Hijrah Moral Menuju Kesejahteraan

Khomsahrial Romli

Wakil Rektor I Universitas Bandar Lampung

UNTAIAN zamrud khatulistiwa. Itulah sebutan untuk negeri tercinta Indonesia. Sebutan itu tidak salah. Lihatlah Indonesia memiliki 17.508 pulau dan menempatkan kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kepulauan Indonesia memiliki tujuh kawasan bio-geografi utama dan keanekaragaman tipe habitat yang luar biasa.

Garis pantainya membentang sepanjang 81 ribu km, luas lautannya mencapai 8,5 juta km persegi, dan mampu menyerap 44% seluruh jumlah karbondioksida (CO2) di atmosfer. Ini artinya, laut Indonesia sangat penting untuk mencegah terjadinya pemanasan global. Lautnya menyimpan potensi minyak dan aneka tambang yang luar biasa.

Hutan kita memiliki kekayaan biotik luar biasa; keanekaragaman hayatinya merupakan tertinggi di dunia, meliputi 11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia, dan 16% spesies burung. Indonesia memiliki 300 ribu satwa atau sekitar 17% satwa di dunia ada negeri ini.

Hutan-hutan kita juga menyimpan karbon dengan jumlah yang sangat besar. Menurut laporan FAO, jumlah total vegetasi hutan di Indonesia menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa. Dibandingkan negara-negara lain di Asia, jumlah tersebut jauh lebih tinggi, dan setara sekitar 20% biomassa hutan tropis di seluruh Afrika.

Di dalam ribuan pulaunya, manusia Indonesia hidup dengan 1.128 suku bangsa, tertinggi diversitas etnisnya di dunia, dengan 748 ragam bahasa. Juga terdapat keanekaragaman budaya sehingga Indonesia merupakan negeri plural par excellence. Sudah patut Indonesia disebut sebagai the highest bio-geo-socio-cultural diversity. Maka tidak salah jika Belanda memberi gelar kepulauan Nusantara sebagai exotic garden of the east.

Bom Waktu

Namun, setelah 67 tahun merdeka, dan setelah segala daya upaya dikerahkan untuk membangun bangsa, pertanyaan kita adalah: Apa yang telah terjadi dalam proses pembangunan dan apa yang telah dicapai bangsa ini? Yang terjadi dengan bangsa Indonesia saat ini adalah belum terwujudnya kesejahteraan ekonomi, kondisi keamanan, dan ketenteraman, kehidupan politik yang bermoral dan kondusif bagi penegakkan hukum dan keadilan serta hubungan harmonis sosial kemasyarakatan yang beretika dan berkarakter.

Pembangunan masih berkisar pada persoalan mendasar, seperti pengangguran dan kelangkaan pangan, dan pertumbuhan penduduk. Belum lagi gangguan keamanan, defisit anggaran, korupsi, rendahnya kualitas sumber daya manusia, masalah pluralitas masyarakat, lemahnya budaya demokrasi, dan kualitas pelayanan birokrasi.

Hal ini membawa ancaman yang serius bagi kesinambungan, keseimbangan, dan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi ditambah maraknya praktek kejahatan yang terorganisasi dalam praktek mafia, seperti mafia kekuasaan legislatif, mafia judikatif, yang mencakup di dalamnya segala macam mafia politik dan kepartaian.

Juga mafia DPR dan DPRD, mafia peradilan dan kehakiman, mafia Hukum, mafia keuangan dan pajak, mafia perbankan, dan segala macam mafia lainnya. Semua menandaskan adanya gejala kemerosotan moral manusia yang menjadi ancaman serius dan apa bila tidak dicarikan solusinya, semua kondisi di atas suatu ketika dapat menjadi bom waktu sosial.

Komunitas Hijrah

Salah satu faktor yang membuat terperosok dalam kubangan multikrisis adalah kebangkrutan etik-moral. Dari sinilah sendi-sendi kehidupan lainnya rontok. Saat inilah kita harus berhijrah moral untuk membangun peradaban bangsa.

Hijrah moral ini sangatlah berat karena harus memiliki kesabaran dan ketahanan ideologi. Melihat kenyataan yang ada memang hijrah moral pada saat ini masih sangat relevan untuk diterapkan, terutama yang berkaitan dengan hijrah nafsiyah (individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari perbuatan menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan kotor. Sehingga hati, jiwa, dan raga serta segala perbuatan menjadi suci.

Setelah itu, berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitarnya (terdekat), hingga pada akhirnya membentuk komunitas yang siap melakukan hijrah.

Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Wallahualam.

Sumber : Lampost Minggu 25 Maret n2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s