Ormas dan Ideologi Kekerasan

Imam Mustofa                                                                                                                                                                                          

Dosen STAIN Jurai Siwo Metro

PADA dasarnya organisasi kemasyarakatan (ormas) dibentuk untuk kebaikan anggota, khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tetapi kondisi dan situasi tertentu atau pengaruh ideologi bisa menjadikan tindakan ormas menjadi kontradiktif dengan tujuan awalnya.

Ketidakpuasan terhadap kinerja aparat pemerintah dalam menangani suatu masalah merupakan salah satu faktor munculnya aksi kekerasan ormas, termasuk ormas keagamaan. Misalnya perjudian dan pelacuran atau hiburan malam yang mengganggu ketenangan masyarakat, sedangkan pemerintah berpura-pura tidak tahu. Karena faktor inilah akhirnya sering terjadi pengrusakan oleh ormas seperti Front Pembela Islam (FPI) terhadap tempat-tempat hiburan yang dianggap arena kemaksiatan.

Munculnya kekerasan juga bisa pengaruh dari ideologi. Faktor ideologis ini sering dijadikan legitimasi untuk mengintimidasi atau bahkan menyerang kelompok lain, baik “seagama”, tapi beda keyakinan seperti jemaah Ahmadiyah atau kelompok lain.

Membela Tuhan

Munculnya paham dan aksi kekerasan yang mengatasnamakan ajaran agama, antara lain akibat adanya paradigma bahwa agama hanya sebagai media untuk membela Tuhan dan menegakkan kepentingan Tuhan. Sehingga bila ada umat agama lain atau satu agama melakukan aktivitas yang berbeda, dianggap melecehkan agama, melecehkan Tuhan, sesat, dan harus diberantas dengan cara apa pun.

Faktor ideologis atau keyakinan muncul karena adanya interpretasi teks-teks agama. Keyakinan kewajiban secara mutlak amar makruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar) sering diinterpretasikan dengan memberantas kemungkaran. Padahal mencegah jelas berbeda dengan memberantas. Mencegah lebih tepat dengan pendekatan dan cara persuasif, jauh dari pengertian represif dan destruktif.

Interpretasi terhadap amar makruf nahi mungkar juga sering dikuatkan dengan interpretasi terhadap teks lain yang sekilas melegitimasi kekerasan dalam mencegah kemungkaran. Hadis tentang nahi munkar: Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi, fain lam yastathi fabilisanih, fain lam yastathi fabiqolbihi wa dzlika adh’aful iman. Artinya “Jika di antara kamu melihat kemungkaran maka benahilah (ingatkanlah) dengan tanganmu, bila tidak mampu, maka dengan tanganmu, bila tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatimu, dan itu merupakan iman yang paling lemah.

Klausul “ubahlah (benahilah) dengan tanganmu” sering diinterpretasikan dengan tindakan fisik yang tidak jarang berupa tindakan destruktif. Padahal kalimat tersebut bisa saja berarti kekuasaan, otoritas, dan kapasitas sebagaimana penafsiran Imam al-Ts’alabiy (I: 234). Artinya, nahi mungkar dengan tangan tidak selalu bermakna pendekatan fisik apalagi sampai merusak dan bertentangan dengan ajaran kasih sayang dalam Islam.

Bahkan dalam suatu hadis Baihaqi, Nabi Muhammad melarang seseorang mengatakan “kamu zalim” saat melihat orang lain berbuat zalim (Sunan Kubra lil Baihaqi, VI:95). Hal ini menunjukkan betapa beliau mengedepankan pendekatan persuasif dalam menanggulangi kezaliman.

Teks agama harus diinterpretasikan dengan berbagai komponen dan pendekatan. Untuk mendapatkan interpretasi yang tepat dan bijak, tidak cukup dengan pendekatan bahasa dan ideologi, tetapi juga perlu pendekatan historis sosiologis. Perlu juga pertimbangan dari praktek pada masa Rasulullah, sahabat, dan para khalifah.

Islam mengajarkan cara halus dan pendekatan yang konstruktif dalam berdakwah. Alquran menyerukan cara bilhikmah dan cara billati hiya ahsan. Cara yang lemah lembut dan tidak menimbulkan kerusakan.

Membumikan Ajaran

Memang dalam menjalankan amar makruf nahi munkar umat Islam harus tegas, tapi harus menghindari kekerasan. Tegas dalam arti menjelaskan ajaran agama secara jelas, tapi tidak dalam arti bertindak keras, apalagi terhadap umat agama lain yang pasti berbeda ajaran. Tidak bijak menghakimi dan melarang suatu yang dibolehkan oleh suatu agama tertentu dengan keyakinan agama sendiri. Suatu yang dinilai kemungkaran dalam ajaran agama Islam belum tentu dianggap kemungkaran bagi agama lain. Sebagai contoh, memakan daging babi atau makan minum di siang hari pada bulan Ramadan adalah suatu kemungkaran dan diharamkan dalam Islam. Munkar dalam arti tidak sesuai dengan ajaran dan syariat perintah Allah swt. Namun, hal itu tidak mungkar menurut agama lain yang tidak mengharamkan daging babi dan tidak memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

Ormas apa pun bentuknya terlebih yang mengatasnamakan Islam, harus mencerminkan dan mampu membumikan ajaran rahmatan lil alamin. Pencapaian tujuan dalam ormas Islam hendaknya menggunakan paradigma yang mengedepankan pemahaman dan interpretasi teologis-humanis.

Menjalankan dakwah Islam berlandas pada teologi teosenris dengan pendekatan antroposentris yang mengedepankan membela kepentingan manusia dan kemanusiaan. Memahami dan mengimplementasikan ajaran agama sebagai teologi pembebasan, pencerahan, dan perdamaian yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Jangan sampai agama diinterpretasikan dengan egoisme dan kaca mata sinis terhadap kelompok lain. Apalagi sampai interpretasi tersebut diikuti dengan tindak kekerasan yang justru bertolak belakang dengan ajaran agama yang cinta damai. (n)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s