TRUMP DAN MASA DEPAN DUNIA ISLAM

REDAKSI SUARA NAHDATUL ULAMA
n-u-lambangDunia kini semakin banyak mengalami kejutan dan perubahan pola yang mungkin saja memiliki efek jangka panjang yang pengaruhnya juga belum semuanya bisa diperkirakan. Setelah kejutan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), kini dunia dikejutkan dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat. Ia merupakan kuda hitam yang kini akan memimpin negara adidaya selama empat tahun ke depan.
Ucapan-ucapan Trump pada masa kampanyenya yang terkait dengan Islam menimbulkan kontroversi. Hal ini menyebabkan banyak orang bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh presiden yang juga miliarder ini? Ia pernah menyatakan akan menutup Amerika Serikat bagi Muslim, meskipun kemudian diubah lagi, tetapi nuansa islamophobia yang dikatakan olehnya masih tetap terlihat.
Sekalipun sebuah negara memiliki sistem pembagian kekuasaan yang sudah mapan dan jelas antara legislatif, yudikatif, dan eksekutif, tetapi kebijakan seorang presiden masih memiliki pengaruh yang sangat besar. Ia bukanlah raja yang berkuasa mutlak, tetapi di tangannya, ada kekuasaan yang memungkinkan banyak hal terjadi, apalagi pada sebuah negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Era Bush II menunjukkan akibat kebijakannya yang sampai sekarang masih menimbulkan akibat-akibat buruk yang belum terselesaikan, bahkan menimbulkan masalah-masalah baru yang tak terduga sebelumnya. Dan pemahaman Trump terhadap Muslim yang mungkin saja sangat awam, bisa saja menimbulkan efek yang tak terduga di masa mendatang.
Selama pemerintahan George W Bush pada 2001-2009 ia menyerang Irak dengan alasan adanya senjata kimia pemusnah massal yang ternyata tidak terbukti. Jumlah korban jiwa akibat perang ini mencapai 460 ribu jiwa lebih. Hingga kini luka-luka akibat perang belum sembuh. Keberadaan ISIS merupakan kelanjutan dari ketidakstabilan di Irak akibat perang yang dimulai 13 tahun lalu. Keamanan menjadi barang mahal di Irak. Afganistan juga menjadi sasaran dari Amerika Serikat selama era Bush. Semuanya dilakukan dengan alasan preemtive war atau penyerang terlebih dahulu untuk menghancurkan kekuatan potensial lawan sebelum pihak musuh menyerang.
Jika Trump menggunakan pendekatan keras terhadap Muslim, yang kini jumlahnya 1.6 miliar, maka hal ini bisa saja mendorong kelompok ekstrimis untuk mengambil kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya atas nama membela Islam yang sedang “dikuyo-kuyo” oleh Trump. Muslim mayoritas yang diam, akan menjadi kelompok yang paling menderita. Akan lebih banyak lagi korban yang tidak seharusnya menderita.
Kawasan Timur Tengah yang labil mungkin akan terkena dampak paling besar dari kebijakan AS. Hingga kini, masalah Palestina, Suriah, Irak, Iran dan negara-negara sekitaranya masih menunggu kebijakan presiden baru tersebut apakah tetap sebagaimana yang dilakukan oleh Obama atau ada solusi baru yang lebih baik. Yang tak boleh dilupakan, kemungkinan lebih buruk mungkin saja terjadi. Yang jelas, PM Israel Benjamen Netanyahu menyatakan kegembiraannya atas terpilihnya Trump. Sementara Iran, menekankan pentingnya menjaga perjanjian nuklir. Palestina, masih akan menjadi persoalan yang mengemuka.
Bagi kita, warga Indonesia dan dunia Muslim ada banyak hal yang perlu kita apresiasi dan ambil pelajaran dari pemiihan presiden Amerika Serikat ini. Pemilu bisa berlangsung dengan damai. Permasalahan seputar pemilu yang dialami di Indonesia seperti adanya politik uang juga tidak terdengar. Pihak yang kalah dengan segera mengakui kekalahannya, tidak perlu proses panjang untuk membawanya ke pengadilan sebelum akhirnya benar-benar mengaku kalah. Ini menunjukkan kematangan masyarakat Amerika Serikat dalam berdemokrasi. Pemilu di negara-negara Muslim, masih menyisakan berbagai persoalan ketika penyelenggaraan selesai.
Di tengah globalisasi ini, semua kepala negara dipilih untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya di hadapan berbagai kepentingan lainnya seperti kepentingan regional dan global. Apa yang terjadi di Inggris dan Amerika Serikat ini menunjukkan fenomena tersebut. Jika perlu menggunakan kekuatan bersenjata, hal tersebut akan tetap dilakukan demi kepentingan nasional, meskipun hal tersebut melanggar atau mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Seorang presiden, hanya bertanggung jawab kepada pemilih di negaranya masing-masing, tidak kepada komunitas internasional. Akhirnya, jika orientasinya hanya dalam skup negara, masyarakat internasional bisa dirugikan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, memiliki kekuatan untuk menggerakkan dunia menjadi lebih baik. Pemimpin yang di tangannya ada kekuatan besar, tetapi jika ditujukan hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau negaranya saja sementara di sisi lain mengabaikan kepentingan kemanusiaan secara luas, bisa menjadi ancaman dunia.
Seorang tokoh dunia adalah mereka yang mampu menembus sekat-sekat kepentingan dan lintas batas geografis, merekalah para pengabdi kemanusiaan. Inilah yang dilakukan para nabi dan rasul, yang membawa manusia kepada pencerahan dan dunia yang lebih beradab. Sayangnya, dalam dunia yang lebih canggih dan semakin banyak orang pintar, semakin susah mencari figur seperti itu. Dunia, semakin dipenuhi oleh sifat-sfiat keserakahan dan kepentingan yang semakin sempit. (Mukafi Niam
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s