Bahayanya Pengamat Palsu ?

Fachruddin Dalam dunia politik pengamat diharapkan mampu memberikan pencerahan atas hiruk pikuk kepentingan masing masing, apa yang dilontarkan oleh pengamat diharapkan akan membuat masyarakat menjadi cerdas, dari penuturan pengamat masyarakat akan mengetahui kebenaran dan kesalahan  yang ada di masing masing pihak yang merasa benar, karena manusia tak mungkin mampu mencapai kebenaran secara mutlak. Tetapi masyarakat akan menjadi semakin bodoh manakala pengamat yang disangkakan jujur itu ternyata berat sebenalh. Oleh karenanya manakala ada pengamat yang diberitakan bekerja untuk salah satu kelmpok atau akan sangat mengecewakan, walaupun secara ekonomis keberpihakan kepada yang berkuasa itu akan menguntungkan, itu hak setiap manusia, tetapi tolSedang kelompok lain keliru adanya. ong jubah kehormatan selaku pengamat yang berdiri di atas kejujuran dilepaskan sehingga masyarakat tak tak tertipu lebih dalam. karena bagi orang yang memihak dalam suatu perdebatan, maka kebenaran itu hanya didapatkan dari pihak yang didukung saja, dan masyarakat akan mwngalami gagal pintar. Itylah aktibitas pengamat palsu.

Dalam ilmu hadits ditegaskan bahwa hadis yang terkategori sahih akan dikelompokkan menjadi hadits yang lemah manakala slah satu perawi, orang yang meriwayatkan hadits itu terlibat dalam aktivitas politik. Dan hadits yang terkategori seperti harus dihindari untuk dijadikan alasan atau dasar dalam penetapan hukum, atau petunjuk petunjuk bagi masyarakat untuk bersikap atau melakukan sesuatu yang penting.Demikian ilmu hadits itu mengajarkan kehatiu hatian kita kepada ilmuan sekalipun bila telah memulai berafiliasi kepada kelompok politik tertentu.

Demikian juga tentunya para pengamat yang kita pakaikan baju kejujuran dalam hidupnya, itu hendaknya segera dilepaskan secara otomatis manakala yang bersangkutan tidak lagi mampu netral,  maka akan lebih terhormat manakala yang bersangkutan melepaskan sendiri jubah kejujuran yang dipakainya, dan sejak saat itu dia diperbolehkan melihat sesuatu dari kacamata yang tak netral, yang bagi seorang praktisi itu syah adanya, berbicaralah sesuai dengan kepentingan kelompoknya, dan orangpun tidak akan merasa kehilangan rasa hormat, karena memang keberadaan yang bersangkutan dibenarkan dan dilindungi oleh UU dan aturan lainnya yang berlaku dalam berbangsa dan bernegara.

Tetapi kekecewaan dan bahkan kebencian akan mncul kepada seseorang yang mengenakan jubah kehormatan sebagai pengamat yang menjunjung tinggi kebenaran dan objektivitas, manakala dalam pengamatannya ternyata yang bersangkutan memenangkan salah satu pihak.Dia hanya mampu menemukan kebenaran itu hanya berada pada pihak tertentu yang dibelanya, sementara pihak yang lain semua salah adanya.  Sebenarnya untuk merasakan ketidak jujuran para pengamat utamanya bagi seseorang yang akan merasakan langsung kesengsaraan atas sesuatu yang tidak seharusnya dideritanya dideritanya. atau ketika ketidakadilan atasbsesatu yang tak direspon pengamat.

Untuk kita ketahui bahwa seseorang tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi tinggi jika hanya untuk mampu merasakan perlakuan yang tak sdil bagi dirinya. Orang tersebut juga akan dengan sangat mudah untuk merasakan ketidakjujuran atau keberpihakan pengamat tentang masalah yang dihadapinya itu. Walaupun Ia kalah dalam berdebat dengan pengamat yang tak jujur itu, tetapi bukan berarti kalah berdebat dengan pengamat yang culas maka  berarti sang penculas secara otomatis dianggap benar, tidak, Apalagi dia bukan satu satunya pengamat yang ditampilkan.

Demikain juga dengan ulama atau ilmuan yang sudah terlalu dekat dengan penguasa yang lalu kehilangan sikap kritis terhadap penguasa yang banyal melakukan keslahan itu, apalagi ulamadan ilmuan telah nampak menghamba hamba, maka sesungguhnya jubah ulama atau ilmuan yang dipakaikan kepada ulama dan ilmuan itu secara otomatis gugur dan terlepas di mata ummat. Lepaskan baju ulama dan  ilmuan bila telah mulai menghamba kepada penguasa, apalagi penguasa itu dinilai lalim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s