Syirik Demi Ambisi Mulyadi

Fachruddin Dedy Mulyadi Selaku Bupati Purwakarta pada saatnya nanti akan jadi model bagaimana menggeser aqidah Islam, Purwakerta yang terkenal sebagai Kota Tasbeh (santri) itu ingin dirubah oleh Dedy menjadi kota yang berciri budaya seperti ambisi pribadinya. Ya … Dedi Mulyadi yang dituduh  sebagai pemuja Nyi Loro Kidul itu jelas disangkakan ingin kota itu diwarnai oleh Nyi Roro Kidul, dengan satu keyakinan bahwa dengan inspirasi lagendaris Lori Kidul maka penduduk Purwakerta di bawah kepemimpionannya akan melahirkan manusia manusia cerdas dan modern sejahtera dengan inspirasi sepenuhnya dari Nyi Roro Kidul, dalam berbagai even Muladi Menghadirkan gambar dan patung pujaannya itu, dan memang dalam acara penting dicarikan seorang perempuan cantik menjadi model, sehingga inspirasi dari Nyi Roro Kidul akan lebih mudah tertanam. Dikatakan bahwa Dedi Mulyadi pernah mengatakan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin besar, manakala berhasil mengawini Ratu Nyi Roro Kidul. Kita tidak tahu apakah mengawini di sini seperti layaknya suami isteri di dunia nayata, karena dikesempatan lain Dedy Mulyadi mengatakan bahwa kita harus bercumbu dengan Tuhan.

Kenyataannya ada beberapa langkah memang yang harus ditempuhnya, antara lain  Assalamualaikum digantikan dengan Sampurasun, dilakukan upacara pengiringan kereta kencana, pengiringan patung raksasa, bebegig. Pada perayaan harijadi Purwakarta  dilakukan pemasangan penjor dan membungkus pohon pohon dengan kain seperti di Bali, dan dandanan Dedi Mulyadi sendiri pakai ikat kepala seperti layaknya orang Bali. Itu semua dibalut dengan istilah kekayaan budaya lokal atau lebih tepatnya kearifan lokal. Barangkali ini adalah langkah langkah menuju peminangan Nyi Roro Kidul demi untuk menjadi Pemimpin Besar. Ketika Purwakarta dihiasi penjor di seantero kota, lalu tersebar berita bahwa malam itu akan terjadi perkawinan dengan Nyi Loro Kidul.

Puwakarta Kota Patung.

Dengan demikian langkah langkah  Buopati untuk mengambil hati Ratu Nyi Roro Kidul mempersiapkan Kreta Kencana dan  di berbagai sudut kota telah diletakkan patung patung besar, bebegig, tentu juga dilengkapi dengan onggokan sesaji, bisa jadi diharapkan nanti pada saatnya Ratu Nyi Roro Kidul akan mengalami Kasmaran  di malam Persandingan Nan Syahdi itu.  Entahlah … benarkah perkawinan itu sejatinya memang telah berlangsung pada malam istimewa itu, dan keduanya sedang bercumbu,  atau bercumbu seperti apa yang dijelaskan oleh Sang Bupati dengan Istilah bercumbu dengan Tuhan.  Kalau memang perkawinan itu telah terselenggara tentu saja selayaknya kita ucapkan selamat berbahagia. Tetapi informasi tak jelas tentang perkawinan ini. Dan siapa bakal jadi pemimpin suksespun menjadi tak jelas pula. Tetapi mau tidak mau harus kita akui bahwa itu semua adalah pekerjaan besar.

Alih alih masyarakat akan mengucapkan selamat atas perkawinan yang tak jelas juntrungannya ini. Siapa pula laki laki yang berhasil mempersunting Nyi Roro Kidul entahlah. Tetapi kemaraham ummat kepada Dedy Mulyadi nampaknya semakin meluap, apa lagi kritik telah disampaikan, dialog sudah dilakukan, bebegik yang tak disetujui masyarakat sudah dirobohkan, tetapi kenyataannya jumlah patung bebegig semakin bertambah banyak dan semakin besar dan bertebaran diberbagai sudut kota.  Ummat tak rela bila kemusyrikan diterapkan demi mencapai ambisi Bupati Dedi Mulyadi, jangan sampai kota Purmakarta yang terkenal sebagai kota santri dirubah menjadi kota religi yang ditandai dengan bebegig besar di sana sini.

Nampaknya Dedy Mulyadi memang masih tetap akan memperjuangkan ambisinya, aturanpun diterbitkan,  ceramah agama dilarang untuk mempengaruhi masyarakat terkait beberapa program yang dilancarkannya, sedangkan Habib Rizieq Sihab selain dilarang untuk menginjakkan kakinya di Kabupaten Purwakarta dan tanah Sunda, bahkan  Hibib Rizieq telah dipolisikan.

Islam dan Budaya Nusantara.

Baru baru ummat di bawah pimpinan beberapa ulama menyelenggarakan Parade Tauhied yang ternyata Parade Tauhied iti antara lain dityujukan bahwa untuk menunjukkan kepada Bupati Dedy Mulyadi bahwa diantara masyarakat itu juga ada banyak terdapat ummat Islam, sekedar mengingatkan jika mungkin Kang Dedy lupa kepada mereka sehingga aspiorasinya seperti tak teraksep oleh Bupati yang mereka pilih itu. Mereka menolak beberapa aspek yang dilakukan oleh Bupati yang dklaim sebagai adat Sunda. Ummat menolak dan mengatakan itu bukan adat Sunda.

Tidak kurang dari seorang Cak Nun, Ainun Najib, seorang budayawan, memberikan dukungan moral kepada Kang Dedy agar tetap gigih memperjaungkan hidupnya budaya Sunda di Purwakarta, ditambahkan juga oleh Cak Nun agar tidak mengembangkan budaya Arab di Purwakarta ini. Ucapan itu diterima sebagai Bupati Dedy sebagai penyejuk.

Pemikiran Cak Nun mendukung Said Agil Siraj tidak menyukai budaya Arab itu melekat pada Islam sehingga Said Agil Siraj merasa perlu mempopulerkan Islam Nusantara, karena budaya Nusantara akan lebih pantas disandingkan dengan Islam dibanding budaya Arab.

Dalam situasi seperti ini maka berarti sesungguhnya Kang Dedy tidaklah sendirian. Kang Dedy bisa membaca kasus ini bukan sebatas Purwakarta saja, tetapi bacalah dalam skup Nasional, Indonesia. Artinya bahwa sekarang sedang dikembangkan bagaimana wijid Islam Nusantara dari sisi budaya, bila kelompok ini berpendapat bahwa Islam lebih pantas tersanding dengan budaya Islam. Terlepas dari rasa buruk sangka kepada Allah, mengapa Allah memilih Arab tempat menurunkan agama Islam.

Untuk Keselamatan Ummat.

Yang kita harapkan kepada para pihak adalah agar saling berpegangan tangan memelihara keimanan ummat dengan cara menyejahterakan kehidupan mereka asehari hari. Kita semua harus menjaga agar ummat terlepas dari ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan, karena ketiga hal ini akan menghampirkan seseorang pada kekufuran. Tidaklah perlu antara yang satu dengan yang lain saling menidakkan, carilah titik temunya dan kembangkan, janganlah pula kita menonjolkan keakuan, untuk disebut sebagai yang terbaik, apalagi ummat Islam ini tidak diperkenankan memiliki tabiat sekterianisme, sebagaimana dikatakan “Janganlah kamu berpecah pecah Dan merasa kamu lebih baik dari yang lain” tentunya ini juga harus kita pahami bahwa Islam Nusantara tidak boleh kita banggakan sebagai Islam yang lebih baik dari yang Islam yang lain. Karena pada hakekatnya tidak ada Islam Arab dan tidak ada Islam Nusantara, yang ada hanyalah “Islam” (titik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s