Ulama Harus Profesional, Agar Tak Dipolisikan.

Belajarlah Dari Kasus Habib Rizieq Shihab dan KH. Bahtiar Nasir.
new-pictureMendatang Ulama itu tidak cukup paham ilmu agama dan kepenganutan secara kaffah (total) dengan kegiatan pokok  pendidikan, dakwah dan peribadatan. Beberapa ulama yang memiliki daya panggil luar biasa dan ada sejumlah nama bisa dijadikan contoh, memiliki gedung atau masjid besar, bukan hanya dapat menampung ratusan hingga  ribuan jama’ah tetapi juga memiliki  lapangan parkir yang luas, manakala jama’ah sudah sudah banyak, kelak ada saja jamaah yang mengusulkan agar sang ulam membuka rekening agar mereka dapat mengirimkan infaq, sodaqoh dalam bentuk uang, dan bukan tidak mungkin jama’ah ada juga yang yang mewaqofkan kekayaannya berupa tanah atau lain sebagainya. Berhati hati kegiatan itu tidak semua orang menyukainya, karena ternyata ada juga yang mencari cari celah untuk mempolisikan ulama.Ulama yang berpengaruh ditarget untuk dikriminalisasi.

Ini kenyataan, Setidaknya ulama pada orde baru dan orde lama harus berbenturan dengan penguasa, dan kini pada Orde Jokowi (bila boleh disebut Orde) juga ualama harus berbenturan dengan pihak penguasa, setidaknya tampak pada fenomena pemanggilan Habib Rizieq Shihab dan KH. Bahtiar Nasir yang memang tak segan segan mengeritik Penguasa itu kini harus berhadapan dengan penguasa, beliau berdua dipanggil polisi dengan berbagai aduan masyarakat, dan polisi akan memprosesnya, Habib Rizieq telah berstatus tersangka sementara KH Bahtiar Nasir masih dalam proses pendalaman.Sedang  KH Ma’ruf Amin sempat diancam akan dipolisikan, yang kemudian diralat si pengancam.

Hanya dua ulama yang dijadikan sandaran dalam tulisan ini. Kedua ulama ini melihat dan menilai bahwa penguasa saat ini dalam beberapa hal mereka anggap tidak melaksanakan dan menagakkan peraturan. Mereka tidak merasa cukup dilawan dengan hanya kata kata atau dalam hati saja, tetapi beliau berdua juga melakukan sesuatuatas hal hal yang beliau anggat munkar itu. Memang sebagian besar uala kita masih belum tertarik untuk mengambil peran, mungkin atas berbagai pertimbangan, tetapi bukan berarti tidak ada celah untuk dibunuh karakternya, dan bahkan bila perlu dipolisikan, untuk itu ulamamemang harus profesional.

Hanya sedikit yang kita bicarakan yaitu mengambil pelajaran dari kedua tokoh ulama tersebut di atas. Kasus yang muncul adalah (1) Penghinaan lambang negara, (2)_Protes gambar lambang PKI pada uang baru, (3) Penyerobotan tanah di Bogor, (4) Pornografi, (5) Penistaan Agama dan mungkin akan banyak lagi, sedangkan KH Bahtiar Nasir dugaan keterlibatan dalam pencucian uang. Belum semuanya dipolisikan, tetapi tidak  tertutup kemungkinan iujung ujungnya akan sampai juga gilirannya ke meja hijau, manakala politik dan Presiden Jokowi dan Kepolisian tidak berubah atau bahkan justeru bertambah.

Maka bersiap siaplah para ulama akan menemui gilirannya, karena hal tersebut tidak terlepas dari perholakan politik setidaknya dalam waktu dekat adalah perebutan kekuasaan Pilkada dan Pilpres tahun 2019. Mungkin di tahun 2019 ummat Islam masih diposisi sebagai pecundang, tetapi setidaknya kita tidak boleh mewariskan sekian banyak beban untuk periode periode selanjutnya, karena momen politik akan selalu muncul setiap lima tahun sekali, yang selama ini ulama mengambil posisi secara pasif. Dan akibat ulama yang pasif ummatpun kehilangan pegangan, dan mereka kini berpegang kepada hal hal yang tidak islami. Jangan heran bila dalam berpolitik mereka tak berimam kepada ulama, karena memang ulama tidak memberikan wejangan,atauy memberikan wejangan tetapi justeru keliru.

Kembali ke pokok persoalan, bahwa belajar dari kasus kedua ulama tersebut di atas maka ulama agar lebih profesolan dalam beraktivitas. antara lain mendikumentasikan segala aktivitasnya secara baik, manakala menerima bantuan baik infaq, sedaqo, hibah, dan atau semacamnya dilengkapi dengan dokumen administrasi, manakala uang atau kekayaan tersebut  ada dalam jumlah banyak maka bila belum dibentuk lembaga, maka bentuklah lembaga pengelolanya, dan manakala sudah lebih banyak lagi  maka gunakan jasa yang dibnarkan oleh aturan dan perundang undangannya. yang berlaku.

Selain itu ulama juga harus memiliki tim yang mendampingi serta memberikan evaluasi atas segala aktivitas peribadatan, pendidikan dan peribadatan dan dakwah yang dilancarkan, akan lebih baik manakala tim ini memiliki kemampuan untuk mengkajinya dari berbagai sisi.

Dengan sikap profesionalisme ulama, maka mungkin pada tahun 2019 masih belum memiliki pengaruh yang signifikan, tetapi manakala profesionalisme ualama ini mungkin akan mulai nampak pengaruhnya nanti pasca 2019 yang akan adatang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s