang sangat mencolok itu tak lagi menarik untuk disimak, karena kalaupun meleset maka jumlahnya tak seberapa.  Allah mengatakan dalam al-Quran bahwa orang munafik bersama orang kafir memasang jerat dan strategi, tetapi jerat dan strategi dari Allah takkan terkalahkan. Bayangkan betapa banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh Timses Ahok Jarot, tetapi justeru pasangan Anis – Sandi yang sedang ketiban pulung itu yang menikmatinya.  Gam musdeng aku.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s