ANTARA AROFAH DAN MONAS

Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Monas 212 diinspirasi dari Wukuf di Arofah, wukuf di Arofah adalah puncak acaea Haji  yang pada saat itu kita manfaatkan untuk  beristighfar sebanyak mungkin, memohon ampunan atas segala kesalahan seraya juga berdoa bagi keselamatan bersama seagama dan sebangsa. Kehadiran hamba di Arofah adalah sesuatu yang dibanggakan Allah dihadapan para Malaikat. Tetu demikian juga yang dilakukan oleh Jama’ah Aksi damai 212 di Monas pada tanggal 2 Desember 2016 selain bertakbir, mereka juga tahlil dan tahmid serta istighfar dan berdoa untuk semua.

Sekitar tujuh jutaan jama’ah hadir untuk berdoa kepada Allah, untuk mengetuk hati para pejabat yang menunjukkan keberpihakan kepada penista agama. Agar terketukhatinya menegakkan keadilan dengan menegakkan hukum, menghukum mereka yang melakukan kesalahan secara adil dan bermartabat.

Tentu saja unjuk rasa ini harus dilakukan sacara ekstra hati hati,  karena serentak banyak orang yang kurang menyukai Islam justeru menuduh ini adalah gerakan anti Pancasil dan anti NKRI, sehingga para pengunjuk rasa sangat berhati hati agar jangan ada muncul celah  untuk mempersalahkan islam yang sejati sedang dinista oleh seseorang.

<!–more–>

Dalam pada itu tentu zikir istighfar, hamdalah dan tahlil dsb diucapkan dari hati yang paling dalam, Dari mereka yang sukses dalam berniaga sampai dengan pedagangan asongan seperti berlomba mengambil kesempatan untuk berkorban membantu aksi yang sangat menetukan masa depan ummat Islam di Indonesia ini. Apalagi pada aksi sebelumnya yaitu aksi 411 yang diselenggarakan pada 4 November 2016 yang lalu mampu mengumpulkan dan menyisakan sumbangan sukaraela  hingga hingga puluhan atau ratusan milyar  rupiah. Atau dalam jumalh yang tak terhingga banyaknya.

Tentu saja  mereka yang sangat membenci Islam berteriak teriak agar yang berwajib mengedit  keuangan untuk membiayai demo besar itu. Tetapi dilain pihak justeru sipenyumbang semakin bersemangat, bukan hanya mereka yang sukses saja, tetapi para pedagang asongan yang kembang kempispun membagi bagikan dagangannya kepada jam’ahsecara gratis. Mereka sama sekali tidak khawatir mungkin pada saat mereka yang menyumbang itu akan diaudit dengan segala kebenciannya.

Bagaikan di Arafah mereka yang menyumbang seperti berlomba lomba, mngkin anda masih ingat bagaimana puluhan atau mungkin mencapai ratusan truck yang berisikan penuh minuman dan makanan yang niatnya akan mereka berikan kepada para jam’ah, bukan tidak mungkin jika saya katakan bahwa ini terinspoirasi dari situasi di Arofah. Tetapi bagi mereka yang hadir di Monas mereka sangat merasakan kesamaan dengan situasi di Arofah pada musim Haji.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s