Ketika Para Dhu’afa Ikut Berkorban

potong hewan kurban

Seseorang itu dimuliakan bukanlah disebabkan oleh apa yang dimilikinya. Tetapi karena pengorbanannya untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Tampaknya nilai spiritual ibadah berkurban dimaknai lebih dalam oleh para duafa atau orang tidak berpunya. Seorang tukang becak asal Pasuruan bernama Bambang (51), berkurban seekor sapi seharga Rp 13.000.000. Warga jalan Pucangan no 9 RT 4 RW 4, Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, ini mengaku mengumpulkan uang selama lebih dari lima tahun, hingga akhirnya dia bisa membeli seekor sapi. Kurban pada tahun ini, bukanlah kurban yang pertama. Bambang mengaku, sudah tiga kali berkurban, yang pertama dia berkurban seekor kambing, dan tepat pada 2012, tahun lalu dia berkurban dua ekor kambing.

Ternyata bukan hanya itu kisah yang sangat inspiratif bagi insan muslim Indonesia. Beberapa kisah lainnya ketika seorang pembantu rumah tangga juga berkurban sapi meski hanya patungan dengan teman-teman se desanya. Lebih mengoyak kepedulian kita akan arti penting pengorbanan adalah ketika seorang pemulung botol bekas yang menabung selama 7 tahun hanya untuk membeli kambing untuk berkurban.

Aspek Multidimensional

Dalam kegiatan ibadah kurban itu terdapat beberapa aspek yang menjadi dasar diwajibkan kurban bagi umat muslim yang sudah mampu walau hanya membeli seekor kambing. Aspek akidah dalam ibadah kurban menggambarkan totalitas dan loyalitas penuh terhadap Allah SWT. Ketakwaan harus dibudayakan melalui ibadah Kurban itu sehingga berpengaruh pada kehidupan nyata. Dari sudut pandang sosial ekonomi, Idul Adha mengajarkan nilai solidaritas sosial dan semangat berbagi kepada sesama.  Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fakir dan miskin,  agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar anggota masyarakat.

Seorang duafa melakukan kurban bukan hanya melakukan kesalehan ritual karena umat Islam dan mampu itu melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban juga disebut sebagai kesalehan sosial karena mempunyai dimensi kemanusiaan. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhuafa.   Dengan disyariatkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Melaksanakan ibadah kurban tak semata ibadah yang berhubungan dengan Sang Pencipta, namun lebih bermakna sosial.

Hanya sedikit dari orang banyak yang sadar. Hanya sedikit dari orang yang sadar itu yang mau berjuang. Dan hanya sedikit dari yang berjuang itu yang mau berkurban. Tetapi ternyata orang duafapun tidak mau serta merta menerima belas kasihan orang kaya. Justru mereka rela berkorban untuk sesamanya. Penghasilan mereka yang hanya bisa untuk makan dan minum secukupnya saja mereka berani berkurban hal yang lebih besar.

Para duafa tersebut sangat ikhlas demi tuntutan agamanya melakukan pengorbanan luarbiasa hanya untuk berkurban. Ciri orang yang beriman adalah senantiasa rela berkorban untuk kepentingan umat. Jadilah manusia yang senantiasa mau berkorban untuk sesama, karena itu menunjukkan kemuliaan akhlak.  Pejuang sejati boleh dilihat dari seberapa banyak pengorbanan yang diberikan. Sesungguhnya pengorbanan itu bermaksud, usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada penciptanya melalui amal perbuatannya yang ikhlas. Semakin seseorang itu banyak berkorban untuk orang lain, semakin mulialah dia disisi Allah dan manusia.  Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu ingin membahagiakan orang lain dengan apa yang dimilikinya. Allah mencintai orang yang berkorban dengan harta dan jiwa untuk menegakkan kebenaran dan peduli terhadak sesamanya yang tidak mampu. Allah sangat mencintai orang-orang yang berkorban untuk mendapatkan keridhoanNya, kerana itu menunjukkan cinta sejati pada Allah.

Fenomena duafa ikut berkurban tampaknya pelajaran spiritual dan moralitas bagi kaum muslim dalam menghadapi Idul Adha ini. Tampaknya fenomena orang duafa ikut berkurban mencabik-cabik emosi untuk lebih memahami pelajaran berharga bahwa kita harus instropeksi. Pengorbanan kita kepada sang Pencipta dan sesama manusia masih belum ada apa-apanya bila dibandingkan oleh para duafa yang ikut berkurban tersebut. Aspek akidah dalam ibadah kurban menggambarkan totalitas dan loyalitas penuh terhadap Allah SWT. Ketakwaan harus dibudayakan melalui ibadah Kurban itu sehingga berpengaruh pada kehidupan nyata. Dari sudut pandang sosial ekonomi, Idul Adha mengajarkan nilai solidaritas sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Orang yang tidak mau berkorban untuk sesamanya adalah orang yang menunjukkan kehinaan dirinya. Semakin orang itu mencintai apa yang dimilikinya semakin sulitlah dia berkorban untuk orang lain. Allah membenci orang yang bersifat kikir, karna kekikiran itu akan menimbulkan kezaliman dan kedengkian. (kompasiana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s