Pendidikan Moral Pancasila Dari AM Fatwa.

Fachruddin Sangat mengejutkan kemunculan gagasan segelintir  yang mendorong agar Bangsa Indonesia segera meminta maf kepada mereka yang terlibat dalam  Penghianatan G 30 S PKI. PKI yang kita kenal sebagai aliran politik anti Tuhan yang ingin menghapuskan Pancasila, mereka memang anti Tuhan, bagi mereka Tuhan itu telah lama mati, dan sisanya hanyalah racun belaka, agama hanyalah racun  yang tak lebih baik dari narkoba. Oleh karenanya Tuhan itu harus dilawan sedang agama harus dimusnahkan. Itulah PKI yang kita kenal,

Terasa sangat janggal ketika Muncul di ILC beberapa wajah yang berbicara seolah nasionalis dan moralisn lengkap dengan jubah yang sangat terhormat, yaitu Hak Azazi Manusia (HAM). Tidak tanggung pelanggaran HAM berat  terkait pemberontakan G 30 S PKI ini rupanya telah diadukan ke Komnas HAM Internasional, selain menunutut Pemerintah menerangkan pelanggaran yang telah dilakukan bangsa ini kepada PKI,  menuntut Pemerintah mengakui kekeliruan ini, memeinta maaf  serta memberikan kompensasi bagi kurban dan tentu saja menghukum si pelaku.

Atas kejanggalan luar biasa ini AM Fatwa memberikan sedikit pelajaran bagaimana berpolitik secara arief dan bermoral .Sejatinya AM Fatwa telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga kepada para pihak yang hingga sekarang masih gigih meminta Presiden Jokowi untuk berbicara atas nama bangsa mengakui kekeliruan yang telah dilakukan kepada PKI serta meminta maaf kepada segenap aktivis PKI serta anak keturunannya. AM Fatwa bukan hanya berteori tentang rekonsiliasi tetapi memang telah mempraktekkannya. AM. Fatwa yang bertahun tahun meringkuk dalam penjara dalam waktu yang tak jelas kapan akan berakhirnya, lantaran berseberangan politik dengan penguasa Presiden Soeharto. Tetapi selepas dari penjara AM Fatwa selain tidak menuntut apa apa dia telah memaafkan para pelaku, karena para pelaku sejatinya adalah melaksanakn tugas, dengan keyakinan politiknya, demi bangsa dan negara.
AM Fatwa sangat terkesan dengan petuah Syafruddin Prawiranegara yang juga dikenal sebagai tokoh Masyumi, dan itu dianut Fatwa sejak aktif di organisasi Pelajar yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII), Syafruddin Prawiranwegara mengatakan dalam berpolitik janganlah sekali kali merasa benar 100% serta menganggap lawan politik sebagai salah 100%, dalam berpolitik akan mengalami kebenaran dankekeliruan, bisa jadi yang merasa benar itu ada keslahannya, dan bisa pula yabg dipersalahkan itu juga ada benarnya. Oleh karenanya dalam berpolitik, jangan sekali kali merasa benar sendiri.
Sebagai aktivis Masyuni Syafruddin Prawiranegara dianggap Presiden Sukarno sebagai penghianat bangsa lantaran berseberangan politik dengan Presiden Soekarno yang pada sat itu sangat dipengaruhi oleh PKI. Walaupun Pemerintah Ord e Lama menganggap Masyumi sebagai penghianat, tetapi tidaklah berarti Pemerintah Orde Baru yang anti PKI itu serta merta menganulir stempel penghianat kepada para politisi yang juga terjenal anti politik Nasakomnya Presiden Soekarno. Hanya dibedakan bahwa PKI itu dikelompokkan dalam ekstrim kiri, sedang Masyumi dan kelompok anti PKI lainnya sebagai ekstrim kanan.
Selepas AM Fatwa dari penjara tahanan politik itu, dengan semangat Syafruddin Prawiranegarais dia menemui Jendral Sodomo yang telah memenjarakannya sekedar melapor akan kebebasannya dari tahanan dan tidak lebih. Sebagai musuh politik Fatwa meyakini bahwa selain Soedomo melakukan berbagai kesalahan dan kekeliruan, maka Soedomo juga ada mengandung kebenaran, sehingga AM Fatwa tidaklah kehilangan rasa hormat kepada Soedomo ataupun Presiden Soeharta sebagai atasannya. AM Fatwa sebagai politisi tetap saja menjaga hubungan dengan para tokoh yang telah memenjarakan dan menyiksa dirinya secara politis itu agar tetap baik, sebagai sesama manusia yang memiliki keyakinan politik walaupun berbeda.
Pada saat Soeharto sakit AM Fatwa berkesempatan menengoknya beberapa kali, dan bahkan bersama Try Sutrisno juga ada hadir berdoa disaat Soeharto dalam keadaan sekarat, tak sedikitpun menyimpan rasa dendam kepada musuh politik, itulah pelajaran yang diterima dari tokoh Masyumi yang dicap penghianat bangsa oleh Pememrintah yang syah dan dipengaruhi PKI itu.
Ketika rejim yang dipengaruhi PKI dan menetapkan Masyumi sebagai penghianat bangsa itu jatuh, dan digantikan oleh rejim Orde Baru yang anti PKI, ada upaya eks Masyumi untuk meminta agar namanya direhabilitir, ternyata Orde Barupun menolaknya, dan hanya menmpatkan diposisi lebih terhormat dari PKI, Masyumi mendapat gelar ekstrim kanan. Dan gelar ekstrimis yang sejatinya warisan penguasa penjajah Belanda bagi siapapun yang menentang penjajahannya di Indonesia. Ya sudahlah kata para tokoh Masyumi, biarkan sejarah yang akan mengadilinya.
Ini semestinya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi eks aktivis PKI beserta simpatisannya, bukankah PKI sudah jelas jelas sebagai penghianat bangsa yang paling keji dan bukan hanya sekali, melainkan berkali kali membuat keonaran, mencaci, memfitnah, memperkosa, membakar dan menyiksa musuh politiknya dengan semangat anti Tuhan. Tak terhitung lagi berapa korban yang ditelannya. Bersikaplah sepertti Masyumi atau setidaknya AM Fatwa, sudahlah, itu adalah perjalanan sejarah bangsa, yang jangan sekali kali kita tutup tutupi dan apalagi akan dilupakan. Dan apatah lagi meminta maaf kepada para penghianat.
Yang harus kita jaga secara bersama sama adalah bagaimana caranya agar paham komunis itu jangan sampai berkenbang di bumi Indonesia yang Pancasila ini. Paham komunis PKI sangat bertentangan dasar negara Pancasila. Oleh karenanya bukan permohonan maaf yang harus diucapkan oleh Presiden Jokowi, tetapi Prsiden Jokowi harus sekali lagi dan seterusnya untuk tetap mengatakan bahwa PKI adalah penhinat bangsa dan telah bertindak sangat keji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s