Kala Agama Menjadi Bencana

Iwan Nurdaya-Djafar
Budayawan

Agama yang dimaksudkan untuk menghindari kekacauan, sebaliknya justru bisa menjadi bencana bagi umat manusia. Dalam bukunya When Religion Becomes Evil (2002), Charles Kimball mengemukakan lima sebab yang bisa mengubah agama menjadi bencana, yakni klaim kebenaran mutlak, ketundukan buta, ingin mengembalikan masa keemasan, membenarkan segala cara, dan menyatakan perang suci.
Jika sebab-sebab itu secara alternatif telah menjadi karakter sebuah kelompok keyakinan apa pun, keyakinan itu sejatinya tengah mengalami pembusukan dari dalam, karena klaim kebenaran mutlak adalah hak mutlak Tuhan semata (al-Haqq), ketundukan buta adalah mengingkari perintah kitab suci untuk senantiasa berpikir (tafakkar), mengembalikan masa keemasan justru mengingkari gerak waktu yang tidak surut dan setiap masa memiliki masalahnya sendiri yang harus dijawab oleh generasinya, tujuan yang baik tidak pernah menghalalkan segala cara, dan perang tidak pernah suci.
Celakanya, kelima sebab yang bisa mengubah agama menjadi bencana di atas menggejala jua di lingkungan umat muslim di dalam sejarahnya atau bahkan masih terus menyejarah. Klaim kebenaran mutlak, umpamanya, bisa datang dari para fukaha (ahli fikih) dengan menyatakan bahwa syariah dan/atau fikih berstatus suci dan karenanya mesti diamalkan tanpa boleh ditawar-tawar lagi. Bahkan kerap dibarengi dengan sikap mengafirkan (tafkir) orang lain yang tak bersetuju dengannya seraya menghalalkan darahnya.
Padahal, menurut Ziauddin Sardar, syariah taklah suci. Itu hanya pemikiran manusia, yang bisa benar atau salah. Hanya Alquran yang suci. Pemahaman atas agama sebagai rujukan praktek ajarannya, bagaimanapun tidak bisa lepas dari teori laden. Suatu pernyataan adalah teori laden jika istilah-istilahnya hanya menciptakan makna di dalam cahaya dari serangkaian prinsip teoritis.
Peringatan Nabi saw. justru sangat mendasar, baik secara epistemologis maupun praktis, tidak seorang pun punya hak untuk mengklaim mewakili Islam. Usaha memahami ajaran Islam sendiri hanya bisa dilakukan sedekat mungkin dengan pesan yang sebenarnya dan tidak pernah mencapai pesan yang sebenarnya sebagaimana yang dimaksudkan oleh Tuhan. Maka hasil yang diperoleh pun tidak lagi sepenuhnya bisa diklaim sebagai pesan agama itu sendiri. Bahkan, dalam kasus yang sangat memprihatinkan, pemahaman itu pun acap mendistorsi pesan agama yang sebenarnya.
Ketika yang terakhir ini terwujud dalam bentuk praktek dan dilihat sebagai manifestasi sosial agama itu sendiri, maka agama tengah mengalami destruksi eksistensial (al-din mahjub bi al-mudayyinin) dan bisa berubah menjadi bencana, baik bagi para penganut agama itu sendiri maupun lainnya. “Islam musnah/tertutup oleh umat Islam sendiri (al-Islam mahjub bi al-muslimin),” demikian ungkapan populer menuturkan.
Itulah sebabnya Ziauddin Sardar, pemikir muslim dari London, menawarkan perlunya pemikiran ulang  (rethinking) terhadap Islam. Syariah yang berlaku sekarang yang merupakan produk abad ke-8 dan ke-12 mesti diperbarui untuk menjawab tantangan umat pada abad ke-21. Yang terjadi sekarang ini adalah sebuah kenyataan bahwa fikih yang digunakan umat muslim merupakan fikih yang terbelakang, konservatif, dan tidak sejalan dengan paradigma kebangunan umat.
Demikian pula Jamal al-Banna melalui bukunya Nahwa Fiqh Jadid sebanyak tiga jilid mempermaklumkan gagasan manifesto fikih baru.
Membincang fikih, dalam konteks melakukan pembacaan ulang dan penyusunan ulang, merupakan sebuah keniscayaan, tandas al-Banna. Meskipun pemikirannya barangkali tidak terwujud sekarang, al-Banna berharap mungkin saja terwujud pada tahun-tahun yang akan datang oleh generasi muslim yang mempunyai ghirah untuk melakukan pembaruan ke arah pemahaman keagamaan yang dinamis, kreatif, dan memberikan harapan bagi umat muslim.
Ketundukan buta atau sikap taklid adalah mengingkari perintah kitab suci untuk senantiasa berpikir (tafakkar). Banyak ayat Alquran yang diakhiri dengan frasa la tatafakarun (tidakkah engkau berpikir). Hal ini barang tentu menuntut pribadi muslim untuk bersikap rasional dan tidak menginjak akal di dalam beragama, untuk senantiasa mewaspadai diri sendiri dalam beragama, untuk bersikap kritis dan bukan larut belaka di dalam keyakinan komunitasnya yang bukan mustahil justru keliru. Sekaitan ini, menarik membaca pengalaman religius Ziauddin Sardar yang bertolak dari seorang tradisionalis, tetapi kemudian mengantarkan dia menjadi seorang muslim skeptis seperti tertuang dalam memoarnya yang menarik, Desperately Seeking Paradise: Journeys of A Sceptical Muslim.
Upaya mengembalikan masa keemasan terjadi misalnya pada sekte Wahabi yang diperkenalkan oleh seorang fanatik abad ke-18 di Arab Saudi, yaitu Syekh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahab melalui bukunya At-Tauhid (Monotheism) seraya beraliansi dengan Ibn Saud, yang pada 1925 melahirkan kerajaan Arab Saudi yang berpaham Wahabi. Kaum Wahabi sendiri menyebut diri mereka al-Muwahhidun atau Ahl al-Tawhid, sedangkan sebutan Wahabi diberikan oleh orang di luar mereka.
Gagasan utama al-Wahhab adalah bahwa umat Islam telah melakukan kesalahan dengan menyimpang dari jalan Islam yang lurus, dan hanya dengan kembali ke satu-satunya agama yang benar mereka akan diterima dan mendapat rida Allah. Mereka menganggap sejarah Islam berhenti pada masa Kalifah (dinasti) seraya menyebutnya sebagai masa keemasan, padahal sejatinya al-Wahhab mendeklarasikan bentuk budaya Badui Najd sebagai satu-satunya Islam sejati dan kemudian menguniversalkannya dengan menjadikannya sebagai sesuatu yang wajib diikuti oleh semua umat Islam. Sementara itu, kaum Wahabi kiwari menerima budaya Arab Saudi dan menguniversalkannya dengan menyebutnya sebagai satu-satunya Islam yang benar.
Ekspansi Wahabi sampai jua ke Nusantara seperti tampak pada kaum Paderi di Minangkabau. Tapi janganlah lupa bahwa NU didirikan pada 1926 persis untuk menahan ekspansi Wahhabisme itu di Nusantara. Ketika petrodolar melimpah ruah pada 1975, Wahabi melakukan ekspansi ke seluruh dunia. Mereka menyediakan sejumlah uang untuk membantu umat muslim sedunia sepanjang bersedia mengikuti fikih mereka. Terjemahan Alquran bahasa Inggris yang dicetak indah dengan biaya tanpa batas di Arab Saudi dibagikan secara gratis di hampir setiap pusat kegiatan islam di Amerika. Terjemahan subversif ini ditemukan di setiap toko buku muslim berbahasa Inggris. Penerjemahnya adalah para profesor di Universitas Madinah dan diverifikasi (tahkik) oleh almarhum ‘Abd al-Aziz bin Bazz, kepala Kementerian Riset Islam, Opini Legal, Dakwah, dan Bimbingan, yang notabene seorang ulama buta yang tidak paham sepatah kata pun bahasa Inggris. Terjemahan itu sejatinya adalah reproduksi sepenuhnya dari pandangan Bin Bazz dengan semua keanehannya.
Penghalalan segala cara di dalam mencapai tujuan yang baik tampak misalnya pada pengertian jihad yang dibelokkan artinya menjadi perang (al-qital), termasuk pemilahan tegas atas dar al- harb atau kadang disebut dar al-kufr (wilayah perang, wilayah orang kafir) dan dar al-Islam (wilayah damai). Di dalam definisi yang aneh itu tentu saja kegiatan intelektual dan etika kerja yang kuat secara spiritual dan material dikeluarkan dari pengertian jihad. Padahal Nabi Muhammad berulang-ulang mengajarkan bahwa bentuk jihad terbesar adalah memerangi hasrat rendah manusia atau menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan yang menindas sebagai konsekuensi berbicara seperti itu. Sikap mengafirkan pihak lain yang tak setuju dengan pandangannya juga bentuk penghalalan segala cara.
Pernyataan bahwa perang bersifat suci juga suatu salah kaprah. Menerjemahkan jihad sebagai the holy war (perang suci) di dalam bahasa Inggris taklah dapat diterima. Apakah ada teologi “perang suci” dalam pengertian “Maju, tentara Kristen” dalam keyakinan Katolik? Jawabnya pastilah tidak, sebagaimana tradisi teologis Islam tidak memiliki gagasan berkaitan dengan perang suci. Islam tak punya semacam institusi otoritas kependetaan yang bisa membuat keputusan mengenai status kesucian sebuah perang. Perbedaan utamanya adalah bahwa di dalam agama Kristen terdapat sebuah institusi yang bisa secara menentukan dan konklusif menyatakan sekelompok pasukan tertentu berstatus Tentara Salib atau peziarah dalam tentara Tuhan, dan menjamin penebusan bagi para prajurit ini. Di dalam Islam, tak seorang pun, bahkan kalifah atau ahli hukum yang paling tinggi kedudukannya pun, yang memiliki kekuasaan hebat untuk menjamin penebusan atau memutuskan sebuah operasi militer dengan status suci atau ilahiah.
“Perang Suci” (al-harb al-muqaddasah) bukanlah ungkapan yang dipakai oleh Alquran atau para teolog muslim. Dalam akidah Islam, perang itu tidak pernah suci; ia bisa dibenarkan atau bisa juga tidak. Bila dibenarkan, mereka yang terbunuh dipandang sebagai syuhada. Tapi penentuan status syahid ada di dalam wilayah eksklusif Tuhan; hanya Tuhan yang bisa menilai niat seseorang dan ketulusan niatnya, dan akhirnya menentukan apakah mereka layak atas status syuhada.
Demikianlah kelima sebab yang bisa mengubah agama menjadi bencana di dalam konteks Islam. Tak pelak, hal sama juga menggejala di dalam agama lain. Tentu saja kita mesti menghindari semua itu. Terma agama yang berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu a (tidak) dan gama (kacau), janganlah direduksi menjadi gama (kacau). Jika ini yang terjadi, dapatlah dimafhumi manakala John Lenon semasa hidupnya mendendangkan lirik lagu Imagine yang digubahnya secara sedemikian getir, termasuk dalamnya karena agama telah menjadi bencana. Berikut petikannya: imagine there’s no countries/ it isn’t hard to do/ nothing to kill or die for/ no religion too. n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s