Islam = NU + Muhammadiyah ?

new-pictureDengan semangat yang menggebu gebu Kapolri mengatakan keinginannya untuk kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah untuk melaksanakan  berbagai program,  dan Kapolri juga menghimbau agar NU dan Muhammadiyah melakukan berbagai langkah penguatan terhadap keduanya sehingga mampu memperkecil berbagai perbedaan antara keduanya, sehingga kerjasama ini mampu dilaksanakan semaksimal mungkin, nampaknya Pemerintah akan memfasilitasi berbagai upaya untuk memperkuat NKRI. Kelompok yang dirancang Kapolri ini akan terdiri dari TNI, POLRI, NU, Muhammadiyah dan Kelompok Nasionalis. Yang manakala ini berhasil maka diyakini bahwa NKRI akan semakin kokoh.

Sekilas  gagasan ini nampak simpatik dan bahkan menbanggakan,  seolah tergambar diufuk mata kejayaan Indonesia. Tetapi manakala kita renung secara lebih mendalam, ditambah lagi dengan sikap Kapolri yang seperti belah bambu, mengangkat yang satu dan menginjak yang lain dalam waktu bersamaan, justeru akan mengundang perpecahan pada internal ummat Islam sendiri.

Memang dua organisasi terkemuka  Islam di Indonesia NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi besar, namun kenyataannya tidak semua Muslim Indonesia memasuki salah satu dari dua organisasio tersebut di atas. Bila bukan NU maka Muhammadiyah, tidak. Silakan hitung dalam buku besar keanggotaan NU dan Muhammadiyah maka kemungkinan ditemukan bahwa justeru sebagian besar ummat Islam Indonesia sekarang jangan jangan ada di luar keduanya. Karena sangat banyak ummat Islam yang sejatinya tak sempat tersentuh oeh NU dan Muhammadiyah.

Para intelektual Muslim selain melakukan study keislaman di dslam negeri juga tidak   kalah banyaknya yang melakukan study Islam di luar, mereka umumnya bila bukan ke Timur Tengah dan Afrika mereka  ada juga yang ke Barat, Eropa dan Amerika. Antara keduanya memiliki styl yang berbeda selain bebetrapa persamaan  diantara keduanya. Masing masing dengan kelebihannya dan kelemahannya. Sebagian besar diantara mereka  merasa tak cukup terakomodir inspirasinya baik di NU maupun Muhammadiyah. Lalu apakah mereka tidak dianggap Islam, atau dianggap Islam lapisan kesekianm, menjadi kelompok yang harus diwaspadai.

Yang dibutuhkan sekarang bagi ummat Islam adalah bagaimana agar para ulama ini bersatu sehingga ummatpun bersatu pula,  hindarilah gontok gontokan antara sesama ulama. Insya Allah ummat Islam di Indonesisa sangat menghormati ulama. Untuk kita ketahui juga bahwa jumlah ulama sekarang relatif banyak, selain ada yang lulusan dalam negeri, maka tidak kalah banyaknya mereka yang meryupakan lulusan  luar negeri, mereka yang lulusan luar negeri itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Para ulama muda sebagian besar tidak masuk ke NU dan tidak juga ke Muhammadiyah, walaupun faham secara kemazhaban mereka sejalan dengan NU dan sejalan dengan Muhammadiyah, tetapi mereka merasa ada hal hal yang mereka  pentingkan nampaknya kurang terakomodir di NU maupun Muhammadiyah, sehingga mereka mencari komunitasnya sendiri walaupun dalam jumlah yang jauh di bawah NU dan Muhammadiyah. Tetapi bila kita kumpulkan komunitas komunitas di luar NU dan Muhammadiyah ini maka jumlahnya tidak kalah banyak dengan NU dan Muhammadiyah, mereka adalah jama’ah pengajian, jama’ah diskusi, jama’ah study dan banyak lagi  nama nama lain. yang juga diikuti oleh mereka mereka yang ingin mendalami Islam, dan kenyataannya mereka nyaman, dengan indikator kecintaan mereka  kepada masjid dalam artian beribadah.

Mereka semua adalah bagian dari ummat Islam Indonesia yang harus kita persatukan, upaya mempersatukan ini  harus dilakukan oleh para pihak, dan Pemerintah diharapkan juga untuk memfasilitasi penyatuan ummat agar berdayaguna dan berhasilgua. Tetapi sebaliknya manakala kita mencoba coba untuk menidakkan mereka yang berada di luar NU  dan Muhammadiyah, maka kekisruhan dipastikan akan tersulut. Silakan saja Kepolisian akan melakukan kerjasama, itu sangat baik, silakan saja Kepolisian akan memberdayakan NU dan Muhammadiyah itu sangat mulia, tetapi bukan berarti dalam waktu bersamaan janganlah menidakkan kelompok di luar itu. Mereka senagai ummat Islam  yang bersaudara dengan kita semua.

Allah memperingatkan janganlah kamu menjadi kelompok kelompok dan masing masing kelompok menganggap kelompoknya yang paling bagus dan paling benar, karena sikap seperti itu adalah sangat dibenci oleh Allah (al-ayah) Mari kita renungkan secara lebih mendalam karena ummat Islam Indinesia sekarang sedang membutuh persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan NKRI, Pancalisa dan UUD 1945.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s