PETUAH WAPRES BUDIONO : ADZAN CUKUP DENGAN SUARA SAYUP SAYUP

ARDI WINANGUN : PENTING MENYIMAK PETUAH APA KATA PAK BOED (DETIKNEWS)


TULISAN berikut ini adalah tulisan Ardi Winangun yang dimuat Detiknews. Ardi mendukung himbawan Wapres Boediyono agar masjid mengumandangkan adzan cukup dengan suara sayup sayup tak sampai dengan alasan agar supaya dirasakan lebih syahdu. Boediyono yang berbicara atas nama Pemerintah itu meminta agar Dewan Masjid membahas dan memutuskannya sesuai dengan harapan beliau, disamping itu juga harus dioertimbangkan bahwa bukankah masih ada orang yang bukan muslim, sehingga islam diharapkan memiliki toleransi. Himbawan Wapres ini sebenarnya hanya pengulangan saja dari apa yang pernah disampaikan oleh Pak Domo ketika beliau masih menjabat Kobkamtib di masa Orde Baru dahulu.

Barangkali wapres sering merasa terganggu mendengar hentakan suara adzan yang dikumandangkan dari masjid terdekat pada saat beliau sedang menerima tamu atau menerima telepon, atau sedang memimpin sidang sidang penting. Suara adzan yang menghentak itu masuk menembus tembok rapat di kantor megah. Ironisnya barangkali adzan itu ternyata hanya dikumandangkan oleh seorang karyawan bagian klining servis belaka, yaitu seorang kasta terendah, sementara yang tersentak termasuk dari kasta tertinggi, hal ini tentu menjadi ironi.  Apalagi sering rapat rapat penting harus ditunda beberapa saat hingga adzan selesai dibacakan.

Itu pula yang menyebabkan Ardi Winangun merasa penting membuka wawasan bagi ummat islam untuk merenungkan lebih dalam petuah Wapres yang bijak ini. Apapun kalimat adzan yang disampaikan, tetap saja itu akan mengusik bagi mereka mereka yang tidak suka mendengarnya.  dan dalam suasana hiruk pikuk apapun maka suara adzan itu akan dirasakan lebih mengganggu dari suara suara lainnya. Inilah tulisan selengkapnya.

————————————

Jakarta Saat memberi sambutan pembukaan Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia, Wakil Presiden Boediono meminta agar Dewan Masjid Indonesia membahas soal pengaturan pengeras suara di masjid. Lebih lanjut diungkapkan, azan adalah panggilan suci bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban salat, namun dirasakan barangkali juga dirasakan oleh orang lain, yaitu bahwa suara azan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari kita dibanding suara yang terlalu keras, menyentak, dan terlalu dekat ke telinga.

Rupanya, sambutan dari pria yang akrab dipanggil Pak Boed itu oleh Ketua Pemuda Dewan Masjid Indonesia, Ali Mochtar Ngabalin, dianggap terlalu mencampuri urusan agama. Bagi Ngabalin, bukan lagi waktunya mengangkat masalah itu. Urusan pengeras suara itu urusan tetangga dengan pengurus masjid dan bisa berkomunikasi.

Meski apa yang dikatakan Pak Boed mendapat respons yang kurang bagus dari Ngabalin, namun apa yang dikatakan Pak Boed itu perlu mendapat respons dari Dewan Masjid Indonesia, khususnya, dan ummat Islam pada umumnya. Perlu direspons sebab selama ini pengeras suara masjid bila masjidnya berada di lingkungan mayoritas umat Islam itu tidak menjadi masalah, tidak dirasa mengganggu. Meski suaranya membisingkan namun umat Islam tidak memprotes sebab apa yang dikumandangkan dari masjid adalah kalimat-kalimat Allah. Namun menjadi masalah bila masjid berada di lingkungan di mana umat Islam tidak menjadi mayoritas. Suara dari masjid dirasa tidak hanya menimbulkan kebisingan suara tetapi juga dianggap sebagai sebuah gerakan islamisasi, akibatnya timbullah ketegangan.

Biasanya ummat non Islam dalam menghadapi suara yang sangat keras dan memekakkan telinga dari masjid tidak bersifat anarki, namun meresponsnya dengan protes atau membalas dengan melakukan hal yang sama. Hal itu dilakukan dengan mengeraskan suara-suara doa dari tempat ibadahnya, bersamaan dengan jam-jam azan. Akibatnya di lingkungan itu kebisingan timbul tidak hanya dari satu sumber namun dari dua bahkan sampai tiga sumber.

Kalau kita pernah tinggal di daerah di mana umat Islam minoritas, misalnya Bali, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat, kita pasti pernah mengalami dan merasakan terjadinya ‘perang suara’. Di mana masjid dan tempat ibadah umat lainnya saling mengeraskan suara. Mereka melakukan demikian bukan karena untuk menyampaikan pesan-pesan agama namun saling berebut pengaruh. Kalau dalam bahasa jawa, jorjoran.

Tradisi menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan pesan saatnya tiba untuk berdoa, sebenarnya hanya ada dalam tradisi Islam, namun karena untuk ‘membalas’ tindakan umat Islam yang dianggap tidak toleransi, maka ummat lain juga melakukan hal yang sama, yakni memasang alat pengeras suara di atap-atap gereja atau pura. Agar hal demikian tidak menimbulkan ketegangan di masyarakat dan perlunya menciptakan keheningan di masyarakat secara menyeluruh, maka apa yang dikatakan Pak Boed itu perlu dipikirkan bersama.

Sebagaimana diketahui syarat membangun tempat ibadah adalah apabila umat yang berada di lingkungan itu berjumlah 40 orang. Nah, dengan syarat tersebut umat yang bersangkutan harus juga membatasi agar kegiatan ibadahnya tidak boleh melebihi dari syarat yang ditentukan. Apabila syarat itu dilanggar, ya bisa dikatakan tidak toleransi dan melanggar hukum.

Selama ini memang umat Islam terkesan agak egois, meski bukan berada di daerah mayoritas, terkadang dalam mengumandangkan adzan atau melantunkan ayat-ayat suci dari masjid, suaranya ke mana-mana. Dan ini sering terjadi sehingga menimbulkan protes dari umat yang lain. Ini protes ini pernah dilontarkan oleh tokoh Bali, Luh Ketut Suryani, menyikapi kerasnya suara-suara di masjid, terutama di Buleleng, Bali.

Dalam hal ini umat Islam harus memahami perasaan umat lain bahwa hati dan pikiran mereka pasti akan terusik bila nilai-nilai agama lain membahana di lingkungannya. Umat Islam pun pasti tidak akan suka apabila suara dentang lonceng gereja atau lantunan doa memekakkan telinganya.

Umat Islam harus menyadari bahwa berkembangnya Islam ke Nusantara bukan dilakukan dengan cara mengeraskan suara-suara dari masjid, namun berkembang lewat kebudayaan dan cara-cara yang tolerans. Wali Songo dulu membangun Masjid Demak serta memfungsikan ‘tanpa pengeras suara’. Meski ‘tanpa pengeras suara’, umat Islam di Jawa berkembang pesat. Umat Islam harus menggunakan filosofi-filosofi yang digunakan oleh Wali Songo untuk menyiarkan Islam secara damai dan hening.

Untuk itu saatnya ummat Islam juga membenahi dalam soal pengeras suara. Takmir masjid harus mulai memikirkan berapa volume yang pas untuk mengumandangkan adzan atau melantunkan ayat-ayat suci. Bila di sekitarnya mayoritas ummat Islam, mungkin seberapa kerasnya tidak masalah, namun ketika di sekitarnya ada umat yang lain, tinggi rendahnya harus disesuaikan bahkan kalau perlu tidak menggunakan, dengan semakin majunya teknologi, panggilan salat bisa lewat sms. Bahkan azan lewat televisi pun dirasa sudah cukup karena sekarang satu rumah mempunyai satu televisi.

*) Ardi Winangun pernah menjadi pengurus Presidium Nasional Masika ICMI. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. Kontak: 08159052503

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s