Hisab Dan Rukyat dalam Kajian Fiqh dan Sains (Sebuah Upaya Membumikan Fiqh Astronomi yang Dinamis Futuristik)

Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag

Hisab dan rukyat adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, keduanya saling berkaitan. Hisab rukyat merupakan sebuah nama keilmuan yang merupakan gabungan dua metode yakni hisab (teori) dan rukyat (observasi). Hisab menjadi hipotesis rukyat, sedangkan rukyat merupakan observasi langsung sebagai upaya verifikasi data teoritik hisab. Sehingga hisab merupakan kebenaran teoritis dan rukyat merupakan pencarian kebenaran empiris.

Secara etimologi, hisab rukyat berasal dari dua kata, yaitu hisab dan rukyat. Hisab dalam bahasa arab berarti perhitungan atau hitungan, sedangkan arti rukyat –yang merupakan kata isim berbentuk masdar dari fi’il ra’a- yar’a yang berarti abshara– adalah melihat dengan mata kepala. Pendapat A. Ghazalie Masrorie[1] menyebutkan bahwa setelah tradisi hisab mulai populer dalam kalangan Islam, mulailah berkembang pemikiran terhadap pemaknaan kata rukyat. Rukyat dapat diartikan dzanna atau hasaba, yaitu melihat dengan hati (rukyat bil qalbi), dan dapat diartikan ’alama atau adraka, yaitu rukyat bil ‘ilmi, rukyat dengan alat.

Menurut Zubair Umar al-Jailany (t.th:3-4), hisab rukyat merupakan nama lain dari ilmu hisab, yang secara definitif merupakan ilmu perhitungan posisi benda-benda langit. Disebut pula ilmu miiqaat, karena mempelajari batas-batas waktu. Dan juga disebut ilmu rasd, karena ilmu ini memerlukan pengamatan, atau dengan kata lain, ialah sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti matahari, bumi, bulan, bintang serta benda langit lainnya. Hisab rukyat juga dapat disebut sebagai ilmu falak. Penamaan ilmu falak ini berkaitan dengan adanya objek dari penentuan ilmu tersebut adalah falak (madar al-nujum).

Menurut Robert H. Baker (1953 : 1-2) dilihat dari objek perhitungan, hisab rukyat termasuk bagian ilmu astronomi, karena dalam ilmu Bumi dan Antariksa (Kosmografi), ilmu ini berkaitan dengan benda-benda langit, walaupun hanya sebagian kecil saja dari benda-benda langit yang menjadi objek perhitungan. Sebagaimana dikemukakan oleh Robert H. Baker bahwa :

“Astronomy the science of the stars, is concerned not morely with the star, but with all the celestial bodies with together comprise, the known physical universe. It deals with planets and their satellites, including the earth, of course wit comets and meteor, with stars and the instellar material, with stars clusters, the system of the milky way, and the other systems which lie beyond the milky way”.[2]

Namun bagi umat Islam Indonesia terutama kalangan pendidikan Islam klasik (madrasah dan pondok pesantren), istilah yang populer dan masyhur adalah persoalan hisab atau persoalan falak.[3]

Adapun pokok bahasan hisab rukyat, sebagaimana lazim disebutkan dalam Mabadi Al-‘Asyrah pada setiap kitab falak adalah pembahasan penentuan waktu-waktu ibadah yakni ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan menentukan arah kiblat serta gerhana baik matahari maupun bulan. Oleh karena itu, pembahasan ini menjadi sangat urgen bagi umat Islam mengingat sangat terkait dengan sah dan tidak sahnya ibadah.[4]

Jika dilihat dari segi sejarah, istilah ilmu hisab rukyat lahir sebagai salah satu dari cabang ilmu keislaman dan tumbuhnya ilmu hisab tentang penentuan awal waktu shalat, penentuan gerhana, awal bulan Qamariah dan penentuan arah kiblat. Menurut Muh. Farid Wajdi (1912: 485) ini ditandai dengan adanya naskah “Tabril Magesthy” pada masa khalifah al-Makmun yang diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Hunain bin Ishak.

Keberadaan ilmu hisab dan rukyat dalam astronomi secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Theoritical astronomy, yaitu ilmu yang membahas teori dan konsep benda-benda langit[5] yang meliputi:
    1. Cosmogoni yaitu teori tentang asal usul benda-benda langit dan alam semesta.
    2. Cosmologi yaitu cabang astrologi yang menyelidiki asal-usul struktur dan hubungan ruang waktu dari alam semesta.
    3. Cosmografi yaitu pengetahuan tentang seluruh susunan alam, penggambaran umum tentang jagad raya termasuk bumi.
    4. Astrometrik yaitu cabang astronomi yang kegiatannya melakukan pengukuran terhadap benda-benda langit dengan tujuan mengetahui ukurannya dan jarak antara satu dengan lainnya.
    5. Astromekanik yaitu cabang astronomi yang mempelajari gerak dan gaya tarik benda-benda langit dengan cara dan hukum mekanik.
    6. Astrofisika yaitu bagian astronomi tentang benda-benda angkasa dari sudut ilmu alam dan ilmu kimia.
    7. Practical astronomy yaitu ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit antara satu dengan yang lain. Inilah yang kemudian dikenal dengan ilmu Hisab Rukyat.

 

Pokok bahasan dalam ilmu hisab rukyat adalah penentuan waktu dan posisi benda langit (matahari dan bulan) yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan ibadah (hablum mina Allah). Sehingga pada dasarnya pokok bahasan ilmu hisab rukyat adalah berkisar pada :

  1. a. Penentuan Arah Kiblat

Ilmu hisab rukyat (falak) yang membahas penentuan arah kiblat pada dasarnya adalah menghitung berapa besar sudut yang diapit oleh garis meridian yang melewati suatu tempat yang dihitung arah kiblatnya dengan lingkaran besar yang melewati tempat yang bersangkutan dan Kakbah, serta menghitung jam berapa matahari itu memotong jalur menuju Kakbah.

Jika ditilik dalam lintasan sejarah, dalam Direktorat Jenderal Binbaga Islam, Depag RI, (1995: 47-49) bahwa cara penentuan arah kiblat di Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Islam Indonesia itu sendiri. Secara konkrit, nampak seperti ketika terjadi perubahan arah kiblat Masjid Agung Kauman Yogyakarta yang mengalami perubahan besar di masa KH. Ahmad Dahlan dan dapat dilihat pula dari sejarah peralatan yang digunakan untuk mengukurnya, seperti bencet atau miqyas, tongkat istiwa’, rubu’ al-mujayyab, kompas, theodolite dan lain-lain. Selain itu, perhitungan yang dipergunakan mengalami perkembangan pula baik mengenai data koordinat maupun mengenai sistem ilmu ukurnya.

Dari perkembangan inilah sebenarnya metode atau cara penentuan arah kiblat itu dapat dibagi dalam dikotomi metode klasik dengan metode yang akhirnya mengarah pada  pengkristalan  dalam simbolisasi  pemikiran hisab dan pemikiran rukyat.

Pemikiran rukyat disimbolkan oleh mereka yang dalam penentuan arah kiblat menggunakan bencet atau miqyas atau tongkat istiwa’ atau menggunakan rubu’ al-mujayyab atau mereka yang berpedoman pada posisi matahari persis (atau mendekati persis) berada pada titik zenith Kakbah (rashdul kiblat).[6] Sedangkan pemikiran hisab disimbolkan oleh mereka yang dalam penentuan arah kiblat dengan menggunakan ilmu ukur bola (Spherical Trigonometri).

 

  1. b. Penentuan Waktu Shalat

Penentuan waktu shalat pada dasarnya adalah menghitung tentang waktu ketika matahari berada di titik kulminasi atas dan waktu ketika matahari berkedudukan pada prediksi pancer pada awal waktu-waktu shalat. Prediksi pancer tersebut disesuaikan dengan keadaan alam yang berpatokan pada al-Qur’an dan hadis nabi Muhammad saw yang menjelaskan tentang tanda-tanda awal waktu shalat.

Secara syar’i, ibadah shalat yang diwajibkan (shalat maktubah) itu mempunyai waktu-waktu yang telah ditentukan (sehingga terdefinisi sebagai ibadah muwaqqat). Walaupun tidak dijelaskan secara gamblang waktu-waktunya, namun secara global al-Qur’an telah menentukannya.[7] Sedangkan penjelasan waktu-waktu shalat yang terperinci diterangkan dalam hadis-hadis nabi, dapat dilihat dalam Muhammad bin Quthb Al-Din Azniqy, (1998: 12-15).[8] Dari hadis-hadis waktu shalat itulah para ulama fiqh memberikan batasan waktu shalat dengan berbagai cara atau metode yang mereka asumsikan baik untuk menentukan waktu-waktu shalat tersebut.

Ada sebagian mereka yang mengasumsikan bahwa cara menentukan waktu shalat adalah dengan menggunakan cara melihat langsung pada tanda-tanda alam sebagaimana secara tekstual dalam hadis-hadis nabi tersebut, seperti menggunakan alat bantu tongkat istiwa’ atau miqyas[9] atau hemispherium[10]. Inilah metode atau cara yang digunakan oleh pemikiran rukyat dalam persoalan penentuan waktu-waktu shalat. Sehingga waktu-waktu shalat yang ditentukan disebut dengan al-auqat al-mar’iyyah atau al-waktu al-mar’y.

Sedangkan sebagian yang lain, mempunyai pemahaman secara kontekstual, sesuai dengan maksud dari nash-nash tersebut, di mana awal dan akhir waktu shalat ditentukan oleh posisi matahari dilihat dari suatu tempat di bumi, sehingga metode atau cara yang dipakai adalah hisab (menghitung waktu shalat). Di mana hakikat hisab waktu shalat adalah menghitung kapan matahari akan menempati posisi-posisi seperti tersebut dalam nash-nash waktu shalat itu.[11] Sehingga pemahaman inilah yang dipakai oleh pemikiran hisab dalam persoalan penentuan waktu shalat. Dan waktu shalatnya oleh para ulama fiqh disebut waktu Riyadhy.[12] Dengan cara hisab inilah yang nantinya lahir adanya jadwal waktu shalat abadi atau jadwal shalat sepanjang masa.

Dua pemikiran tersebut pada dasarnya berlaku di masyarakat, ini dapat dilihat dari adanya tongkat istiwa’ (istilah jawa: bencet) di setiap (depan) masjid yang digunakan untuk menentukan waktu shalat saat menjelang shalat. Adanya tongkat istiwa’ ini memberikan simbol bahwa pemikiran rukyat juga memang masih ada (berlaku) di masyarakat. Walaupun di dalam masjid tersebut juga terdapat jadwal waktu shalat abadi yang biasanya dipakai pedoman di saat cuaca tidak mendukung (mendung) yang memberikan simbol adanya pemikiran hisab.

Namun dikotomi pemikiran hisab dan pemikiran rukyat dalam persoalan penentuan waktu shalat, tidak nampak adanya suatu persoalan atau “greget besar” atau bahkan sekat pemisah pemikiran-pemikiran tersebut, nampak tidak muncul (tidak ada). Karena menurut hemat penulis, dalam persoalan penentuan waktu shalat ini oleh masyarakat, kedua pemikiran tersebut sudah diakui validitas dan keakuratan hasilnya. Ini dapat dilihat adanya jadwal waktu shalat yang tercantum pada setiap masjid walaupun di depan masjid juga dipasang bencet atau tongkat istiwa’. Kiranya ini maklum adanya, karena hasil hisab sudah terbukti keakuratan dan validitasnya (sesuai dengan hasil rukyat). Sehingga dalam hal ini, baik bagi pemikiran hisab maupun pemikiran rukyat  berlaku adanya simbiosis mutualisme, di mana apa yang dilakukan oleh pemikiran rukyat bisa dipakai sebagai pembuktian empirik dari hasil pemikiran hisab, begitu pula sebaliknya.

 

  1. c. Penentuan Awal Bulan Qamariah

Penentuan awal bulan Qamariah pada dasarnya adalah menghitung kapan terjadinya ijtima’ (konjungsi), yakni di mana posisi matahari dan bulan berada pada satu bujur astronomi serta menghitung posisi Bulan tanggal satu (hilal) ketika matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi tersebut.

Di dalam penentuan awal bulan Qamariah ini terdapat beberapa persoalan hisab rukyat, terutama pada bulan Ramadhan, Syawal  dan Dhulhijjah. Di mana dalam persoalan ini sering kali muncul adanya perbedaan, bahkan kadang menyulut adanya permusuhan yang mengusik jalinan ukhuwah Islamiyah. Ini wajar kiranya, karena dua pemikiran dalam hal fiqh hisab rukyat di Indonesia secara institusi selalu disimbolkan pada dua organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia. Di mana Nahdlatul Ulama secara institusi disimbolkan sebagai pemikiran rukyat sedangkan Muhamadiyyah secara institusi disimbolkan sebagai pemikiran hisab. Sehingga persoalan yang semestinya klasik ini, namun menjadi selalu aktual terutama di saat menjelang penentuan awal bulan-bulan tersebut.[13] Melihat fenomena seperti itu, kiranya tidak luput pada apa yang dikatakan Snouck Hurgronje[14], seorang Orientalis dari Belanda, yang menyatakan dalam suratnya kepada gubenur jenderal Belanda :

“Tak usah heran jika di negara ini hampir setiap tahun timbul perbedaan tentang awal dan akhir puasa. Bahkan terkadang perbedaan itu terjadi antara kampung-kampung yang berdekatan”.[15]

Kemudian mengenai persoalan hisab rukyat awal bulan Qamariah ini pada dasarnya sumber pijakannya adalah hadis-hadis hisab rukyat (An- Nasa’i, 1964 : 113; Ad- Daruquthni, 1982 : 167; Muhyiddin Abdul Hamid, t.th : 302). Di mana berpangkal pada dzahir hadis-hadis tersebut, para ulama berbeda pendapat dalam memahaminya sehingga melahirkan perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa penentuan awal Ramadhan, Syawal  dan Dzulhijjah harus didasarkan pada rukyat atau melihat hilal yang dilakukan pada tanggal 29-nya. Apabila rukyat tidak berhasil dilihat, baik karena hilal belum bisa dilihat atau karena mendung (adanya gangguan cuaca), maka penentuan awal bulan tersebut harus berdasarkan istikmal (disempurnakan 30 hari). Menurut pemikiran ini rukyat dalam kaitan dengan hal ini bersifat ta’abuddi –ghair al-ma’qul ma’na, artinya tidak dapat dirasionalkan– pengertiannya tidak dapat diperluas dan dikembangkan. Sehingga pengertiannya hanya terbatas pada melihat dengan mata telanjang. Dengan demikian, secara mutlak perhitungan hisab falaki tidak dapat digunakan (Slamet Hambali, Ahmad Izzuddin, 1997:2). Inilah yang dikenal dengan pemikiran rukyat.

Pendapat yang lain menyatakan bahwa rukyat dalam hadis-hadis hisab rukyat tersebut termasuk ta’aqquli –ma’qul ma’na– dapat dirasionalkan, diperluas dan dikembangkan. Sehingga ia dapat diartikan antara lain dengan “mengetahui” –sekalipun bersifat zanni (dugaan kuat)– tentang adanya hilal, kendatipun tidak mungkin dapat dilihat misalnya berdasarkan hisab falaki. Dan inilah pendapat yang dipakai oleh pemikiran hisab.

Di samping ada juga pendapat yang berupaya menjembatani kedua mazhab tersebut, dalam hal ini seperti pendapat Shihabuddin al-Qalyubi (1956: 49) yang mengartikan rukyat dengan “imkanurrukyat” (posisi hilal mungkin dilihat). Dengan kata lain bahwa yang dimaksud dengan rukyat adalah segala hal yang dapat memberikan dugaan kuat (zanni) bahwa hilal telah ada di atas ufuk dan mungkin dapat dilihat. Karena itu menurut alQalyubi, awal bulan dapat ditetapkan berdasarkan hisab qath’i yang menyatakan demikian. Sehingga kaitan dengan rukyat, posisi hilal dinilai berkisar pada tiga keadaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Masruhan Muhsin, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Amin, Jampes Kediri kepada Tim Perumus Bathsul Masail PWNU Jawa Timur pada tgl 16-17 Mei 1998 di Pondok Pesantren al-Munawariyah, Sidomoro Bululawang, Malang, yakni : a) pasti tidak mungkin dilihat (istihalah ar-rukyat), b) mungkin dapat dilihat (imkanur rukyat), c) pasti dapat dilihat (al-qath’u bir rukyat).

Begitu pula dalam hal keadaan hilal yang tidak dapat dirukyat disebabkan gangguan cuaca, mendung misalnya, para ulama juga berbeda pendapat, yang pangkalnya juga karena adanya perbedaan terhadap hadis-hadis hisab rukyat dalam hal ini adalah dalam fokus kata “faqduru lahu” (maka kadarkanlah).

Menurut pemikiran rukyat, kata tersebut harus diartikan sempurnakanlah bilangan bulan itu menjadi tiga puluh hari, sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadis hisab rukyat yang lain bahwa manakala rukyat tidak mungkin dilihat, maka jalan keluarnya bukan berpegang pada hisab tapi pada istikmal. Sedangkan menurut pemikiran hisab, kata tersebut harus diartikan “fa ‘udduhu bil hisab” (hitunglah bulan itu berdasarkan hisab), dalam Bidayatul Mujtahid (t.th:208). Dan karena kaitannya dengan masalah memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, dan ibadah haji, kiranya wajar jika persoalan hisab rukyat ini mendapat perhatian lebih (meminjam bahasa Wahyu Widiana : mempunyai greget lebih) dibanding dengan persoalan hisab rukyat yang lain. Sehingga persoalan ini selalu muncul ke permukaan wacana perbincangan dan perdebatan dalam kalangan ulama di saat menjelang awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.

 

  1. d. Penentuan Gerhana  

Kemudian pembahasan lainnya, yaitu mengenai Gerhana. Gerhana dalam bahasa Arab disebut dengan kusuf atau khusuf. Kedua kata tersebut dipergunakan baik untuk gerhana matahari maupun gerhana bulan. Hanya saja, kata kusuf lebih dikenal untuk penyebutan gerhana matahari (kusuf al-syams) dan kata khusuf lebih dikenal untuk penyebutan gerhana bulan (khusuf al-qamr), dapat dilihat di Munjid (t.th: 178 dan 685).

Dengan padanan kata bahasa Inggris “eclipse” atau “ekleipsis” dalam bahasa latin. Istilah ini dipergunakan secara umum, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Namun dalam penyebutannya, didapat dua istilah Eclipse of the Sun untuk gerhana matahari, dan Eclipse of the Moon untuk gerhana bulan. Dan juga digunakan istilah solar eclipse untuk matahari dan lunar eclipse untuk gerhana bulan. Istilah ini dapat ditelaah dalam kumpulan tulisan Mudji Raharto, Lembang : Pendidikan Pelatihan Hisab Rukyat Negara-negara MABIMS 2000, 10 Juli – 7 Agustus 2000. Sedangkan dalam bahasa sehari-hari kita, kata gerhana dipergunakan untuk mendeskripsikan keadaan yang berkaitan dengan kemerosotan atau kehilangan (secara total atau sebagian) kepopuleran, kekuasaan atau kesuksesan seseorang, kelompok atau negara.

Menurut Soetjipto, dkk., (1983:1) gerhana juga dapat dikonotasikan sebagai kesuraman sesaat ( terpediksi, berulang atau tidak ) dan masih diharapkan bisa berakhir. Dari berbagai istilah tersebut, istilah berbahasa Arablah yang paling mendekati pada pengertian sebenarnya, di mana “kusuf” berarti menutupi, sedangkan “khusuf” berarti memasuki. Sehingga kusuf al-syamsi menggambarkan bulan menutupi matahari baik sebagian maupun seluruhnya. Maka terjadilah konjungsi atau ijtima’ matahari dan bulan  serta kerucut bayangan bulan mengarah ke permukaan bumi, yang disebut dengan gerhana matahari.  Sedangkan khusuf al-qamar menggambarkan bulan memasuki bayangan bumi. Sehingga bumi berada di antara bulan dan matahari atau yang dikenal dengan oposisi atau istiqbal, pada waktu itulah terjadinya gerhana bulan. Oleh karena itu dalam ilmu astronomi, fenomena gerhana diartikan tertutupnya arah pandangan pengamat ke benda langit oleh benda langit lainnya yang lebih dekat dengan pengamat, merupakan simpel fenomena fisik gerhana yang diketahui oleh masyarakat luas.

Dalam bahasan penentuan gerhana ini adalah menghitung waktu terjadinya kontak antara matahari dan bulan yakni kapan bulan mulai menutupi matahari dan lepas darinya pada gerhana matahari, serta kapan bulan mulai masuk pada umbra bayangan bumi serta keluar darinya pada gerhana bulan.

 

Dari persoalan-persoalan tersebut, nampak bahwa ilmu hisab rukyat tiada lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti Matahari, Bulan, Bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya, dengan tujuan untuk mengetahui posisi dari benda-benda langit itu sendiri serta kedudukannya dari benda-benda langit lainnya, agar dapat diambil manfaatnya bagi manusia, khususnya umat Islam dalam menentukan waktu untuk beribadah.

Sehingga ilmu hisab rukyat tiada lain adalah ilmu perpaduan antara teori dan observasi yang dinamis. Di mana hisab sebagai teori yang terbentuk dari observasi, dan observasi sebagai pembuktian teori-teori tersebut.

Karena hal ini merupakan persoalan-persoalan ubudiyah yang memerlukan adanya kepastian yang berdimensi ruang dan waktu, maka tidak dapat lepas dari sifat sains yang memerlukan adanya nilai matematis astronomis. Sehingga persoalan ini merupakan persoalan fiqh yang berkaitan dengan sains. Sehingga corak fiqh dalam persoalan waktu ini bersifat dinamis prospektif futuristik, artinya persoalan fiqh ini keshahihan dan kevaliditasannya berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, tidak seperti dalam keshahihan dalam kajian tasawuf, di mana maraji dengan kitab terdahulu (salaf) lebih diutamakan dari pada kitab terbaru (khalaf).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jailani, Zubeir Umar, Khulashotul Wafiyyah,t.th.

An- Nasa’i, Sunan An- Nasa’i, 1964

Baker, Robert H., Astronomy, London – New York, D. Van Nostrand Company, Inc. Toronta, cet. V, 1953

Depag RI, Pedoman Penentuan Arah Kiblat, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, 1995

Direktorat Jenderal Binbaga Islam – Dirjen Binbapera, Penentuan Awal Waktu Shalat dan Penentuan Arah Qiblat, Jakarta, 1995

Hambali, Slamet, Proses Menentukan Awal-Awal Waktu Sholat, Bahan Panduan Buku Hisab Awal Waktu Sholat Lajnah Falakiyah Pengurus Besar NU, dan Bahan Kuliah Ilmu Falak di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo dan UNISSULA, t.th.

Husain, Ibrahim, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penetapan Awal Bulan Ramadan, Syawal , Dhulhijjah, dalam Mimbar Hukum, Aktualisasi Hukum Islam, no. 06, th. III, 1992

Izzuddin, Ahmad, Fiqih Hisab Rukyat, Jakarta, Erlangga, 2007

Izzuddin, Ahmad, Ilmu Falak Praktis, Semarang : Pustaka Rizki Putera dan Pustaka al-Hilal, 2012

Izzuddin, Ahmad, Kajian Terhadap Metode-Metode Penentuan Arah Kiblat dan Akurasinya, Jakarta : Pendis Kemenag RI, 2012

Lasem, Maksum, Durus al-Falakiyyah, Kudus, Menara Kudus, t.th.

Loewis, Ma’luf, Al-Munjid  fî al-Lughah wa al-‘Alam, Beirut, Darul Masyriq, 1975.

Rusyd, Ibnu al-Qurtuby, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, juz. II, Beirut, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, t.th.

Suminto, Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta : LP3S, cet II, 1986

Soetjipto, dkk., Islam dan Ilmu Pengetahuan tentang Gerhana (Menghadapi Gerhana Total 1983), Yogyakarta, LPPM IAIN Sunan Kalijaga, 1983

Sukartadireja, Darsa, Tehnik Observasi Posisi Matahari Untuk menentukan Waktu Shalat dan Arah Kiblat, makalah yang disampaikan dalam Workshop Nasional Mengkaji Ulang Metode Peneteapan Awal Waktu Shalat dan Arah Kiblat dalam perspektif Ilmu Syari’ah dan Astronomi, di UII Yogyakarta, 7 April 2001

Suminto, Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta : LP3S, cet II, 1986

Tempo, 26 Maret 1994

Wajdi, Muh. Farid, Dairatul Ma’arif, Mesir, al-Qatr, 1912

 


[1] Dalam Musyawarah Kerja Kementerian Agama RI tentang kriteria awal bulan pada tanggal 18 September 2007

[2] Menurut Robert H. Baker, menurut objek pembahasan, ilmu Bumi dan Antariksa selain ilmu Astronomi, terdapat ilmu Astrologi (ilmu nujum), ilmu Cosmogony, ilmu Astrometry, ilmu Astrofisik, (Robert H. Baker, 1953 : 1-2)

[3]Sebagaimana yang pernah penulis alami ketika masih di Pesantren Salafy (Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri tahun 1988-1993). Dan rata-rata pondok pesantren/ madrasah yang memasukkan ilmu Falak atau ilmu Hisab sebagai kurikulum pendidikan memakai silabus dari kitab-kitab falak atau Hisab Klasik seperti Sullam al-Nayyirain, Durusul Falakiyyah, Fathur Rau’ufil Mannan dan masih banyak lagi kitab-kitab klasik lain.

[4]Mabadi al-‘Asyrah adalah sepuluh hal yang seyogyanya diketahui terlebih dahulu oleh orang yang akan memulai mempelajari sebuah kitab (al-Thalib al-ilmu). Ini biasanya disebutkan terlebih dahulu dalam kitab-kitab klasik (kitab  kuning) sebelum memulai pembahasan pertamanya, tidak terkecuali kitab-kitab falak atau kitab Hisab sebagaimana bisa dibaca dalam  kitab Zubair Umar al-Jailany.

[5]Menurut Robert H. Baker (1953: 1-2) bahwa objek pembahasan dalam ilmu ini memang tidak hanya ilmu Bumi, Antariksa, dan ilmu Astronomi, terdapat pula ilmu Astrologi (ilmu nujum), ilmu Cosmogony, ilmu Astrometry, dan ilmu Astrofisik.

[6]Sebagaimana dalam kalender Menara Kudus yang dikeluarkan oleh Ahli Hisab Internasional Tadjusy Syaroef  (nama julukan KH Turaihan) selalu mencatumkan saat waktu adanya yaum rashdil kiblat. Di mana dalam satu tahun biasa terjadi dua kali yakni 28  Mei dan 16 atau 17 Juli, lihat Kalender Menara Kudus. Walaupun mengenai jam rashdul kiblat pada tiap hari pada dasarnya bisa dihitung dengan mengetahui terlebih dahulu azhimut kiblat dan deklinasi matahari di mana daerah yang kita cari.

[7]Ayat-ayat al-qur’an yang mengisyaratkan adanya waktu-waktu shalat dhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh adalah Qs. Hud ayat 114, Qs. Al-Isra ayat 78, dan Qs. Thaha ayat 130.

[8]Bandingkan hadis dari Ibn Abbas yang secara redaksional berbeda namun secara subtansional tidak jauh berbeda, baca  dalam Muhammad Thana’allah Al-Yani (1998 : 2-4)

[9]Tongkat istiwa’ dikenal pula dengan  sundial atau orang jawa menyebutnya bencet, baca Maksum Lasem, Durus al-Falakiyyah, Kudus: Menara Kudus, h. 1-2 dan bandingkan juga dalam Direktorat Jenderal Binbaga Islam – Dirjen Binbapera, Penentuan Awal Waktu Shalat dan Penentuan Arah Qiblat, Jakarta, 1995, h. 47-55. Menurut Darsa Sukartadireja (Kepala BP Planetarium dan Observatorium Jakarta), yang dinamakan tongkat matahari yakni sebuah tiang atau tongkat yang ditanam tegak di atas pelataran yang digunakan untuk mengetahui ketinggian matahari melalui bayang-bayangnya. Di mana menurut catatan sejarah, manusia telah menggunakannya di Mesir sekitar 3.500 tahun yang lalu, yang dipakai sebagai jam untuk mengawali, mengakhiri atau mengulangi suatu pekerjaan. Baca dalam Darsa Sukartadireja, Tehnik Observasi Posisi Matahari  Untuk menentukan Waktu Shalat dan Arah Kiblat,  makalah yang disampaikan dalam Workshop Nasional Mengkaji Ulang Metode Penetapan Awal Waktu Shalat dan Arah Kiblat dalam perspektif Ilmu Syari’ah dan Astronomi, di UII Yogyakarta, 7 April 2001.

[10]Hemispherium adalah salah suatu bentuk alat untuk membaca sudut jam matahari. Secara umu alat yang dilengkapi sebuah bidang di mana sudut jam matahari dapat dibaca melalui bayangan benda yang disebut jam matahari atau sun dial. Alat ini mulai dikenal pemakaiannya  pada sekitar 2.350 tahun yang lalu oleh bangsa Chaldean di masa Alexander the Great. Cara operasionalnya secara gamblang dapat dilihat Darsa Sukartadireja, Op. Cit., h. 4 – 7.

[11]Hisab waktu shalat ini menggunakan ilmu ukur bola (segitiga bola) dengan mengetahui terlebih dahulu lintang tempat ( P ), Bujur tempat, deklinasi matahari ( d ), tinggi matahari ( h ), dengan bantuan rumus mencari sudut waktu : cos t = – tan p tan d + ( sin h : cos  p x cos d ). Sedangkan mengenai dat-data astronomi dapat dilihat dalam The Nautical Almanac dan The American Ephemeris.

[12]Waktu Riyadhy dapat diperoleh dengan menghisab ketinggian matahari , sedangkan waktu mar’y dapat diperoleh dengan cara melihat matahari. Keduanya merupakan sebagai pelantara untuk memperoleh waktu syar’I, (Muhammad Maksum al-Faruqy, 1999 : 2).

[13]Sebagaimana dalam istilah Ibrahim Husain persoalan penentuan awal bulan ini disebut sebagai “persoalan klasik nan aktual”, baca Ibrahim Husain, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penetapan Awal Bulan Ramadan, Syawal , Dhulhijjah, dalam Mimbar Hukum, Aktualisasi Hukum Islam, no. 06, th. III, 1992, h. 1-3. Kemudian mengenai kekhususan persoalan ini dalam bulan Ramadan, Syawal  dan Dhulhijjah dapat dilihat dalam argumntasi para ulama dalam fotenote no. 4 bab I.

[14]Menurut sejarah, Snouck Hurgronje adalah politikus Belanda yang pernah menyatakan masuk Islam ketika berada di Arab dengan nama Arab : “Abdul Ghofur” dan pengakuan Islamnya dikuatkan oleh para ulama di Makkah serta diakui oleh kalangan luas di Hindia Belanda bahkan pernah menyuting puteri seorang penghulu Jawa. Namun mengenai keislaman Snouck Horgroje pada dasarnya masih dalam wacana pro dan kontra mengingat adanya muatan politis. Secara lengkap mengenai Snouck Horgronje dapat dibaca dalam Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta : LP3S, cet II, 1986, h. 120-127.

[15]Komentar Snouck Hurgronje tersebut sebagaimana dikutip majalah Tempo, 26 Maret 1994 ketika kolom tanggap-menanggapi adanya perbedaan 1 Syawal  1414/1994 walaupun pemerintah sudah berusaha keras, lihat Tempo, 26 Maret 1994, h. 35.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Hisab Dan Rukyat dalam Kajian Fiqh dan Sains (Sebuah Upaya Membumikan Fiqh Astronomi yang Dinamis Futuristik)

  1. ukyat dilakukan khusus untuk puasa ramadan, hisab diperlukan untuk melakukan rukyat, tetapi titik nol rotasi bulan mengelilingi bumi bukan pada konjungsi jelasnya baca rotasi bulan blogspot.com bakrisyam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s