17 Tahun Gagal Melihat Bulan, Lokasi Pemantauan Dipindah

 

 

 

TUBAN – Tim rukyatul hilal dari Kementerian Agama (Kemenang) Kabupaten Tuban, kembali gagal melihat bulan saat pemantauan bulan di Pelabuhan PT Semen Gresik, di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur, Sabtu (18/8/2012).

Kegagalan ini, mengulangi kegagalan saat melakukan rukyat pada tahun 2011 lalu. Bahkan terhitung sudah 17 tahun, di lokasi ini selalu gagal melihat bulan baru sebagai penanda berakhirnya Bulan Ramadan.

Kepala Kemenag Tuban Leknono mengatakan dengan kegagalan ini pihaknya berencana mencari lokasi baru untuk melakukan rukyat pada tahun mendatang. Pasalnya, sudah kesekian kalinya dalam melakukan rukyat dan hilal di pelabuhan milik perusahaan BUMN ini selalu gagal.

“Kami kembali tidak berhasil melihat bulan, rencananya akan mencari tempat baru,” kata Leknono.

Untuk itu, Leknono meminta kepada masyarakat di kabupaten Tuban mengikuti hasil sidang isbat terkait penetapan 1 Syawal 1433 H.

Sebelumnya, dalam sidang isbat di Kantor Kemenang, Mentri Agama Suryadarma Ali mengatakan 1 Syawal 1433 H jatuh pada hari Minggu, 19 Agustus 2012.

“Tidak ada keraguan sedkit pun hilal sudah sangat jelas dilihat berdasarkan astronom dan anggota Badan Hisab Rukyat Kementrian Agama posisi hilal berada 6,65 derajat. Demikian juga dengan laporan ormas-ormas Islam,” katanya. (ctr).

One thought on “17 Tahun Gagal Melihat Bulan, Lokasi Pemantauan Dipindah

  1. PEMERINTAH HARUS BERUPAYA MENCERDASKAN UMMAT.

    Bukan hanya di Tuban, tetapi diberbagai daerah yang selama ini dipilih sebagai titik untuk aktivitas rukyah dalam menentukan awal Romadhon dan satu sawal yang selama itu dilakukan sejak itu pula tak pernah berhasil melihat bulan. Tetapi herannya seperti tak terpikirkan untuk memindahkan lokasi, ketidak berhasilan melihat itu seperti diterima sebagai takdir yang tak perlu diganggu gugat. Sementara sejatinya potensi untuk melihat bulan itu cukup signivikan. Maka berita tentang rencana Pemerintahkan memindahkan lokasi melihat bulan kita anggap sebagai langkah cerdas. Apalagi konon aktivitas itu plus pelaksanaan sidang isbat selalu menelan biaya yang signifikan.

    Kita berharap Pemerintah selalu berupaya untuk mendidik ummat agar semakin cerdas dalam memahami persoalan hisab dan rukyah. Bila sering Muhammadiyah memiliki hasil perhitungan yang berbeda, maka sudah menjadi tanggungjawab Pemerintah untuk bersama menguji sistem penghitungannya, karena akurasi penghitungan itu pasti bisa diuji kebenarannya. Pemerintah dalam hal ini diminta bersikap netral. Jika memang muhammadiyah mengalami eror dalam penghitungannya, Muhammadiyah dapat menggantikan sistem penghitungan itu dengan sistem yang lain.

    Mengandalkan rukyah dalam penetapan awal Romadhon dan 1 Sawwal sungguh kurang elok, apalagi pernah terjadi ketetapan sidang isbat ditetapkan pada pukul 23 malam Wib. yang berarti dinihari di Indonesia bagian Timur. Apalagi isi Pengumuman menyatakan gagal melihat bulan, sehingga Romadhon disempurnakan menjadi 30 hari. Sementara kalender pemerintah sehari sebelumnya.

    Bukankah hasil perhitungan lembaga hisab diberbagai organisasi Islam memiliki hasil yang sama. Perbedannya hanya di berapa ketinggian hilal dia atas ufuk untuk dikatakan masuknya bulan baru. Ujilah berdasarkan ilmu pengetahuan, karena potensi untuk terlihat secara terang benderang di Indonesia ini dalam ketinggian sekitar 3 derajat, ternyata masih kecil. Sungguh alam Indonesia ini tidak menguntungkan untuk aktivitas rukyatul hilal karena berbagai faktor antara lain karena banyaknya tumbuhan yang menjulang, banyaknya perusahaan perkebunan yang menghidupkan lampu boklam.dalam wott yang sangat besar,. dan yang lebih parah lagi adalah bahwa udara Indonedia ini selalu saja diwarnai sampah partikel yang sangat banyak.

    Perbedaan ini akan terasa ringan manakala ummat tidak lagi awam urusan hisab dan rukyatul hilal, dengan cara melakukan pelatihan bagi ummat, setidaknya melalui pengurus Masjid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s