UI, Marzuki Alie dan Logika Penelitian

 

Andi Saputra

Jakarta Ketua DPR Marzuki Alie yang menyatakan ada korelasi antara koruptor dengan almamater perguruan tinggi ternama memicu kontroversi. Terlepas dari benar dan salah pernyataan tersebut, mengapa timbul analisa tersebut?

Dalam buku klasik yang menjadi pegangan wajib peneliti, “Berbohong dengan Statistik” karya Darrel Huff yang dicetak pertama kali pada tahun 50-an diceritakan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Saya mencontohkan jika ada 100 orang berkumpul di taman kota akan Anda pilah-pilah berdasarkan apa? Apakah berdasarkan warna kulit, kesamaan baju, asal daerah atau berdasarkan penghasilan per bulan?

Jawabannya mungkin, pertama 80 persen orang suka memakai baju putih saat berada di taman kota. Kedua, orang berpendapatan di atas Rp 10 juta jarang menghabiskan waktu di taman kota.

Begitu juga saat kita mengumpulkan data 100 orang koruptor. Data tersebut lalu dipilih variabel yang ditentukan oleh peneliti yaitu berdasarkan jenis kelamin, partai politik, tingkat pendidikan, asal daerah hingga latar belakang pendidikan. Hasilnya pasti banyak dan beragam dengan berbagai variasi.

Contohnya:

1. Korupsi paling banyak dilakukan oleh laki-laki.
2. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi tingkat korupsinya.
3. Semakin besar partai, maka semakin besar kader yang melakukan korupsi.

Lalu mengapa muncul jawaban 1, 2 dan 3 di atas? Jawaban pertama karena laki-laki yang paling layak berperan di sektor domestik. Jawaban kedua yaitu karena korupsi ada di institusi formal yang hanya bisa dimasuki orang dengan syarat pendidikan minimal S1. Tidak mungkin lulusan SD menjadi dirjen di kementrian.

Jawaban ketiga yaitu karena semakin besar populasi maka akan semakin besar sampling. Semakin besar partai, maka sampling penelitian makin banyak dalam bilangan kemungkinan yang muncul dalam rata-rata.

Coba kita mulai berandai-andai dengan data perceraian. Menurut data Mahkamah Agung (MA) setiap tahunnya ada 400 ribu pasangan bercerai. Nah, Anda mau menyimpulkan berdasarkan apa mengapa orang bisa bercerai? Maka Anda akan mendapat jawaban sesuai data statistik itu.

Contoh:
1. Berdasarkan alasan penghasilan suami, maka (mungkin) jawabannya semakin rendah penghasilan maka semakin tinggi angka perceraian.
2. Berdasarkan alasan agama, maka (mungkin) jawabannya jika berbeda agama maka angka perceraian makin tinggi.
3. Berdasarkan alasan pertengkaran, maka (mungkin) jawabannya berbeda pilihan acara TV menyebabkan semakin tinggi pasangan bercerai.

Kembali lagi ke analisanya Marzuki Alie yang disampaikan di Kampus UI pada Senin (7/5) lalu, Sepanjang statistik murni, maka bukan menjadi masalah benar/salah. Tapi dalam pemuja madzhab kualitatif, tidak ada teks tanpa konteks. Tidak ada pernyataan tanpa alasan mengeluarkan pernyataan tersebut. Sebab penentuan variabel dalam penelitian kuantitatif, sangat dipengaruhi dengan subjektifitas peneliti.

Jika yang menjadi objek penelitian adalah korupsi yang masih marak, mengapa yang dijadikan variabel adalah latar belakang pendidikan?

*) Andi Saputra adalah wartawan detikcom. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s