Mengenang Buya Hamka

Fachruddin Di sekitar tahun akhir 1960-an seingat saya ceramah subuh di radio yang selalu dinanti nanti adalah ceramah Dr. Buya Hamka. Bila kita coba keluar rumah pada jam jam itu maka terdengarlah gaung suara Buya Hamka memberikan ceramahnya. Nanti di sore harinya sambil menunggu waktu sholat magrib saya dengan orang orang tua dan dewasa pada saat itu saling tanya dan saling cerita tentang ceramah Buya Hamka tadi pagi, lalu siapa diantara mereka yang memiliki pengetahuan dan pengalaman keagamaan agak lebih dari yang lain, nampak lebih banyak mengulas tentang ceramah Buya, walaupun isinya lebih kemampuan yang bersangkutan mengulang kembali cuplikan isi ceramah itu  karena dia memiliki kesetiaan inmgatan yang lebih dibanding yang lain.

Kenangan indah itu terusik kembali pada saat saya mendengan lagu Mars Jihad maka

ingatan sayapun kembali kepada acara Buya Hamka di Radio, karena lagu itu  seingat saya dipuitar terlebih dahulu sebelum ceramah berkumandang. Lagu itu judulnya  Panggilan Jihad  yang dikarang oleh Buya Hamka.

Buya Hamka adalah seorang ualama yang dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena tidak bersedia  membaca khutbah dengan Thema Nasakom. Pada saat itu Sukarno sebagai Presiden sedang mengkampanyakan Teori Nasakom sebagai ideologi pegangan Indonesia

yang terbilang sangat majemuk ini, tetapi dalam waktu bersamaan Partai Komunis Indonesia (PKI) justeru gencar melakukan berbagai penghianatan penghianatan, dan dalam penghianatannya adalah paling tega melakukan pembunuhan massal.

Politik Presiden Sukarno Nasakom itu sempat membuat ummat ini terpecah, karena ada juga kelompok yang sangat menghindar perseteruan dengan Pemerintah, mereka adalah kelmpok yang paling gampangan mafhum dengan keinginan politik penguasa. lalu kelompok ini juga dengan cepat melakukan penghitungan untung rugi, antara manfaat dan mudhorat dari menerima dan mendukung.

Tetapi umat tidak terlampau paham dengan hitung hitungan kelompok ini, sehingga perpecahan mengancam.  Benar saja PKI melancarkan puncak penghianatannya dengan upaya merebut kekuasaan yang sah dengan gerakan 30 S PKI nya. Penghiatan ini memang  juga akhirnya berdampak beralihnya kekuasaan dari tangan Presiden Sukarno, yang nampak masih enggan mengakui teori Nasakomnya telah gagal total.

Pada saat terjadinya peralihan kekuasaan secara konstitusional nampak Islam masih bercerai berai untuk tidak dikatakan saling mencurigakan akibat perasaan dan pengakuan sebagai pihak yang paling benar diatas kelompok yang lain. Pada saat itulah Buya Hamka mengarang lagu Panggilan Jihad ini, sebagai ajakan untuk bersatu bila ingin lebih berperan membangun Indonesia ini. Tetapi seruan suci Buya Hamka ini seperti berlalu begitu saja, karena selalu saja ada kelompok yang merasa paling bersih dan peling benar dalam bersikap. Entah sampai kapan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s