Kekurangan Fikih Kontemporer

Fachruddin Kritik pedas terhadap bocorsn hasil sidang Bahtsul Masaail Muktamar NU tentang haramnya  advokad membela terpidana kasus korupsi karena hamoir dapat dipastikan bahwa pembayaran untuk praktek pembelaan itu adalah dari uang hasil korupsi, walaupun sejatinya berita di media massa masih belum jelas benar jbenang merahnya, tetapi tak urung tanggapan kritis muncul dari kalangan advokad karena profesi yang seharusnya terhormat itu merasa dipojokkan karena dituduh sebagai ikut menikmati uang haram. Ini adalah satu contoh atas kelalaian para ahli fikih selama ini kurang melaksanakan tugasnya untuk menuliskan berbagai sisi dari fikih kontemporer yang sejatinya sangat dibutuhkan, sehingga dalam menentukan hukum terhadap persoalan kontemporer pada saat ini kita masih terpaksa membaca buku buku kuno, dan itupun harus membaca buku aslinya, dan itu hanya dapat dilakukan oleh orang orang tertentu.
Setiap kali diselenggarakannya Muktamar NU maupun Muhammadiyah kita selalu memantikan hasil hasil sidang Bahtsul Masaail atau majelis tarjih yang melahirkan semacam petunjuk dengan kacamata fikih terhadap hal hal yang dihadapi  oleh masyarakat sekarang. Bagaimana hukumnya membela terpidana korupsi, bagaimana hukum neyolatkannya, bagaimana hukumnya jual beli uang, apa hukunya janji politik yang diingkari dan masih banyak lagi yang pada sat ini dirasakan lazim  lazim saja dilakukai padahal menurut hatinurani itu keliru karena merugikan atau memiliki efek yang buruk.
Kalau saja para ahli fikih ini memiliki kelaziman menulis tentang fikih kontemporer, maka pada saat MUI, NU MUhammadiyah menelorkan petunjuk hukum yang didasarkan pada pandangan kacamata fikih itu tidaklah menjadi yang mengejutkan lalu menjadikan hasil pemikiran ulama yang faakih itu menjadi polemik bahkan cenderung diolok olok; Andaikan saja sudah banyak tulisan tetang itu maka maka diskusi akan berlangsung dengan lebih mendidik

Tidak ada yang keliru pada hasil ijtihad ulama menyusun buku fikih pada masa dahulu, tetapi yang kurang justeru ada pada  para ulama masa kini yang tak mampu menulis fikih masa kini. Bila memiliki keterbatasan karena keterbatasan waktu lantaran sibuk dalam aktivitas sehari hari sehingga tidak memungkinkan akan emnulis buku setebal kitan yang disusun para ulama masa dahulu, Maka seyogyanya para ulama masa kini dapat menulis bagian perbagian, bukankah dalam menulis  kita dapat  mempersempit lingkup penulisan. Yang paling penting dalam menulis itu adalah ketuntasan. Dalam tulisan itu kita tuntas membahas suatu masalah betapapun telah kita batasi sedemikian rupa, tetapi  dalam menulis kita harus menuntaskannya dengan membahas dari berbagai aspeknya.

Ulama masa kini dituntut mampu menuliskan berbagai permasalahan menyangkut kekinian, pandangan dari sisi fikih terhadap banyak masalah karena praktek muamalah pada saat ini penuh dengan trik trik tipuan yang bertentangan dengan syari’ah. Masyarakat dengan membaca dan mengenal hukum fikih dan syariah nanatinya manakala telah membaca dan mengenal hukum fikih dan syari.ah maka masyarakatpun akan dapat memilih untuk dilayani secara syari’ah. Sehingga terhindar dari kerugian.

Rasul Tak Menshalatkan Jenazah Koruptor

ilustrasi
ilustrasi
Oleh Prof Dr KH M Abdurrahman MA
Problematika bangsa dan umat saat ini adalah korupsi. Dalam bahasa Alquran, identik dengan kosakata ghulul (khianat) atau fasad. Ghulul karena menyembunyikan, mengkhianati sesuatu. Dan disebut fasad karena berimplikasi pada kerusakan atau kerugian negara yang menghancurkan negara itu sendiri.Fenomena korupsi saat ini sudah menyangkut persoalan yang disebut sebagai problem kebangsaan dan keumatan. Bila melihat pada kasus yang terjadi di zaman Rasulullah SAW, terhadap orang yang melakukan korupsi (ghulul), Rasul tidak akan menshalati jenazahnya.

Sedikitnya, ada tiga faktor untuk mencegah merebaknya korupsi di Tanah Air. Pertama, faktor spiritual. Orang yang tingkat spiritualitas keagamaannya baik, tentu dia tidak akan berbuat dan berlaku korup. Bangsa Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.Mengapa banyak praktik korupsi di negeri ini? Jawabnya, karena tidak adanya nilai-nilai spiritual dalam kehidupannya. Shalat, zakat, puasa, dan haji yang dikerjakannya sebatas praktik semata tanpa diimbangi dengan perbuatan nyata. Artinya, ibadahnya tidak mampu menghindarkan dirinya dari perbuatan dosa dan godaan duniawi.Kedua, aspek sosial. Seorang Muslim harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sesama Muslim harus saling mengingatkan dan mencegahnya. Imam Bukhari meriwayatkan, “Al-Muslimu man salimal Muslimuna min lisanihi wa yadihi”. Muslim itu ialah orang yang menyelamatkan Muslim lain dengan bahasa dan tangannya (perbuatannya).

Sungguh berat dan banyak godaan untuk mengimplementasikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sosial, sehingga kenyataan kehidupan yang sekarang penuh dengan israf (berlebihan), tabdzir (kemubaziran), dan itraf (kemewahan) makin mendorong seseorang mencari harta yang tidak suci itu.

Setan akan selalu menggoda manusia dan berusaha menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa dan maksiat. Karena itu, kita harus menjaganya dengan shalat, zikir, dan perlindungan kepada Allah SWT.

Dan, korupsi adalah perbuatan yang akan menjerumuskan pelakunya pada tindakan merugikan negara, sekaligus hak orang lain.

Ketiga, aspek legal formal, sebagai produk konstitusional. Tujuannya, untuk menghukum dan mengadili para koruptor supaya jera. Undang-Undang Tahun 2002 jelas memberikan hukuman mati bagi koruptor sebagai hukuman maksimal. Sayangnya, UU itu seolah tidak tersentuh. Mestinya, perundangan ini disebarluaskan sehingga menjadi rasa takut bagi pelaku korupsi.

Dalam Alquran, pelaku korupsi sama dengan ghulul, yaitu merugikan orang lain karena khianat. (QS Ali Imran [3]: 161). Koruptor itu termasuk perampok harta dan kekayaan negara, karenanya pantas mendapatkan hukuman keras seperti hukuman mati. Apalagi, Rasul SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, melarang para sahabat-sahabatnya termasuk umatnya menshalatkan jenazah koruptor karena pelakunya melakukan perbuatan khianat kepada saudara-saudaranya.

Disarikan dari Hikmah Republika Koran. Judul asli tulisan adalah Ghulul = Korupsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s