KONTROVERSI UU PERKAWINAN

Abdul Ghofar

Peneliti pada   Mahkamah Konstitusi

PUTUSAN itu terus dibicarakan. Putusan yang katanya melegalkan perzinaan. Saya mencermati pendapat masyarakat dari media massa dan berbagai forum yang sempat saya datangi.

Sejak Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan Machica Mochtar pertengahan Februari lalu, saya banyak diundang dalam seminar dan forum diskusi. Meskipun temanya bukan soal putusan itu, dalam setiap pertemuan selalu ada peserta yang menanyakan hal tersebut. Sebut saja, misalnya, pada pada saat saya menjadi narasumber di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Seorang mahasiswi, yang saat itu bertanya, menyampaikan kegundahannya tentang putusan MK yang mengubah bunyi Pasal 43 Ayat (1) UU Perkawinan menjadi, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.”

Menurut dia, jika putusan itu diberlakukan atau dilaksanakan otomotis negara telah “melegalkan” perzinaan. Atau setidaknya, negara melakukan sesuatu yang itu dilarang agama. Dan ia yang beragama Islam, meyakini akan terkena dosa dari kebijakan itu. Menanggapi pertanyaan itu, saya mengatakan dengan tegas bahwa MK tidak melegalkan perzinaan. MK hanya berupaya memberi perlindungan terhadap anak yang lahir di luar pernikahan sebagai sesama warga negara.

Akar Persoalan

Setiap anak, tidak bisa memilih siapa ibu dan bapaknya. Seandainya mereka bisa memilih, pasti tidak mau lahir akibat hubungan terlarang yang dilakukan kedua orang tuanya. Meskipun demikian, ia harus menanggung “dosa” itu seumur hidup. Stempel anak haram akan terus membayangi setiap langkahnya.

Saya kesulitan mencari data resmi anak yang lahir di luar pernikahan di Indonesia. BPS tidak menyediakan data terkait hal ini. Meskipun demikian, dengan melihat tren di negara-negara lain, jumlahnya pasti banyak dan terus bertambah. Tren itu bisa kita lihat, misalnya di Malaysia yang penduduknya mayoritas Islam. Pada 2010, di Malaysia, angka kelahiran anak di luar nikah sebesar 14%. Sementara di negara-negara Barat jumlahnya jauh lebih besar. Di Inggris, jumlah anak lahir di luar nikah terus melonjak dari 12% pada 1980 menjadi 42% pada 2004. Sementara di negara-negara Uni Eropa lainnya rata-rata pada 2004 sebesar 33% dan di Amerika Serikat pada 2007 sekitar 40%. Ada jutaan anak yang juga memerlukan perlindungan hak konstitusionalnya.

Sebagai warga negara yang juga beragama Islam, saya tak mempersoalkan bagaimana hukumnya anak di luar nikah menurut Islam. Tetapi sebagai warga negara, kita dituntut memikirkan bahwa ada sesama warga negara yang harus menerima dosa seumur hidup akibat perbuatan terlarang orang tuanya.

Mereka menerima akta tanpa nama ayah. Lebih menyakitkan, biasanya, untuk menutupi aib sang ibu memalsukan identitas akta kelahiran dengan mencantumkan nama kakek dan neneknya sebagai orang tuanya, atau paman, dan bibinya. Selain persoalan palsu-memalsukan itu, tekanan mental sebagai anak haram juga tidak kalah mengganggu.

Menurut ahli psikologi anak, Marcia J. Carlson dan Maria E. Corcoran, dalam artikelnya Family Structure and Children’s Behavioral and Cognitive Outcomes: 2001, anak yang dilahirkan di luar nikah tingkat stresnya lebih tinggi. Bahkan mereka cenderung keluar dari acara-acara yang melibatkan keluarga. Stres tinggi juga dialami seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal. Celakanya, itu berdampak juga pada kejiwaan sang anak.

Solusi MK

Menghadapi persoalan serius itu, bearwal dari permohonan Aisyah Mochtar (Machica Mochtar), MK pada 17 Februari lalu mengeluarkan Putusan No. 46/PUU-VIII/2010 tentang Pengujian UU Perkawinan. Dalam putusannya, MK mengatakan bahwa Pasal 43 Ayat (1) UU Perkawinan yang menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya” tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasar ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya.

Menurut MK, ayat tersebut harus dibaca, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”

Implikasi dari putusan tersebut, setiap anak akan mendapatkan pertanggungjawaban dari ayah biologisnya. Tidak peduli anak itu hasil pernikahan sah, hasil hubungan suka sama suka, kumpul kebo, hasil perkosaan, maupun hasil dari transaksi beli di tempat-tempat prostitusi. Selama sang ibu bisa membuktikan bahwa laki-laki tersebut adalah yang menghamilinya, laki-laki itu wajib memberi nafkah dan hak-hak lain kepada anaknya. Dengan demikian, para lelaki harus berpikir ribuan kali sebelum membenamkan “pistolnya.” Sebab, salah tembak bisa berakibat fatal untuk dirinya dan keluarganya.

Oleh sebab itu, perlindungan konstitusional terhadap anak di luar nikah memang sudah semestinya dilakukan. Sebab, tidak ada anak kotor, anak haram. Anak adalah anak. Dan, semua anak lahir dari proses alamiah antara lelaki dan perempuan, sehingga tidak semestinya ayah biologis dari anak tersebut lepas tanggung jawab. Semua anak, menurut Nabi Muhammad saw., adalah suci. Oleh sebab itu, kita dan negara juga harus memperlakukan mereka sama.

Dari gambaran ini, saya meyakini bahwa putusan MK ini adalah putusan onside, bukan offside sebagaimana dituduhkan beberapa kalangan. Tugas selanjutnya ada di pundak pemerintah dan DPR. Sebagai lembaga negara yang mengemban tugas konstitusional membuat UU, putusan tersebut harus segera disikapi dengan membuatkan perangkat aturan lebih lanjut. Harus dipikirkan bagaimana model perlindungan yang diberikan sehingga menghindarkan diskriminasi perlakuan yang selama ini terjadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s