Mengapa Para Penyamun Itu Senang Dipulangkan.

Fachruddin Acungan jempol spontan kita berikan kepada BIN yang berhasil memulangkan pengemplang dana rakyat, mereka adalah koruptor kelas kakap, karena bila diujumlahkan akan sama dengan APBN kita di masa masa sulit. Koruptor itu senang dipulangkan kata Ketua BIN yang juga seorang Purnawirawan Militer Senior. Karena yang bersangkutan tentunya akan memulangkan dana yang dikemplangnya dan yang bersangkutan akan menjalani hukuman yang sejatinya telah divoniskan. Sontak menjadi berita yang merebut halam muka media.

Kini beritapun telah reda, dan kita kembali sibuk dengan aktivitas kita masing masing, tetapi tak ada salahnya jika kita agak merenung sejenak mengapa tukang samun yang superlihai itusenang dipulangkan, tentu dengan otak samunnya ada pertimbangan pertimbangan khusus untuk melaksanakan aktivitas samunnya untuk mencari keuntungan yang lebih besar.

Andaikan Ia harus meringkuk di penjara selama empat tahun, itu tak masalah baginya, karena kerajaan bisnisnya memang sudah berdiri kokoh, segala sesuatunya tinggal lagi memencet knop, jangan coba coba cari nama mereka di Bank Bank kenamaan, kecil kemungkinan akan kita ketemukan, karena Ia memiliki sejumlah nama dan pasport kata Bang Yos, demikian Sang Jendral biasa di sapa. Boleh saja badan ada di dalam sel, tetapi kaki tangan akan bergerak dengan perintah perintah yang menggunakan bahasa yang tak mampu kita memahaminya. Mungkin tidak lama lagi ada lagi tukangsamun yang pulang kampung turun gunung.

Kalau seandainya si samun itu diperintahkan untuk mengembalikan uang yang dikemplangnya dan menggunung itu, itu tidak akan menjadi masalah baginya, karena dengan modal uang yang disamunnya selama 11 tahun itu telah berhasil membangun gunung gunung yang baru dan dalam jumlah yang banyak gunung. Dan patut diwaspadai bahwa kepulangan mereka yang senang hati itu ada memiliki rencana baru.

Tidak berlebihan jika mereka itu pulang tidak terlepas untuk mempersiapkan Pilpres yang akan datang. Setelah para pendatang itu menguasai 50% tanah di Indonesia, bukan tidak mungkin mereka akan mengambil sisanya, dan bukan pula tidak mungkin merfeka akan merebut kursi Kepresidenan karena UUD kita memungkinkan untuk itu. Untuk menjadi Presiden mungkin tidak tetapi menunjuk dan mengkampanyekan seseorang menjadi Presiden itu bukan tidak tertutup kemungkinan.

Dahuliu ketika orang orang pendatang tidak boleh menjadi kontraktor, maka dengan gampang saja dia menunjuk orang orang kita sebagai boneka. Misalkan saja saya jadi boneka mereka untuk menduduki jabatan selaku Walikota/Bupati dan bahkan Gubernur, maka saya hanya diperintahkan untuk pencitraan sepanjang periode. Saya harus tegas dan saya harus bersijh, satu rupiahpun saya tidak boleh korupsi, bila perlu seratus persen gaji saya saya sumbangkan demi pencitraan.

Lalu dari mana saya harus mendapat uang … ? Itu perkara remeh, pundi pundi saya akan diisi oleh cukong cukong itu dalam jumlah yang jauh melebih penghasilan  pejabat sama dan sederajat. Saya pasti mau itu. Tetapi nanti dulu, saya harus melaksanakan tugas utama saya yaitu melancarkan, memudahkan bisnis para cukong itu. Apabila terkait dengan bisnis mereka saya harus pasang badan.  Terlalu banyak contoh yang yang dapaty dijadikan rujukan pemikiran seperti yang saya ungkapkan ini. Inilah nasib bangsa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s