Membenahi Toleransi Internal Agama.

 Abd.SidiqNotonegoro                                                                                                                                                                                                                                                     Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

PADA saat menyambut peringatan Maulid Nabi di Istana Negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sebagai momentum meningkatkan toleransi, kebersamaan, dan pemahaman agama yang benar.

Presiden mengajak untuk lebih menunjukkan kembali jati diri dan akhlak sebagai bangsa yang mulia. Dalam konteks kekinian, ajakan Presiden SBY tersebut memang sangat relevan. Hingga kini kekerasan demi kekerasan yang berlatar belakang perbedaan paham keagamaan masih menghantui bumi pertiwi.

Masalah Kerukunan

Beberapa kali kita saksikan terjadi amuk massa yang dilakukan massa yang mengaku penganut agama Islam. Dan yang lebih memprihatinkan dan sekaligus memalukan adalah amuk massa itu terjadi justru di wilayah internal umat Islam sendiri. Artinya, ada massa yang mengklaim diri sebagai paling Islam sehingga tidak mengizinkan ada Islam lain yang berbeda paham.

Kasus massa yang menamakan diri pengikut Sunni menyerang komunitas Syiah di Pasuruan, Februari 2011, dan Sampang, Desember 2011, kian menegaskan di internal umat Islam masih terdapat persoalan besar dalam hal kerukunan dan toleransi. Komunitas-komunitas mayoritas seakan ingin menegaskan pepatah Jawa; asu gede menang kerahe (anjing besar menang berkelahinya). Padahal semestinya yang mayoritas harus melindungi minoritas agar yang minoritas menaruh hormat kepada yang mayoritas.

Ironisnya, kekerasan terhadap kaum Syiah itu tidak sekali dua kali saja terjadi, tapi sudah berkali-kali. Menurut catatan Center for Marginalized Communities Studies (SMARs) Surabaya, kasus penyerbuan terhadap warga Syiah di Sampang bukanlah yang pertama, melainkan ibarat cerita berseri karena seringnya terjadi.

Tindakan anarki terhadap sekelompok muslim minoritas yang dilakukan muslim mayoritas ini sungguh memalukan dan memilukan. Terlebih lagi, para tokoh dan elite Islam mayoritas ini telah beberapa kali mengambil peran sebagai juru kampanye untuk memasarkan semangat toleransi sesama umat beragama, baik sesama umat beragama maupun antarumat beragama.

Elite Ormas

Selama ini tatkala terjadi amuk massa, pihak yang pertama disalahkan ialah pemerintah. Mulai dianggap tidak tanggap hingga dituduh sengaja membiarkan terjadinya kekerasan di tingkat “akar rumput” sekadar untuk mengalihkan isu yang mendiskreditkan pemerintah. Hampir semua elite agama “cuci tangan” dengan menyerahkan penyelesaian yang akhirnya pada aparat kepolisian sambil mengaburkan fakta dengan menciptakan “kambing hitam.”

Bila dikaji mendalam, tugas pencerahan keagamaan di tengah masyarakat bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Bahkan dapat dikatakan, pemerintah hanya bersifat mem-back up dan sepenuhnya tanggung jawab ada pada tokoh atau elite massa agama tersebut.

Kasus Sampang, misalnya, menurut Direktur Central for Religion and Political Studies (Centries) Madura Sulaisi Abdurrazak, merupakan bentuk kegagalan pendidikan keagamaan di wilayah itu. Kegagalan itu, menurut Sulaisi, sudah amat terang karena umat Islam di situ belum bisa memahami perbedaan agama sesama umat Islam.

Tokoh Agama

Tugas tokoh agama adalah untuk menyadarkan dan memberi pencerahan kepada umat pengikutnya. Bukan justru memanaskan suasana dengan mencari “kambing hitam” terhadap aksi kekerasan dan kerusuhan. Tugas pemerintah (dalam hal ini aparat kepolisian) adalah mencari aktor intelektual di balik aksi amuk massa dan kemudian memprosesnya sesuai dengan hukum. Sedangkan tugas tokoh agama ialah membimbing massanya agar kembali ke ajaran agama secara benar.

Akhirnya, marilah para elite agama bersatu bersama-sama kembali ke tengah-tengah umat untuk mencerahkan umat bahwa toleransi internal agama itu sangat penting. Janganlah diajari masyarakat awam untuk menganggap dirinya tidak pernah salah dan orang lain salah sehingga harus diperangi. Marilah kita wujudkan negeri ini negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. (n)

Sumber : Lampost Sabtu 25 Februari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s