MUI TOLAK LARANGAN KHITAN BAGI PEREMPUAN

JAKARTA (Lampost.co): Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama-sama ormas Islam menolak dengan tegas pelarangan khitan perempuan oleh pemerintah atau
pihak manapun, karena merupakan ajaran agama yang pelaksanaannya sebagai
hak asasi manusia yang dilindungi Undang-Undang Dasar.

“Khitan merupakan bagian dari ajaran agama Islam dan termasuk bagian
ibadah, yang sangat dianjurkan bagi umat Islam baik bagi laki-laki maupun
perempuan. MUI dan ormas Islam menolak dengan tegas pelarangan khitan
perempuan oleh pemerintah atau pihak manapun,” kata Wakil Sekretaris
Jenderal MUI Dr. Amirsyah Tambunan, di Gedung MUI Jakarta, Senin (21-1).

Amirsyah mengatakan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1636/MENKES/PER/XI/2010
Tentang Sunat Perempuan adalah telah sesuai dengan amanat UUD 1945, Fatwa
MUI dan aspirasi umat Islam, karenanya MUI dan ormas Islam mendukung
Permenkes tersebut.

MUI meminta pemerintah untuk tidak mengindahkan setiap upaya dari
pihak-pihak manapun yang menginginkan adanya pelarangan khitan perempuan di
Indonesia, karena bertentangan dengan ajaran Islam, amanat UUD 1945 dan Hak
Asasi Manusia. “MUI mendorong pemerintah dan pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan dan dinas-dinas kesehatan serta organisasi profesi kedokteran serta tenaga kesehatan, dan ormas-ormas Islam untuk menyosialisasikan Permenkes Sunat Perempuan sebagai pedoman bagi tenaga kesehatan untuk memberikan layanan khitan perempuan muslim di Indonesia,” kata dia.

Dia juga mengatakan pihak terkait harus merumuskan “Standard
Operational Procedure”, tentang khitan perempuan serta menjadikannya
sebagai salah satu materi dalam kurikulum pendidikan kedokteran dan tenaga
kesehatan lain. MUI juga mengimbau umat Islam Indonesia agar tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan berbagai upaya pembentukan opini yang keliru pelarangan khitan perempuan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Soleh mengatakan pro kontra khitan
telah bergulir sejak 2002. Menurut dia beberapa pihak yang melarang khitan
perempuan antara lain Komite Cedaw yang menilai khitan perempuan merupakan
suatu bentuk mutilasi alat genital perempuan. “Bahkan American Medical Assosiation menilai pelaksanaan khitan baik bagi laki-laki maupun perempuan sama-sama merupakan mutilasi,” kata Asrorun Niam Soleh.

Asrorun mengkhawatirkan upaya pihak-pihak tersebut melarang khitan akan
memengaruhi posisi Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2010 tentang Sunat
Perempuan. Ketua MUI Dr. KH. Ma’ruf Amin mengatakan pihaknya bukan mewajibkan atau tidak mewajibkan khitan perempuan, namun menolak adanya larangan khitan bagi perempuan.

Dia mengatakan bahwa MUI mengeluarkan fatwa bahwa khitan bagi perempuan adalah “makrumah” atau ibadah yang dianjurkan. Menurut dia tidak satu ulama pun yang melarang khitan bagi perempuan, sehingga setiap rumah sakit di Indonesia harus menerima jasa khitan.

“Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam cukup dengan
hanya menghilangkan selaput yang menutupi klitoris. Ajaran Islam melarang
praktik khitan yang dilakukan berlebih-lebihan seperti memotong atau
melukai klitoris yang mengakibatkan bahaya,” kata Ma’ruf Amin. (ANT/L-1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s