Ahok Diusir Oleh Masyarakat Miskin

Fachruddin Berita pengusiran Ahok sebagai calon petahana dalam Pilkada DKI adalah berita yang sangat mengejutkan, tidak salah bila ini disebut sebagai fenomena baru pada Pilkada di Indonesia, mengapa. Pada saat Pilkada begini para calon itu mendadak menjadi manusia tampa cela/dosa dan bahkan cenderung  menjadi sinterclus. para caln itu mendadak menjadi sosok yang sangat santun dan dermawan. Mereka umumnya akan selalu bertanya tentang apa yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Dan seolah mereka sendirilah yang akan membantu Tetapi beda halnya yang dialami oleh Ahok sebagai penyandang elektabilitas tertinggi Pilkada DKI 2017 dan tiada pesang yang berarti. Ahok dalam berbagai kasus bak kebal hukum.

Tidak kurang dari seorang Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa Ahok adalah manusia sakti, yang memiliki kemampuan untuk memenangkan sesuatu tampa harus bertanding, termasuk dalam Pilkada ini Ahok telah menghimpun ribuan teman Ahok, teman Ahok telah mengumpulkan sejuta copy KTP yang mendukung Ahok dalam Pilkada kali ini. Kemenangan ada dipelupuk mata, barangkali itu pula latar belakang protes Ahok bahwa  sebagai petahana dia tidak akan cuti karena memang tidak memilii niat untuk kampanye dan cuti sejatinya hanya pilihan, dia meminta agae kewajiban cuti hanya diberikan kepada pejabat yang berniat kampanye saja.

Memang banyak pihak terutamanya Ahokers meyakini bahwa tampa kampanyepun Ahok pasti memang. Lalu mengapa pula harus cuti, apalagi sekedar  untuk melakukan kampanye pula. Ahok pasti menang, dan itu logis berdasarkan fakta yang sahih. Tapi akhirnya cutipun tetap diambil, dan kampanyepun dilakukan juga oleh caln petahana yang dipridiksi oleh banyak pihak Ahok pasti menang.

Pada saat itulah terjadi pengusiran terhadap Ahok di berbagai tempat, yang paling memperihatikan dalam pengusiran itu Ahok terpaksa lari tunggang langgang, untung saja ada angkot yang bisa ditumpanginya untuk menuju  ke kantor polisi terdekat. Alhamdulillah Ahokpun selamat, lepas dari marabahaya yang sungguh tak disangka sangka, karena ditempat lain Ahok sungguh dipuji dan puja.  Lalu siapa yang mengusir Ahok itu.

Konon mereka terdiri dari sejumlah rakyat kecil yang sama sekali tidak memiliki nama dan prestasi apapun. Mereka terdiri dari rakyat kecil dan miskin jelata, jumlahpun tidak signifikan, dengan kata lain mereka itu datang tidak genap dan pergipun tak ganjil. Tetapi mereka juga membuat spanduk penolakan. Sehingga ada lokasi pilihan tempat kampanye Ahok, gagal dilaksanakan untuk menghindar sesuatu yang tak diharapkan. Jauh jauh sebelumnya panitia berharap Ahok tak mendekati wilayah itu.

Alasan pengusiranpun ternyata lantaran ketersinggungan atas ucapan Ahok yang dianggap menista agama Islam. Padahal telah terjadi kesepakatan bahwa dalam kampanye tidak akan membicarakan masalah agama,  dan para pemilih diharapkan memilih calon bukan melihat agamanya, melainkan melihat programnya. Maksudnya bila program yang diusung Ahok  adalah program yang bagus maka selayaknya maka Ahoklah yang harus dipilih dalam Pilkada ini. Tetapi mungkin bagi rakyat kecil, sebaik papun program dianggap tak sebanding bagi penistaan agama yang mereka anut dan Quran yang mereka imani.

Ini mejadi fenomena baru, karena biasanya para caln itu selalu disampu karena akan membagikan sesatu yang sangat bermanfaat bagi  mereka, biasanya bukan hanya uang yang dibagikan, melainkan juga tidak jarang mereka membagikan sembako, jelas ini sangat bermanfaat, itu sebabnya kedatangan para caln sangat ditunggu tunggu, dan mereka baru akan kecewa manakala kampanya itu selesai sementara tak ada sesuatu yang mereka terima untuk dipersembahkan kepada keluarga.

Sungguh ini menjadi sebuah fenomena baru, bahwa dilingkungan masyarakat kecil dan kurang berpendidikan serta jelata sejelatanya itu ternyata tidak selamanya dan semuanya bersedia menggadaikan akidah demi sedikit uang dan hadiah, justeru mereka menolak pemberian itu dan lebih membela kebenaran keyakinan mereka. Merekapun tak segan segan mengusir dan mengancam siapapun yang menghina agama mereka dan menistakan Kitab Suci yang selama ini selalu mereka baca baca dan bahkan mereka hapalkan.

Memang jumlah mereka sangatlah kecilnya, sehingga kalaupun mereka menolak memilih Ahok yang telah mereka anggap menista agama Islam itu, itu tidaklah menjadi halangan bagi Ahok untuk meraih kemenangan dalam Pilkada. Kalaupun Ahok menhentikan segala kegiatan kapanyenya, tidaklah kemenangannya akan tergangu, namun demikian bukanlah berarti kita boleh menganggap sepi protes protes rakyat kecil ini. Karena mereka yang sering dianggap sebagai orang bodohpun sejatinya harus kita upayakan agar menjadi cerdas, Seperti cerdasnya orang lain, bukan justeru dianggap tiada atau ditiadakan.

Namun bila ditinjau dari sikap mereka yang tak acuh terhadap bakal pemberian para caln demi mempertahankan keyakinan adalah sesuatu yang harus kita hormati dan terlindungi oleh hukum. Janganlah kita berbicara seenaknya hanya lantaran kita merasa orang terpelajar dan menduduki jabatan tinggi dalam Pemerintahan. Karena Pemerihtah adapun selain untuk mempertahankan wilayah juga adalah dalam rangka melindungi warganegara. Itulah salah satu tugas kita bersama, dan jangan kjangan mereka itu justeru lebih mulia dimata Tuhan, dari pada kita kita yang sombong ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s