Cak Nun: Indonesia Sekarang Membutuhkan Pemimpin Yang Mencintai dan Dicintai Allah.

new-pictureLangit klap klap, bumi gunjang ganjing, hong wilahing, hing wilahong, sing atos jenengi watu, sing lembek jenenge susu. Bismillah kual kual, wat sai ti kanik, wat sai tujual. Maaf ini bukan sulukan. Sedikit cerita. Cak Nun yang merekarekanya. Konon di Nusantara Indonesia Ceri Cak Nun bahwa telah tersebar wabah yang menyengsarakan tetapi tidak mematikan,  kesengsaraan itu  antara lain ibarat jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta lantaran tak diketemukan  bus  yang dapat ditumpangi dari Ciamis ke Jakarta, berarti itu lebih sengsara dari pada masa kumpeni. Celakanya dari Presiden hingga tukang minta minta menganggap normal tak kurang apa. Padahal sungguh tak waras adanya. Ketidak normalan ini  kata siempunya cerita karena negeri ini dipimpin oleh si Petruk palsu. ternyata dia adalah Betarakala.

Memang ada penduduk bumi yang menyadari ketidak normalan ini, mereka memastuikan untuk segera memasuki pertapaan, maka dipersiapkan dua bongkol kemenyan sebesar tinju sebagai pengharum dupa, maksudnya agar kayangan mengirim utusan untuk memberikan petunjuk. Ruapanya Kayangan arif sebelumnya disimpulkan bahwa harus ada yang dijadikan tumbal, yaitu Indonesia harus dipimpin oleh tokoh yang benar benar paham situasi dan tidak poya poya, tumbal yang dipilih adalah Petruk.

Nampaknya kebijakan kayangan bocor dan diketahui oleh Batarakala, Batarakala menytaru menjadi Petruk, Petruk sejatinya dikenal sebagai tokoh Punakawan yang merakyat dan rendah hati. Ketika utusan kayangan tiba di Istana Ia sangat terkejut ternyata Petruk sudah duduk di Istana dan memimpin di sana. Lalu Ia bertanya kepada Petruk prihal  keberadaannya di Istana, lalu Petruk bercerita bahwa kehadirannya di Istana memang sudah dirancang sejak lama, sebelum ke Istana Petruk sempat ke Kabupaten/ Kotamadya,  lalu ke Provinsi lalu ke Istana. Sang utusan menyampaikan kepada para aparat bahwa pengangkatan Petruk jadi Ratu adalah sudah benar sesuai dengan petunjuk kayangan, dan utusan kembali terbang ke kayangan.

Tetapi setelah ditunggu dari hari ke hari, mingu ke minggu, bulan ke bulandan tahun ke tahun, suasana tak juga membaik, dan kahyanganpun menjadi heboh. Padahal Petruk adalah orang paling tepat  untuk menyelesaikan banyak urusan. Tetapi kenyataannya Petruk kali ini selain jarang mengeluarkan regulasi, justeru sering menabrak regulasi yang ada, dan lebih celakanya lagi Petruk lebih memihak kepada korporasi ketimbang kepada kesejahteraan rakyat.

Tiba tiba kahyangan menemukan Petruk yang asli, usut punya usut nama bai Petruk disaru oleh Batarakala. Pantas saja tingkah para rejim kali ini jauh dari rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya, bahkan mereka melindungi penista agama.

Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya, klik saja youtube tersebut di atas, kurang jelas …. tanya sama Cak Nun … langsung tampa Perantara. Karena cerita Cak Nun ini sudah keluar dari pakem dunia perwayangan. Tetapi yang jelas  Tetapi cerita ini sangat baik diambil hikmahnya. Mari kita sama sama evaluasi diri untuk kejayaan Bangsa kita yang sama sama kita cintai ini.

Kasihanilah Penista Awam

Mereka Tak Menyadari Telah Melakukan Perlawanan Terhadap Tuhan.

new-pictureSeorang Ulama Kenamaan Buya Yahya menghimbau agar ummat Islam Jakarta mengasihani pendukung penista agama yang tergolong awam dan tidak menyadari betapa dia telah melakukan perlawanan terhadap aturan Tuhan sekedar hanya untuk memilih seorang Gubernur, ditinaju dari kejinya dukungan terhadap penista agama itu sewajarnya bila mayatnya tak perlu disholatkan, tetapi mengingat sebagian dari mereka adalah terdiri dari orang awam urusan aqidah Islamiyah, dan sedang tergoda dengan iming iming sedikit kesenangan duniawi, dan lebih parahnya lagi munculnya segelintar ulama yang mendukung penista agama untuk dipilih sebagai pimpinan daerah, sungguh sikap yang sangat mencengangkan karena sikap mereka sangat bertentangan dengan kitab kitab yang selama ini menjadi pegangan kita utamanya Al-Quran dan Hadits. Mereka itulah yang  sesungguhnya tak perlu sholatkan jenazahnya.Sedang mereka arang awam yang hanya Pak Turut saja selayaknya justeru harus dikasihani dan diselamatkan.

Perkara aparat melarang dan bahkan sudar ratusan spanduk dirturunkan karena dianggap telah melanggar aturan dan perundang undangan, itu lain masalah, barangkali pengurus masjid harus bersabar dahulu hingga Pilkada usai, dan walaupun perlawanan kepada Tuhanpun terjadi secara massal, tetapi adalah merupakan tanggung jawab pengurus masjid yang ada untuk memberikan tuntunan kepada ummat disekitarnya, untuk menyadarkan betapa ummat telah melakukan pelanggaran yang  sangat berani itu, lakukan itu  semua seusai Pilkada sehingga tidak ada alasan aparat untuk menuduh sebagai kampanye hitam.

Semoga saja manakala kita lakukan stelah usainya Pilkada dan apalagi si Penista ternyata berhasil memenangkan Pilkada, kita berharap stempel kampanye hitam itu tidak dikenakan kepada usaha usaha untuk menyekamatkan akidah ummat Islam yang tidak menyadari telah melakukan perlawanan kepada Allah untuk diupayakan penyelamatanm akidahnya.

Mungki

Sikap Politik VS Sikap Keagamaan

new-picturePaling plong di hati manakala kita memiliki sikap politik yang sejalan dengan sikap keagamaan, tidak ada benturan dan keharusan memilih  dan meninggalkan salah satunya. Maka sebaliknya kita akan terasa sesak manakala terjadi ketidak sejalanan antara sikap politik dan sikap keagamaan, lalu kita mencari cari dalih lalu sikap kita disesatkan oleh dalih yang kita reka reka itu, biasanya bila sudah demikian maka kita akan lupa mohon ampun kepada Yang Maha Tahu, karena mengira dalil rekaan tadi benar adanya.

Wasiat Rasul kepada ummatnya adalah : “Aku tinggalkan kepadamu Al-Quran dan Hadits, Kalian akan selamat dunia Akherat manakala berpegang kepada keduanya”  demikian kira kira bunyi wasiat itu. Maka sesungguhnya sangat simpel ketika kita harus memilih, karena jelas tuntunannya. Tetapi tidak jarang kita lebih memihak ke sikap politik dibanding sikap keagamaan, walaupun kita harus mencari cari dalih untuk membenarkan sikap kita itu. Secara tak sadar kita telah melakukan perlawanan kepada Tuhan Allah.

Itulah yang sedang dialami oleh Suadara Saudara kita di DKI Jakarta terkait harus memilih dalam Pilkada Gubernur yang akan datang. Manakala mereka keliru bersikap dan memilih maka pertanggungjawaban itu akan benar benar kita pertanggungjawabkan diakherat kelak. Itulah sebabnya dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebagian besar dari kita justeru menghiba hiba meminta kepada Allah untuk diberikan kesempatan hidup kembali di dunia, walaupun hanya sehari, sekedar  untuk merubah sikapnya yang keliru itu.Akibatnya dia telah melakukan kesalahan besar dalam menapaki jalan hisupnya.

Mungkin dalam hiruk pikuk Pilkada dan berbagai iming iming menggiurkan kita sehingga kita berkesimpulan meninggalkan al-Quran dan hadits, maka yang harus kita lakukan setiap saat adalah meminta ampun kepada Allah. Jangankan kita yang sangat mudah dirayu dengan kenikmatan duniawi, sehingga kita tak segan segan menentang ketetapan Allah yang dituabngkan dalam Kitab Al-Quran, Rasulpun selalu istighfart daslam setiap saat dan kesempatan. Apatah lagi kita ini, maka barangkali akan lebih aman manakala ketika kita sedang tersesat, atau ada ulama yang menilai kita telah sesat. Harus secara jujur sejujurnya, apakah kita bersikap itu adalah berdasarkan akidah atau politik semata.

Manakala kita sadari bahwa kita telah melakukan perlawanan terhadap ajaran Islam, demi kepentingan politik maka pada saat itu kita akan tergolong munafik, berat akaibat dari kemunafikan itu,  jangankan  sempat menyesatkan yang lain, manakala kita telah menyesatkan orang lain maka kitapun akan menanggung manakala oprang yang kita sesatkan itu belum berhasilkita tarik kembali ke jalan yang benar.

Maka ketika kita memilih jalan yang lebih memilih kepentingan politik dan hawa nafsu, maka segeralah tingkatkan zikir kepada Allah dan banyak banyak beristighfar. Tenangkan hati dan pikiran mintalah petunjuk dari Allah agar tidak keliru dalam bersikap, dan yang lebih penting lagi janganlah kekeliruan kita itu harus menjadi beban kita diakherat kelak. Caranya adalah mohon ampun dan taubat.

Tetapi bukankah ada yang lebih aman lagi, yaitu  tetap di jalan Allah, yang jelas tuntunannya. Mengapa harus menempuh yang tidak jelas apalagi hanya didasarkan dalih yang dicari cari, padahal sesungguhnya kita hanya mengincar kesenangan sesaat, hanya sesaat sementara kita harus pertanggungjawabkan kelak di yaumil mahsyar Maka selagi belum terlambat maka secara diam diam evaluasilah sikap kita sendiri apakah sikap politik kita tidak bertentangan dengan sikap keagamaan yang diajarkan dalam al-Quran dan Hadits.

Chalid Basalamah Harus Belajar Lebih Banyak.

new-pictureSaya bukan apa apa dalam bidang ilmu keagamaan Islam khususnya,  tetapi saya adalah ummat yang sangat awam, maka yang kami minta tentu saja hanya sedikikit,  jangan kami dibingungkan dan menjadi antipati terhadap panggung dakwah akibat kurang bijaknya para mereka yang terbilang ulama. Ummat pada saat ini sedang kehilangan pemimpin setelah gagalnya Organisasi Massa (Ormas) Islam dan apalagi Partai Politik Islam. Kegagalan ini sangat dirasakan ketika ada kebebasan yang sangat kuat terjadinya kerjasama yang kurang  terpuji antara Birokrasi dan para Korporasi, sehingga Pemerintah sangat kentara lebih mementingkan Pemodal dibanding kesejahteraan ummat.

Pada saat ini mungkin Ormas Islam semisal NU danm Muhammadiyah serta Parpol yang berbasiskan Ummat Islam sedang mencari cara bagaimana menciptakan keberpihakan Pemerintah dan penguasa atau Birokrasi lebih berpihak kepada ummat ketimbang bermain curang bersama para Korporasi, para pemilik modal, karena intinya yang dicurangi itu adalah rakyat semesta.

Manakala Orm,as Islam dan Parpol Islam tetap saja memiliki sikap serupa dengan yang lalu, dan bahkan dilakukan pula oleh orang yang sama, maka sejatinya ummat tak boleh terlalu berharapbanyak kepada Ormas dan Parpol itu. Takkan ada pencerahan bagi ummat. Kini harapan akan tergantung kepada para ulama, yang memang sebagian tak termasuk kepada Ormas dan Parpol yang mapan. Ummat sedang melirik mereka dengan pengajian pengajian yang mereka laksanakan sendiri, yang setiap kali pengajian ada yang bisa dihadiri oleeh ummat sehingga jumlahnya bisa relatif melebihi massa yang dikumpulkan Ormas dan Parpol dalam acara resmi mereka.

Harapan ummat kepada ulama adalah sangat besarnya, tetapi di lain pihak para ulama juga harus bijak dalam menyampaikan tausiahnya, bersikaplah adil dalam menyampaikan sebuah informasi keagamaan, terutama dalam masalah yang rawan perbedaan.Sampaikanlah informasi itu secara berimbang. Alahamdulillah ada pengalaman sedikit dahulu ketika berkesempatan menghadiri ceramah yang diisi oleh alm Dr. Nurcholis Majid, ketuika beliau harus menjelaskan masalah yang menjadi khilafiah, kedua pendapat dijelaskan secara bergantian dengan informasi yang berimbang, baik  konten dan durasinya, lalu terakhir beliau mengatakan bahwa keduanya ditinjau dari kaidah penetapan hukum dan akidah memiliki kekuatan yang sama, tetapi memiliki kecenderungan berkembang di lingkungan tradisi ummat yang berbeda. Ummatpun yang belum memiliki keyakinan dipersilakan untuk memilih, sedang yang yang sudah meyakini salah satunya diminta untuk lebih mengukuhkan keyakinanya itu. Pada saat itu beliau menjelaskan masalah tawassul.

Barangkali Dr. Chalid Basalamah harus belajar banyak kepada para seniornya, ulama yang lebih berpengalaman dan memiliki trik recoerd yang baik dalam membina ummat dan berhasil. Ummat islam Indonesia ini umumnya adalah Ahlu Sunnah waljama’ah. Tidak salah bila anda akan menjelaskan sesuatu yang sejatinya tidak menjadi anutan dari Ahlu sunnah Waljama’ah, tetapi sampaikanlah secra adil, tidak usah ditargetkan mereka akan mengingkari kelompok mereka, mengingkari guru mereka, dan seterusnya.

Disamping itu Dr. Chalid Basalamah juga harus menyadari bahwa karena ceramahnya akan di youtube-kan maka maka janganlah hanya membayangkan mereka yang hadiri pada saat itu di acara ceramah, bisa jadi mereka yang hadir sudah memiliki nuansa nurani yang sama sehingga mafhum dengan apa yang anda sampaikan, tetapi para penon youtube itu belum tentu memiliki nuansa nurani yang sama pula, bisa saja justeru memperuncing perbedaan, dan bukan hanya perbedaan melainkan telah membentuk pertentangan baru pula. Camkanlah itu manakala maksud  anda ceramah adalah untuk mencerdaskan sekaligus mempersatukan ummat yang membutuhkan panutan. Sulit rasanya mencapai persatuan dengan menanamkan perpecahan. Ini saran dari orang awam yang mungkin akan lebih elok untuk dilupakan bila tak ada nilai positifnya. Alhamdulillah.

Ingin Hancurkan Islam Indonesia ?

PECAHBELAHKAN ISLAM DARI DALAM

new-pictureSiapa orangnya yang tidak  merasa sedih, bagaimana tidak  acara pengajian yang begitu sangat dianjurkan dalam Islam, disampaikan oleh seorang ulama dengab memperkenalkan referensi yang dipakainya, disebutnya halaman halaman kitab yang dikutibnya,  sehingga  tak ada yang salah dalam materi ceramah dan kalaupun ada ynag kurang tepat atau dianggap keliru, sipenceramah siap berdiskusi dan meminta maaf. dan memang begitulah cara ulama ulama muda ceramah sekarang ini. Mereka rata rata siap berdiskusi secara terbuka, serta meminta maaf bila keliru, atau mengganti buku referensinya manakala ada kekeliruan kekeliruan fatal di kitab itu, dan menggantinya dengan kitab yang lebih baik.

Dengan adanya geruduk yang dilakukan ketika seorang ulama sedang berceramah. terlepas apapun faktor ketidak sukaan mereka terhadap ulama yang bersangkutan, yang harus dipahami adalah bahwa kejadian ini adalah sesuatu yang sangat diimpi impikan oleh pihak pihak yang tidak menyukai Islam, apakah dia memang kafir atau mereka yang muslim tetapi munafik.

Islam itu memang sulit untuk dihancurkan dari luar, mereka hanya bisa dihancurkan dari dalam, oleh karenanya dengan berbagai upaya, dengan berbagai iming imining agar para ummat muslim itu sebagiannya membenci sebagiannya, hanya dengan menanamkan kebencian yang sebagain kepadsa yang sebagiannya itu maka Islam sangat mungkin akan dihancurkan.

Dari pihak sana mereka yang membenci Islam baik memang kafir ataupun munafik memang ada yang seharu harinya memenang berusaha bagaimna caranya membentuk kebencian ummat yang sebagai kepada yang sebagianm, kelompok ini sangat kreatif. Ketahuilah mereka yang seperti itu adalah terdiri sebuah Tim yang kuat dan jelas.

Pemerintah Menyambut Raja Salman Tampa Pertimbangan Perasaan Pihak Lain.

new-pictureBarangkali sesungguhnya Pemerintah telah bekerja maksimal  walaupun  ternyata di sana sini menyisakan kekecewaan yang teramat dalam  baik bagi Bangsa Indonesia maupun bagi warga Arab Saudi ketika menyambut kedatangan Raja Salman. Setidaknya ada dua persoalan yang nampaknya Pemerintah kurang peka, pertama tentang bagaimana kecewanya ummat Islam menyaksikan Ahok penyambut kedatangan Raja Salman, yang kedua bagaimana kecewanya masyarakat Arab Saudi menyaksikan Rajanya Wefi bersama Megawati dan Puan Maharani , terlebih Megawati tak berjilbab. Iti hanya lantaran Pemerintah tak memiliki sensitifitas yang mencukupi. Memang kekuasaan tak selamanya  sejalan dengan kebenaran.

Sekedar contoh misal, ketika Pemeritah menampilkan Ahok sebagai salah seorang penyambut Raja Salman, padahal Raja Salman di negerinya adalah Raja Pemerintahan dan juga Pimpinan Agama Islam, walaupun Raja menunnjuk beberapa orang stafnya, tetapi hal hal yang sangat penting keputusan sikap keagamaan adalah meruypakan keputruysan Raja, dan Salman adalah personnya sekarang. Tiba tiba disambut oleh seseorang yang telah dikenal dunia sebagai Gubernur Jakarta penista agama, yang sedang dalam proses persidangan, dan belum divonis apapun. Tetapi dimana ummat Islam Gubernur Ahok benar benar secara jelas dan berulang ulang telah menista agama.

Yang kedua Rakyat Arab Saudi kecewa berat ketika Pemerintah Indonesia sama sekali tak mencegah ketika Megawati bersama anaknya Puwan maharani wefi bersama Raja Salman, adalah sesuatu yang dianggap aib, sepertimnya kita ini adalah bangsa yang sangat tak mempertimbangkan perasaan orang lain. Kalaupun akan dicari carikan maka memang ada saja dalih mengapa Pemerintah Indonesia itu bersikap seperti itu. Apalagi pemerinmtah kita memang sangat mahir mencari carikan dalih, karena selama ini Pemeriuntah indonesia gemar menerapkan politik rekayasa.

Tetapi nampaknya kekecewaan ini memang harus ditelan sendiri baik oleh ummat Islam yang ada di Indonesia, maupun masyarakat Islam Arab saudi, tak akan ada permintaan maaf, dan tak akan ada penyesalan dari siappun, pintar p[intar saja kita memafhuni kejadian ini. Karena kekuasaan nampaknya memang tak selalu sejalan dengan kebijaksanaan atau wisdom, karena kekuasaan selalu bersaudara dengan kesewenang wenangan. Itulah sisi lemah kekuasaan.

Ustd. Bachtiar Nasir Nasibmu Nanti.

new-pictureDitunggu dari hari kehari belum juga ada kecerahan tentang upaya kriminalisasi ulama, maka hampir dapat disimpulkan bahwa memang sejumlah ulama yang dinilai kurang sejalan dengan inspirasi para penguasa akan berhadapan dengan yang berwajib, kalau memang itu yang akan ditempuh oleh Kepolisian, maka sesunguhnya itu bukan hal baru, karena benturan antara Penguasa dengan ulama memang telah terjadi pada era Orde Lama dan Orde Baru, artinya bisa jadi ini sebuah kebijakasn yang masih dianggap tepat. untuk diterapkan oleh para penguasa.

Kalaupun mau beradu argumentasi dengan pihak penguasa maka berdasarkan pengalaman yang lalu lalu, Ulama tak akan menang, karena media massa, dan power dimiliki oleh Penguasa, dipastikan ulama tak akan memiliki daya yang berarti. Hanya saja kitapun akan khawatir, bila demikian ceritanya maka pada saatnya nanti mereka yang memberikan sumbangan, infaq, sodaqoh dan lain lain yang semula dianggap kegiatan mulia, bisa saja ternyata bertentangan dengan undang undang yang berlaku. Kitapun  terhenyak ada rupanya fasal fasal bahwa mememberikan infaqnya dengan nialt tertu  yang mampu menjerat aktivitas sedekah, infak dan sebagainya itu sebagai kegiatan kriminal. Kriminalnya seperti apa dan ancaman hukumannya bagaimana  ummat tak tahu, yang mereka tahu bahwa Ustad yang menampung sedekah dan infaq itu kita harus berurusan dengan yang berwajib. Sungguh celaka … bagi mereka yang melaporkannya ke Polisi.

Ummat memang harus mendapat keterangan yang proforsional. Jutaan orang telah mengirimkan infaqnya melalui nomor rekening yang mereka kenal sebagai milik panitia penyelenggaraan Aksi Bela Islam. Yang mungkin nanti pada saatnya akan mendapatkan giliran disidik dan slidik oleh Kepolisian layaknya seperti penjahat penjahat itu, apa boleh buat, Bismillah saja. yakin saja nanti pengadilan yang sebenarnya adalah pengadilan yang dilaksanakan oleh Allah, semakin pedih rasa di batin atas kriminalisasi dan penghinaan yang sehina hinanya oleh para pemangku kekuasaan ini, tentu   nantinya akan diganti dengan kebahagiaan yang tiada tara walaupun diakherat kelak.

Ingin rasanya meminta kepada Penguasa dan kepolisian agar langsung saja ualam ualama dan ikutan kami itu dihukum mati secepatnya, tak tega rasanya kami melihat ulama demikian dihinakan, padahal ulama di mata kami adalah pewaris nabi, yang akan melanjutkan dakwah. Ulah dan perlakuan pihak Keposian sangat mengiris hati kami, ulama yang sangat kami hormati justeru dibuat seolah menjadi manusia yang paling hina dan mengancam keberlangsungan  bangsa. Rasanya tak ada lagi orang yang berani protes terhadap apapun keputusan Penguasa. barangkali itulah akhir dan ujung Rawayat  Ulama. Biar kan kami yang tersisa akan menentukan cara kami sendiri menyusul kepergian ulama kami, Ulama terdahulu mengatakan bahwa  “Carilah Ulama Yang Paling Dibenci oleh musuh musuh Islam dan kelompok munafik lainnya. karena dialah ulama yang baik pada saat itu”  Nama kalian akan melekat dihati kami, Selamat jalan Ulama doa kami menyertai.