MENGUAK IDEOLOGI KEMANUSIAAN

BUKU

Judul buku : Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2009
Tebal : 232 halamanPADA dasarnya, generasi pertama teori kritis mengembangkan gagasan Lukacs sebagaimana terdapat dalam Geschichte und Klassenbewusstsen. Hal yang menarik perhatian mereka dalam buku ini adalah usaha Lukacs untuk mengaitkan konsep rasionalisasi menurut Max Weber dan konsep fetisisme komoditi menurut Marx.

Sebagai sintesis dari kedua konsep itu, Lukacs mengembangkan yang tampak sebagai hubungan antarbenda. Konsep reifikasi ini muncul dengan wajah baru dalam pemikiran Teori Kritis mengenai rasio intrumental, yaitu sebagai kritik atas masyarakat modern dan rasionalitasnya. Dari Karl Korsch, dapat dikatakan, mereka mendapat inspirasi tentang “teori dengan maksud praksis”, yaitu sebagai kritis atas ilmu-ilmu borjuis.

Hal ini akan tampak dalam kritis atas metodologi yang dilontarkan oleh Horkheimer dalam tulisannya tentang Teori Tradisional dan Teori Kritis. Dalam beberapa hal lainnya, generasi pertama Teori Kritis ini juga sejalan dengan Lukacs dan Korsch dalam minat mereka terhadap warisan idealisme Jerman. Dalam taraf tertentu, bahkan mereka dianggap penerus semangat Hegelianisme Sayap Kiri tahun 1840, yang Karl Marx pernah menjadi anggotanya.

Perbedaan yang cukup penting antara mazhab frankfurt dan marxisme kritis gelombang pertama adalah sikap independen mereka dan partai Marxis, baik dari kubu sosial Demokrat maupun Komunis. Secara praksis maupun teoretis, mereka tidak memperlakukan Marxisme sebagai norma, melainkan sebagai alat analitis. Ketika Grunberg menjabat direktur Institut Marx, terjadi hubungan yang akrab antara Institut Penelitian Sosial dan Institut Marx-Engels di Moskwa yang waktu itu dipimpin oleh David Ryazanov.

Meskipun hal ini menunjukkan kontak intensif antara Institut dan Marxisme ortodoks, program mereka tidak dapat dikaitkan dengan program Marxisme ortodoks. Kontak mereka semata-mata demi tujuan teoretis. Terhadap teori maupun praktik Marxisme ortodok itu, para pendiri Institut justru melontarkan kritik. Pernah juga Institut menerima orang anggota yang pernah terlibat dalam politik, Karl Wittfogel, tetapi permintaan ini pun dilakukan juga demi tujuan monopolitis mereka.

Grumberg memimpin Institut sejak tahun 1923, dan mulai tahun 1929 era kepemimpinan berakhir dan ia digantikan oleh Max Horkheimer. Seperti yang dilakukan pendahulunya, Horkheimer memegang prinsi bahwa direktur Institut memegang peranan sentral dalam seluruh kegiatan Institut. Dengan prinsip ini, ia menggariskan tiga tema besar yang mewarnai seluruh pemikiran mazhab frankfurt di kemudian hari, yaitu pertama menetapkan kembali, “persoalan besar dalam filsafat” melalui program penelitian interdisipliner, kedua, menolak pandangan Marxisme ortodoks, dan ketiga, merumuskan teori masyarakat yang memungkinkan perubahan ekonomi, budaya, dan kesadaran atau dengan kata lain, menyusun suatu teori dengan maksud praktis. Pada era Horkheimer (1929–1950) inilah pemikiran mazbab frankfurt dikenal dengan mana Teori Kritis melalui majalah yang didirikan oleh Horkheimer, Zeitschrifi fur Sozialforschung.

Jika para pendahulunya, Marxisme kritis gelombang pertama, sangat dekat dengan “Stalinisasi”, Generasi Pertama Teori Kritis tidak hanya berteori dalam konteks rezim totaliter Stalin, tetapi juga rezim otoriter Nazisme (Nasional Sozialismus) Hitler dan situasi Perang Dunia II yang mereka sebut sebagai “barbarisme baru”. Bagi mereka, otoriterisme Nazi dan fasisme pada umumnya, seperti juga Stalinisme, merupakan perkembangan modernitas sendiri.

Dalam konteks fasisme dan komunisme ini, Teori Kritis lahir dengan maksud membuka seluruh selubung ideologi dan irasionalisme yang telah melenyapkan kebebasan dan kejernihan berpikir manusia modern. Adorno dan rekan-rekan menyebut situasi penindasan total terhadap manusia di bawah rezim fasis ini sebagai herrschaft (dominasi total). Dalam pandangan mereka, tugas dari kritik atau teori kritis sebagai teori emansipatoris adalah menelanjangi herrschaft ini. Karena bagi mereka herrschaft dimungkinkan oleh ideologi, dan ideologi dapat meliputi segala bidang baik bidang praksis politis maupun bidang teoritis ilmiah, Teori Kritis tak lain dari kritik ideologi.

Melalui kritik ideologi, mereka mengharapkan munculnya manusia yang sadar akan penindasan sosial atas dirinya dan mau bergerak membebaskan diri. Dalam konteks ini pula mereka melahirkan konsep kritik: kritik atas metodologi dan kritik atas pencerahan budi. n

Matroni el-Moezany, penyair

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 Desember 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s