TANTANGAN MUHAMMADIYAH

Imron Nasri

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi   Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada 21—24 Juni 2012 ini, Muhammadiyah melangsungkan sidang Tanwir di Bandung dengan tema Gerakan Pencerahan Solusi untuk Bangsa. Tanwir merupakan lembaga musyawarah tertinggi kedua setelah muktamar.

Agenda yang dibahas dalam sidang tanwir, antara lain evaluasi program yang diputuskan di muktamar dua tahun lalu serta problema umat Islam dan bangsa saat ini. Dalam usia menjelang satu abad November mendatang, Muhammadiyah tetap menunjukkan vitalitas yang dinamis melayani masyarakat dan kemanusiaan berdasar ajaran Islam. Jumlah amal usahanya dari hari ke hari semakin bertambah dan ekspansif. Ini menandakan fondasi Muhammadiyah semakin kokoh.

Bila tolok ukur yang dipakai adalah perbandingan, Muhammadiyah harus dan memang layak bangga. Tidak ada gerakan Islam lain yang mampu menandingi imperium amal usahanya, setidaknya secara kuantitattif, bahkan termasuk negara sekalipun.

Dari segi kualitas, amal usaha yang meliputi lembaga pendidikan, rumah sakit, rumah yatim, dan pusat pelayanan sosial tersebar di seluruh Indonesia. Sekalipun amal usahanya telah muncul di mana-mana, Muhammadiyah tak berpuas diri. Tidak pernah terpikir bahwa Muhammadiyah akan berhenti sampai di sini. Muhammadiyah menganut falsafah, “Hidup itu adalah gerak, diam berarti mati.”

 

Jati Diri Bangsa

Memasuki abad keduanya, banyak orang berharap Muhammadiyah akan meningkatkan kiprah perjuangannya dalam mencerdaskan bangsa. Juga memantapkan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang beradab dan bermoral tinggi. Abad kedua bagi Muhammadiyah akan diwarnai iklim kompetisi yang sangat tinggi.

Abad ini disebut sebagai peradaban modern dan era globalisasi. Batas antarnegara dan antarmanusia nyaris tak ada lagi. Abad yang masih akan ditandai dominasi peradaban Barat yang semakin sekuler dan materialistik. Dominasi itu didukung kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih.

Salah satu akibatnya peradaban modern telah kehilangan kearifan, suatu nilai yang agung dan tanpa kearifan itu perdamaian dan keamanan dunia tidak mungkin terwujud. Dalam pandangan A.J. Toynbee, peradaban modern lebih banyak menghasilkan manusia tipe homo faber (teknisi) dan amat sedikit melahirkan homo sapiens (si bijak).

Dinamika sejarah dan peradaban pada era globalisasi dewasa ini membawa beberapa tantangan bagi Muhammadiyah dan gerakan sosial keagamaan pada umumnya di Indonesia. Pertama, proses sekulerisasi yang masih berlangsung dan menjadi salah satu arus utama peradaban manusia. Proses ini membawa tantangan terhadap kehidupan keagamaan melalui penetrasi nilai-nilai sekuler. Akibatnya, terjadi pendangkalan spiritualitas dan sebaliknya menyuburkan benih-benih materialisme, individualisme, dan hedonisme. Dalam hal ini dakwah keagamaan akan terlibat dalam pertarungan sengit dengan sekulerisme.

Kedua, proses modernisasi yang masih terus berlangsung dalam bentuk makin canggih dengan penerapan manajemen modern dalam pengorganisasian kegiatan. Ketidakmampuan organisasi sosial-keagamaan untuk mengadaptasi keunggulan manajemen modern akan berakibat tidak hanya pada ketertinggalan dalam kualitas kegiatan, tetapi juga efektivitas. Semua itu muaranya akan menyurutkan dukungan manusia terhadap organisasi.

Ketiga, corak arus informasi antar manusia yang berkembang semakin canggih dengan mengandalkan teknologi informatika baru. Perkembangan ini menantang pendekatan komunikasi organisasi sosial-keagamaan yang cenderung masih tradisional dan tak mampu bersaing di arena cyberspace.

Muhammadiyah memang tidak sendirian menghadapi tantangan di atas. Tapi karena Muhammadiyah merupakan salah satu avant-garde (pelopor) gerakan pembaharuan Islam, maka sudah sangat mendesak untuk berancang-ancang agar tetap hidup dan bermakna menghadapi kemajuan teknologi. Bahwa Barat telah kehilangan jangkar transendental, sudah banyak disampaikan orang. Itu kenyataan yang tak bisa dibantah. Tapi persoalannya bukan pada kokoh atau rapuhnya peradaban modern, melainkan pandangan hidup manakah yang ditawarkan untuk menghadapi dunia yang materialistik dan ateistik?

 

Perubahan Paradigma

Sebagai organisasi sosial-keagamaan, Muhammadiyah dituntut menyesuaikan diri dengan dinamika sejarah dan peradaban. Hal ini menjadi agenda besar yang harus direncanakan dan dilaksanakan Muhammadiyah secara konsepsional dan sistematis. Untuk itu, perlu dilakukan perubahan paradigma gerakan dengan tantangan baru. Perubahan ini meliputi pengembangan infrastruktur organisasi, penerapan manajemen modern, serta kepemimpinan yang tangguh dan profesional.

Pada tataran amal usaha yang semakin berkembang perlu strategi pengembangan yang lebih konsepsional, baik menyangkut arah maupun kualitas pengembangannya. Jangan sampai amal-usaha yang dikembangkan beranjak dari tujuan misi Muhammadiyah.

Amal usaha adalah instrumen untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Keadaannya akan menjadi terbalik bila amal-usaha telah dijadikan tujuan. Sekali amal-usaha itu dijadikan tujuan, maka virus budaya konsumtif akan masuk ke tubuh Muhammadiyah. Selamat bermilad. Wallahualambishawab. (n)

Sumber : Opini Lampost Jum’at 22 Juni 2012

Iklan

Satu tanggapan untuk “TANTANGAN MUHAMMADIYAH

  1. Bukan hanya kepada Muhammadiyah, tetapi juga kepada ormas islam lainnya ummat membutuhkan bimbingan agar memiliki kemampouan untuk menyesuaikan dengan kemajuan sain dan terknologi serta peradaban dunia. Muhammaditah, NU, Persis dan lain sebagainya didukung oleh sebagain besar ummat Indonesia, yang rata rata mengalami kesulitan dalam menghadapi himpitan masalah sosial dan ekonomi. Sebagian besar ummat kita hidup di bawah garis kemiskinan sebagai akibat dari ketidak mampuan menyesuaikan diri dengan peradaban dunia.

    Dengan demikian kepada organisasi organisasi massa Islam diharapkan memiliki agenda penuntunan ummat untuk memiliki keterampilan dalam mengantisipasi problema hidupnya. Live skill, sehingga dalam dunia politik ummat Islam tidak dapat dibeli dengan harga murah, seperti apa yang terjadi sekarang.

    Dalam Pilpres, Pilkada ataupun pemilihan anggota legislatif ummat dapat dibeli dengan sembako plus kartu nama, manakala mereka memiliki kemampuan ekonomi yang lebih mapan, maka upaya menyogok massa dengan sebungkus sembako tidak akan terjadi lagi. dan dalam waktu bersamaan kualitas hasil Pilpres, Pilkada ataupun pemilihan legislatif akan meningkat. dan itu artinya peningkatan kualitas hidup juga bagi masyarakat, karena para pimpinan kita tidak lagi memprogramkan korupsi untuk untuk menggantikan ongkos politik yang besar itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s