SYARI’AH ECONOMIC IS THE TRUE GREEN ECONOMY

M. RIZKY RIZALDY

Sumber Gambar : A World of Green Muslims

“Ekonomi Syariah merupakan Ekonomi Hijau dengan sendirinya secara keseluruhan”

Gembar-gembornya isu pemanasan global memaksa para pelaku industri untuk lebih memperhatikan dampak lingkungan dari setiap proses bisnisnya, mulai dari bahan baku sampai ke cara memasarkannya. Berbagai konferensi tingkat dunia juga sudah berkali-kali diadakan untuk merumuskan bagaimana seharusnya proses bisnis dapat dilakukan, tanpa adanya pengurangan kuantitas maupun kualitas industri, namun segala sesuatu yang menyebabkan degradasi lingkungan harus dapat diminimalisasi. Hal ini yang akhirnya mencetuskan konsep-konsep ekonomi hijau yang diharapkan dapat diterapkan dan menjadi solusi bagi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan ekonomi terutama industri.

Sudah lama sebenarnya isu hijau ini diangkat jauh sebelum boomingnya isu pemanasan global. Indonesia misalnya, sudah memiliki konsep AMDaL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) sejak jaman orde baru, namun sayang penerapannya masih belum efektif. AMDaL dengan mudahnya ‘dibeli’ dengan harga murah, banyak industri tidak ramah lingkungan yang lolos izin AMDal, lagi-lagi korupsi. Di sini kita melihat bahwa seharusnya konsep hijau tidak hanya diterapkan dalam bentuk sistem produksi, distribusi, dll, namun juga harus menjadi paradigma para pelaku ekonomi secara individu.

Saya ingin menjelaskan bahwa ekonomi syariah merupakan ekonomi hijau dengan sendirinya secara keseluruhan. Ide-ide hijau yang baru saja ditawarkan oleh organisasi-organisasi lingkungan dunia sebenarnya sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallahu’alaihi wassalam sejak 1400 tahun silam. Islam tidak mengajarkan dipisahkannya urusan dunia dengan urusan agama, oleh karena itu nilai-nilai Islam harus dapat tercermin di dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam berekonomi.

Allah Tidak Menyukai Kerusakan

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30:41).

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. 7: 56).

Manusia seharusnya dapat menyadari bahwa berbagai dampak yang telah Allah tunjukkan adalah cara Allah untuk mengingatkannya. Berbagai kerusakan terjadi tidak lain adalah karena perbuatan manusia itu sendiri, yang jika terus dibiarkan maka akan mengakibatkan kerusakan total pada seluruh ekosistem di bumi. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa setiap kegiatan yang mengakibatkan degradasi alam adalah perkara yang tidak disukai Tuhan, dipertegas lagi di dalam Asy-Syu’araa ayat 183.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” (QS. 26:183).

Dalam Islam, Menanam Pohon adalah Ibadah

Diriwayatkan oleh Anas bahwa Nabi pernah bersabda: ”Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya“. (HR. Imam Muslim 5/28 dan Imam Ahmad 3/147).

Islam menjanjikan pahala bagi ummatnya yang menghijaukan bumi dengan menanam pohon, menjadi amalan yang tidak terputus baginya selama pohon itu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan, baik itu buahnya, daunnya, naungannya, air yang tertahan oleh akarnya, sampai kepada oksigen yang dihasilkannya, Allah tidak akan pernah luput dari memperhitungkan kebaikan sekecil apapun.

Islam Menyuruh Ummatnya Memastikan Keberlangsungan Ekosistem

Manusia seharusnya dapat selalu memikirkan dampak jangka panjang atas segala perbuatannya termasuk dalam berekonomi. Ekonomi Islam tidak hanya bertujuan untuk menjamin kemaslahatan generasi saat ini, namun juga generasi yang akan datang, anak cucu kita.

Jika engkau mendengar bahwa Dajjal telah keluar, padahal engkau masih menanam bibit kurma, maka janganlah engaku tergesa-gesa memperbaikinya, karena masih ada kehidupan manusia setelah itu“ (Diriwayatkan oleh Abu Dawud Al-Anshari).

Tetap Menjaga Lingkungan di Tengah Persaingan

Al Auza’i berkata : “Abu Bakar melarang pasukan kaum muslimin untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang ada” (Tuhfadzul Ahwadzi 5/133).

“Bukti yang lain adalah para ulama menyebutkan dalam buku-buku fikih, terlebih khusus di dalam bab berburu, disebutkan bahwa menjadikan burung hanya sebagai sasaran untuk berlatih ketepatan membidik, hal itu dilarang” (Subulus Salam).

Dalam konteks ekonomi modern saat ini, bisnis menjadi tidak ada bedanya dengan sebuah peperangan. Dalam konteks perang yang sebenarnya pun, seorang Muslim tidak diperkenankan untuk merusak lingkungan, terlebih dalam konteks bisnis.

Tidak Boros dan Hemat Energi

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan” (QS. 17:26-27).

Janganlah kalian meninggalkan api di dalam rumah kalian ketika akan tidur” (HR. Muslim).

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat hemat ketika menggunakan air saat berwudhu” (HR. Ahmad)

Tidak boros dan hemat energi, ini seharusnya menjadi prinsip utama dalam setiap aktifitas konsumsi seorang muslim. Rasulullah memerintahkan kita untuk menghemat energi salah satunya dengan mematikan lampu yang tidak perlu, seperti saat tidur, dan hemat dalam menggunakan air untuk keperluan sehari-hari termasuk bersuci.

Kantor-kantor yang memiliki ratusan bahkan ribuan lampu di kantornya merupakan cerminan bahwa perusahaan tersebut tidak secara penuh menerapkan prinsip ekonomi hijau, walau pun di kemasan produknya jelas terpampang tulisan kampanye “GO GREEN”. Ya, seperti itulah sistem ekonomi hijau ala kapitalis, hanya upaya dari ketakutan produknya tidak dibeli karena dianggap tidak ramah lingkungan.

Optimalisasi, Bukan Maksimalisasi dalam Pemanfaatkan Sumber Daya Alam

Diriwayatkan oleh Jabir ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalaam melarang kami menjual buah-buahan sebelum matang (enak dimakan)”. (Shahih Muslim No.2831)

Salah satu tindakan pemborosan di dunia indistri adalah menggunakan faktor-faktor industri yang belum “matang” dengan alasan mengejar target produksi. Hal ini tentu membuat pemanfaatan sumber daya alam menjadi tidak optimal, selain akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan karena akan mengganggu siklus regenarasi sumber daya, namun juga produk yang dihasilkan dengan bahan baku yang belum matang tersebut tidak akan sebaik kualitas produk yang dibuat menggunakan bahan baku yang matang. Semisal, industri makanan yang menggunakan benih ikan sebagai bahan bakunya dapat menyebabkan siklus regenarasi spesies ikan tersebut terganggu bahkan punah, padahal kualitas yang didapat jika menggunakan ikan yang sudah dewasa bisa jadi lebih baik, dan lebih ramah lingkungan tentunya.

Lahan Hijau Harus Produktif, Lahan Produktif Harus Hijau

“Amer bin Al-Ash pernah masuk ke dalam suatu kebun miliknya di Tho’if yang dinamai dengan Al-Wahthu. Di dalamnya terdapat satu juta batang kayu. Beliau telah membeli setiap kayu dengan harga satu dirham”. (HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo 46/182)

Dari riwayat di atas kita dapat melihat betapa besarnya usaha para sahabat untuk tetap membuat lahan produktifnya tetap hijau. Satu juta pohon bukanlah jumlah yang sedikit, apalagi Tho’if yang walaupun terkenal subur pada nyatanya adalah padang pasir yang sulit untuk ditanami. Selain itu, Islam juga menegaskan bahwa lahan hijau juga harus produktif, tidak boleh ada lahan yang menganggur dan menjadi gersang karena tidak terurus.

“Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?” Bapakku berkata kepada beliau, “Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok”. Umar berkata kepadanya, “Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!” Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob menanamnya dengan tangannya bersama bapakku”. (HR. Ibnu Jarir Ath-Thobariy)

Islam mengajarkan, bahwa bumi ini bukan hanya warisan yang harus kita jaga, melainkan kita juga harus bisa memastikan bahwa bumi ini harus bisa kembali diwariskan kepada generasi setelah kita dengan baik. Sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberikan manfaat kepada sesama, maka tidak ada salahnya juga kita berpendapat bahwa orang yang paling tidak baik adalah yang suka membuat kerusakan dan merugikan pihak selain dirinya, serta perbuatan merusak alam adalah perbuatan merugikan jangka panjang.

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 6:165)

Selayaknya kita menjaga bumi ini dengan sebaik-baiknya dengan tulus karena dasar cinta kepada sesama dan kepatuhan terhadap aturan Tuhan sebagai pemilik semesta. Bukan seperti para kapitalis yang hanya berpura-pura hijau agar produknya tidak kalah saing atau disebut tidak ramah lingkungan. Islam adalah agama yang hijau, dan Ekonomi Syariah adalah Ekonomi Hijau yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bishawwab.

One thought on “SYARI’AH ECONOMIC IS THE TRUE GREEN ECONOMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s