Mbah Marijan Mninggal, Posisi Sujud atau Disujudkan ?

2 Komentar

Mbah Marijan

Oktober 30, 2010

Anak Bertanya Pada Bapaknya

Seorang anak bertanya kepada bapaknya ketika menonton siaran TV yang menyiarkan jenasah mbah marijan yang ikut menjadi korban awan panas merapi, dimana oleh penyiar TV itu disebutkan mbah marijan ditemukan tewas dengan posisi bersujud. Anak itu bertanya: “Pak mbah marijan masuk surga pak ya … khan mbah marijan meninggal dalam posisi sedang sholat dan bersujud”, begitu sang anak bertanya kepada bapaknya.

Si Bapak agak bingung menjawab pertanyaan anak yang cukup cerdas ini, dikarenakan kalau si bapak menjawab “Benar”, maka ketika si anak mencari referensi keagamaan, utamanya agama islam, maka si anak akan menemukan dua sisi yang sulit dicampurkan. Tiada lain beliau adalah Mbah Marijan Pimpin Labuhan Alit di Gunung Merapi

 

Acara Labuhan Alit di Gunung Merapi

YOGYAKARTA – Juru kunci Gunung Merapi, RP Suraksohargo atau yang lebih dikenal oleh masyarakat umum Mbah Marijan memimpin prosesi labuhan alit di Gerbang Srimanganti atau Pos 2 Merapi. Upacara labuhan alit yang jatuh setiap tanggal 30 Rejeb penanggalan Jawa. Upcara labuhan alit di gunung Merapi ini dilakukan untuk memperingati jumenengan dalem atau naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Upacara adat Labuhan Merapi, Jumat (24/7/2009) di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta yang juga merupakan kediaman juru kunci Merapi, Mbah Marijan. Sebelum dilakukan prosesi, pada Kamis kemarin telah dilakukan upacara serah terima ubarampe labuhan dari utusan kraton Yogyakarta kepada pejabat Kabupaten Sleman di Kecamatan Cangkringan. Dari kecamatan, barang-barang yang akan dilabuh ini pada sore harinya akan diserahkan kepada kepada juru kunci Merapi, untuk disemayamkan.

Baru pada hari Jumat pagi sekira pukul 05.00 WIB, prosesi labuhan dimulai dipimpin Mbah Marijan bersama beberapa abdi dalem kraton lainnya. Ratusan warga turut hadir memadati halaman rumah Mbah Marijan untuk menyaksikan prosesi tahunan ini. Sebelum prosesi arak-arakan dimulai, warga yang ingin ngalap berkah sudah ada yang mendaki lebih dulu melalui jalur pendakian bagian selatan.

Menjelang subuh sudah banyak warga yang berkumpul di pendopo Srimanganti tempat prosesi labuhan dimulai yakni di Pos 2 di wilayah Kendhit yang merupakan batas hutan vegetasi Merapi. Beberapa barang atau uba rampe yang akan dilabuh meliputi, kain sinjang cangkring, semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, selendang cindhe, kain kampuh poleng, minyak wangi, kemenyan ratus, uang kepeng, dan beberapa sesaji di antaranya nasi ingkung lengkap dan lain-lain.

Semua ubarampe labuhan dibawa oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta. Mbah Marijan langsung memimpin sendiri jalannya prosesi sebagai pembuka jalan. Turut mendampingi selama berlangsung prosesi hingga menuju tempat acara di Pos 2 beberapa anggota Tim SAR Pemkab Sleman dan relawan lainnya. Setelah berjalan mendaki selama lebih kurang 3 jam, rombongan tiba di tempat upacara. Ratusan orang yang sudah datang lebih dulu maupun yang datang bersamaan rombongan Mbah Marijan langsung duduk di sekitar tempat prosesi. Setelah dilakukan wilangan atau pengecekan satu-persatu barang yang akan dilabuh.

Setelah dinyatakan lengkap semua ubarampe labuhan kemudian di tempat yang telah disediakan. Bersamaan dengan dibakarnya kemenyan dilakukan doa bersama memohon keselamatan. Usai dilakukan doa bersama barang-barang yang dilabuh kemudian diperebutkan warga yang ingin ngalap berkah.

Labuhan itu juga sebagai persembahan kepada penguasa Gunung Merapi yang dipimpin Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dwi Supriyatno mengatakan labuhan Gunung Merapi merupakan event tahunan yang cukup besar dan melegenda sehingga diperkirakan akan mendatangkan ribuan wisatawan nusantara maupun mancanegara.

“Upacara adat ini selalu menarik minat wisatawan yang akan melihat secara langsung ritual upacara adat yang masih kental kesakralannya di kalangan masyarakat setempat,” katanya.

Dia mengatakan, menurut legenda pelaksanaan labuhan Merapi berkaitan erat dengan latar belakang cerita rakyat setempat yaitu Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi. (Daru Waskita/Trijaya/mbs)

Adanya upacara persembahan inilah yang membuat si bapak pusing tujuh keliling, sebab ketika meng-iyakan atas pertanyaan si anak tsb, maka ketika si anak menemukan sisi dari mbah marijan yang erat dengan persembahan seperti diatas, maka si anak pasti bertanya lagi pada sang bapak “Pak kalo begitu dalam islam, persembahan itu diperbolehkan pak ya …, begitu sang anak terus bertanya kepada sang bapak”

Karena sang bapak juga tidak begitu paham agama islam, maka bapak dengan enteng menjawab “ah itu khan bukan ibadah, itu hanya ritual budaya saja, ndak apa-apa nak”. Si anak lalu bertanya lebih lanjut kepada si bapak, “kalo begitu ritual itu boleh pak ya …, di jaman rasul masih hidup apa ada juga yang melakukan itu pak ya …”

Bapak Bertanya …

Si bapak tambah pusing tujuh keliling, maka bertanyalah si bapak kepada seorang ustad, “pak ustad bolehkah kita melakukan ritual budaya dengan persembahan seperti yang dilakukan oleh banyak masyarakat kita ?” Si ustad menjawab:”coba bapak buka di internet yang memuat hal yang mirip ini, PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP RITUAL PRA DAN PASCA NIKAH BAGI KEDUA MEMPELAI (STUDI KASUS DI DESA KATEKAN NGADIREJO TEMANGGUNG). Disitu dijelaskan secara lugas arti dari sesaji, mirip dengan yang di lalukan oleh mbah marijan, berikut ini kutipan artikel itu

…..

Maka menurut pandangan hukum Islam tujuan ritual tersebut diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan hukum Islam. Pelaksanaan ritual pra dan pasca nikah itu diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan hukum Islam. Tetapi dalam pelaksanaan ritual pra dan pasca nikah ada yang menggunakan sesaji, yaitu pada ritual sajen ambenian. Dalam ritual tersebut mengandung unsur mubazir karena menyia-yiakan makanan bahkan sampai membuangnya kemudian juga ada unsur syirik karena dalam ritual tersebut mempunyai kepercayaan bahwa sesaji itu untuk persembahan kepada leluhur, dan ketika tidak dilakukan atau kurang salah satu macam sesaji akan mendapat balak. Syirik adalah menyekutukan Allah dan itu sangat tidak diperbolehkan. Apalagi dalam penggunaan sesaji terdapat unsur mubaźirnya, karena menyia-nyiakan makanan. Maka penggunaan sesaji dalam ritual pra dan pasca nikah tidak diperbolehkan karena tidak sejalan dengan hukum Islam.

…..

Dua alasan dari kutipan diatas atas sesaji yang dilakukan yaitu, mubazir dan sesaji untuk persembahan, itulah dua kunci dari persoalan sesaji persesajian, begitu pak ustad menerangkan pada si bapak yang ditanya oleh si anak.

Bapak Menjawab …

Akhirnya si bapak memberanikan diri untuk menjawab kepada si anak, “Nak, posisi mbah marijan pada saat meninggal dalam posisi sujud, bukan jaminan bahwa beliaunya masuk surga, namun karena beliau telah tiada, maka kita doakan saja agar Allah swt menerima amalan dan arwah beliau di alam baka … amin”. Si anak pun menyela “Lho kalo gitu, kita doa-juga, tidak hanya mbah marijan, juga korban-korban lain akibat bencana ini … amien”

Si bapak masih penasaran dengan posisi sujud dari mbah marijan yang menganggu pikiran anaknya, dia berpikir bisa jadi di semua benak orang indonesia, akan tercamkan hal yang sama dengan si anak, sehingga timbulah sebuah mitos atau legenda pada mbah marijan. Si bapak akhirnya mencari-cari di internet, maka ketemulah sebuah artikel menarik yaitu, Kejadian Aneh-Aneh Sebelum Mbah Marijan Meninggal

Si bapak-pun dengan cermat dan rajin mengkliping berita meninggalnya mbah marijan, sebab jika posisi sujud ini menjadi pembenar dari arti persembahan itu, maka sungguh, kita akan menanggung kepada generasi penerus akan sebuah mitos atau legenda yang berbelok arah. Si bapak teringat pada kisah n.Isa atau di kalangan non muslim dikenal sebagai yesus, maka berbagai macam tafsir atas kejadian penyaliban tersebut. Agar hal itu tidak menjadi buah bibir dan beban pada generasi penerus, maka si bapak mulai penyelidikan keanehan yang terjadi pada posisi sujud dari mbah marijan. Akhirnya penyelidikan itu dimulai yaitu:

Bapak Menyelidiki …

Awan panas merapi yang menyembur tgl 26-oktober-2010, sampai saat ini telah menyebabkan korban Jumat, 29/10/2010 16:11 WIB BNPB: Korban Tewas Merapi 36 Orang maka diantara korban itu adalah sebuah sosok yang dikagumi dan sangat terkenal di indonesia yaitu mbah marijan (baca Mbah Marijan Atau Mbah Maridjan ?). Sempat beredar sebelumnya bahwa beliuanya selamat dari awan panas, yaitu Rumahnya Hancur, Mbah Maridjan Selamat

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Setidaknya 11 korban meninggal dunia ditemukan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Tiga di antara mereka adalah seorang dokter, editor VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho, dan warga setempat bernama Sugiman. Sementara itu, rumah Mbah Maridjan diketahui hancur diterpa awan panas yang biasa disebut sebagai wedus gembel. Namun, Mbah Maridjan dikabarkan justru selamat. Dusun Kinahrejo masih tertutup hingga saat ini. Untuk sementara, evakuasi dihentikan karena dinilai terlalu berbahaya.

Diberitakan sebelumnya, Yuniawan Wahyu Nugroho akan menjemput Mbah Maridjan ke rumahnya untuk membujuk agar lelaki sepuh itu bersedia mengungsi. Namun, Yuniawan justru menjadi korban amuk Merapi.

Berita selamatnya mbah marijan menghiasi di hampir semua berita media cetak, detik.com memberitakan, Mbah Maridjan Selamat, Tapi Dalam Kondisi Lemas , media metrotvnews memberitakan Mbah Maridjan Selamat dan tempo interaktif memberitakan pula Mbah Maridjan Selamat

TEMPO Interaktif, SLEMAN – Ki Surakso Hargo alias Mbah Maridjan, juru kunci  Gunung Merapi ternyata ditemukan selamat meski kondisi fisiknya lemah. Mbah Maridjan ditemukan tak jauh dari kediamannya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. ” Mbah Maridjan ditemukan  selamat oleh salah seorang anggota tim pencari (SAR),” kata Komandan Pangkalan TNI AL Yogyakarta Kolonel Laut Aloysius Pramono, di Sleman, Rabu 27 Oktober 2010 dini hari.

Pramono menyebut, kuncen Merapi itu ditemukan di lereng, tidak jauh dari rumahnya di Dusun Kinahrejo. Sementara di kawasan itu, setidaknya  13 korban ditemukan tewas terkena  awan panas  Merapi. Salah satunya  dokter dari Kepolisian, seorang lagi wartawan Vivanews, Yuniawan Wahyu Nugroho di dekat rumah Mbah Maridjan.

Pantauan Tempo, kondisi kampung Mbah Maridjan di radius 5 kilometer dari puncak Merapi terhalangi pohon, debu dan air panas. Pohon-pohon di dusun itu tumbang dan semua rumah hancur dan tertutup debu dan material Merapi.  Sementara itu, di Rumah Sakit Umum Pusat dr Sardjito telah ada 12 mayat korban keganasan awan panas Merapi. Dari 12 korban itu tidak ada mayat yang teridentifikasi sebagai Mbah Marijan. “Tidak ada (Mbah Marijan), kalau kabarnya dia selamat,” kata Banu Hernawan, Humas Sadjito. WDA | ANT | M. SYAIFULLAH

Selamat saat itu walaupun dalam posisi lemas, begitu menurut salah satu sumber didetik.com yang memberitakan Mbah Maridjan Selamat, Tapi Dalam Kondisi Lemas dimana secara menyakinkan bahwa memang mbah marijan itu selamat:

Jakarta – Akhirnya kondisi Mbah Maridjan kuncen Gunung Merapi bisa dipastikan. Dia selamat dari awan panas muntahan Gunung Merapi. Kini Mbah Maridjan masih berada di atas di lereng Merapi, dalam kondisi lemas. “Mbah Maridjan selamat, tapi dalam kondisi lemas,” kata anggota TNI, Kolonel (Laut) Pramono di lokasi pengungsian di Hargobinangun, Sleman, Senin (26/10/2010). Pramono merupakan salah satu personel tim evakuasi yang ikut menyisir rumah Mbah Maridjan sekitar pukul 22.00 WIB tadi.

Tim evakuasi akhirnya menemukan Mbah Maridjan dalam kondisi lemas dan memberikan pertolongan. Namun Mbah Maridjan masih belum mau dibawa turun ke bawah. “Sekarang masih di atas,” tutup Pramono. Pramono datang bersama tim evakuasi ke lokasi rumah Mbah Maridjan di Desa Kinahrejo. Jalan menuju rumah Mbah Maridjan mencekam, karena terbakar. Di sana masih ada titik api. Hawa juga terasa panas. Banyak pohon bertumbangan dan mayat bergelimpangan di dekat rumah Mbah Maridjan. Saat tim naik ke atas, lokasi masih panas, api masih terlihat di beberapa sudut. Kondisi rumah Mbah Maridjan sendiri hancur terbakar. (ndr/asy)

Mbah Marijan Selamat !!!

Entah siapa yang mengkomando dari berita ini, ketika berita ini muncul, maka hampir ribuan simpatisan mbah marijan mengucapkan keheranan atas kejadian ini yang kalau boleh ini, meyakinkan pada simpatisan beliau bahwa itulah salah satu karomah / kelebihan beliau.

Barulah kemudian, terbetik kabar koreksi dari kondisi selamat namun lemas diatas, muncul sebagai mbah marijan ikut menjadi korban dan ditemukan di kamar mandi, Mbah Maridjan Tewas Dalam Rumahnya

Sleman – SURYA- Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan menjadi korban dan ikut tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.”Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi,” katanya. Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.”Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.”Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” katanya. Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta. “Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung. ant

Hal yang berbeda, disebutkan oleh anggota SAR lainnya, kalau beliau meninggal di dapur, berikut ini beritanya, Mbah Maridjan Ditemukan Meninggal Dunia dalam Posisi Sujud di Dapur

Jakarta – Akhirnya misteri keberadaan Mbah Maridjan terpecahkan. Kuncen Gunung Merapi itu ditemukan Tim SAR telah meninggal dunia. Mbah Maridjan meninggal dalam posisi sujud. “Ditemukan di dapur dalam posisi sujud,” kata anggota Tim SAR, Suseno, saat ditemui di RS Sardjito, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010).

Tim evakuasi segera membawa jenazah Mbah Maridjan ke tempat yang aman. Jasad Mbah Maridjan yang lahir pada 1927 ini kini tengah diidentifikasi di rumah sakit. “Tim mengevakuasi Mbah Maridjan sekitar pukul 05.00 WIB,” tambah Suseno. Pada Senin (26/10) malam sempat tersiar kabar Mbah Maridjan masih hidup. Namun kini setelah tim evakuasi melanjutkan pencarian dipastikan Mbah Maridjan meninggal dunia. Di kawasan rumah Mbah Maridjan, ada 16 orang yang ditemukan tewas.

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu pun sebelumnya mendapatkan kabar bahwa Mbah Maridjan meninggal dunia karena ada jenazah yang mirip dengan pembantu setia (alm) Sultan HB IX itu. Kabar terbaru ini berarti juga meluruskan informasi yang berkembang sebelumnya bahwa pria bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu telah diselamatkan dalam kondisi lemas semalam. (ndr/nrl)

Barulah setelah ramai didiskusikan oleh media tentang posisi penemuan jasad mbah marijan, yang sebagian besar heran dengan penemuan ini, sebab jika di kamar mandi atau dapur, maka hal itu tidak-lah lumrah untuk melakukan sholat, akhirnya koreksi mengenai posisi ditemukannya mbah marijan yaitu di kamar beliau, Jenazah Mbah Maridjan Ditemukan Dalam Posisi Sujud

….

Slamet, seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar rumah Mbah Maridjan.

….

Mbah Marijan Meninggal …

Akhirnya berita itu dikoreksi lagi dengan tambahan sedang sujud diatas sajadah beliau, dimana hal itu disampaikan oleh pihak keluarga yaitu:

Jenazah Mbah Marijan di Sardjito forensik. Foto: JPNN

Menurut Kresno, seluruh keluarga Mbah Maridjan, baik anak maupun istrinya, selamat. Ikhwal kematian Mbah Maridjan juga dibenarkan oleh salah satu menantunya, Bambang. “Saya sudah melihat sendiri,” kata Bambang. Menurut Bambang, pakaian yang dipakai, baik batik, sarung maupun kopyah mirip yang digunakan mertuanya sehari-hari. “Beliau sujud di atas sajadah. Sujud di kamar di rumah,” kata Bambang. Bambang menjelaskan, terakhir kali Mbah Maridjan bilang kepada pihak keluarga, “Ngantiyo piye saya tidak akan turun (Meskipun meletus saya tidak akan turun).” (DOR)

Begitulah, ramai riuh rendah mengenai meninggalnya mbah marijan, yang secara sederhana, maka terlihat dengan benar beliau dalam posisi sujud dan sholat. Benarkah demikian ?

Perhatikan dengan seksama kronologis, ketika beliau dinyatakan selamat, kemudian diberitakan sosok jenasah yang mirip dengan mbah marijan, ketika itu belum pasti apakah beliau atau bukan, maka dengan polos, team SAR mengatakan jenasah itu ditemukan di kamar mandi, setelah itu di dapur. Akhirnya ketika kepastian jenasah yang ditemukan itu adalah mbah marijan, maka kesimpulan akhir adalah “Beliau sujud di atas sajadah. Sujud di kamar di rumah,” kata Bambang.

Perhatikan dengan seksama, ketika ditemukan jenasah itu, posisi sujud beliau, pada kaki sebelah kiri, menyerupai duduk i’tiraf (duduk diantara dua sujud). Jika beliau sujud, maka sujud yang sempurna dan dilakukan oleh umumnya orang sholat adalah kedua kaki lurus, perhatikan gambar dibawah ini sebagai duduk diantara dua sujud atau duduk itiraf,

Selain posisi sujud yang agak aneh, maka penemuan jasad beliau dalam waktu cukup lama dibandingkan orang-orang yang berada di rumah mbah marijan menimbulkan pertanyaan tersendiri. Jeda waktu tsb, dapat saja dijadikan rumor oleh pihak tertentu dengan motifasi tertentu, atau apapun itu tidak-lah penting, karena Korban tewas di sekitar Mbah Maridjan jadi 16 orang

Sleman– Jumlah korban yang tewas di sekitar Rumah Mbah Maridjan akibat awan panas Gunung Merapi bertambah menjadi 16 orang. Di antaranya seorang wartawan dan seorang dokter polisi (dokpol). Demikian disampaikan oleh anggota TNI dari Komandan Angkatan Laut (Danlanal), Kolonel Pramono kepada wartawan di Posko Hargobinangun, Jl Kaliurang KM 20, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Tim Danlanal merupakan satu-satunya tim evakuasi yang berhasil mencapai rumah Mbah Maridjan.“Di sepanjang jalan menuju rumah Mbah Maridjan, anggota menemukan 12 mayat dan langsung dievakuasi, diserahkan ke ambulans. Itu belum termasuk jenazah yang ada di rumah Mbah Maridjan 4 orang,” jelas Pramono. Pramono menerangkan, timnya yang beranggotakan 37 orang ini melakukan evakuasi bersama-sama dengan tim lainnya, namun hanya timnya yang berhasil mencapai puncak karena menggunakan truk kuat.

Evakuasi pertama sempat tersendat, karena jalan banyak terhalang pohon yang tumbang. Setelah pohon dipindahkan, tim melanjutkan perjalanan ke rumah Mbah Maridjan dan akhirnya berhasil menemukan mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. “Yang meninggal itu satu wartawan, satu dokpol,” tuturnya.

Pramono menceritakan, saat tiba di desa Kinahrejo, situasi sangat mencekam. Banyak pohon yang tumbang dan kering. Sejumlah rumah bahkan masih dalam keadaan terbakar. Halaman rumah Mbah Maridjan sendiri dipenuhi abu setebal 10 cm. “Di sana ketika anggota saya masuk, ketinggian abu sekitar 10 cm. Jadi begitu kaki menginjak, langsung ‘jlub’ seperti menginjak pasir,” terangnya.

Selain itu, bau belerang juga tercium sangat tajam di lokasi. Atas berbagai pertimbangan, maka Pramono memutuskan untuk menarik timnya. “Tapi kemudian anggota terpaksa saya tarik pukul 23.00 WIB. Karena ada laporan kondisi di sana sudah tidak memungkinkan dilakukan evakuasi. Hanya tim kami yang sampai ujung sana. Ketika sampai di desa, tercium bau belerang yang kuat makanya segera saya tarik anggota,” jelasnya.

Kini pertanyaan: Apakah posisi mbah marijan meninggal dalam keadaan sujud tidak-lah menjadi penting, sebab mbah marijan yang ikut menjadi korban tertimbun abu vulkanik merapi, Pagi Ini Mbah Marijan Dimakamkan

Jasad yang diyakini Mbah Marijan itu ditemukan kemarin (27/10) pukul 06.30 oleh para relawan dari tim SAR dan PMI. Saat ditemukan, tubuhnya tertimbun abu Merapi. Setelah diangkat, posisinya dalam keadaan bersujud. Diperkirakan, Mbah Marijan terkena semburan awan panas pukul 17.45.

Sebab meninggalnya mbah marijan yang timbunan abu inilah yang merupakan sebuah referensi kuat pada sejarah-sejarah para nabi atau para wali Allah swt, senantiasa seorang wali atau nabi yang diselamatkan oleh Allah swt dalam konsepsi islam, dimana kisah klasik adalah penyaliban yesus, maka konsep islam mengatakan:

“Tidaklah mereka membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa di hadapan mereka.” [AnNisa’ :157]

Begitupula kisah n.Zakaria yang masuk kedalam pohon kemudian pohon itu ditebang oleh romawi, maka sesungguhnya Allah swt telah menyelamatkan jasad n.Zakaria, ketika itu tidak ditemukan jasad beliau. Adapun orang-orang yang beriman ketika disiksa karena bertuhan Allah swt, maka sesungguhnya mereka juga ditolong olel Allah swt seperti kisah bilal yang disiksa, hal yang berbeda ketika terjadi peperangan atau jihad fi sabilillah, dimana para shabat banyak yang menjadi suhada’:

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

Kini mbah marijan menjadi salah satu korban dari awan panas yang biasanya beliau beri ‘sesaji’ rutin tiap tahunnya, maka sesungguhnya makna beliau sujud adalah beliau bertemu dengan penguasa alam sebenarnya tanpa adanya kekuatan lainnya berupa :

Labuhan itu juga sebagai persembahan kepada penguasa Gunung Merapi yang dipimpin Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi.

Kini mbah marijan telah tiada menghadap penguasa yang sebenarnya, maka sesungguhnya beliau menghadap kepada Allah swt semata, dengan posisi sujud itulah beliau meminta ampun kepada penguasa sebenarnya, untuk menjadi saksi dari jenasah beliau bagi generasi penerus bahwa kekuatan dan kekuasaan hanyalah milik Allah semata, dimana Allah swt sengaja mensujudkan beliau agar menjadi cermin bagi semuanya arti yang benar dari sebuah peribadatan, hanyalah kepada Allah swt semata. “Sesungguhnya seluruh kekuatan itu milik Allah.”(QS 2:165)

Mbah Marijan sang Penjaga Merapi

Pada bahasan diatas dijelaskan bahwa sebenarnya status awas merapi sudah dituliskan sebelum kejadian meletusnya gunung merapi, yaitu tgl 25-oktober-2010, status merapi menjadi AWAS. Banyak penduduk yang sudah bersedia mengungsi, namun mbah marijan menolak mengungsi dengan alasan beragam, salah satunya menunggu sholat magrib , Sultan: Mbah Maridjan Mau Dievakuasi Selepas Magrib‎:

Jakarta – Mbah Maridjan sebenarnya bersedia dievakuasi pada Selasa 26 Oktober, selepas magrib. Namun sebelum diungsikan, pria yang bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu ingin salat terlebih dulu. Namun sayang, awan panas alias wedhus gembel telanjur menggulung rumah Mbah Maridjan. “Mbah Maridjan bersedia dievakuasi setelah magrib, tapi dia bilang, mau salat dulu. Nah waktu salat itu, awan panas turun,” kata Sultan saat wawancara langsung di TV One, Rabu (27/10/2010). Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi bersujud di dapur rumahnya. Jenazah Mbah Maridjan dikenali dari baju batik dan kopiah yang dipakainya. Saat ini, jenazahnya masih berada RS Dr Sardjito, Yogyakarta. Hasil tes DNA dikirim ke Jakarta. Mbah Maridjan menjadi juru kunci Merapi lebih 20 tahun atas titah Sultan HB IX. SK pengangkatannya sebagai kuncen dibuat pada masa HB X. Namun, menurut Sultan, sebenarnya Maridjan bukan juru kunci Merapi, tapi juru kunci keraton untuk ritual-ritual di Merapi.  Saat Merapi meletus pada 2006, dikabarkan Mbah Maridjan sempat memiliki hubungan kurang mesra dengan HB X karena enggan mematuhi perintah HB X agar mengungsi. Saat itu, desa Maridjan selamat dari wedhus gembel. Tapi tahun ini, Mbah Maridjan tidak selamat. Gunung Merapi merupakan bagian kosmologi Jawa yang penting dan dianggap satu kesatuan dengan Keraton Yogya. (ken/asy)

Alasan lain adalah menunggu wangsit mbah petruk, Kronologi Detik-detik Wedhus Gembel Sergap Rumah Mbah Maridjan

Selain Mbah Marijan, dua orang lain yang terjebak dan tidak bisa dievakuasi adalah Mbah Poniman dan istrinya, tokoh masyarakat Desa Kepuhardjo. Seperti juga Mbak Marijan, Mbah Poniman juga enggan dievakuasi sejak dini karena menunggu wangsit dari Petruk.

Seribu satu hal terkemuka, yang pasti mbah marijan telah tiada, hal yang sama terjadi pada seorang penjaga lain yaitu penjaga mercu suar: Tsunami Menewaskan Penjaga Mercusuar di Sibaru-baru

Breaking News / Sosbud / Sabtu, 30 Oktober 2010 12:07 WIB

Metrotvnews.com, Padang: Jumlah korban tewas akibat Tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, hingga Sabtu (30/10) ini mencapai 414 jiwa. Sementara itu pencarian korban masih terus berlangsung. Sabtu (30/10), satu jenazah dibawa ke Padang, Sumbar. Ia adalah Samsuar, pria berusia 46 tahun pegawai Departemen Perhubungan. Samsuar tewas diterjang Tsunami saat bertugas menjaga mercusuar di Pulau Sibaru-baru, Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai. Jenazah Samsuar sebenarnya akan dimakamkan secara massal di Mentawai. Namun pihak keluarga meminta jenazah dibawa ke Padang, untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di kawasan Pengambiran. Samsuar yang bekerja di Dephub sejak 1990 meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Data dari Badan Penanggulan Bencana Sumbar menyebutkan korban tewas akibat Tsunami di Kepulauan Mentawai mencapai 414 tewas. Sedangkan 200 orang lainnya dinyatakan hilang. Jumlah korban luka tercatat sekitar 441 orang, 279 di antaranya luka berat dan 162 lainnya luka ringan. Sementara itu jumlah warga yang harus mengungsi mencapai 12.935 orang.(DSY)

Bernasib sama yaitu menjadi korban saat bertugas, namun berbeda kehebohan yang diterima, ketika mbah marijan yang dibesarkan menjadi selebritis menjadi heboh ketika beliau meninggal. Seribu satu pujian dari sebuah iklan rosa yang menyebutkan beliau teguh menjalankan tugas sampai mati, Mbah Maridjan, Penjaga Setia Merapi | Republika Online maka hal yang berbeda diterima sang penjaga mercu suar. Tidak ada pujian sedikit-pun yang diterima oleh penjaga mercu suar, Ada kepentingan apakah ini terjadi ?

Mbah Maridjan Tak Lagi Teriak “Roso..roso!”

Sido Muncul akan menampilkan iklan baru. Mbah Maridjan tetap menjadi bintang iklan.

VIVAnews — Nama Mbah Maridjan tenar saat peristiwa erupsi Merapi tahun 2006. Saat itu ia menolak dievakuasi dengan alasan tak mau meninggalkan tugasnya menjaga Merapi.  Simbah bahkan didaulat menjadi bintang iklan sebuah produk minuman kesehatan. Teriakannya “Roso..roso!” jadi jargon yang populer. Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan, iklan yang dibintangi Mbah Maridjan sukses besar.  “Dengan brand ambassador Mbah Maridjan, lonjakan penjualan sangat  luar biasa,” kata Irwan ditemui usai pemakaman Mbah Maridjan di Cangkringan, Kamis 28 Oktober 2010.

Namun, penayangan iklan itu akan dihentikan, menyusul kabar duka wafatnya juru kunci Merapi tersebut. Irwan mengatakan, pihaknya akan mengganti dengan yang baru, untuk menghormati sang kuncen.

“Sido Muncul akan terus menayangkan iklan Mbah Maridjan dengan jargon iklan baru ‘Hidup adalah Kehormatan’.” Iklan berdurasi satu menit akan menayangkan adegan Mbah Maridjan berada di lereng gunung. Ia sedang memandang Merapi yang menjulang agung.  “Syuting iklan tersebut dilakukan pada 2006 lalu di Kali Adem dan Kinahrejo,” jelas Irwan.  Iklan anyar itu akan memuat kalimat: “Mbah Maridjan, Sang Pemberani dari Lereng Merapi”.

Isinya: “Telah menghadap Sang Khalik dengan tanggung jawab,  pengabdian, dan kesetiaannya yang luar biasa.  Ia telah menepati  janji menjaga Merapi yang telah dipercayakan kepadanya sampai akhir hayat. Keberanian, kesetiaan dan kesederhanaannya menjadi inspirasi bagi  kita semua. Baginya, hidup adalah kehormatan.”

Mbah Maridjan wafat pada Selasa 26 Oktober 2010 petang — saat awan panas Merapi ‘wedhus  gembel‘ menerjang Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan,  Yogyakarta.  Pada Rabu pagi 27 Oktober 2010 pagi, pria yang mengabdi di Merapi sejak 1982 itu ditemukan  tewas di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Hingga akhir hayat, ia terus bersama Merapi. (Laporan: Fajar Sodiq| Yogyakarta, umi) • VIVAnews

Itulah asal muasal mitos yang sebentar lagi menjadi legenda dari mbah marijan yang mana beliau belum terkenal pada tahun sebelum 2006, dan ketika sudah terkenal, maka 2010 itulah beliau akhirnya menjadi akhir riwayat beliau, Mbah Marijan Jadi Tumbal Letusan Merapi ? Mengapa mbah marijan terkenal sampai para tokoh ikut dalam pemakaman beliau ? , Aburizal Bakrie:: Mbah Marijan Panutan Bagaimana

VIVAnews - Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menilai juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, merupakan sosok pemimpin yang benar-benar menjalankan amanat dan bertanggung jawab. Almarhum, katanya, memberikan contoh dan teladan kepada masyarakat tentang menjalankan tugas dan tanggung jawab. “Meski harus mengorbankan jiwa dan raganya,” kata Ical, panggilan akrab Aburizal, usai mengikuti prosesi pemakaman Mbah Marijan di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis, 28 Oktober 2010. Ical mengaku tak banyak mengenal Mbah Maridjan sebagai pribadi. Namun, ia pernah berkomunikasi dan bekerja sama dengan almarhum ketika Gunung Merapi akan meletus pada 2006. Saat itu, Ical menjabat menteri koordinator kesejahteraan rakyat (menkokesra).

Dari pertemuan tahun 2006 itu,  Ical punya kesan tersendiri terhadap Mbah Marija, yang bernama lengkap Raden Mas Ngabehi Panewuh Surakso Hargo itu. “Beliau pribadi yang santun namun tegas, lugas dan bertanggung jawab. Beliau memberikan contoh kepada kita bagaimana menjaga amanat atau tugas yang diberikan.” Ical mengikuti prosesi pemakaman jenazah Mbah Marijan didampingi sejumlah pejabat Fraksi Partai Golkar DPR RI dan petinggi DPP Partai Golkar. Di antaranya, Yorris Raweyai, Fuad H Masyhur, Setya Novanto, Bambang Soesatyo, Cicip Sutarjo, Titik Soeharto dan Mahyudin……………

Berbeda dengan pemakaman yang sama dengan sosok juru kunci, yaitu juru mercu suar, tidak ada pejabat yang mendatangi pemakaman beliau, ada apakah ?

Dua peristiwa yang nyaris sama merupakan tontonan menarik akan sebuah bahasa alam, dimana mbah marijan adalah seorang tokoh yang terkenal, mengorbit, maka bak magnet, semua langkah beliau akan didekati para penguasa, berbeda derajat walau tugasnya sama, seorang penjaga mercu suar yang tidak terkenal, maka sungguh inilah contoh terbaik, mengapa bencana selalu terjadi di Indonesia (Bencana Wasior, Mentawai dan Merapi, Sudah Ada Tanda Sebelumnya ) sebagai ilustrasi, kita semua suka dengan hal yang formal dan suka dengan publikasi. Pengkritik tentang politik pencitraan, sesungguhnya pula melakukan hal yang sama walau dengan format yang berbeda.

Hukum Allah QS 6:134 tentang bencana akan turun dengan sebab

(1) Penjahat besar, tokoh, pejabat, orang kaya dan terpandang berbuat kejelekakan (QS 6:123) (2) Diantara manusia memanfaatkan manusia lainnya atau berkawan dengan jin  (QS 6:128), seharusnya manusia itu memberi manfaat bagi manusia lainnya  dan bukan malah berkawan dengan jin.

DIMENSI SOSIOLOGIS HAJI

Tinggalkan komentar

Harian Republika , Jumat, 29 Oktober 2010 pukul 11:24:00

HUSEIN JA’FAR AL-HADAR
(Direktur Lembaga Study of Philosophy Jakarta)

Buku fenomenal berjudul “Hajj” karya Ali Syari’ati -sosiolog Muslim tersohor kelahiran Iran, yang memaparkan tentang dimensi sosiologis-humanis ibadah haji, ditutup dengan epilog berupa sebuah syair karya Naser Khosrow. Syair itu berkisah tentang seseorang yang pulang haji, tapi tak sedikit pun meraih nilai-nilai sosiaologis-humanis dari ibadah haji itu sendiri. Dan, itu berarti hajinya nihil penghayatan dan tak berbekas bagi kepribadiannya. Sehingga, nyaris tak ada bedanya antara saat ia sebelum berhaji dan setelah berhaji.

Padahal, haji sejatinya bukan ritual berbasis teologis-spiritual semata. Namun, haji juga merupakan ritual yang kental akan nilai-nilai sosiologis-humanis yang begitu tinggi, mendalam, dan padat. Dalam konteks sosiologis-humanis tersebut, misalnya, ihram dipandang sebagai ritual yang mendidik manusia agar meninggalkan seluruh ‘pakaian’ yang pantas ditanggalkan, yang hina di mata Tuhan; kesombongan, hedonisme, dll, serta menggantinya dengan ‘pakaian’ putih dan suci; kerendahan hati, kesederhanaan, dll.

Adapun ketika jamaah haji sedang berada di Arafah, suatu waktu dan tempat saat manusia begitu dekat dengan Tuhannya, maka saat itu sejatinya mereka sedang diajarkan untuk berkenalan secara dekat dengan kemahapengasihan, kemahapenyayangan, serta kemahabaikan Tuhannya serta meresapkan dan memanifestasinya ke dalam dirinya.

Saat tawaf, maka sejatinya manusia sedang diajarkan untuk melumpuhkan egoisme individu ataupun kelompoknya, bersatu serta berdialog bersama dalam berbagai keragaman latar belakang pemikiran, mazhab ataupun budaya mereka dalam satu haluan yang selaras di atas fondasi toleransi. Sedangkan, berkurban, secara sosiologis-humanis patut dipahami sebagai ritual bagi para jamaah haji untuk ‘menyembelih’ egoisme dan sifat-sifat kehewanan yang ada dalam dirinya. Terakhir, kembalilah ke tanah air masing-masing dalam keadaan telah memastikan bahwa ‘diri’-nya telah terkubur di sana.

Itulah sejatinya nilai-nilai yang tak kalah pentingnya dibanding nlai-nilai teologis-spiritual dari ibadah haji yang kerap luput dan terlupakan oleh para jamaah haji. Bahkan, dimensi sosiologis-humanis itu merupakan tolok ukur konkret dan paling nyata bagi seorang jamaah haji bagi ke-mabrur-an dimensi teologis-spiritual hajinya.

Dalam artian, seorang jamaah haji yang sepulangnya dari Tanah Suci tak terjadi dan membekas perubahan yang lebih baik dalam dimensi sosiologis-humanis dalam kepribadiannya, maka dapat disimpulkan bahwa ritual hajinya tak mabrur.

Karenanya, dengan tegas Khosrow memvonis bahwa sejatinya jamaah haji semacam itu tak pernah berhaji dengan sebenar-benarnya.

Dalam konteks Indonesia, jamaah haji semacam itu banyak ditemui. Sehingga, begitu bertumpah ruah masyarakat Muslim Indonesia yang pergi haji setiap tahunnya, namun begitu minim dampak sosilogis-humanis positif yang kita rasakan di Indonesia; korupsi yang berpangkal dari egoisme diri tetap merajalela, kemiskinan dan ketertindasan tetap menjadi fenomena di sini dan degradasi moral masih menjadi salah satu problem dasar bagi masyarakat bangsa ini.

Bahkan, ironisnya, berangkat haji kerap menjadi perjalanan wisata bagi sebagian orang, di tengah-tengah tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Sehingga, tak jarang dari mereka yang berhaji lebih dari satu kali. Padahal, jika tak mau menyebutnya larangan, minimal tak ada perintah ataupun anjuran dalam Islam untuk berhaji lebih dari satu kali bagi umatnya.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya haji juga kerap hanya menjadi tren guna mendongkrak popularitas sosial-ekonomi maupun wibawa kagamaan seseorang. Sebab, gelar “haji” yang terselip di setiap nama seseorang yang telah berhaji masih cenderung memiliki kekuatan dan daya tawar dalam tatanan masyarakat kita.

Dalam artian, karena merupakan ritual mahal dan ritual puncak dalam rukun Islam, berhaji masih potensial bagi masyarakat kita (hanya dimanfaatkan) untuk meningkatkan popularitas sosial-ekonomi maupun wibawa kagamaannya.

Bahkan, haji juga potensial hanya menjadi sugesti spiritual (semacam momentum dan ritual penebusan dosa dan pembersihan diri) bagi mereka yang merasa telah berlumuran dosa, baik karena dosa individu (sombong, iri, bermaksiat, dll) ataupun dosa sosial (korupsi, nepotisme, dll), dan nantinya kembali melakukan berbagai praktik dosa itu kembali sekembalinya ke Tanah Air.

Bertolak dari situ, maka sudah sepatutnya bagi setiap jamaah haji untuk mereformasi niat dan praktik haji mereka. Agar nantinya mereka benar-benar memahami dan mempraktikkan haji tak hanya sebatas sebagai sebuah ritual teologis-spiritual semata.

Namun, juga sebagai ritual sosiologis-humanis yang akan berdampak positif signifikan besar bagi tatanan sosial masyarakatnya. Sehingga, gelar “haji” tak menjadi sebuah atribut ataupun komoditas.

Tapi, gelar itu merupakan sebuah anugerah sakral yang diberikan oleh Tuhan agar mereka benar-benar dapat menjadi khalifah-Nya (khalifatullah) di muka bumi, khususnya di tatanan masyarakat sekitarnya, sebagaimana amanat Alquran. Sehingga, mereka akan benar-benar menjadi haji yang mabrur.”

(-)

AKSARA LAMPUNG

Tinggalkan komentar

Aksara Lampung

Bentuk tulisan yang masih berlaku di daerah Lampung pada dasarnya berasal dari aksara Pallawa (India Selatan) yang diperkirakan masuk ke Pulau Sumatera semasa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Macam-macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam aksara Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah, tapi tidak memakai tanda dammah di baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang. Masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri. Aksara Lampung hampir sama bentuknya dengan aksara Rencong (Aceh). Artinya, Had Lappung dipengaruhi dua unsur, yakni; aksara Pallawa dan huruf Arab.
Adapun Aksara Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka, dan tanda baca.

1 . Huruf Induk
Aksara Lampung disebut dengan istilah kaganga, ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan (pada Tabel 1 dibaca dari atas ke bawah). Huruf induk berjumlah 20 buah. Bentuk, nama, dan urutan huruf induk dikemukakan pada Tabel 1 dibawah ini.

Berikut adalah kelabai sughat bahasa lampung :
akarsa-lampung.gif


2. Anak Huruf

Anak huruf Kaganga ada 12 buah:

Nama masing-masing anak huruf itu adalah sebagai berikut:
anak-hurug.gif
a. Anak huruf yang terletak diatas huruf
1. ulan
2. bicek
3. tekelubang : ang
4. rejenjung : ar
5. datas : an
b. Anak huruf yang terletak dibawah huruf
1. bitan : dan
2. tekelungau : au
c. Anak huruf yang terletak di kanan huruf
1. tekelingai : ai
2. keleniah : ah
3. nengen : tanda huruf mati

Untuk melihat yang selengkapnya download aja disini :
Aksara Lampung

PELESTARIAN SURAT ULU

Tinggalkan komentar

Wisnu Aji Dewabrata

Masyarakat Sumatera Selatan telah memiliki budaya tulis yang tinggi jauh sebelum masa Kerajaan Sriwijaya. Kini budaya tulis yang diwujudkan dalam sistem aksara tersebut di ambang punah. Salah satu penyebabnya, para pewaris naskah kuno cenderung mengkeramatkan benda tersebut. Terdorong oleh perasaan takut akan hilangnya budaya tulis Sumsel, Ahmad Bastari Suan (61) seorang guru SMP Srijayanegara Palembang terus bergerilya untuk melestarikan budaya tulis setempat.

Ahmad adalah salah satu dari sedikit orang di Sumsel yang mampu membaca dan mengartikan Surat Ulu atau Naskah Ulu yang ditulis dalam aksara Kaganga.

Istilah Surat Ulu atau Naskah Ulu dipakai untuk menyebut naskah kuno yang hanya ditemukan di daerah pedalaman Sumsel atau disebut daerah Ulu. Naskah tersebut tidak ditemukan di daerah pesisir Sumsel seperti Palembang

Menurut Ahmad Bastari, cara membaca aksara Kaganga dipelajarinya tahun 1973 dari seorang kakek bernama Senoetoep yang saat itu usianya lebih dari 100 tahun. Kebetulan kakek Senoetoep tinggal di Dusun Sadan, Kecamatan Jarai tak jauh dari Dusun Ahmad.

“Saya tertarik belajar aksara Kaganga setelah melihat dinding rumah kayu di kampung saya banyak tulisan dengan aksara Kaganga yang ditulis memakai kapur. Saya berpikir alangkah ruginya kalau tidak bisa membaca aksara itu,” kata Ahmad.

Mempelajari aksara Kaganga tidak terlalu sulit. Ahmad memastikan seseorang sudah bisa membaca aksara Kaganga hanya dengan belajar selama satu bulan.

Aksara Kaganga bentuknya menyerupai huruf paku yang runcing. Bentuk-bentuk huruf mirip aksara Kaganga yang sudah ditemukan pada peninggalan zaman megalitikum di Sumsel. Misalnya di Desa Gunung Megang, Kabupaten Lahat terdapat peninggalan megalitikum yang disebut Batu Kitab karena terdapat goresan-goresan mirip aksara Kaganga.

“Cikal bakal aksara Kaganga diperkirakan sudah ada sejak tahun 200 Masehi. Itu terbukti dengan adanya penemuan batu bertulis dengan aksara mirip aksara Kaganga,” kata Ahmad.

Penulisan aksara Kaganga semakin maju. Aksara Kaganga tidak lagi digoreskan di atas batu namun dalam perkembangannya digoreskan di bilah bambu yang disebut Gelumpai, ada juga digoreskan di ruas bambu yang disebut Surat Buluh, di tanduk kerbau, dan ada juga di kulit kayu yang disebut Kitab Kakhas. Bentuk Kitab Kakhas sudah menyerupai buku karena dilipat sedemikian rupa menyerupai buku.

Menurut Ahmad, aksara yang mirip aksara Kaganga bisa ditemukan sejak dari pedalaman Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumsel, Lampung, Sulawesi Selatan, bahkan sampai ke Filipina.

Bahkan, naskah La Galigo dari Sulawesi Selatan diyakini menggunakan aksara yang mirip aksara Kaganga. Anehnya di sepanjang pesisir timur Sumatera seperti Medan, Riau, Jambi, Palembang, dan Bangka tidak ditemukan aksara Kaganga tapi ditemukan aksara Arab Melayu.

“Aksara Kaganga di Sumsel dibagi menurut daerah asal dan usianya. Menurut daerah asal ada aksara Kaganga Besemah, Lembak (sekitar Lubuklinggau), Kayu Agung, Ogan (sepanjang Sungai Ogan dan Sungai Komering), Enim (sekitar Muara Enim), dan Rambutan (sekitar Banyuasin). Sedangkan menurut usianya ada aksara tua dan muda,” kata Ahmad.

Aksara Kaganga terdiri dari 28 huruf yaitu ka, ga, nga, pa, ba, ma, ca, ja, nya, sa, ra, la, ta, da, na, kha, ha, mba, ngga, nda, nja, mpa, ngka, nta, nea, kha, wa, ya yang dilengkapi sejumlah tanda baca.

Pada aksara Kaganga dengan dialek Komering akhiran semua huruf dibaca a (ka ga nga), pada dialek Kayu Agung dibaca é (ké gé ngé), pada dialek Besemah dan Ogan dibaca e (ke ge nge), pada dialek Lintang dan Serawai (Lampung) dibaca o (ko go ngo). Sedangkan menurut bentuknya yang ditulis dengan gaya runcing dan ada yang agak melengkung. Aksara Kaganga mirip aksara Jepang dan China, yaitu satu huruf bisa mewakili beberapa huruf sekaligus atau satu suku kata.

Mengenai isi Surat Ulu, Ahmad menjelaskan isinya beraneka ragam mulai silsilah keluarga, mantra-mantra, pengobatan, tuah untuk ayam sebelum disabung, ramalan tentang nasib dan sifat manusia, dan lain-lain.

“Aksara Kaganga tidak berkembang kemungkinan karena terdesak oleh aksara Palawa dan semakin terdesak oleh aksara Arab Melayu. Setiap daerah di Sumsel punya dialek dan bentuk huruf sendiri, kemungkinan karena antarsuku tidak pernah berinteraksi. Ini berbeda dengan di Sumatera Utara dan Lampung yang hanya ada satu jenis huruf,” kata Ahmad.

Dikeramatkan tapi di daerah pedalaman seperti Pagar Alam, Lahat, Kayu Agung, dan Ogan Komering Ulu.

Hambatan yang terbesar dalam melestarikan Surat Ulu justru datang dari para pewaris Surat Ulu yang disebut Jurai Tui. Para Jurai Tui menganggap Surat Ulu itu sebagai barang keramat yang tidak boleh dipegang oleh sembarang orang.

“Pada umumnya Surat Ulu itu hanya jadi barang simpanan dan diselimuti hal-hal gaib serta mistik. Saya pernah bermaksud meminjam Surat Ulu untuk dipelajari tapi saya malah dimarahi. Sikap seperti itu yang membuat sejarah kebudayaan Sumsel tertutup,” kata Ahmad.

Oleh karena sikap tertutup itu, Ahmad tidak memiliki satu pun salinan Surat Ulu yang pernah dilihatnya dari sejumlah pewaris Surat Ulu. Ahmad hanya bisa membuktikan bahwa Surat Ulu itu benar-benar ada.

“Saya sering diejek ketika keluar masuk kampung untuk melihat peninggalan megalitikum yang ada di tengah hutan. Katanya untuk apa, bikin kotor baju saja. Kesadaran budaya masyarakat begitu rendah sedangkan pemerintah juga kurang peduli. Penyebabnya karena masyarakat sekarang berpikir materialistis,” kata Ahmad.

Untuk menjaga kelestarian Surat Ulu, Ahmad telah menyusun panduan cara membaca Surat Ulu dalam bentuk lembaran-lembaran kertas yang belum dijilid dalam bentuk buku. Kekhawatiran akan punahnya Surat Ulu semakin meningkat karena para pewaris Surat Ulu biasanya menyimpan Surat Ulu di sembarang tempat sehingga semakin cepat hancur dimakan usia.

Selain hancur dimakan usia, ada Surat Ulu yang hilang atau sengaja dihancurkan oleh pewarisnya karena tidak tahu manfaatnya. Ada juga Surat Ulu yang dihancurkan karena dulu takut jatuh ke tangan Belanda atau Jepang.

“Upaya melestarikan Surat Ulu di Sumsel seharusnya dengan memasukkan aksara Kaganga dalam mata pelajaran muatan lokal. Saya tidak bisa mengajarkannya di sekolah karena harus berpedoman pada kurikulum sedangkan di kurikulum tidak ada. Lagipula ada banyak tipe aksara Kaganga di Sumsel, harus ditentukan mana yang akan diajarkan. Saya tidak tahu kapan cita-cita itu terwujud,” ujar Ahmad.

Sepengetahuan Ahmad di Sumsel hanya tiga orang yang bisa membaca aksara Kaganga selain dirinya yaitu Suwandi yang tinggal Lubuk Linggau dan Pamong Budaya Ahli pada Museum Balaputradewa, Palembang Rafanie Igama yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Yogyakarta.

Saat ini beberapa Surat Ulu berupa Surat Buluh dapat dilihat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan kitab Kakhas dapat dilihat di Museum Balaputradewa. Sebagian besar Surat Ulu masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta.

“Kalau tidak ada yang menyayangi Surat Ulu dan aksara Kaganga, saya takut suatu waktu kekayaan budaya Sumsel ini hilang,” kata Ahmad.

http://kompas.com/kompas-cetak/0708/…ok/3763565.htm

AKSARA “KAGANGA” antara Ada dan Tiada

2 Komentar

Helena F. Nababan dan Agus Mulyadi

Sebanyak 40 siswa kelas VI SD Negeri 2 Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Rabu (17/2) siang, tekun mendengarkan penjelasan guru. Sekali-sekali tangan mereka mencoretkan garis-garis miring di atas kertas bergaris kotak-kotak (kertas yang biasa dipakai untuk pelajaran Matematika). 

Sekilas, coretan miring itu seperti tidak berbunyi. Namun, bagi siswa SD itu, coretan itu bermakna. Coretan-coretan itu adalah aksara kaganga, aksara yang berkembang di masyarakat Sumatera bagian selatan yang terdiri atas 19 huruf tunggal dan 8 huruf pasangan. Nama kaganga merujuk pada tiga aksara pertama pada urutan 28 huruf, yaitu ka, ga, nga, dan seterusnya.

Penulisannya unik karena huruf-huruf ditulis dengan cara ditarik ke kanan atas dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Kesibukan para siswa menyiratkan kekayaan budaya masyarakat di daerah hulu Sungai Musi. Aksara kaganga yang awalnya berkembang di Curup sering pula disebut aksara ulu. Aksara ini lalu menyebar ke daerah-daerah yang dilalui aliran Sungai Musi.

Sejak lima tahun lalu, aksara ini kembali diperkenalkan kepada generasi muda dan masuk kurikulum pelajaran SD dan SMP di Rejang Lebong. Bahkan, menurut Kepala SDN 2 Curup Sahril, dua tahun ini diajarkan pelajaran Bahasa Rejang yang di dalamnya terkandung pula aksara kaganga.

”Pengajarnya adalah guru-guru asal suku Rejang yang kebetulan mengerti aksara kaganga,” kata Sahril.

Kepala SDN 6 Curup Berlian mengakui, keterbatasan pengajar menjadi salah satu kendala belajar-mengajar kaganga para siswa. Meski demikian, rencananya Bahasa Rejang dengan aksara kaganga-nya akan diajarkan pula di tingkat SMA di Rejang Lebong.

Mengikuti Sungai Musi
”Aksara kaganga atau aksara ulu menyebar mengikuti aliran Sungai Musi sebagai dampak mobilitas penduduk waktu itu,” ujar Sarwit Sarwono, peneliti aksara kaganga dari Universitas Bengkulu, di Kota Bengkulu.

Sarwit mengatakan, berdasarkan dokumen Eropa, aksara ulu diperkirakan berkembang pesat di Sumatera bagian selatan pada abad ke-16-17 Masehi sebagai perkembangan dari aksara palawa dan kawi. Aksara kaganga sendiri banyak berkembang di Sumatera dan Sulawesi. Itu menandakan aksara kaganga berkerabat dengan aksara Batak dan Bugis. Sementara wilayah di luar Sumatera dan Sulawesi, seperti Bali dan Jawa, menggunakan aksara hanacaraka.

Karena mobilitas hulu hilir Musi, hampir seluruh masyarakat di Bengkulu, seperti di Rejang, Lebong, Curup, Kepahiang, Lembak, Seluma, Serawai, serta di Lampung dan Sumatera Selatan seperti di Pasemah, Lintang, Pagaralam, Ogan, hingga Komering, mengenal aksara tersebut. Penyebaran aksara kaganga diperkirakan berhenti pada awal abad ke-20.

Tulisan naskah dengan aksara kaganga, ujar Sarwit, biasanya ditulis di atas bahan kulit kayu atau kakhas dan gelondongan bambu. Naskah kuno juga ditemukan ditulis di atas bahan rotan, kulit hewan, atau lontar.

Di surat ulu masyarakat mengungkapkan banyak hal. Di antaranya seperti silsilah keluarga, mantra-mantra, pengobatan, tuah untuk ayam sebelum disabung, ramalan tentang nasib dan sifat manusia, hingga ajaran agama Islam, hukum adat, ataupun rukun haji.

”Sesuai bahasa daerah masing-masing, ada naskah berbahasa Rejang dengan aksara kaganga, ada naskah berbahasa Pasemah beraksara kaganga, juga ada naskah berbahasa Melayu dengan aksara kaganga,” ujar Sarwit.

Disimpan di warga
Kurator Museum Negeri Sumsel, Rapanie Igama, yang sejak tahun 1995 meneliti surat ulu di seluruh Sumsel, mengutarakan, ratusan surat ulu sampai sekarang masih tersimpan di rumah warga. Sejumlah surat ulu di Sumsel berada di Pagaralam, Lahat, dan Muara Enim.

Hanya saja, penyimpanan itu tidak disertai teknik penyimpanan yang tepat sehingga dikhawatirkan rusak karena lembab. Surat ulu biasanya diwariskan secara turun-temurun dari kepala marga (pesirah) kepada anak cucunya.

Menurut Rapanie, karena surat ulu itu diturunkan, pewaris surat ulu cenderung mengeramatkannya. Kondisi ini menyebabkan keberadaan surat ulu semakin terancam. Cara berpikir masyarakat yang tidak logis ikut menyebabkan kehancuran warisan budaya nenek moyang.

”Mereka menganggap surat ulu sebagai benda pusaka. Untuk membukanya saja harus menyembelih ayam atau kambing. Bahkan, ada surat ulu yang tidak boleh difoto dan dibaca karena ditakutkan nanti seluruh desa terbakar,” kata Rapanie.

Salah satu surat ulu di Desa Padang Bulan, Lahat, yang pernah dibaca Rapanie berisi tentang strategi perang melawan Belanda. Tidak heran pewaris ketakutan kalau surat ulu tersebut dibaca. ”Mungkin dia mendapat wasiat bahwa surat ulu itu tidak boleh dibaca siapa pun,” katanya.

Selain karena disimpan sembarangan, tidak banyak orang yang bisa membaca sekaligus bisa mengartikan aksara kaganga. Umumnya hanya sebatas membaca dan menulis.

Helena F Nababan dan Agus Mulyadi
Sumber: http://cetak.kompas.com/

AKSARA KAGANYA

Tinggalkan komentar

Akasara Kagangan
Penelitian Sarwit, Universitas Bengkulu.

Seperti ungkapan ”tak kenal maka tak sayang”, demikianlah hubungan SSarwit, Peneliti Aksara Kaganga_BUKU, BUDAYAarwit Sarwono (52) dan aksara kaganga. Sebelumnya, dia tak tertarik aksara itu. Kini, dia menjadi salah satu ahli aksara kaganga, aksara asli warga di kawasan hulu Sungai Musi dan beberapa daerah lain di Sumatera Selatan, Lampung, dan Kerinci di Provinsi Jambi. Sarwit adalah peneliti aksara kaganga dan pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Bengkulu.

Aksara kaganga merupakan aksara yang tergabung dalam rumpun Austronesia. Ia berkerabat dengan aksara Batak dan Bugis. Itu sebabnya bentuk kaganga yang seperti paku runcing mirip aksara Batak, Bugis, atau Lampung.

Tahun 1986 di Bengkulu, Sarwit awalnya hanya tertarik sastra Indonesia modern. Perkenalan pertamanya dengan aksara kaganga terjadi pada 1988.

Syukri Hamzah, sesama pengajar di FKIP, adalah sosok yang memperkenalkannya pada kaganga. Ketika itu, Sarwit belum terlalu tertarik pada aksara yang cara penulisannya miring ke kanan hampir 45 derajat itu. Namun, perkenalannya terus berlanjut.

Tahun 1989, Nur Muhammad Syah, mahasiswanya, memberi dia beberapa salinan Surat Ulu dari naskah kuno yang aslinya tercetak di atas kulit kayu (kakhas) milik Abdul Hasani (almarhum), mantan pesirah (kepala marga) di Curup, Bengkulu.

Kesempatan mengenal aksara kaganga makin terbuka saat Sarwit berkesempatan mengikuti program kerja sama Indonesia—Belanda di bidang pengkajian Indonesia. Program itu diselenggarakan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1990.

Berawal dari bertemu, berkenalan, dan mengkaji, Sarwit kemudian mengenal lebih dalam aksara yang dinamai dari tiga aksara pertama, yakni ka, ga, nga, dari total 28 aksara itu. Di Leiden, Belanda, ia kaget saat tahu ratusan spesimen Surat Ulu beraksara kaganga tersimpan di sana. Ia juga menemukan belasan spesimen naskah kuno sejenis yang tersimpan di Perancis dan belasan lainnya di Jerman.

”Saat itu saya betul-betul cemburu dalam arti positif. Kenapa orang luar bisa begitu antusias mempelajari naskah-naskah kuno kita, sedangkan kita sendiri sangat kurang peduli?” ujarnya.

Temuan itu menyadarkan dia. Spesimen-spesimen itu adalah kekayaan budaya Indonesia, Bengkulu, dan sekitarnya khususnya. Manuskrip itu menandakan budaya baca dan tulis masyarakat Indonesia sudah lebih maju pada masa itu.

Belajar dan meneliti

Sarwit yang lahir di Tegal, Jawa Tengah, tentu lebih terbiasa dengan bahasa dan aksara Jawa daripada aksara kaganga. Namun, ”dendam” positif terhadap banyaknya naskah kuno Bengkulu di Belanda memacu hasratnya. Ia mempelajari betul aksara kaganga.

Ketika itu, penelitian aksara lebih banyak dilakukan pada bahasa Batak, Bugis, dan Jawa. Penelitian tentang kaganga belum ada. Ia ingin penelitian, pembelajaran, dan pelestarian kaganga semaju aksara Batak.

Sarwit juga mempelajari bahasa-bahasa daerah di Bengkulu, seperti bahasa Serawai, Rejang, Lembak, dan Pasemah atau Muko-muko. Hal itu karena sebagian besar naskah kuno yang tersimpan di Belanda berisi tulisan dengan aksara kaganga dalam berbagai bahasa tersebut. Ia juga membaca sejumlah manuskrip dan membuat microfilm dari manuskrip-manuskrip itu.

Di Belanda pula ia bertemu dengan Profesor Petrus Voorhoeve, ahli aksara Batak dan Surat Batak yang juga bisa membaca aksara kaganga. Dengan Voorhoeve, Sarwit bertukar pikiran dan menimba ilmu.

Kembali ke Indonesia tahun 1992, Sarwit menerapkan ilmunya di jurusan tempatnya mengajar. Sampai 1996, dia mendapat tugas membantu Museum Negeri Bengkulu.

Sebagai peneliti, dia diminta mengidentifikasi dan membaca naskah-naskah kuno beraksara kaganga koleksi museum. Sekitar 128 naskah kuno beraksara kaganga terus dia baca, pelajari, dan telaah. Naskah-naskah kuno itu berbentuk kulit kayu, bilah bambu, gelondongan bambu, tanduk, kertas, dan rotan.

Sarwit mendapati banyak kearifan lokal dan ajaran, di antaranya pengobatan tradisional dari tumbuh-tumbuhan, aturan pernikahan, kesantunan atau etika pergaulan dan berorganisasi, silsilah keluarga, pergaulan muda-mudi, sampai ajaran Islam.

Menurut Sarwit, kearifan lokal itu sebetulnya masih bisa diterapkan. ”Namun, karena kepedulian masyarakat kurang, nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal nenek moyang masyarakat Bengkulu itu kurang dipahami dan diterapkan.”

Naskah-naskah kuno itu biasanya diturunkan dari kepala marga atau pasirah kepada keturunannya. Orang yang menerima lalu menganggapnya sebagai benda pusaka sehingga harus memotong kambing atau mengadakan selamatan bila ingin membuka naskah kuno tersebut.

Karena takut, warga biasanya tak ingin mengetahui isi naskah kuno itu. Mereka menyimpannya asal saja, tanpa teknik penyimpanan yang tepat, sehingga keberadaan naskah kuno itu terancam rusak atau lenyap.

Pelestarian

Dari penelitiannya, Sarwit mendapati tradisi tulis dalam aksara kaganga terhenti awal abad XX. Seharusnya, pemerintah bertindak untuk meneruskan tradisi, atau setidaknya upaya memasukkan aksara kaganga dalam kurikulum sebagai penjagaan sejak dini.

Ia mencatat, tahun 1988 di Kabupaten Rejang Lebong ada upaya memasukkan kaganga dalam kurikulum. Sayang, keterbatasan tenaga pengajar membuat pembelajaran kaganga tak optimal.

Sampai kini, tenaga pengajar di sekolah hanya tahu membaca dan menulis kaganga, tetapi kurang memahami budaya Bengkulu.

”Pengajaran masih sederhana, sekadar bisa menulis dan membaca,” ujarnya.

Kemauan kuat dari pemerintah daerah untuk melestarikan kaganga masih dibutuhkan, di antaranya, dengan menyediakan bahan ajar aksara kaganga dan bahasa daerah yang cukup, serta menyediakan para pengajar yang juga memahami budaya Bengkulu.

Sebagai langkah awal, tahun 2002, Sarwit membuat terobosan dengan menciptakan sistem pembacaan aksara kaganga pada komputer. Aksara kaganga itu dibuat sesuai bahasa daerah yang mengenal aksara kaganga. Maka, ada varian aksara kaganga Ogan, aksara kaganga Lembak, aksara kaganga Ulu, hingga aksara kaganga Serawai.

SARWIT SARWONO

• Lahir: Tegal, Jawa Tengah, 12 November 1958

• Istri: Ngudining Rahayu (49)

• Anak: – Andika – Himavan – Vidyadhara – Mahendra – Adisvara

• Pendidikan:

- Peserta Program Kerja sama Indonesia-Belanda untuk Pengkajian Indonesia 1990-1992 di Leiden, Belanda
- Tengah mengikuti S-3 Ilmu-ilmu Sosial di Universitas Airlangga, Surabaya

• Pekerjaan:

- Dosen Bahasa dan Sastra Daerah pada Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Bengkulu
- Ketua Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu

Sumber: Kompas, 10 Maret 2010

  • Share/Bookmark

jangan

Tinggalkan komentar

Jangan Berpikir Jadi Pengusaha


Judul Buku : Jangan Berpikir Jadi Pengusaha
Penulis : Samurai
Penerbit : Indie Publishing
Tebal : 202 Halaman
Terbit : 2009

Provokasi untuk Berwirausaha

BEGITU membaca judul buku ini “Jangan Berpikir Jadi Pengusaha dan Jangan Pernah Berpikir Jadi Entrepreneur” pasti kita akan tersenyum atau bahkan merasa tersindir. Kebanyakan buku bisnis memberi judul yang dibuat agar mampu merangsang gairah pembaca untuk berwirausaha atau memotivasi untuk berbisnis. Dari judulnya saja buku ini berani tampil berbeda dari buku bisnis lainnya.

Nama penulisnya pun terdengar cukup nyentrik kalau nggak mau disebut agak nyeleneh, Samurai. Namun, mendengar nama Samurai, bagi para wirausaha atau tokoh bisnis di Jawa Timur, khususnya Surabaya pasti sudah tidak asing dengan sosok yang satu ini. Apalagi pada sampul bukunya ini, foto profilnya pun terpampang jelas dengan pose yang begitu ‘pede’.

Melihat dari luar, sepintas buku ini memang nyentrik. Bukan hanya judul dan nama penulisnya saja, penampilan sampul buku berwarna merah muda (pink) ditambah logo “Mengapa Harus Best Seller?” di sudut kanan atas, mampu membuat kita tersenyum simpul. Saya menilai buku ini cukup provokatif dan ini sebuah cara yang menarik untuk menggaet orang agar membeli dan membacanya.

Penampilan buku yang provokatif ini mencerminkan isinya. Dalam buku setebal 202 halaman yang diterbitkan Indie Publishing ini mampu membangkitkan hasrat orang yang membacanya untuk berwirausaha atau menggeluti dunia bisnis.

Penulis dengan gaya bahasa yang cair dan disisipi bahasa gaul mengajak bagaimana melihat setiap peluang yang ada di sekitar kita. Kemudian, diubah menjadi sebuah kegiatan bisnis yang menarik dan tentunya mendatangkan keuntungan.

Semua disampaikan dengan memberi contoh yang nyata, seperti keberanian pengusaha ternama, Ciputra ketika membangun proyek Ancol padahal daerah itu sebelumnya merupakan daerah kumuh. Atau contoh yang membuat kita merasa ‘tersindir’ dengan menceritakan betapa menjadi karyawan harus bekerja ekstra keras namun hasil yang didapat sudah terukur.

Dua bagian lainnya dalam buku ini, penulis memberikan suntikan motivasi agar tidak pernah menyerah ketika menghadapi berbagai kendala dan musibah dalam berwirausaha. Tak ketinggalan beberapa taktik jitu yang sederhana untuk mendongkrak pendapatan dalam berbisnis.

Semuanya disampaikan dengan sederhana dan begitu membumi sehingga tidak membuat pembaca mengawang-awang. Misalnya, strategi penjual soto di Surabaya yang mampu mengaet banyak pembeli dengan mengadakan undian hadiah berupa Magic Jar. Penulis begitu fasih membeberkan kiat-kiat sederhana yang manjur, karena banyak bergaul dengan banyak wirausaha sukses yang merintis usaha dari nol. Apalagi penulis berkecimpung dalam bisnis dan mengalami sendiri jatuh bangun dalam serta pahit manis berbisnis.

Buku ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk memulai berwirausaha dan menjadi sukses itu bukan hal yang susah. Cukup butuh tekad yang kuat, pantang menyerah, berani mengarungi risiko, dan cerdik menerapkan strategi yang sederhana.

Penulis pun menegaskan, berwirausaha tak selalu harus bermodal besar, dan fasilitas yang lengkap. Semua hanya butuh keberanian, keberanian untuk memulai, keberanian untuk bermimpi, dan keberanian menghadapi risiko. Jadi jika Anda tak punya keberanian, seperti judul buku ini, sebaiknya “Jangan Berpikir Jadi Pengusaha dan Jangan Pernah Berpikir Jadi Entrepreneur.”

Memang ada beberapa editing kata yang kurang sempurna dan penyingkatan kata akibat dari penggunaan bahasa gaul dan logat Suroboyoan yang sedikit mengganggu. Bila dilengkapi ilustrasi atau foto, buku ini akan lebih hidup dan semakin “Berani”. Semoga bermanfaat  (Fachruddin)

CARA MUDAH MENYURUH ANAK BELAJAR

Tinggalkan komentar

Belajar bagi sebagian anak merupakan hal yang membosankan. Mereka berusaha menghindar dari kegiatan belajar. Sekalipun belajar, hanya sebuah keterpaksaan. Yang akhirnya, anak tidak mencerna pelajaran secara penuh. 

Di rumah tentu hal lain lagi. Akan lebih sulit mengoptimalkan anak agar belajar. Mereka terkadang sangat enggan jika disuruh belajar di rumah.

“Nanti saja Mah, yang penting kan PR sudah dikerjakan.”

“Nonton kartun kesukaan dulu, Bunda.”

“Sebentar, Pa! Nih lagi masih asyik main game, tanggung.”

“Males, Yah! Besok kan gak ada ulangan.”

Begitulah jawaban-jawaban yang mereka berikan ketika disuruh belajar. Bahkan, ada yang menjadi marah jika disuruh belajar. Akibatnya, orangtua menjadi frustrasi dan enggan menemani anak belajar.

Kenapa demikian? Kemalasan anak tentu bukan tanpa alasan. Kita mesti bijak menilainya. Banyak faktor yang membuat anak malas belajar. Di antaranya, metode belajar yang tidak sesuai dengan sifatnya, suasana yang tidak mendukung, dan merasa diganggu kesenangan dan dunia bermainnya.

Hal ini perlu diluruskan oleh orangtua agar anak kembali mendapatkan gairah di dalam belajar. Kenalilah minat dan kecenderungan gaya belajar anak. Apakah si anak memiliki gaya belajar auditori, kinestetik, taktil, atau visual. Kemudian, tarik sang anak dengan metode sesuai gaya belajarnya.

Jika auditori, jadilah Anda sebagai pendengar sekaligus pembicara yang baik. Anak auditori adalah pendengar yang baik. Mereka mampu menyerap sebagian besar informasi yang mereka dengar. Mereka lebih mudah menyerap pelajarannya dengan proses diskusi dan dialog. Biarkan ia mengemukakan kesulitan yang ditemuinya saat mengerjakan soal yang dihadapinya.

Biarkan si anak mengerjakan soalnya sendiri. Giring dan pancinglah dengan kalimat-kalimat sugesti. Misalnya, “Rasanya bunda percaya kamu bisa mengerjakannya karena soal ini hampir sama dengan soal yang kamu kerjakan kemarin.” Atau “ Coba ingat-ingat bagaimana gurumu menerangkannya pelajaran ini tadi di sekolah.” Atau kalimat-kalimat lain yang mampu memancing kreativitas anak auditori berpikir memecahkan masalah.

Selain itu, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Pasalnya, dari hal kecil sekalipun bisa mengakibatkan anak tidak semangat belajar. Misalnya, dari warna dan bentuk meja belajar yang disukainya. Jangan memberikan tekanan, ancaman, dan paksaan agar anak belajar. Hal seperti ini akan membuat suasana hati anak terganggu.
Begitulah sebagian hal yang seharusnya kita lakukan agar anak rajin belajar. Kemudian, bagaimana dengan jenis gaya belajar anak yang lainnya? Buku Membuat Anak Rajin Belajar Ternyata Mudah Kok yang di tulis Ari Ambarwati ini akan menjelaskan kepada Anda secara detil dan mudah bagaimana menyiasati anak agar rajin belajar.

Dalam buku yang diterbitkan Tangga Pustaka ini dibahas juga  pengenalan karakter anak sesuai gaya belajarnya, metode belajar ideal dan tidak ideal, hingga langkah-langkah mudah yang disusun menggunakan metode abjad dari A sampai Z.

Selain itu, untuk mengetahui karakter dan gaya belajar anak, disediakan pra-tes, yaitu semacam angket. Pilihan yang diberikan dalam setiap soal akan menghasilkan kesimpulan karakter dan gaya belajar anak Anda.

Alhasil, buku ini menjadi terobosan bagi orangtua dan guru dalam mencetak anak rajin belajar. Yang pada akhirnya, Anda akan berkesimpulan, beginilah seharusnya agar anak rajin belajar. Selamat mencoba! [agromedia/ais]

 

 

NASI BAKAR IKAN PEDA

1 Komentar

Nasi Bakar Peda

Sumber: Primarasa

untuk 4 porsi

Bahan :
3 ekor ikan peda
minyak goreng
1 sdm air jeruk nipis
6 siung bawang putih, iris tipis
100 gr bawang merah, iris tipis
3 buah cabe merah besar, iris tipis
3 buah cabe hijau besar, iris tipis
4 iris tipis lengkuas
2 lembar daun salam, robek masing-masing jadi 2 bagian
50 gr daun melinjo, siangi
15 mata petai, iris-iris
800 gr nasi putih
daun pisang untuk membungkus
lidi untuk menyemat.

Cara membuat :

  1. Cuci bersih ikan peda, keringkan dengan lap. Goreng hingga matang, angkat. Biarkan dinging. Setelah dingin suwir-suwir. Aduk dengan air jeruk nipis, sisihkan.
  2. Panaskan 2 sdm minyak goreng, tumis bawang merah, bawang putih, cabe merah dan cabe hijau hingga layu. masukkan lengkuas dan daun salam, aduk. Tambahkan daun melinjo dan petai, aduk hingga layu. Masukkan ikan peda suwir, aduk hingga seluruh bahan cukup matang, angkat.
  3. Campur nasi putih dan ikan peda tumis, aduk hingga rata. Bagi adonan menjadi 4 bagian.
  4. Siapkan daun pisang untuk membungkus. Bubuhkan 1 iris lengkuas dan 1 potong daun salam di setiap bungkus, taruh 1 bagian adonan nasi. Gulung hingga rapat, semat ujungnya dengan lidi.
  5. Panaskan pemanggang, taruh nasi bugkus di atasnya, bakar hingga aromanya keluar, angkat. Siap disantap.

PERTEMUAN DUA PRESIDEN PENYAIR

Tinggalkan komentar

SALYAPUTRA

PERTEMUAN Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi boleh jadi hal yang lumrah saja. Namun, mengingat peran dan mitos mereka selama ini sebagai tokoh perpuisian Indonesia, tak pelak perjumpaan dua sahabat lama ini mengandung sekian kemungkinan arti dan juga tafsir tersendiri: sebuah kilas balik sekaligus refleksi akan kehidupan susastra Indonesia di masa depan. 

Dalam tahapan sejarah sastra Indonesia, keduanya terbilang angkatan 1970-an, yang tumbuh senyampang kemelut dan tragedi sosial politik tahun 1965. Apabila Chairil Anwar dan rekan-rekan seniman segenerasinya, melalui ”Surat Gelanggang”, memaklumatkan sebagai ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia serta menegaskan diri sebagai ”binatang jalang” yang meradang dan menerjang (individualis), Sutardji-Umbu bersama sejawatnya malahan menggaungkan kehendak untuk ”kembali ke akar”. Ini sesungguhnya tidak semata pertarungan keyakinan antargenerasi, tetapi mencerminkan pula apa yang disebut oleh para ahli sejarah sebagai ”jiwa zaman”.

Pertemuan Sutardji dan Umbu di sela-sela perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2010 di Bali, bukanlah sesuatu yang direncanakan atau bagian dari agenda festival itu. Di hadapan para seniman Indonesia dari generasi yang lebih kini, mereka saling menunjukkan secara spontan kehangatan persahabatan, yang sudah lebih dari 40 tahun tak bersua. Yang seketika mengemuka adalah sisi-sisi pribadi, sentuhan manusiawi penuh keharuan. Mitos yang selama ini membayang-bayangi eksistensi mereka di dunia sastra, dan membuat keduanya tampak ”angker” dan berjarak dari keseharian, di mana masing-masing menyandang sebutan yang serupa, Sutardji ”Presiden Penyair Indonesia” dan Umbu ”Presiden Malioboro”, seketika cair. Umbu yang dikenal sebagai sosok yang serba ”konon”, misterius, sulit ditemui, dan jarang hadir di ruang publik, kali ini tampil ekspresif, terbuka, dan spontan. Sedangkan Sutardji, yang hingga belakangan ini terus terpublikasi sebagai sosok nyentrik, heboh, dan fenomenal, memperlihatkan bagian dirinya yang sehari-hari.

Mitos

Jadi jelaslah, di balik selubung mitos selama ini, kita mungkin saja luput merunut bahwa mereka sesungguhnya mengalami sekian tahapan pergulatan sebelum mengukuhkan eksistensinya sebagaimana yang terbaca di khalayak sekarang ini. Keduanya memang terbilang tokoh berpengaruh, dan kini sama-sama menjelang usia 70-tahun. Namun, latar sosial budaya serta cara masing-masing merespons pilihan hidupnya telah menempatkan keduanya sebagai pribadi dengan kecenderungan yang boleh dikata bertolak belakang.

Adapun Sutardji, mencermati tahapan kreatifnya, tumbuh sebagai penyair yang ekstrovert, di mana publik tersihir oleh tampilannya di atas panggung yang dramatik dan nyeleneh, berikut karyanya yang penuh kejutan serta menyimpang dari mainstream perpuisian. Sedangkan Umbu sebaliknya. Ia diingat orang sebagai sosok yang introvert, lebih mengemuka selaku motivator, menghindar dari publikasi, bahkan hingga kini belum memiliki antologi puisi tunggal. Apabila Sutardji layaknya seorang single figther yang menonjol secara individual, Umbu lebih memilih di luar ring, hidup bersahaja dalam semangat komunal. Keduanya boleh dikata berbeda latar. Sutardji dilahirkan 24 Juni 1943 di Rengat, Riau, bagian barat Indonesia, sedangkan Umbu dilahirkan di wilayah timur, tepatnya Sumba, mungkin sekitar 10 Agustus 1943.

Melalui pencapaian karyanya, sosok Sutardji hadir dan memengaruhi kehidupan perpuisian generasi berikutnya. Sementara Umbu meneguhkan figurnya sebagai motivator dan apresiator melalui komunitas-komunitas yang turut didirikannya, di Yogyakarta dan di Bali, di mana penyair-penyair binaannya mewarnai perjalanan susastra nasional, serta secara tidak langsung menciptakan mitos tersendiri perihal ”kebohemianan” hidupnya. Dedikasi dan seluruh tahapan perjalanan mereka bermuara pada satu hal yang sama, yakni menjadikan kepenyairan sebagai jalan hidup dan puisi sebagai pilihan ekspresi yang hakiki.

Dengan ciri pribadi yang bertolak-belakang itu, baik Sutardji maupun Umbu telah memberikan sumbangsih yang besar pada apa yang harus diraih di masa depan. Keduanya telah menunjukkan kepada kita bahwa puisi bukanlah sebuah dunia di mana pelakunya asyik masyuk dengan diri sendiri. Sutardji, tercermin pada tahapan dan periodisasi karya-karyanya, tidak hanya menciptakan puisi yang bernada personal, tetapi juga menegaskan kepedulian sosial, semisal sajak Tanah Air Mata. Sedangkan Umbu, meskipun kehidupan pribadinya terbilang tertutup dan penyendiri, tetapi melalui kegiatan-kegiatan apresiasi yang konsisten ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas telah turut menumbuhkan kegairahan bersastra di kalangan generasi muda.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa baik Sutardji maupun Umbu adalah produk dari suatu zaman yang tentunya berbeda dengan era sekarang ini. Apabila angkatan 1970 menyatakan kembali ke akar serta memiliki romantikanya tersendiri dengan kehidupan yang diwarnai kebohemianan, situasi kini dan juga masa depan tentulah memerlukan suatu bentuk ekspresi dan jalan kreatif yang lain. Apa mau dikata, 10 tahun belakangan ini, kemajuan teknologi audiovisual dan informasi telah memaksa kita untuk mempertanyakan ulang nilai-nilai baku dan mendasar yang sekian waktu telah diyakini sebagai kebenaran atau acuan. Dalam kenyataan yang paling banal, serbuan bahasa iklan serta tampilan visual di aneka media telah meminta para kreator di bidang seni apa pun untuk mengolah ragam bahasa estetiknya secara lebih kontekstual serta tak kehilangan kedalaman renungan serta kandungan nilai-nilai yang esensial.

Memang, semangat tiap zaman memerlukan respons kreatif yang berlainan. Namun, tentu saja, generasi penyair terkini dan mendatang dapat memetik pelajaran dari apa yang telah didedikasikan Umbu dan Sutardji pada kehidupan puisi. Guna menjawab percepatan perubahan yang terjadi serta banjir informasi yang serentak mengepung kita dari segala lini, seseorang sepatutnya mengolah diri dengan intens sebagaimana telah ditunjukkan seorang Sutardji. Dengan kata lain, seorang kreator era kini hendaknya adalah seorang yang memiliki disiplin pribadi yang tinggi.

Di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan sosial kini yang dipenuhi oleh seruan pluralisme dan multikultur, serta diwarnai suatu perubahan iklim yang bersifat global, meniscayakan pentingnya membangun komunitas-komunitas kreatif. Dalam naungan kesadaran seperti itulah, para kreator seni mencipta dan mempersembahkan karyanya untuk panggilan yang lebih jauh dari sekadar ekspresi tentang keindahan. Era komunitas ini, jelaslah menuntut setiap pribadi yang terlibat di dalamnya untuk memiliki suatu disiplin organisasi yang terjaga.

Dengan demikian, selaras dengan jiwa zaman kini, kehidupan susastra yang kreatif produktif memerlukan sosok-sosok kreator yang kuasa mempertautkan antara disiplin pribadi dan disiplin organisasi, antara kehidupan keseharian yang soliter dan kenyataan sosial yang menuntut sikap diri yang solider. Mungkin di masa mendatang yang kita perlukan adalah bagaimana mengolah mitos, bukan sekadar peneguh legitimasi, melainkan suatu capaian ekspresi yang mencerahkan dan membebaskan kita dari selubung sensasi, guna meraih yang esensi.

Salyaputra, penyair

Sumber: Kompas, Minggu, 24 Oktober 2010

 

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: