MENAKAR RASIONALITAS PEMILIH DALAM PILKADA DKI

new-pictureSeorang sahabat yang sudah lama tak jumpa darat menyematkan tautan ke akun facebook saya, sebuah rubrik yang menampilkan Renald Kasali, pakar manajemen yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sistem pendidikan nasional, utamanya pendidikan tingkat dasar, karena rasionalitas tidak sejalan dengan tingkat pendidikan ungkap narasumber. ternyata mereka yang tergolong kelas bawah justeru memiliki rasinalitas lebih tinggi,  sedangkan menengah ke atas cenderung emosional dalam memilih, saya berterima kasih atas kiriman ini.

Tetapi dalam waktu yang bersamaan sayapun kecewa dengan narasumber, karena pakar manajemen ini bias dalam mengambil kesimpulan,  walaupun bisa dimaklumi, bisa jadi narasumber dihubungi dadakan via telepon, dan tak sempat mempersiapkan segala sesuatunya untuk menampilkan pemikiran yang lebih bernas.

Tak ubahnya sepertyi yang dialami banyak orang, siapa yang tidak terhenyak menyaksikan besarnya presentase kemenangan pasangan Anis – Sandi dalam Pilkada DKI, tarok kata mereka menangpun semestinya berdasar logika  kemenangan itu seharusnya hanya beberapa persen saja, bukan mencapai belasan persen, seperti tak sanggup logika kita menalarnya.

Dalam ketrerburu buruan dan tampa persiapan memadai sehingga narasumber tak mampu mengungkit data sedikitpun, atau ruang itu terlalu sempit begi renald Kasali untuk ditampilkan memadai oleh redaktur, singkatnya ungkapan sehingga pembaca hanya menemukan ketinggian bias dalam uraian versi subjektivitas sang redaktur.

Di satu pihak Renald kasali memuji mereka yang berada di kelas rendah dan berpendidikan rendah yang karena lebih bisa berfikir  jernih dan logis dalam memilih sebagai partisipasi dalam Pilkada, sementara mereka yang berpindidikan menengah dan tinggi yang justeru terjebak dalam memilih secara emosional. Lalu Renald Kasali menganjurkan untuk melakukan perubahan di tingkat dasar (Dikdas).

Renladi membutuhkan ruang yang memadai mengapa justeru tingkat Dikdas yang dikoreksi, sementara logika lulusan kelas rendah yang dikatakan lebih rasional dalam memilih. Jika memang kelas bawah dan pendidikan rendah lebih rasional dalam hidup, dan dalam mengambil keputusan tentang hal hal yang penting seharusnya sistem pendidikan dasar itu kita pertahankan. sekali lagi ruang ini terlampau sempit bagi renald unrtuk mengungkap gagasan yang besar, sesuai dengan besarnya  kepakaran beliau.

Berbicara hasil Pilkada siapapun tak akan ketemu nalar dengan kemenangan Anis – Sandi yang begitu besar, tentu ada yang tak sejalan dengan nalar, Karena siapa yang tidak kagum dengan prestasi Ahok yang hanya dalam waktu singkat bisa merombak cara kerja dan sistem kerja di DKI  Jarang didapatkan prestasi kerja seorang pejabat sedahsyat Ahok.  Kelompok pemilih kelas rendahan hanya dalam waktu singkat bisa menerima Ahok, beranjak dari prestasi kerja Ahok.

Justeru sebaliknya kelas menengah dan atas masih juga mempertimbangkan sisi lain, seperti agama, keturunan dan sebagainya. Sisi lain itulah barangkali yang oleh Renaldi dianggap sebagai pemikiran yang irrasional. Dan dengan kemenangan Anis Sandi itu berarti kememangan kelompok irrasional, yang justeru dialami oleh kelas menenghah ke atas.  Mungkin pesan yang disampaikan adalah bahwa Pilkada DKI kali ini ditakar dari mutu rasionalitas, maka diberikan nilai merah.

Dengan kesimpulan yang sangat terburu buru Renald Kasali yang pakar manajemen itu juga menghawatirkan bahwa rendahnya rasionalitas masyarakat yang berpendidikan tinggi dan kelas atas dalam strata masyarakat, beliau melukisklan kekhawatirannya justeru mereka yang berkutat ditataran ini  dikhawatirkan kurang memiliki ketangguhan dalam menghadapi permasalah hidup, sementara beliau menganggap justeru ketangguhan hidup itu  ada pada mereka yang dikelas bawah. Jelas Renald Kastela harus menjelaskan kesimpulan yang sangat terburu buru ini.

Kita menganjurkan Renald Kasali untuk meneruskan pembicaraan ini ke ruang yang lebih representatif sehingga mampu menampilkan pemikirannya secara utuh dan didukung data data yang memadai dan baru. Terima kasih sahabat yang telah mengirimi saya tautan yang memberikan pelajaran berhargha bagi saya.  Tak keberatan bila dikirimi kembali, trims sahabat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s