Da’i Dan Pebisnis

Fachruddin Semakin banyak pesanan bagi seorang dai tersohor  untuk menyampaikan dakwahnya, semakin sulit dia menentukan  mana yang diterima dan mana yang ditolak atau diundur untuk lain waktu maka dalam waktu bersamaan muncullah apa yang disebut dengan tarip, tarip terkait pesanan kadang nyaris identik dengan peperangan, setidaknya perang tarip.  Masalah ini akan terjadi  terutama bagi para da’i muda. Kenapa da’i muda, karena da’i muda sangat mempertimbangkan tampilan, karena tampilan yang sempurna itu maka mendorongnya  untuk menempati kelas yang yang tak jauh beda dengan artis, ciri artis adalah mahalnya bayaran.

Tak terpungkiri kini muncul nama nama da’i yang dibesarkan oleh televisi  yang kepopulerannya mendekati kepopuleran serang artis dan mungkin juga penghasilannya mungkin juga akan mirip mirip dengan penghasilan seorang hos, presenter yang juga mengisi atau mengelola acara di televisi. Namapun akan melejit seperti halnya nama seseorang yang sering tampil di layar kaca ini.

Sampai kapan keberadaan seorang da’i tampil di layar televisi, yaitu sampai dengan putusnya kontrak dan tak diperpanjangnya kontrak, mengapa kontrak tak diperpanjang, karena hasil hasil survey yang menunjukkan bahwa animo pemirsa mengalami penurunan. Tetapi bisa juga kontrak tak diperpanjang lantaram sang da’i tersilap lidah dan diprotes pemirsa.  Itu gambaran dari da’i yang mermiliki ketergantungan kepada orang atau pihak lain.

Sebenarnya pada saat ini kita membutuhkan da’i yang tak memiliki rasa ketergantungan ke pihak lain, da’i yang dakwahnya bukan semata mata dalam bentuk ceramah saja. Melainkan memiliki sisi keteladanan dalam hidupnya yang dalam waktu bersamaan sejumlah orang memiliki ketergantungan dengannya.

Dahulu dakwah di era Indonesia ini lebih terkenal dengan nama Nusantara, juga bertebaran nama nama da’i besar yang tersohor, para da’i pada era itu melaksanakan dakwah bukannya mendapatkan upah bayaran, tetapi justeru keluar  uang yang tidak sedikit. Pada saat itu da’i pada umumnya adalah seorang  ahli silat dan sekaligus tabib, dan ada satu lagi identitas yang melekat pada seorang da’i yaitu sebagai saudagar.

Pada saat itu tantangan yang dihadapi seorang da’i adalah ancaman fisik itulah sebabnya seseorang yang sanggup tampil sebagai da’i  adalah seseorang yang juga memiliki kemampuan ulah kanuragan yang p[ilih tanding. Seorang da’i juga mengajarkan gerakan semacam silat untuk bela diri, karena pada saat itu tidak jarang setiap kelompok yang ketahuan menganut agama baru, yaitu agama Islam akan menerima teror dari masyarakat. Pada saat itu untuk menganut agama Islam seseorang identik dengan menentang marabahaya, sehingga mereka juga dibekali kemampuan ilmu bela diri.

Yang dihadapi ummat pada saat itu juga adalah kebodohan, 99% dari masyarakat Indonesia adalah buta huruf, dan sudah barang tentu selanjutnya dari itu adalah bahwa masyarakat bangsa kita pada saat itu adalah bodoh dan miskin. Itulah sebabnya para da’i pada saat itu bukan menerima amplop bayaran dari ummat, melaikan justeru mengeluarkan sejumlah dana yang tidak sedikit.

Itulah sebabnya para da’i pada sat itu adalah terdiri dari saudagar saudagar yang berhasil pada klasnya masing masing. Mereka menyelenggarakan dakwah bukan hanya menanggung segala resiko dari penyelenggaraan dakwah itu. Da’i pada saat itu identik dengan orang kaya.

Da’i pada saat itu adalah terdiri dari para pebisnis, yang tidak jarang justeru segala macam resiko biaya justeru ditanggung sendiri oleh da’i yang bersangkutan, apalagi yang hadiri dalam penyelenggaraan dakwah pada saat itu adalah para karyawan yang bekerja pada perusahaan yang dikelola oleh para da’i itu, dan di daerah lain para jema’ah juga terdiri dari mereka mereka yang juga ikut mendagangkan produk yang dikelaurkan oleh sang da’i.

Itulah sebanyha pada sat itu jumlah ummat Islam di Indonesia menjadi 99&, demikian juga yang dahulu  99% buta huruf dengan masuknya agama Islam, maka penduduk Indonesia mencapai 90% melek huruf, walaupun baru huruf al-Quran. Dan memang dengan melek huruf al-Quran ternyata adalah menjadi jalan menuju melek huruf latin, dengan memanfaatkan huruf Jawi dan Pegon. Huruf Jawi adalah tulisan Arab untuk menuliskan bahasa Melayu, sementara huruf Pegon adalah tulisan Arab yang digunakan untuk menuliskan sesuatu dalam bahasa daerah, terutama bahasa Jawa dan Sunda.  Inilah jasa para pebisnis Nusantara dalam dunia dakwah di Indonesia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s