SALAT CEGAH KEKEJIAN POLITIK

NUR ISLAM

Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan  FISIP Universitas Muhammadiyah Lampung

SETIAP memperingati Isra Miraj—yang tahun ini jatuh pada 17 Juni—hal paling utama yang dibahas adalah kewajiban mendirikan salat. Salat merupakan salah satu strategi pembentukan dan pembinaan karakter umat sebagai upaya bekal menghadapi aktivitas kesehariannya.

Dengan menegakkan salat yang baik dan benar, akan melahirkan manusia pilihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Salat juga bukan sekadar persoalan spiritual, melainkan juga berkaitan dengan kesalehan sosial-politik umat.

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (Q.S. Al Ankabut [29]:25). Keji berarti kotor, tidak sopan, tamak, dan kejam. Sedangkan mungkar berarti durhaka dan melanggar perintah Tuhan. Bila dikaitkan dengan politik, kekejian politik bisa diartikan merendahkan atau merusak karakter diri sendiri dan orang lain. Bentuk kekejian politik, misalnya, menjual idealisme demi kepentingan sesaat, melacurkan kebenaran demi kepentingan pragmatis, dan merampas hak publik. Contoh perbuatan yang mengarah pada kekejian politik seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), suap pungutan liar, hipokrit, eksploitasi hak-hak orang lain, merusak lingkungan, dan pembohongan publik. Kekejian politik dalam pemilihan umum (pemilu)—presiden, DPR/DPRD, kepala daerah—adalah politik uang, suap, “serangan fajar”, dan manipulasi data.

 

Kasih Sayang

Kekejian dan kemungkaran politik bersinggungan dengan kekuasaan politik. Tujuannya meraih cita-cita politik dan kekuasaannya dengan melawan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran dan Hadis dan hukum positif.

Pendeknya, kemungkaran politik adalah melegalkan kesalahan dengan menggunakan kekuasaan dengan berbagai cara, dalih, dan strategi. Misalnya dengan dalih untuk kepentingan bangsa dan rakyat, dibuatlah aturan hukum. Padahal tindakannya adalah akal-akalan untuk melegalkan eksploitasi sumber daya alam atau mengeruk uang negara. Sesungguhnya peraturan tersebut dibuat untuk menghalalkan oknum, baik secara individu maupun institusi semata-maka untuk kepentingan dan kejahatan ekonomi, politik, budaya, dan bisnis.

Tindakan kemungkaran politik jelas merugikan rakyat dan negara itu sendiri karena mengarah kepada instabilitas sosial, politik, ekonomi, budaya, atau lainnya. Contoh kecil saat pilkada: melakukan intervensi birokrasi dari tingkatan yang paling atas hingga yang terendah dengan berbagai kewenangannya untuk memenangkan calon kepala daerah tertentu.

Terjadi instabilitas politik atau pelecehan hukum antara lain karena penguasa dan elite telah menempatkan politik sebagai panglima kekuasaan. Akibatnya, aturan hukum tidak pernah dapat ditegakkan karena rakyat telah kehilangan kepercayaan pada penegak hukum. Begitu mudahnya nyawa, termasuk kekayaan hilang dalam sekejap tanpa perlindungan. Perasaan keadilan masyarakat dengan mudah tergeser oleh tangan-tangan kuat kekuasaan (Thontowi Jawahir: 2002:141)

Allah swt. Maha Mengetahui akan kebutuhan hamba-Nya. Perintah mendirikan salat tidak lain adalah sebagai salah satu bentuk kasih dan sayang-Nya kepada umat-Nya yang beriman. Sangat banyak manfaat yang didapat dengan mendirikan salat, di antaranya nilai-nilai politik salat oleh individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

 

Ucapan Salam

Banyak nilai-nilai politik yang terdapat dalam salat, mulai dari ucapan maupun gerakan dalam salat yang seharusnya menjadi pedoman dalam berpolitik. Misalnya, membaca salam dengan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.

Ucapan salam dalam salat harus dihayati betul sehingga dapat menjadi landasan dalam menjalankan kekuasaan politik. Bacaan salam yang agung itu harus diterapkan pula dalam kesehariannya. Bacaan salam jangan sampai menjadikan penguasa atau rakyat menjadi munafik, lain yang dibaca, diucapkan, lain pula dalam praktek kesehariannya. Kebijakan penguasa melalui peraturan yang dibuat untuk rakyatnya jangan sampai melukai perasaan atau merugikan rakyat, apalagi menyengsarakannya.

Salam dengan menengok kanan kiri merupakan momentum yang tepat berbuat nyata (bukan pidato atau berwacana) untuk merealisasikan, mewujudkan kedamaian, keselamatan, kepedulian pemimpin terhadap rakyatnya dan sebaliknya. Pemimpin tidak menjadi teroris bagi rakyat, rakyat haram menjadi teroris dan memusuhi pemimpin.

Saling berkasih sayang, saling melindungi dan memberi keselamatan. Salam mengamanatkan untuk menjauhi atau tidak mempraktekkan premanisme politik, mafia politik, kegaduhan politik, dan perilaku politik menyimpang lainnya.

Mengamalkan salam, pemimpin juga wajib menyelamatkan dan memberi rasa aman rakyatnya dari kelaparan, kemiskinan, kemaksiatan, ketakutan, waswas, kebodohan, kebohongan publik. Kesempatan emas untuk menegakkan keadilan dalam arti yang luas, memberikan pelayanan prima di semua lapisan sebagai salah satu fungsi ibadah sosialnya.

Sementara itu, rakyat wajib pula berpartisipasi aktif bagi terciptanya negara yang aman dan damai. Intinya pemimpin dan rakyat bersama-sama mewujudkan Islam yang rahmatan lilalamin.

Persoalannya, sudahkah nilai-nilai politik dalam salat telah menjadi pola pikir dan pola tindak dalam kehidupan berpolitik sehari-hari pelaku salat. Seperti halnya Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah. Semestinya kekayaan alam tersebut membuat rakyat dan negara sejahtera dan makmur.

Tidak munculnya kemakmuran dan kesejahteraan karena salah urus para penyelenggara negara: eksekutif, legislatif, yudikatif, dan para pengusaha. “Barang siapa yang salatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka tidak akan menambahkan (dekat) dari Allah melainkan semakin jauh.” (H.R. Ath Thabrani). (n)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s