Membangun Hidup Beragama yang Menyejukkan

Idrus Ruslan

Dosen Hubungan AntargamaIAIN Raden Intan Lampung

MARAKNYA tindak kekerasan berlatar belakang agama (Islam misalnya) memiliki multitafsir. Sebagian ada yang menoleransinya, tetapi lebih banyak beranggapan sesungguhnya Islam agama rahmatan lil alamin sehingga tidak pantas berbuat keji.

Kekerasan atas nama agama tak hanya di kalangan muslim, juga pada agama lain seperti di Bosnia, India, Thailand, atau di Irlandia Utara. Hal itu mengindikasikan jika yang dilakukan atas nama dan bermotifkan agama, segala tindakan dianggap suci. Semua siap menjadi martir atau syuhada.

Agama seakan berwajah ganda: satu sisi berwajah lembut, menyejukkan, menenteramkan, dan penuh perdamaian, tetapi di sisi lain berwajah kasar, menakutkan, dan penuh kejahatan.

Padahal, pada tataran ideal, tidak satu pun agama mengajarkan berbuat kejahatan, saling menyerang, apalagi saling membunuh.

Sebaliknya, agama memberi tuntunan kepada manusia agar saling mengasihi, menghormati, dan menebarkan perdamaian. Kita sepakat kekerasan harus diakhiri, sebab jika tidak akan sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia.

Nilai Kemanusiaan

Betapa banyak korban akibat perilaku manusia yang mengaku beriman, tetapi saat yang sama melakukan pembunuhan. “Ternyata di dunia ini orang lebih banyak meninggal karena agama ketimbang karena penyakit.” Terlepas dari benar tidak pernyataan itu, umat beragama hendaknya mulai mengubah sikap menjadi lebih baik.

Mengutip Jalaluddin Rahmat, agama terbagi menjadi tiga, yaitu agama fiqhi yang bersifat legalistis, agama siyasi yang bersifat politis eksklusif, dan yang ketiga agama madani yaitu agama yang pluralistis.

Agama yang pertama dan kedua bersifat kaku (eksklusif) dengan mementingkan legalitas formalistik dan tentu mengabaikan aspek-aspek sosial-humanitas. Sementara agama terakhir adalah agama yang memiliki perasaan kebersamaan sosial, tanpa mempersoalkan keyakinan masing-masing.

Selain itu, sesuai dengan sebutannya, agama madani sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Dengan kata lain, agama madani menghadirkan klaim kesetaraan dan kebersamaan, bukan klaim primordialisme dan sektarianisme.

Karena itu—sekali lagi—terminologi jihad atau apa pun namanya hendaknya didekonstruksi dan direkonstruksi lalu diberikan makna dan tafsiran yang lebih luas agar terma tersebut tidak diartikan secara sempit (tekstual). Pemahaman secara luas (kontekstual) terhadap makna jihad akan membuka wawasan bahwa masih banyak cara lain yang dapat dilakukan tanpa harus melakukan penganiayaan.

Karena, turunnya ayat-ayat kitab suci, Alquran misalnya, tidak terlepas dari konteks ruang dan waktu. Artinya, sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi ketika itu. Perlu dipilah dan dipilih mana yang esensinya temporal dan mana yang universal sehingga tidak terjadi “kesalahan” dalam mengartikan “kesalehan.”

Untuk menjadikan umat beragama rukun dan meninggalkan tindak kekerasan, peran elite dan tokoh agama diperlukan. Wejangan mereka dapat memberikan kesadaran umat. Jika nasihat dari para ulama, pastor, pendeta, kiai, dan biksu bersifat provokatif, tentu umat akan melakukan sesuai panutan mereka. Begitupun sebaliknya, jika pemahaman yang diperoleh menyejukkan, umat pun akan bertindak dengan cara yang menyejukkan pula.

‘Mission Impossible’

Harapan juga tercurah pada kalangan akademisi dan intelektual yang banyak mengkaji hubungan antarumat beragama secara intens. Pemikiran para akademisi akan menumbuhkan pemahaman pluralisme sebagai kehendak dan desain Tuhan (sunnatullah) yang tidak perlu dihindari. Membendung arus pluralisme agama merupakan misi yang mustahil tercapai (mission impossible).

Selain itu, masyarakat para penganut agama hendaknya semakin dewasa dan tidak mudah terjebak isu-isu provokatif. Oleh karena itu, menjadi tugas bersama pemerintah, tokoh agama, dan intelektual untuk membina kedewasaan umat. Ini penting agar masyarakat dapat beraktivitas secara tenang tanpa dibayangi perbuatan sekelompok orang yang sering membuat onar.

Jika semuanya dilakukan secara sinergis, bukan hanya despotisme beragama bisa diatasi, melainkan juga akan menaikkan harkat dan martabat agama sebagai sesuatu yang agung dan meletakkannya di tempat yang lebih tinggi karena memang di situlah tempatnya. Itulah cita-cita dari apa yang disebut dengan agama madani.

Sumber :  Lampost Minggu 1 April 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s