Anatara Budaya Dan Bahasa Arab

Fachruddin Islam itu diturunkan di tanah Arab dalam bahasa Arab. Akan sulit untuk mendalami Islam tampa mendalami bahasa Arab. Memang ada merekayang studi Islam di Eropa dan lulus dengan baik SI, S II  dan S III. dalam study Islam di Eropa atau Amerika. Tetapi mereka tak bersentuhan langsung dengan itab kitab yang ditulis oleh orang orang yang sempat berjumpa dengan tabiin, atau tabiit-tabiin, atau tabiit-tabiit Tabiin. Yang diantara mereka merasakan hidup di era yang disebut sebut oleh Rasul sendiri senagai era yang kualitas kepatuhan dan ketakwaan rata mencapai puncak. Membaca karya mereka dipastikan akan beda suasana batin kita dengan ketika membaca kitab kitab di era belakangan.

Untuk memahami secara tuntas study Islam di Timur tengah banyak orang harus memahami bahasa Arab, dan untuk menuntaskan pemahaman bahasa Arab itu juga harus memahami budaya Arab yang tersisa. Untuk kita ketahui bersama bahwa budaya Arab itu budaya yang tak mudah akan berubah. Maka akan memungkinkan bagi para peneliti akan menemukan sisa sisa budaya tempo dulu di Arab.

Untuk sudy Islam di Arab membutuhkan bahasa Arab, dan untuk memahami Bahasa Arab membutuhkan pemahaman akan filsafat Arab. Untuk memahami tafsir al-Quran dan tafsir ASl-hadis pemahaman bahasa Arab itu sangat mutlak adanya. Dan untuk menghayatiajaran Islam membutuhkan sussana batin yang mampu mengusung pemikiran atau pesan yang terkandung dalam teks al-Quran maupun al-hadits. Maka segala asesoris sangat mendukung timbulnya suasana batin yang kondusif. Dengan demikian secara fisik dan batin kita tidak mengalami perbedaan dalam menghayati objek study.

Ada perbedaan suasana batin yang berbeda manakala ajaran Islam disampaikan oleh seseorang yang alim billah, bukan hanya teori, tetapi juga dipraktekkan oleh seorang guru yang dilengkapi dengan sedikit asesoris pakaian melekat dibadan. Jelas akan sangat berbeda bila ajaran itu disampaikan oleh seseorang yang menggunakan celana jean dan kaos blong buatan asli Amerika. Para anggota tablegh akan terbawa suasana batin manakala para jama’ah itu memakai pakaian putih, dibanding anekaragam warna dan model, walaupun sudah sukses dalam show.

Tidak puas dan bahkan bosan rasanya kita berjam jam diceramahi narasumber  yang tidak pernah mensitir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s