Visi SDM Berbasis Syariah

Visi SDM Berbasis Syariah

Seiring tumbuh kembang ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, dibutuhkan banyak SDM berkualitas yang memahami konsep sekaligus bisa menjalankan praktik ekonomi dan keuangan syariah dengan tepat. Bank Indonesia menyebut bahwa saat ini saja perbankan syariah membutuhkan sekitar 40.000 SDM berbasis syariah. Jumlah ini belum termasuk  kebutuhan untuk lembaga ekonomi dan keuangan syariah yang lain.

Melihat kebutuhan yang begitu banyak, berbagai pihak (praktisi, akademisi, dan masyarakat) harus serius, fokus, serta bersinergi bahu membahu dalam rangka menyiapkan SDM berbasis syariah tersebut, karena SDM adalah pelaku utama yang menjalankan roda ekonomi dan keuangan  syariah.

Sebelum mencetak SDM berbasis syariah, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan agar penyiapannya bisa efektif, efisien, dan tepat sasaran. Aspek-aspek ini akan menjadi visi dan ruh bagi terciptanya SDM berbasis syariah.

PERTAMA, filosofi ekonomi dan keuangan syariah yang terdiri dari  tauhid, keadilan dan keseimbangan, kebebasan, dan tanggung jawab. Keempat filosofi ini harus ada dalam setiap program penyiapan SDM  berbasis syariah.

Tauhid bukan hanya ajaran tentang kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tapi lebih jauh mencakup pengaturan tentang sikap manusia  terhadap Tuhan dan terhadap sumber-sumber daya manusia maupun alam  semesta.

Manusia adalah khalifah dalam interaksi antarmanusia serta dalam hal pengelolaan sumber daya. Konsep khalifah menyediakan basis bagi sistem  perekonomian berlandaskan kerja sama dan gotong royong atau disebut  co-determinasi sebagai pengganti konsep kompetisi yang selama ini menjadi ciri dominan proses interaksi ekonomi konvensional.

Dalam ekonomi syariah, keadilan dan keseimbangan harus tercermin pada terwujudnya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebab keduanya merupakan dua sisi dari satu entitas. Islam membolehkan adanya perbedaan pendapatan, karena memang manusia diciptakan dalam beda watak, kemampuan (potensi) dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Manusia juga mempunyai kebebasan untuk membuat suatu keputusan ekonomis yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya karena dengan kebebasan itu pula manusia dapat mengoptimalkan potensinya dengan melakukan inovasi kreatif dalam kegiatan ekonomi.

Sedangkan pertanggungjawaban adalah konsekuensi logis dari kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia. Kebebasan dalam mengelola sumber daya alam dan kebebasan dalam melakukan aktivitas ekonomi inilah yang sejatinya akan dipertanggungjawabkan manusia di hadapan Allah nantinya, baik dari sisi transendental maupun sosial.

KEDUA, Alquran secara eksplisit menyatakan bahwa Allah menghalalkan jual beli (sektor riil) dan mengharamkan riba (pinjaman berinterest). Inilah spirit yang bisa menancapkan visi utama manusia berekonomi adalah bergerak di sektor riil, berwirausaha, ekonomi kemandirian, serta penyediaan lapangan kerja sehingga bisa membantu sesama.

Secara akad maupun substansi, haram hukumnya bagi lembaga keuangan syariah menyediakan pinjaman berinterest. Lembaga keuangan syariah harus difungsikan sebagai lembaga penunjang bagi jalannya roda ekonomi sektor riil. Cukup menggembirakan bahwa berdasarkan data Februari 2011, 76% dari pembiayaan bank syariah (Rp.54 triliun) disalurkan kepada sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

KETIGA, perilaku ekonomi berbasis ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf). Keempat hal tersebut adalah sebagian dari berbagai transaksi ekonomi/keuangan yang diwajibkan/dianjurkan dan dinyatakan secara eksplisit dalam Alquran selain istilah tijarah (berdagang) dan bay’ (jual beli).

Inti dari ZISWAF adalah visi memberi. Semakin banyak memberi maka nilai kemanfaatan manusia semakin besar. Memberi itu bisa dilakukan jika dan hanya jika dia telah memiliki sesuatu. Kemauan manusia untuk memberi akan menyebabkannya memiliki visi untuk menjadi orang kaya agar bisa memberi sebanyak-banyaknya kepada pihak yang membutuhkan.

KEEMPAT, perilaku ekonomi etis. Buah dari praktik ekonomi syariah adalah adanya akhlak yang luhur dalam berinteraksi ekonomi. Perilaku ekonomi syariah akan menunjukkan akhlak yang luhur jika meninggalkan perilaku zhalim, menipu, menyuap, berjudi, menimbun, monopoli, serta tidak melakukan perbuatan ekonomi yang termasuk dalam kategori riba.

KELIMA, lingkup pendidikan yang komprehensif meliputi lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, serta lingkungan sekitar (publik). Semua faktor lingkup pendidikan tersebut harus diprogramkan agar sejalan, sinergis dan saling mendukung sehingga SDM menemukan konsistensi kesesuaian antara konsep dan praktek di berbagai ranah.

Bahkan cakupan materi ekonomi syariah sebenarnya tak cukup hanya sebatas bidang ekonomi saja. Materi dan kompetensi SDM berbasis syariah seharusnya mencakup materi ajaran dari urusan akidah, tauhid, akhlak, fikih perilaku keseharian dari cara bersuci, cara beribadah, etika dengan orang tua dan keluarga, etika dengan teman, etika bekerja, cara bertetangga, pengetahuan bahasa al Qur’an dan hadis, sampai dengan cara mengurus jenazah

Visi SDM berbasis syariah idealnya tak hanya cukup dengan sekadar kelulusan S1, S2, atau S3 bidang Ekonomi Syariah, namun secara komprehensif harus menguasai seluk beluk seluruh konsep dan perilaku kehidupan yang sesuai syariah yang dipelajari atau dialami sepanjang hidupnya.

Meskipun demikian, kompetensi pendidikan formal bisa menjadi screening awal dalam seleksi SDM berbasis syariah. Selanjutnya pihak lembaga ekonomi dan keuangan syariah bisa membuat alat tes khusus yang bisa mengukur tingkat kompetensi, kapabilitas dan integritas SDM di bidang ekonomi dan keuangan syariah serta alat tes perilaku syariah. Dari sisi konstruksi alat tes dan psikometri, alat tersebut lazimnya bisa dibuat, meskipun dengan tingkat validitas dan reabilitas yang tak mungkin mencapai 100%.

Dengan memperhatikan seluruh aspek tersebut, insya Allah bisa terwujud SDM berbasis syariah   yang memiliki integritas dan kualitas komprehensif yang bisa memandang bahwa perilaku ekonomi dan keuangan syariah merupakan bagian dari berbagai perilaku syariah yang memang harus dimiliki dan diterapkan secara menyeluruh dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. (Sumber : Majalah Sabili)

Penulis: Ahmad Ifham Sholihin , Pakar Ekonomi Syariah

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Visi SDM Berbasis Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s