Tak Perlu Demo Tandingan

Fachruddin Demo Bhineka Tunggal Ika yang menurut info semuala akan diikuti seratus ribu orang bersama sejumlah tokoh panutan, walaupun para tokoh tokoh tersebut berebut menolak, tetapi ada juga yang mereka tidak disebut sebut sebagai tokoh panutan yang akan menghadiri, tetapi kenyataannya hadir, yaitu Pakar Hukum Tata Negara Refli Harun dan aktivis Fajrul Rahman, yang keduanya mulai tertarik ke dunia usaha, keduanya mulai menekuni profesi baru sebagai Komisaris perusahaan besar milik negara BUMN.  Info awal mengatakan parade ini diniatkan untuk menandingi demo 411 yang terdiri dari para ulama beserta santri dan jama’ahnya yang berjumlah sekitar dua juta orang itu.

Selain itu juga dimaksudkan bahwa demo parade ini sebagai contoh pelajaran bagaimana berunjukrasa yang baik, tidak berakhir anargis, sayang rencana yang demikian bagus ini terbilang brantakan, mungkin momennya kurang tepat, atau issuenya kurang gereget, walaupun sebenarnya acara itu telah disetting oleh beberapa orang yang cukup pakar dalam bidang ini. Namun demikian pantas kita acungi jempol, mereka sangat tertib, dan pulang secara tertib pula. Tak ada persoalan,  Ya sudahlah unjukrasa telah dilaksanakan dengan baik baik, kalaupun ada kerusakan, itu tak lebih dari sampah dan kerusakan taman belaka, yang bila dihitung kerugian  biayanya sangat tak sebebarapa , apalagi  dibanding dengan nilai mutu philosofi setting demo pelajaran itu.

Sebagai masyarakat yang baik kita tak boleh membandingkan demo ini dengan unjukrasa 411, demo 411 adalah protes akan keterlambatan pihak  Pemerrintah dalam hal ini Kepolisian menangani kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI yang sekarang sedang cuti dalam rangka Pilkada. Demo tersebut melahirkan kesempatan bahwa kasus ini akan ditangani secara cepat dan terbuka.

Memang masih menyisakan sedikit masalah, dan Kepolisian masih membutuhkan waktu untuk mewujudkan janjinya untuk menangani kasus penistaan agama ini dengahncara yang seadil adilnya, namun dilain pihak ada pihak yang masih seolah meragukan kesungguhan Kepolisian dalam menangani kasus ini secara adil, karena memang Ahok sebagai pihak terlapor diperlakukan berbeda dengan penista agama sebelumnya yang ditindak secara tegas, sementara ketegasan itu belum nampak jelas. Ini butuh waktu, jika pihak Kepolisian tidak segera menangkap terlapor sepertikasus kasus sebelumnhya.

Kita berharap pihak Kepolisian akan berhasil meyakinkan ummat akan keseriusannya dengan kerja dan langkah langkah nyata, karena masalah ini tidak cukup diselesaikan secara retorika saja. Barangkali ini sebabnya diselenggarakan unjukrasa Bhineka Tunggal Ika yang semula diniatkan untuk pelajaran bagi semua pihak. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s