Sikap Politik VS Sikap Keagamaan

new-picturePaling plong di hati manakala kita memiliki sikap politik yang sejalan dengan sikap keagamaan, tidak ada benturan dan keharusan memilih  dan meninggalkan salah satunya. Maka sebaliknya kita akan terasa sesak manakala terjadi ketidak sejalanan antara sikap politik dan sikap keagamaan, lalu kita mencari cari dalih lalu sikap kita disesatkan oleh dalih yang kita reka reka itu, biasanya bila sudah demikian maka kita akan lupa mohon ampun kepada Yang Maha Tahu, karena mengira dalil rekaan tadi benar adanya.

Wasiat Rasul kepada ummatnya adalah : “Aku tinggalkan kepadamu Al-Quran dan Hadits, Kalian akan selamat dunia Akherat manakala berpegang kepada keduanya”  demikian kira kira bunyi wasiat itu. Maka sesungguhnya sangat simpel ketika kita harus memilih, karena jelas tuntunannya. Tetapi tidak jarang kita lebih memihak ke sikap politik dibanding sikap keagamaan, walaupun kita harus mencari cari dalih untuk membenarkan sikap kita itu. Secara tak sadar kita telah melakukan perlawanan kepada Tuhan Allah.

Itulah yang sedang dialami oleh Suadara Saudara kita di DKI Jakarta terkait harus memilih dalam Pilkada Gubernur yang akan datang. Manakala mereka keliru bersikap dan memilih maka pertanggungjawaban itu akan benar benar kita pertanggungjawabkan diakherat kelak. Itulah sebabnya dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebagian besar dari kita justeru menghiba hiba meminta kepada Allah untuk diberikan kesempatan hidup kembali di dunia, walaupun hanya sehari, sekedar  untuk merubah sikapnya yang keliru itu.Akibatnya dia telah melakukan kesalahan besar dalam menapaki jalan hisupnya.

Mungkin dalam hiruk pikuk Pilkada dan berbagai iming iming menggiurkan kita sehingga kita berkesimpulan meninggalkan al-Quran dan hadits, maka yang harus kita lakukan setiap saat adalah meminta ampun kepada Allah. Jangankan kita yang sangat mudah dirayu dengan kenikmatan duniawi, sehingga kita tak segan segan menentang ketetapan Allah yang dituabngkan dalam Kitab Al-Quran, Rasulpun selalu istighfart daslam setiap saat dan kesempatan. Apatah lagi kita ini, maka barangkali akan lebih aman manakala ketika kita sedang tersesat, atau ada ulama yang menilai kita telah sesat. Harus secara jujur sejujurnya, apakah kita bersikap itu adalah berdasarkan akidah atau politik semata.

Manakala kita sadari bahwa kita telah melakukan perlawanan terhadap ajaran Islam, demi kepentingan politik maka pada saat itu kita akan tergolong munafik, berat akaibat dari kemunafikan itu,  jangankan  sempat menyesatkan yang lain, manakala kita telah menyesatkan orang lain maka kitapun akan menanggung manakala oprang yang kita sesatkan itu belum berhasilkita tarik kembali ke jalan yang benar.

Maka ketika kita memilih jalan yang lebih memilih kepentingan politik dan hawa nafsu, maka segeralah tingkatkan zikir kepada Allah dan banyak banyak beristighfar. Tenangkan hati dan pikiran mintalah petunjuk dari Allah agar tidak keliru dalam bersikap, dan yang lebih penting lagi janganlah kekeliruan kita itu harus menjadi beban kita diakherat kelak. Caranya adalah mohon ampun dan taubat.

Tetapi bukankah ada yang lebih aman lagi, yaitu  tetap di jalan Allah, yang jelas tuntunannya. Mengapa harus menempuh yang tidak jelas apalagi hanya didasarkan dalih yang dicari cari, padahal sesungguhnya kita hanya mengincar kesenangan sesaat, hanya sesaat sementara kita harus pertanggungjawabkan kelak di yaumil mahsyar Maka selagi belum terlambat maka secara diam diam evaluasilah sikap kita sendiri apakah sikap politik kita tidak bertentangan dengan sikap keagamaan yang diajarkan dalam al-Quran dan Hadits.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s