Edukasi Itu Bukan Intoleransi

Fachruddin Bagi Islam pakaian yang mirip dan apalagi ada kaitan historis dengan agama atau identitas tertentu secara spesifik dengan luar Islam atau nono muslim hukumnya memang haram dan harus diedukasikan kepada ummat, dan mohon itu jangan dikatakan sebagai sikap yang intoleransi. Anda harus tahu bahwa Islam memiliki aturan yang ketat dalam berpakaian.  Bisa jadi agama lain memang tidak memiliki ajaran yang ketat masalah pakaian, maka tentu saja ini tidak menjadi masalah, sedangkan bagi Islam itu masalah, dan tentu saja kita semua harus menghormati ajaran Islam itu. Dan adalah sudah sewajarnya bila ummat Islam mendapatkan edukasi yang memadai

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali menjelang natal hingga sehari atau beberapa hari setelah natal, banyak karyawan yang Muslim yang diharuskan memakai pakaian atribut natal karena kebetulan yang bersangkutan menjadi karyawan di hotel atau di restoran atau tempat lainnya. Hal ini telah berlangsung bertahun tahun, dan semakin ke sini semakin semarak, sehingga masyarakat dan yang bersangkutan, hal ini membuat resah dan mereka meminta fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Maka sewajarnya bila MUI mengeluarkan Fatwa tentang huykum memakai atribut non muslim bagi  seorang muslim. Seharusnya farwa ulama semacam itu akan dijadikan dasar untuk menentukan hukum positip. Fatwa sangat dibutuhkan ketika ada hal hal yang terasa kurang asdil atau merugikan orang orang tertentu atau kelomp[ok tertentu  sementara belum ada hukum yang memayungi mereka, dan terasa sulit dicaraikan yurisprodensinya, maka sekali lagi pada saat seperti itu maka fatwa ulama sangat dibutuhkan oleh ummat.

Mungkin ada pihak yang ingin mengatakan bahwa pemakaian topi  Sinterklas, tidak ada hubungannya dengan natal.Tidak ada hubungan theologis,  bisa saja hubungannya ad secara historis dan filosofis,  Mungkin secara hiystoris tidak, atau kadang diakui dan terkadang diingkari.  Tetapi kenyataannya topi itu selalu muncul pada saat perayaan natal, dan tak lazim muncul pada saat saat momen yang lain, maka itu disebut spesifik  perayaan natal, dan hal hal yang terkait dengan sesuatu yang  spesifik perayaan natal, maka ajaran Islam menetapkan hal itu tidak boleh disematkan kepoada penganut Islam, tidak boleh dikenakan oleh seorang muslim.

Fatwa MUI yang diterbitkan adalah terkait dengan simbol simbol agama lain, haram hukumnya dipakai oleh Muslim,  Sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka sewajarnya saja Pemerintah yang melaksanakan perlindungan kepada ummat Islam, melaksanakan edukasi akan hukum dan fatwa Uloama. Tentu lindungan dan edukasi adalah keharusan, agar masyarakat dapat berdampingan secara damai. Damai artinya masyarakat terlindungi serta tegaknya hukum, damai itu bukanlah pembiaran terhadap penistaan dari mereka yang kuat.

Untuk itu Pemerintah harus melaksanakan edukasi, karena Pemerintah bertugas melaksanakan penegakan hukum, dan jangan biarkan organisasi melaksanakan edukasi dengan cara sendiri sendiri, tetapi ajaklah berdampingan dengan pemerintah. Manakala Organisasi dibiarkan berjalan sendiri sendiri maka tidak tertutup kemungkinan akan memunculkan pro dan kontra. Oleh karenanya adalah keliru manakala ada pihak Pemerintah yang mengesankan seolah olah Pemerinytah justeru berseberangan dengan MUI, apalagi dibumbui dengan dalaih demi NKRI, Pancasila dan UUD 1945, serta toleransi, karena hal itu akan mengesankan seolah olah penghasut benturan antar masyarakat,  sekali lagi jangan. jangan begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s