Ulamapun Mulai Dibully

Fachruddin Sepertinya masyarakat mulai tak lagi menaruh hormat kepada para ulama, ketidak hormatan kepada para ulama ini tentu saja diawali oleh sikap internal Islam sendiri, banyak individu yang demikian dihormati yang tidak menaruh hormat kepada ulama, dan akhir akhir ini masyarakat menampakkan gejala kekurang hormatan ini, setidaknya dari berbagai kasus yang muncul di media sosial, yang lazim kita sebut nettizen. Terselip komentar segelintir nettizen yang sungguh diluar dugaan kita akan kesanggupannya membully ulama seperti membully adik kelas, sedikitpun tidak ada menunjukkan kesopanan. Memang sebagai dari mereka ternyata masih anak anak, atau mungkin juga menggunakan acun palsu, tetapi ada juga diantaranya yang meyakinkan kita sebagai orang dewasa dari kelompok tertentu.

Setidaknya di mata Ustadz Yusuf  Mansyur apa yang dilakukan oleh Nusron Wahid adalah  adalah puncak penghinaan kepada para ulama, barangkali itu yang menyebabkan Ust. Yusuf Mansyur tak mampu membendung air matanya, karena hatinya demikan teriris ketika menyaksikan para ulama di acara ILC dibentak bentak dan dipelototi oleh Nusron Wahid.

nusron-wahid-lecehkan-ayat-al-quranBukan hanya isi pembicaraan, tetapi cara Nusron bicara keras sambil memukul mukul meja dalam menegur atau lebih pantas lagi memarahi para ulama yang hadir di acara live itu yang sangat menyesakkan.

Alagi Nusron mengaku sempat dibesarkan di pesantren. Seyogyanya alumni pesantren menunjukkan rasa hormat yang lebih dibanding masyarakat umum, karena mereka dibesarkan dalam asuhan para kiyai, yang merupakan bagian dari ulama. Kenyataan ini semakin menyakitkan.

Nusron memang berbeda dengan Gus Dur, jika Nusron seperti kehilangan rasa hormat kepada ulama dan Kiyai, maka Gus Dur sekalipun sudah menjadi  Presidenpun masih saja menunjuukkan hormat dan santun kepada ulama dan kiyai. Tetapi tentu saja Nusron Purnomo berbeda dengan Abdurachman Wahid, kita tak bisa menuntut Nusron meniru sikap Gusdur walaupun belakangan Nusron telah mengganti namanya dengan menjadi Nusron Wahid. Nama boleh sama,  tetapi sikap adalah hak pribadi.

Ternyata sikap Nusron juga membuat sebagian netizen sudah mulai berani  mengata ngatai para ulama, seperti memperlakukan seseorang yang layaknya memang tak harus dihormati. Tetapi kita jangan terlalu kecewa  bila anak didik sendiripun memang kurang sopan dan santu kepada pendidiknya, santri kurang santun kepada para kiyai dan ulama, mungkin ini juga pengaruh dari sebagain ulama dan lulusan pesantrean  yang cenderung umbar perbedaan pandang diantara para kiyai.

Dengan demikian dalam kasus ini sebaiknya bukan hanya anak anak muda itu saja yang harus kita evaluasi dan kita cari penyebab serta solusinya, tetapi tak kurang pentingnya adalah para ulama dan kiyai juga berkenan evaluasi diri dan jangan umbar perdebatan di media sosial yang cenderung liar tampa aturan yang sama disepakati. Wallohu a’lam bishowab,

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s