Bapak Kapolri Jangan Hanya Membaca Buku Karangan Orientalis

new-pictureAgar memiliki keseimbangan dalam memahami sesuatu tentang Islam maka diminta kepada  Kapolri untuk tidak hanya membaca buku buku karangan sarjana orientalis  yang bertkembang dari Barat, sarjana orientalis adalah sarjana non muslim yang sangat giat meneliti tentang Islam, tetapin sayangnya  hasil penelitian mereka ditulis sesuai dengan kepentingan  dari lembaga yang membiayai mereka, sehingga sulit sekali mereka akan menulis dengan objektif, bahkan sebaliuknya data yang mereka  dapatkan dalam penelitian diputar balik dengan kata kata sehingga bisa membuat pembaca salah memahami.

Dikalangan para peneliti dan penulis orientalis, mereka berkesimpiulan bahwa Islam dan kalimah Laailaaha Illaallaah dibangun diujung pedang,  hampir serentak para penulis orientalis berbicara seperti itu, kecuali hanya beberapa sebagian kecil saja yang berani bicara lain, dan tentu saja mereka tak populer. Bila kita  membaca buku buku yang ditulis orang Islam sendiri, sejak kitab kitab lama dahulu.

Dalam banyak kisah peperangan yang terpaksa dilakukan oleh ummat Islam Rasulullah dan sahabat sahabatnya mempertunjukkan akhlakul karimah  yang luar biasa, banyak musuh musuh Islam justeru beralih masuk ke Islam pada saat itu  adalah karena  tertarik akan kemuliaan akhlak  muslim. Dan utuk diketahui hal semacam inidipastikan luput dari  catatan para sarjan dan peneliti orientalis, yang mmemang dimaksudkan untuk menyesatkan orang Islam. Jika kita hanya membaca buku buku para orientalis tersebut di atas, maka dipastikan kita pasti akan tersesat.

Oleh karenanya maka diharapkan Bapak Tito Carnavian sebagai Kapolri bila ingin mengungkap bagaimana sejarah perkembangan Islam diberbagai negara, termasuk di Indonesia, maka jangan hanya membaca buku yang disusun dan diedarkan oleh Sarjana Orientalis saja. Pasti sesat dan bisa menyesatkan pula.

Islam = NU + Muhammadiyah ?

new-pictureDengan semangat yang menggebu gebu Kapolri mengatakan keinginannya untuk kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah untuk melaksanakan  berbagai program,  dan Kapolri juga menghimbau agar NU dan Muhammadiyah melakukan berbagai langkah penguatan terhadap keduanya sehingga mampu memperkecil berbagai perbedaan antara keduanya, sehingga kerjasama ini mampu dilaksanakan semaksimal mungkin, nampaknya Pemerintah akan memfasilitasi berbagai upaya untuk memperkuat NKRI. Kelompok yang dirancang Kapolri ini akan terdiri dari TNI, POLRI, NU, Muhammadiyah dan Kelompok Nasionalis. Yang manakala ini berhasil maka diyakini bahwa NKRI akan semakin kokoh.

Sekilas  gagasan ini nampak simpatik dan bahkan menbanggakan,  seolah tergambar diufuk mata kejayaan Indonesia. Tetapi manakala kita renung secara lebih mendalam, ditambah lagi dengan sikap Kapolri yang seperti belah bambu, mengangkat yang satu dan menginjak yang lain dalam waktu bersamaan, justeru akan mengundang perpecahan pada internal ummat Islam sendiri.

Memang dua organisasi terkemuka  Islam di Indonesia NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi besar, namun kenyataannya tidak semua Muslim Indonesia memasuki salah satu dari dua organisasio tersebut di atas. Bila bukan NU maka Muhammadiyah, tidak. Silakan hitung dalam buku besar keanggotaan NU dan Muhammadiyah maka kemungkinan ditemukan bahwa justeru sebagian besar ummat Islam Indonesia sekarang jangan jangan ada di luar keduanya. Karena sangat banyak ummat Islam yang sejatinya tak sempat tersentuh oeh NU dan Muhammadiyah.

Para intelektual Muslim selain melakukan study keislaman di dslam negeri juga tidak   kalah banyaknya yang melakukan study Islam di luar, mereka umumnya bila bukan ke Timur Tengah dan Afrika mereka  ada juga yang ke Barat, Eropa dan Amerika. Antara keduanya memiliki styl yang berbeda selain bebetrapa persamaan  diantara keduanya. Masing masing dengan kelebihannya dan kelemahannya. Sebagian besar diantara mereka  merasa tak cukup terakomodir inspirasinya baik di NU maupun Muhammadiyah. Lalu apakah mereka tidak dianggap Islam, atau dianggap Islam lapisan kesekianm, menjadi kelompok yang harus diwaspadai.

Yang dibutuhkan sekarang bagi ummat Islam adalah bagaimana agar para ulama ini bersatu sehingga ummatpun bersatu pula,  hindarilah gontok gontokan antara sesama ulama. Insya Allah ummat Islam di Indonesisa sangat menghormati ulama. Untuk kita ketahui juga bahwa jumlah ulama sekarang relatif banyak, selain ada yang lulusan dalam negeri, maka tidak kalah banyaknya mereka yang meryupakan lulusan  luar negeri, mereka yang lulusan luar negeri itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Para ulama muda sebagian besar tidak masuk ke NU dan tidak juga ke Muhammadiyah, walaupun faham secara kemazhaban mereka sejalan dengan NU dan sejalan dengan Muhammadiyah, tetapi mereka merasa ada hal hal yang mereka  pentingkan nampaknya kurang terakomodir di NU maupun Muhammadiyah, sehingga mereka mencari komunitasnya sendiri walaupun dalam jumlah yang jauh di bawah NU dan Muhammadiyah. Tetapi bila kita kumpulkan komunitas komunitas di luar NU dan Muhammadiyah ini maka jumlahnya tidak kalah banyak dengan NU dan Muhammadiyah, mereka adalah jama’ah pengajian, jama’ah diskusi, jama’ah study dan banyak lagi  nama nama lain. yang juga diikuti oleh mereka mereka yang ingin mendalami Islam, dan kenyataannya mereka nyaman, dengan indikator kecintaan mereka  kepada masjid dalam artian beribadah.

Mereka semua adalah bagian dari ummat Islam Indonesia yang harus kita persatukan, upaya mempersatukan ini  harus dilakukan oleh para pihak, dan Pemerintah diharapkan juga untuk memfasilitasi penyatuan ummat agar berdayaguna dan berhasilgua. Tetapi sebaliknya manakala kita mencoba coba untuk menidakkan mereka yang berada di luar NU  dan Muhammadiyah, maka kekisruhan dipastikan akan tersulut. Silakan saja Kepolisian akan melakukan kerjasama, itu sangat baik, silakan saja Kepolisian akan memberdayakan NU dan Muhammadiyah itu sangat mulia, tetapi bukan berarti dalam waktu bersamaan janganlah menidakkan kelompok di luar itu. Mereka senagai ummat Islam  yang bersaudara dengan kita semua.

Allah memperingatkan janganlah kamu menjadi kelompok kelompok dan masing masing kelompok menganggap kelompoknya yang paling bagus dan paling benar, karena sikap seperti itu adalah sangat dibenci oleh Allah (al-ayah) Mari kita renungkan secara lebih mendalam karena ummat Islam Indinesia sekarang sedang membutuh persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan NKRI, Pancalisa dan UUD 1945.

Ulama Harus Profesional, Agar Tak Dipolisikan.

Belajarlah Dari Kasus Habib Rizieq Shihab dan KH. Bahtiar Nasir.
new-pictureMendatang Ulama itu tidak cukup paham ilmu agama dan kepenganutan secara kaffah (total) dengan kegiatan pokok  pendidikan, dakwah dan peribadatan. Beberapa ulama yang memiliki daya panggil luar biasa dan ada sejumlah nama bisa dijadikan contoh, memiliki gedung atau masjid besar, bukan hanya dapat menampung ratusan hingga  ribuan jama’ah tetapi juga memiliki  lapangan parkir yang luas, manakala jama’ah sudah sudah banyak, kelak ada saja jamaah yang mengusulkan agar sang ulam membuka rekening agar mereka dapat mengirimkan infaq, sodaqoh dalam bentuk uang, dan bukan tidak mungkin jama’ah ada juga yang yang mewaqofkan kekayaannya berupa tanah atau lain sebagainya. Berhati hati kegiatan itu tidak semua orang menyukainya, karena ternyata ada juga yang mencari cari celah untuk mempolisikan ulama.Ulama yang berpengaruh ditarget untuk dikriminalisasi.

Ini kenyataan, Setidaknya ulama pada orde baru dan orde lama harus berbenturan dengan penguasa, dan kini pada Orde Jokowi (bila boleh disebut Orde) juga ualama harus berbenturan dengan pihak penguasa, setidaknya tampak pada fenomena pemanggilan Habib Rizieq Shihab dan KH. Bahtiar Nasir yang memang tak segan segan mengeritik Penguasa itu kini harus berhadapan dengan penguasa, beliau berdua dipanggil polisi dengan berbagai aduan masyarakat, dan polisi akan memprosesnya, Habib Rizieq telah berstatus tersangka sementara KH Bahtiar Nasir masih dalam proses pendalaman.Sedang  KH Ma’ruf Amin sempat diancam akan dipolisikan, yang kemudian diralat si pengancam.

Hanya dua ulama yang dijadikan sandaran dalam tulisan ini. Kedua ulama ini melihat dan menilai bahwa penguasa saat ini dalam beberapa hal mereka anggap tidak melaksanakan dan menagakkan peraturan. Mereka tidak merasa cukup dilawan dengan hanya kata kata atau dalam hati saja, tetapi beliau berdua juga melakukan sesuatuatas hal hal yang beliau anggat munkar itu. Memang sebagian besar uala kita masih belum tertarik untuk mengambil peran, mungkin atas berbagai pertimbangan, tetapi bukan berarti tidak ada celah untuk dibunuh karakternya, dan bahkan bila perlu dipolisikan, untuk itu ulamamemang harus profesional.

Hanya sedikit yang kita bicarakan yaitu mengambil pelajaran dari kedua tokoh ulama tersebut di atas. Kasus yang muncul adalah (1) Penghinaan lambang negara, (2)_Protes gambar lambang PKI pada uang baru, (3) Penyerobotan tanah di Bogor, (4) Pornografi, (5) Penistaan Agama dan mungkin akan banyak lagi, sedangkan KH Bahtiar Nasir dugaan keterlibatan dalam pencucian uang. Belum semuanya dipolisikan, tetapi tidak  tertutup kemungkinan iujung ujungnya akan sampai juga gilirannya ke meja hijau, manakala politik dan Presiden Jokowi dan Kepolisian tidak berubah atau bahkan justeru bertambah.

Maka bersiap siaplah para ulama akan menemui gilirannya, karena hal tersebut tidak terlepas dari perholakan politik setidaknya dalam waktu dekat adalah perebutan kekuasaan Pilkada dan Pilpres tahun 2019. Mungkin di tahun 2019 ummat Islam masih diposisi sebagai pecundang, tetapi setidaknya kita tidak boleh mewariskan sekian banyak beban untuk periode periode selanjutnya, karena momen politik akan selalu muncul setiap lima tahun sekali, yang selama ini ulama mengambil posisi secara pasif. Dan akibat ulama yang pasif ummatpun kehilangan pegangan, dan mereka kini berpegang kepada hal hal yang tidak islami. Jangan heran bila dalam berpolitik mereka tak berimam kepada ulama, karena memang ulama tidak memberikan wejangan,atauy memberikan wejangan tetapi justeru keliru.

Kembali ke pokok persoalan, bahwa belajar dari kasus kedua ulama tersebut di atas maka ulama agar lebih profesolan dalam beraktivitas. antara lain mendikumentasikan segala aktivitasnya secara baik, manakala menerima bantuan baik infaq, sedaqo, hibah, dan atau semacamnya dilengkapi dengan dokumen administrasi, manakala uang atau kekayaan tersebut  ada dalam jumlah banyak maka bila belum dibentuk lembaga, maka bentuklah lembaga pengelolanya, dan manakala sudah lebih banyak lagi  maka gunakan jasa yang dibnarkan oleh aturan dan perundang undangannya. yang berlaku.

Selain itu ulama juga harus memiliki tim yang mendampingi serta memberikan evaluasi atas segala aktivitas peribadatan, pendidikan dan peribadatan dan dakwah yang dilancarkan, akan lebih baik manakala tim ini memiliki kemampuan untuk mengkajinya dari berbagai sisi.

Dengan sikap profesionalisme ulama, maka mungkin pada tahun 2019 masih belum memiliki pengaruh yang signifikan, tetapi manakala profesionalisme ualama ini mungkin akan mulai nampak pengaruhnya nanti pasca 2019 yang akan adatang.

Rapatkan Barisan, PKI Dihadapan Kita

new-picturePewaris PKI sejatinya telah mempersiapkan sejumlah nama dalam jumlah jutaan orang dewasa sebagai nama nama korban Orde Baru yang GP Anshor dan Pemuda Muhammadiyah ada di belakangnya. Untuk apa nama nama itu, gunanya adalah sebagai calon penerima  dana  kompensasi setelah rencananya Presiden Jokowi meminta maaf kepada anak keturunan  PKI dan memberikan sejumlah uang sebagai kompensasinya. Yang bila dihitung  jumlah pewaris dan uang itu akan cukjup mendirikan partai, serentak melantik Pengurus Wilayah dan Cabang di seluruh Indonesia, lengkap mendirikan sekretariat serta baju seragam Pengurus dan Kader dan perlengkapan kantor sehingga partai ini menjadi partai yang mewah, dan pengeluaran itu belum seberapa dibanding pengeluarannya, yang berarti keuangan Partai untuk ikut Pemilu dan Pilpres sangat di mungkinkan.

Walaupun Presiden Jokowi tidak jadi minta maaf dan juga tidak jadi membayar uang konvensasi, tetapi karena anggota sudah terdaftar rapih, maka para kader itu konon sudah lama dipersiapkan. Ummat Islam dan TNI angkatan Darat yang bahu membhu dalam membrantas PKI thn 1965 dan beberpa tahun sesudahnya..Sayamenjadi yakin kebenaran jumlah mereka kini jauh lebih banyak dibanding jumlah anggota mereka pada tahun 1965, karena mereka sekarang adalah dalam status anak dan cucu bahkan cicit para anggota PKI tahun 1065 itu, sehingga manakala mereka mendirikan partai dan ikut dalam Pemilu Legislatif, maka kemungkinan jumlah mereka ada di barisan atas.

Syukur Presiden tidak jadi minta maaf yang berarti juga tidak jadi pula mereka menerima dana kompensasi itu, tetapi bukan PKI namanya bila mereka kehilangan akal untuk merebut kekuasaan di Indonesia ini. Sekalipun hanya beberapa gelintir saja yang sudah menunjukkan batang hidungnya di dunia perpolitikan, tetapi pengaruh mereka sangat luar biasa, untuk menghindari menatakan mereka dominan. Dengan strategi lama mereka kenyataannya mereka mampu membuat kita kisruh.

Manakala kita tidak bersabar sabar hati  maka kitapun telah lama saling curiga mencurigai,  salinmg caci mencaci dan  serta saling membenci sesama ummat Islam. Sempat para pimpinan kita demikian mudahnya memberikan komentar kritikan  yang tidak perlu antar sesama muslim, demikian  gemarnya mereka yang membenci Islam mengipas dan memanasi umat Islam untuk saling membenci.

Tidak tanggung tanggung kini mereka telah secara terang terangan mengajak ummat Islam untuk membenci para ulamanya….. kegiatan semacam ini adalah merupakan kebiasaan kelompok komunis PKI dahulu sebelum meletus penghiatan PKI tahun  1965; berbagai fitnah keji mereka hunjamkan kepada para ulama kita maksudnya tak lain agar para ulama kehilangan wibawa di mata ummatnya. Waspadalah … PKI sudah ada di depan mata kita.

 

Ibu Mega Sebaiknya Segera Dinasehati

BeautyPlus_20170210054827_save.jpgTulisan ini bukan masalah politik tetapi masalah agama, sehingga bila dibahas secara politis akan sulit menelusuri kebenarannya. Setidaknya seorang teman saya yang masih muda dan masih terbilang awam dalam hal agama yang dianutnya, yang terformulasi dalam bentuk pertanyaan ringan kepada saya, dia bilang begini ” Pak …. saya baru tahu kalo Ibu megawati itu bukan Islam”  Pertanyaan itu  sangat mengejutkan saya, karena saya yakin bahwa perkiraan semacam itu tentu juga terpikirkan oleh puluhan juta orang, artinya ada puluhan juta orang yang mengira  “Megawati itu bukan Penganut Agama Islam”.

Padahal bagi kita yang sudah lama mengenal  Megawati, maka sepengetahuan kita adalah adalah sama bahwa beliau penganut Islam, tetapi nampaknya beliau alpa mendalami ajaran agamanya, tidak seperti mendiang Presiden Soekarno, yang memiliki pemahaman agama di atas rata rata. Tetapi Megawati nampak sangat awam, dan jangan sampai keawaman beliau terhadap agama dapat dimanfaat untuk kepentingan sesaat, seperti apa yang disampaikannya dalam pidato yang kontroversi itu.

Bila ini kita bicarakan secara politis, maka ini akan menjadi debat kusir yang tak berujung dan juga tak selesai. Tetapi mengingat usia Ibu Mega sudah sangat sepuh, dan mungkin tak lama lagi akan meninggalkan kita semua, maka sebaiknya Megawati dinasehati tentang pemahaman agama yang  dianutnya, sehingga beliau berkesempatan  untuk bertaubat.

Mengapa demikian, karena pidato belaiu baru baru ini mengesankan seolah beliau tidak  percaya akan adanya Hari Akhir, atau kehidupan di akherat setelah kematian di dunia. Karena masalah ini terkait dengan rukun iman yang harus diyakini beliau secara utuh, dan akan gugur keimanannya  bila beliau percaya kepada unsur yang satu dan meragukan  apalagi tidak percaya kepada unsur yang lain  sebagai rukun iman.

Kita berharap agar kader PDIP membantu  menghadirkan penasehat yang bisa menasehati Megawati  untuk kesempurnaan imannya sebelum  beliau menutup mata. Dihari tua beliau sebaiknya beliau tidak direcoki masalah politik yang dapat menjerumuskan keimanannya. Semula saya berfikir KH. Hasyim Muzadi karena beliau memiliki kedekatan tersendiri dengan Megawati. Tetapi mungkin usia yang uzur akan sulit menghadirkan Ulama Kesohor itu.

Bila benar anda mencintai Megawati maka saya akan sarankan agar para kader mencarikan tokoh yang cukup berwibawa untuk menasehati  Megawati perihal agama, bukan perihal politik. Silakan saja berpolitik se politik politiknya,  tetapi janganlah politik yang sesungguhnya hanya permainan dunia itu justeru merusak akidah  Ketua yang sangat dicintai oleh para kadernya itu. Saya berharap bantulah beliau menuju jalan yang lurus. Semoga hidayah beliau dapatkan sebelum beliau menghadap Allah Swt. Amin.

Ibu Kita Mega, Ibu Mega Kita, Kita Mega Ibu, Tetap Kharismatik.

Ibu Mega itu adalah pemimpin yang kharismatik tak dapat dipungkiri kharisma itu adalah karena beliau keturunan dari Presiden Pertam RI Soekarno.Tidak semua anak Soekarno memiliki Kharisdma yang sama, maka kharisma Megawati adalah yang paling dahsyat. Terbukti beliau dicintai oleh warga PDIP, hampir dapat dipastikan PDIP itu akan memutuskan apa kedepan hanya Megawati dan Tuhan saja yang tahu. Para kader sendiri yang bicara seperti itu. Nampaknya kharisma yang dimiliki Megawati  akan terbawa Mati, tetapi besar kemungkinan juga pada saatnya Kharisma Ibu Mega itu akan menuruk ke Putrinya Puan Maharani. Itulah  Ibu Kita Mega, Ibu Mega Kita, Kita Mega Ibu. dalam segala posisi Ibu Mega Berkharisma.

Banyak yang keliru, mengita Kharisma Ibu Mega sudah luntur, ternyata tidak, baru baru ini  muncul foto seorang caleg yang membasuh kaki Ibu Megawati lalu meminum sisa air cucian itu langsung dari wadah pencuciannya, yang mungkin dimaksudkan adalah mengambil berkah dari Ibu Megawati.

Politik “Maling Teriak Maling”

Lama tak mengudara , akhirnya ILC muncul kembali, menghilang selama sekitar dua bulan, konon kabarnya dicekal penguasa.  Kni muncul dengan judul yang sangat menarik yaitu “Hoak”, hebatnya lagi  acara ini berhasil mengumpulkan TS ketiga pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI dalam Pilkada Februari tahun ini.

Setelah mendapatkan kesempatan, maka meluncurlah kata kata seperti yang sulit terbendung menyatakan bahwa pasangan yuang mereka dukung telah menjadi korban kekejian berita hoak sehingga elektabilitas yang mereka raih secara sempurna sempat terjun bebas, katanya menghiba untuk merebut simpati. Demikian kira kira kekejian dari aktivitas yang namanya Hoak. Tetapi konon kabarnya mereka kembali bersyukur karena mampu merangkan kembali untuk mempecundangi lawan lawan politik mereka. Setelah kembali menguasai medsos.

Inilah politik, ‘Maling berteriak Maling’  dengan menyusun kalimat yang demikian nyaris sempurna sehingga simpatipun berdatangan akibat pencitraan dengan lihai telunjukpun diarahkan ke semua pesaing  yang lain. Lalu disebut oleh para pesaing   ‘Hanya telunjuk saja yang menuding orang lain’ sementata jari tengah, jari manis dan bahkan kelingking serta ibu jari sepakat menunjuk diri sendiri, demikain penialaian yang lain. Merekapun berkisah tentang adanya hoak yang keterlaluan.

Untung ada narasumber yang lain, yang netral dan berani mengatakan bahwa pemagang kekuasaan adalah pelaku hoak yang paling banyak. Penguasa pegang data, dana dan kekuasaan sehingga mereka bebas bicara apa saja dengan data dan dan serta kekuasaan itu, justeru merekalah yang menyebarkan cerita bohong, hoak.  Sungguh enak ditonton, geli, itulah politik, siapa yang kerjaannya maling, maka dia yang paling nyaring berteriak maling.  Para politisi itu tentu saja menganggap kita sebagai rakyat adalah bodoh semua. nanti rakyat mencatat dan kita semua mencatat  adanya kebohongan politik yang mereka lancarkan.

tetapi hendaklah ini sementara kita terima, dengan segala keyakinan pada saatnya akan menjadi lebih baik. Kita menyeru kepada mereka yang masih muda, belajarlah dari pengalaman yang sangat berharga ini bagaimana cara berpolitik yang elegan. Itu harapan kita semua. Politik yang sekarang ini adalah adu tebal persiapan dana, bagi dana yang mencukupoi dan mampu membayar segala ongkos politik yang demikian mahal itu, dipastikan Ia akan keluar sebagai pemenang. Sialnya nanti kita juga yang mengembalikan modal mereka, bahkan mereka akan cari untung berlipat ganda dari uang dan hak kita lainnya.