Mempertahankan Universalitas Islam

Fachruddin Sejak dahulu kita mengatakan bahwa Islam itu universal, sehingga Islam dapat diterima oleh semua pihak, bukan hanya dalam waktu bersamaan bahkan akan cocok sepanjang masa, sekali lagi “Kapanpun dan Di manapun”  secara diam diam dan bahkan mungkin tidak sengaja nampaknya teori ini sedang berusaha dibantah oleh sementara pihak, dengan lebih menonjolkan sisi kedaerahan. Kita baru saja senyap dari kontroversi membaca al-Quran versi Jawa di Istana Negara yang dihadiri oleh Presiden dan .Menteri Agama Kontan saja Menteri Agama yang menjadi sasaran kekecewaan para ualama. Dan masalah ini baru mereda setelah menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin meminta maaf dan mengaku bahwa Dialah orangnya yang bertanggung jawab  karena dialah yang  merancang acara pembacaan al-Quran versi Jawa. Walaupun sesungguhnya gagasan itu telah lama diajukan jauh sebelum Lukman Hakim Syaifuddin diangkat menjadi Menteri Agama.

Tiba tiba kita dikejutkan oleh organisasi terbesar Islam Indonesia Tadatul Ulama (NU) yang memasarkan Islam Nusantara, orang jadi terhenyak karena gagasan mengedepankan Islam Nusantara secara tidak langsung berarti gagasan untuk melokalisir Islam itu sendiri, Sampai dengan sekarang nampaknya Ketua terpilih Muktamar NU yang dimenangi oleh Kiyai Said Agil Siraj tidaklah membuat permasalahan ini menjadi klear dan jelas, sejatinya sang Ketua tidak cukup berhasil mengkomunikasikan gagasan ini.


Sebutan Nusantara setelah Islam itu memiliki dampak yang cukup buruk bagi universalitas Islam  itu sendiri, dengan dengan demikian akan muncul pihak pihak yang bertepuk tangan, karena mereka selama ini memang berusaha untuk mengatakan bahwa tidak ada nilai nilai kemutlakan dan keuniversalitasan termasuk di dalamnya Islam. Mereka menggagas teori relativitas dalam Islam. Teori relativitas mereka gagas sebagai kelanjutan apa yang dinayatakan oleh Nitsche  bahwa Tuhan telah mati, yang belakangan diketahui bahwa maksudnya adalah kebenaran mutlak dan keneran universal itu telah tiada, yang ada hanyalah kebenaran relatif.  .

Apakah gagasan islam Nusantara itu adalah akidahnya, ataukah budayanya. Kalau hanya sekedar budaya maka janganlah lebel Islam dilekatkan disitu. Dan untuk itu harus kita ketahui  bahwa Islam itu adalah akidah. Demikian pula janganlah kita ini berusaha memisahkan antara al-Quran dengan bahasa Arab. Dan dalam hal ini kita harus meyakini bahwa Tuhan memilih bahasa Arab untuk menyampaikan firmannya. Dan karena al- Quran diturunkan dalam bahasa Arab, maka untuk memahami alQuran maka pahamilah bahasa Arab. Ingin membaca alQuran secara benar maka pelajarilah kaidah cara membaca dan kaidah ini tentu saja kaidah bahasa Arab. Dan ketika kita harus baca al-Quran dalam versi Jawa maka akan terjadi pelanggaran kaidah membacanya. Dan apalagi jika lagu (versi) yang digunakan adalah karangan orang fasik.

Kita semua harus mafhum bahwa sebelum NU kembali ke khittah adalah merupakan Partai Politik, tetapi lama kelamaan semakin dirasakan bahwa NU Syari’ah jumlahnya tidak sebanding dengan NU Politik, jumlah NU Politik jauh lebih kecil dibanding dengan NU Syari;ah, para pemimpin NU menyimpulkan bahwa manakala NU bertahan sebagai Parpol itu sama saja dengan mengebiri aspirasi politik warga NU, dan akhirnya NU kembali ke khittah.

Namun demikian pertimbangan politis masih sangat mendominasi pemikiran dan aspirasi individual tokoh politik NU, termasuk diantaranya adalah Ketua terpilih NU Dr.Said Agil Siraj, bahkan beliau sendiri yang mengatakan bahwa wajah Islam itu terdiri dari Aqidah dan Politik. Aqidah dan Politik dalam Islam itu adalah bagaikan dua sisi mata uang yang terpisahkan. Said Agil dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa Islam produk Nusantara itu antara lain terdiri dari NU, Muhammadiyah dan Persis, dan beberapa organisasi islam lainnya tentunya.

Kita memang membutuhkan pencerahan, dalam waktu yang bersamaan aqidah Islamiyah harus kita utamakan, walaupun politik tidak kita haramkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s