Pada Saatnya Nanti, Tuhan Akan Dinista

new-picturePada suatu saat Pancasila itu dianggap tak ada apa apa, Tuhanpun akan dinista, tampa komunitas ummat yang patuh pada agama. Bisa terjadi yang  di awali dengan penistaan terhadap agama,  penistaan terhadap Nabi/ Rasul, penistaan pimpinan ummat beragama. Mungkin cara yang paling strategis adalah melakukan kriminalisasi kepada mereka yang dikenal sebagai seseorang yang memiliki kedalaman ilmu agama, dan memiliki  ketaatan yang tinggi terhadap ajaran agama, menunjukkan bahasa ajaran agama itu sesuatu yang tidak memiliki keistimewaan apapun. Langkah langkah itu adalah tahapan strategis dan sistematis untuk menjatuhkan wibawa Tuhan di Bumi Pancasila ini.

Bila di Bumi Pancasila penista agama tidak dijatuhi hukuman yang setimpal maka keberanian seseorang untuk melawan Tuhan  di bumi Pancasila akan lebih nekad. Tetapi sayangnya ketika orang orang yang melakukan penistaan terhadap Tuhan ketika menerima hukuman tidak selalu dipikulnya sendiri, adalah mengerikan ketika hukuman itu dipikul bersama sama justeru dengan orang orang yang selama ini dikenal sebagai pengagumnya, dan membelanya matian matian.

Maka sebagai bangsa yang ber-Pancasila dan Berketuhanan yang Maha Esa janganlah sekali kali mentolerir sahabat sahabat kita yang menistakan Tuhan hanya lantaran hidupnya sukses, cegah dan doakan agar Ia memperoleh hidayah, hingga dapat selamat bersama pendukung dan pengagumnya, dan kitapun akan ikut selamat.

Dahulu ada seorang pimpinan yang memenangi Pilihan Presiden dengan kemenangan mutlak, yang mengatakan bahwa tak seorangpun yang sanggup menghambatnya menuju kursi Kepresidenan, termasuk juga Tuhan. Sayang dia dipanggil Tuhan sebelum hari pelantikan tiba. Ketika John Lenon demikian tenar, maka Iapun berucap bahwa kini Tuhanpun kalah tenar dengannya, lihat saja nanti  sebentar lagi Tuhan kehilangan populeritas, orang lebih suka dengan lagu lagu yang dirilisnya ketimbang firman Tuhan. John Lenan ditembak oleh pengagumnya sendiri. Secara logika John Lenon benar, karena firman Tuhan hanya dibaca saat kebaktian belaka, sementara lagu lagu yang dirilisnya, mungkin setiap menit bahkan detik ada yang menyanyikannya. Menurut dia popularitas Tuhan akan segera redup, dikalahkan oleh lagu lagunya The Batle, GroupJohn Lenon.

Pencipta kapal Titanic ketika diwawancarai tentang kemampuannya mengarungi atlantik, dengan sesumbar mengatakan bahwa Tuhanpun tak memiliki kemampuan menenggelamkan kapal yang telah dibuat dengan sangat  sempurna. Kapal itu akhirnya tenggelam bersama orang orang yang mengagumi ciptaan atas kapal yang mewah itu. Tentu banyak lagi contoh contoh yang lain  yang  berakhir tragis, karena menista Tuhan. Dan selalu saja para penista agama akan mendatangkan kesengsaraam bagi banyak orang, terutama yang benar benar mengaguminya. Apalagi membangtunya.

Jika seandainya bangsa Indonesia yang tegak dengan ideologi Pancasilanya ini akan menista Tuhan, yang dimulai dari menista kitab, suci, menista pimpinan ummat beragama dan berhasil maka itu adalah cara yang paling cepat untuk mengembangkan sikap anti agama dan anti Tuhan dan pada langkah berikutnya maka Tuhanpun akan dinista. Dan itu bebarti  ancaman bagi kita semua. Tak ada lagi itu Pancasila, apalah artinya Tuhan bagi mereka yang tak beragama. Dan itu berarti malapetaka.

Ahok Tak Akan Berubah?

Andaikan mengolk olk agama itutak dilarang, maka bahan mengolok olok agama itu Ahok adalah gudangnya, jangankan dibolehkan, sedang dilarang saja Ahok masih sempat sempatnya mengolok olok agama. Seperti diberitakan bahwa vedeo berdurasi 10 menit yang memuat Ahok sedang mengolk olk agama pada saat sedang dilaksanakan Rakor Pemda DKI. Jarot sebagai Wakil Gubernur duduk disamping sambil tertawa dan tidak menunjukkan kemarahan, sedikitpun, tetapi tak urung potongan video berdurasi singkat itu menjadi viral.

Akan berubahkah Ahok … ? Tidak… !  Seperti apa yang dikatakan oleh Ahok sendiri bahwa  prilakunya tak akan berubah, dia tak akan merubahnya karena merubah prilaku itu adalah merupakan kepura puraan. Dan dia tak ingin berpura pura seperti main film atau sinetron. Apakah cara seperti itu akan menyenangkan orang lain …. ? Jelas tidak . Apalagi penganut agama yang sedang diolok olok, ketika Ia meletakkan agama  dan Tuhan di atas segala galanya, maka orang akan tersingung.

Tetapi sudahlah, se sakit sakitnya hati atas olok olok terhadap agama  yang  kita anut, nampaknya pada saat ini mungkin  sebaiknya kita  pura pura tidak tahu saja. Apalagi seorang Ahok yang begitu dicintai  oleh banyak orang, maka siappun yang yang berurusan dengan Ahok nampaknya akan repot sendiri.

Kita harus bersabar, bukankah ada pimpinan kita, pimpinan ummat yang cukup gigih membela Ahok kendatipun menista agama, al-Quran dan ulama. Untuk sementara kita ikuti saja pimpinan seperti itu. Walaupun sesungguhnya adalah kita harus bersabar sambil menunggu apa yang akan terjadi dengan kasus penghinaan agama oleh Ahok yang sekarang  sedang dalam proses persidangan.

Bila Ahok ternyata dibebaskan dari segala tuntutan, maka  menistaan agama di Bumi Pancasila ini  adalah  sah sah saja, seperti halnya banyak berlaku di negara negara maju dan modern, yang siapapun boleh diolok olok, termasuk Ptesiden mereka  bahkan Rasul, Agama dan Tuhan pun . Dan kita juga harus menyimak terlebih dahulu  apakah para ulama yang bersemangat menuntut Ahok itu harus berurusan dengan yang berwajib, dalam kasus apapun, dan prisriwa kapanpun. Hendaknya itu semua menjadi bahan pelajaran, dan tidak lagi sembarangan.

Habib Rizieq … Luar Biasa

new-pictureSaya berani taruhan alangkah banyaknyanya Ulama, Kiyai, Habaib, ustadz dan lain lain yang  diam diam merasa cemburu dengan aktivitas yang dilakukan oleh Habib Rizieq,  yang dalam usianya yang  masih relatif miuda itu tiada menit yang diisi dengan perjuangan untuk menegakkan kalimah Allah. Perjuangannya yang paling berat adalah bagaimana caranya menghilangkan Islamophobia, dengan cara memerangi penyakit masyarakat muali dari  minuman keras, judi, pelacuran. Tentu saja gerakan ini akan ditentang keras oleh  para cukong pebisnis hitam, yang sangat merusak masyarakat itu. Atas gerakan ini sang cukong yang terkenal mudah cari uang  dan memiliki kebiasaan menghambur hamburkan uang demi tercapai tujuan itu memanfaatkan kekayaannya untuk menggerakkan preman untuk melakukan perlawanan, dan beberapa kali memang terjadi bentrokan berdarah dengan para preman. Sayang sekali media massa kurang fair, stempel buruk justeru ditimpakan kepada pasukan Habib Riziq yang dinamai Front Pembela Islam (FPI) itu.

Habib Riziq juga  memiliki sebuah Pesantren (bisa dilihat pada youtub di atas), pesantren ini buykan hanya mengajarkan kitab kitab agama saja, tetapi  juga diberikan pelajaran tentang pemanfaatan dan pelestarian  alam. Itulah sebabnya pesantren didirikan di dekat hutan lindungan. Para santri juga diajarkan cocok tanam serta perikanan dan kehewanan lainnya. Lokasinya sangat luas sehingga pesantren ini dapat melakukan banyak hal sebagai proses pembelajaran, para santri diajarkan untuk menjadi sosok yang produktif. Di sini Habib Rizieq yang bercita cita mengisi hidupnya sebagai pejuang serta meninggal secara syahid itu ternyata memiliki kekayaan yang luar biasa, sulit dicapai oleh para pejuang lainnya.

Berkat pemberitaan yang sangat berat sebelah itu akhirnya yang membenci habib Rizieq bukan hanya non muslim saja, tetapi juga kelompok Islampun tidak kurang kurang yang membencinya, bahkan merekomendasikan agar FPI segera dibubarkan,  tetapi sauyang pihak kepolisian  mengalami kesulitan mencari alasan untuk membubarkan FPI. tetapi nampaknya gayungpun bersambut Habib Rizieq dilaporkan telah menhina lambang negara Garuda Pancasila melalui Thesis S2nya yang berjudul Pengaruh Pancasila Terhadap Pelaksanaan  Syari’at Islam di Indonesia.  Masalah besar lainnya adalah tuduhan telah Menghasut Membenci Uang Rupiah karena ada gambar logo PKI. Dan Habib Riziqpun datang ke DPR mengadukan hal ini dan meminta para wakil rakyat  menanyakan prihal uang baru yang bergambar logo PKI itu.

Mungkin yang paling unik adalah terkait dengan tuduhan terlibat makar kepada seorang wanita cantik yang diduga telah mengalirkan dana dari Tomi Suharto untuk kegiatan Aksi Damai 212 / 2016, terlanjur sudah dituduhkan perkara makar ini tetapi sayang keburu Tomi Suharto menyatakan bahwa yang bersangkutan telah diberhentikan dari Yayasan dan tak memiliki kewenangan mengeluarkan dana Yayasan, sehingga pengusutan nampaknya seperti akan dibelokkan ke kasus pornografi. Hibib diduga telah melakukan perselingkuhan dengan wqanita cantik tersebut, dan diedarkanlah meme rekayasa kemesraan antara Habib Rizieq dengan si wanita cantik itu.

Hal tersebut tidak kalah serunya dengan issue yang dihembuskan oleh seorang pejabat yang mengatakan bahwa Habib Rizieq telah menyerobot tanah milik sebuah lembaga di Bogor, tanah seluas itu didirikan pesantren oleh Habib Riziq, sayang justeru lembaga tersebut buru buru membantahnya, sebelum Habib Riziq melakukan pembelaan. Akhirnya fitha besar itu tak berkembang.

Alangkah dahsyatnya terpaan demi terpaan untuk menjadikan Habib Riziq mati langkah atas perjuangannya, karena langkah Habib Rizieq memang merupakan ancaman besar pendukung sttus quo, karena Habib Rizik selalu menuntut penegakan hukum secara adil dan beradab. Dengan beberapa kali aksi damai nama Habib Riziq bertambah harum, beliau mendapat simpati dari orang orang yang semula membencinya.

Banyak orang cemburu melihat perjuangan Habib Rizieq mendapat dukungan dari berbagai kalangan, dukungan bukan hanya dalam bentuk ikut serta dalam barisan, bukan hanya sekedar do’a dan dukungan moral. Tak sedikit diantaranya yang memberikan dukungan keuangan. sehingga Habib Rizieq mampu mengunjungi mereka yang terkena gempa dan bencana lainnya. Habib datang tidak dengan tangan kosong. selain tim kesehatan, tenaga sukarelka, tetapi juga uang yang dibagi bagikan untuk sekedar pengganjal disaat kepepet dan tak sempat mencari nafkah. Habibpun datang memberikan bantuan material bangunan ketika pemilik rumah yang hancur akibat bencana akan dibangun kembali.

Sungguh luar biasa, Habib Rizieq Luar biasa, tetapi sjarah belum berhenti, ketika dana bantuan itu mengalir ke kas lembaga dalam jumlah yang besar, maka pada suatu saat bisa saja Habieb Rizieq akan berhadapan dengan Penguasa, Habieb Harus diaudit. sementara Habib tidak dapat menjelaskan prihal uang yang masuk ke rekening lembaga, bisa pada saat itu nanti Habib Habib dikenakan pasdal pencucian uang dan dipenjara, tetapi memang orang Habib Rizieq beliau merindukan penjara dan bila bisa dia harus mati secara syahid. Beliau memang ingin menghentikan kegiatannya dan menutup ajalnya ketika masih dalam kesibukan berjihad demi tegaknya kalimah Allah. Wallohu a’lam.

 

Bapak Kapolri Jangan Hanya Membaca Buku Karangan Orientalis

new-pictureAgar memiliki keseimbangan dalam memahami sesuatu tentang Islam maka diminta kepada  Kapolri untuk tidak hanya membaca buku buku karangan sarjana orientalis  yang bertkembang dari Barat, sarjana orientalis adalah sarjana non muslim yang sangat giat meneliti tentang Islam, tetapin sayangnya  hasil penelitian mereka ditulis sesuai dengan kepentingan  dari lembaga yang membiayai mereka, sehingga sulit sekali mereka akan menulis dengan objektif, bahkan sebaliuknya data yang mereka  dapatkan dalam penelitian diputar balik dengan kata kata sehingga bisa membuat pembaca salah memahami.

Dikalangan para peneliti dan penulis orientalis, mereka berkesimpiulan bahwa Islam dan kalimah Laailaaha Illaallaah dibangun diujung pedang,  hampir serentak para penulis orientalis berbicara seperti itu, kecuali hanya beberapa sebagian kecil saja yang berani bicara lain, dan tentu saja mereka tak populer. Bila kita  membaca buku buku yang ditulis orang Islam sendiri, sejak kitab kitab lama dahulu.

Dalam banyak kisah peperangan yang terpaksa dilakukan oleh ummat Islam Rasulullah dan sahabat sahabatnya mempertunjukkan akhlakul karimah  yang luar biasa, banyak musuh musuh Islam justeru beralih masuk ke Islam pada saat itu  adalah karena  tertarik akan kemuliaan akhlak  muslim. Dan utuk diketahui hal semacam inidipastikan luput dari  catatan para sarjan dan peneliti orientalis, yang mmemang dimaksudkan untuk menyesatkan orang Islam. Jika kita hanya membaca buku buku para orientalis tersebut di atas, maka dipastikan kita pasti akan tersesat.

Oleh karenanya maka diharapkan Bapak Tito Carnavian sebagai Kapolri bila ingin mengungkap bagaimana sejarah perkembangan Islam diberbagai negara, termasuk di Indonesia, maka jangan hanya membaca buku yang disusun dan diedarkan oleh Sarjana Orientalis saja. Pasti sesat dan bisa menyesatkan pula.

Islam = NU + Muhammadiyah ?

new-pictureDengan semangat yang menggebu gebu Kapolri mengatakan keinginannya untuk kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah untuk melaksanakan  berbagai program,  dan Kapolri juga menghimbau agar NU dan Muhammadiyah melakukan berbagai langkah penguatan terhadap keduanya sehingga mampu memperkecil berbagai perbedaan antara keduanya, sehingga kerjasama ini mampu dilaksanakan semaksimal mungkin, nampaknya Pemerintah akan memfasilitasi berbagai upaya untuk memperkuat NKRI. Kelompok yang dirancang Kapolri ini akan terdiri dari TNI, POLRI, NU, Muhammadiyah dan Kelompok Nasionalis. Yang manakala ini berhasil maka diyakini bahwa NKRI akan semakin kokoh.

Sekilas  gagasan ini nampak simpatik dan bahkan menbanggakan,  seolah tergambar diufuk mata kejayaan Indonesia. Tetapi manakala kita renung secara lebih mendalam, ditambah lagi dengan sikap Kapolri yang seperti belah bambu, mengangkat yang satu dan menginjak yang lain dalam waktu bersamaan, justeru akan mengundang perpecahan pada internal ummat Islam sendiri.

Memang dua organisasi terkemuka  Islam di Indonesia NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi besar, namun kenyataannya tidak semua Muslim Indonesia memasuki salah satu dari dua organisasio tersebut di atas. Bila bukan NU maka Muhammadiyah, tidak. Silakan hitung dalam buku besar keanggotaan NU dan Muhammadiyah maka kemungkinan ditemukan bahwa justeru sebagian besar ummat Islam Indonesia sekarang jangan jangan ada di luar keduanya. Karena sangat banyak ummat Islam yang sejatinya tak sempat tersentuh oeh NU dan Muhammadiyah.

Para intelektual Muslim selain melakukan study keislaman di dslam negeri juga tidak   kalah banyaknya yang melakukan study Islam di luar, mereka umumnya bila bukan ke Timur Tengah dan Afrika mereka  ada juga yang ke Barat, Eropa dan Amerika. Antara keduanya memiliki styl yang berbeda selain bebetrapa persamaan  diantara keduanya. Masing masing dengan kelebihannya dan kelemahannya. Sebagian besar diantara mereka  merasa tak cukup terakomodir inspirasinya baik di NU maupun Muhammadiyah. Lalu apakah mereka tidak dianggap Islam, atau dianggap Islam lapisan kesekianm, menjadi kelompok yang harus diwaspadai.

Yang dibutuhkan sekarang bagi ummat Islam adalah bagaimana agar para ulama ini bersatu sehingga ummatpun bersatu pula,  hindarilah gontok gontokan antara sesama ulama. Insya Allah ummat Islam di Indonesisa sangat menghormati ulama. Untuk kita ketahui juga bahwa jumlah ulama sekarang relatif banyak, selain ada yang lulusan dalam negeri, maka tidak kalah banyaknya mereka yang meryupakan lulusan  luar negeri, mereka yang lulusan luar negeri itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Para ulama muda sebagian besar tidak masuk ke NU dan tidak juga ke Muhammadiyah, walaupun faham secara kemazhaban mereka sejalan dengan NU dan sejalan dengan Muhammadiyah, tetapi mereka merasa ada hal hal yang mereka  pentingkan nampaknya kurang terakomodir di NU maupun Muhammadiyah, sehingga mereka mencari komunitasnya sendiri walaupun dalam jumlah yang jauh di bawah NU dan Muhammadiyah. Tetapi bila kita kumpulkan komunitas komunitas di luar NU dan Muhammadiyah ini maka jumlahnya tidak kalah banyak dengan NU dan Muhammadiyah, mereka adalah jama’ah pengajian, jama’ah diskusi, jama’ah study dan banyak lagi  nama nama lain. yang juga diikuti oleh mereka mereka yang ingin mendalami Islam, dan kenyataannya mereka nyaman, dengan indikator kecintaan mereka  kepada masjid dalam artian beribadah.

Mereka semua adalah bagian dari ummat Islam Indonesia yang harus kita persatukan, upaya mempersatukan ini  harus dilakukan oleh para pihak, dan Pemerintah diharapkan juga untuk memfasilitasi penyatuan ummat agar berdayaguna dan berhasilgua. Tetapi sebaliknya manakala kita mencoba coba untuk menidakkan mereka yang berada di luar NU  dan Muhammadiyah, maka kekisruhan dipastikan akan tersulut. Silakan saja Kepolisian akan melakukan kerjasama, itu sangat baik, silakan saja Kepolisian akan memberdayakan NU dan Muhammadiyah itu sangat mulia, tetapi bukan berarti dalam waktu bersamaan janganlah menidakkan kelompok di luar itu. Mereka senagai ummat Islam  yang bersaudara dengan kita semua.

Allah memperingatkan janganlah kamu menjadi kelompok kelompok dan masing masing kelompok menganggap kelompoknya yang paling bagus dan paling benar, karena sikap seperti itu adalah sangat dibenci oleh Allah (al-ayah) Mari kita renungkan secara lebih mendalam karena ummat Islam Indinesia sekarang sedang membutuh persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan NKRI, Pancalisa dan UUD 1945.

Ulama Harus Profesional, Agar Tak Dipolisikan.

Belajarlah Dari Kasus Habib Rizieq Shihab dan KH. Bahtiar Nasir.
new-pictureMendatang Ulama itu tidak cukup paham ilmu agama dan kepenganutan secara kaffah (total) dengan kegiatan pokok  pendidikan, dakwah dan peribadatan. Beberapa ulama yang memiliki daya panggil luar biasa dan ada sejumlah nama bisa dijadikan contoh, memiliki gedung atau masjid besar, bukan hanya dapat menampung ratusan hingga  ribuan jama’ah tetapi juga memiliki  lapangan parkir yang luas, manakala jama’ah sudah sudah banyak, kelak ada saja jamaah yang mengusulkan agar sang ulam membuka rekening agar mereka dapat mengirimkan infaq, sodaqoh dalam bentuk uang, dan bukan tidak mungkin jama’ah ada juga yang yang mewaqofkan kekayaannya berupa tanah atau lain sebagainya. Berhati hati kegiatan itu tidak semua orang menyukainya, karena ternyata ada juga yang mencari cari celah untuk mempolisikan ulama.Ulama yang berpengaruh ditarget untuk dikriminalisasi.

Ini kenyataan, Setidaknya ulama pada orde baru dan orde lama harus berbenturan dengan penguasa, dan kini pada Orde Jokowi (bila boleh disebut Orde) juga ualama harus berbenturan dengan pihak penguasa, setidaknya tampak pada fenomena pemanggilan Habib Rizieq Shihab dan KH. Bahtiar Nasir yang memang tak segan segan mengeritik Penguasa itu kini harus berhadapan dengan penguasa, beliau berdua dipanggil polisi dengan berbagai aduan masyarakat, dan polisi akan memprosesnya, Habib Rizieq telah berstatus tersangka sementara KH Bahtiar Nasir masih dalam proses pendalaman.Sedang  KH Ma’ruf Amin sempat diancam akan dipolisikan, yang kemudian diralat si pengancam.

Hanya dua ulama yang dijadikan sandaran dalam tulisan ini. Kedua ulama ini melihat dan menilai bahwa penguasa saat ini dalam beberapa hal mereka anggap tidak melaksanakan dan menagakkan peraturan. Mereka tidak merasa cukup dilawan dengan hanya kata kata atau dalam hati saja, tetapi beliau berdua juga melakukan sesuatuatas hal hal yang beliau anggat munkar itu. Memang sebagian besar uala kita masih belum tertarik untuk mengambil peran, mungkin atas berbagai pertimbangan, tetapi bukan berarti tidak ada celah untuk dibunuh karakternya, dan bahkan bila perlu dipolisikan, untuk itu ulamamemang harus profesional.

Hanya sedikit yang kita bicarakan yaitu mengambil pelajaran dari kedua tokoh ulama tersebut di atas. Kasus yang muncul adalah (1) Penghinaan lambang negara, (2)_Protes gambar lambang PKI pada uang baru, (3) Penyerobotan tanah di Bogor, (4) Pornografi, (5) Penistaan Agama dan mungkin akan banyak lagi, sedangkan KH Bahtiar Nasir dugaan keterlibatan dalam pencucian uang. Belum semuanya dipolisikan, tetapi tidak  tertutup kemungkinan iujung ujungnya akan sampai juga gilirannya ke meja hijau, manakala politik dan Presiden Jokowi dan Kepolisian tidak berubah atau bahkan justeru bertambah.

Maka bersiap siaplah para ulama akan menemui gilirannya, karena hal tersebut tidak terlepas dari perholakan politik setidaknya dalam waktu dekat adalah perebutan kekuasaan Pilkada dan Pilpres tahun 2019. Mungkin di tahun 2019 ummat Islam masih diposisi sebagai pecundang, tetapi setidaknya kita tidak boleh mewariskan sekian banyak beban untuk periode periode selanjutnya, karena momen politik akan selalu muncul setiap lima tahun sekali, yang selama ini ulama mengambil posisi secara pasif. Dan akibat ulama yang pasif ummatpun kehilangan pegangan, dan mereka kini berpegang kepada hal hal yang tidak islami. Jangan heran bila dalam berpolitik mereka tak berimam kepada ulama, karena memang ulama tidak memberikan wejangan,atauy memberikan wejangan tetapi justeru keliru.

Kembali ke pokok persoalan, bahwa belajar dari kasus kedua ulama tersebut di atas maka ulama agar lebih profesolan dalam beraktivitas. antara lain mendikumentasikan segala aktivitasnya secara baik, manakala menerima bantuan baik infaq, sedaqo, hibah, dan atau semacamnya dilengkapi dengan dokumen administrasi, manakala uang atau kekayaan tersebut  ada dalam jumlah banyak maka bila belum dibentuk lembaga, maka bentuklah lembaga pengelolanya, dan manakala sudah lebih banyak lagi  maka gunakan jasa yang dibnarkan oleh aturan dan perundang undangannya. yang berlaku.

Selain itu ulama juga harus memiliki tim yang mendampingi serta memberikan evaluasi atas segala aktivitas peribadatan, pendidikan dan peribadatan dan dakwah yang dilancarkan, akan lebih baik manakala tim ini memiliki kemampuan untuk mengkajinya dari berbagai sisi.

Dengan sikap profesionalisme ulama, maka mungkin pada tahun 2019 masih belum memiliki pengaruh yang signifikan, tetapi manakala profesionalisme ualama ini mungkin akan mulai nampak pengaruhnya nanti pasca 2019 yang akan adatang.

Rapatkan Barisan, PKI Dihadapan Kita

new-picturePewaris PKI sejatinya telah mempersiapkan sejumlah nama dalam jumlah jutaan orang dewasa sebagai nama nama korban Orde Baru yang GP Anshor dan Pemuda Muhammadiyah ada di belakangnya. Untuk apa nama nama itu, gunanya adalah sebagai calon penerima  dana  kompensasi setelah rencananya Presiden Jokowi meminta maaf kepada anak keturunan  PKI dan memberikan sejumlah uang sebagai kompensasinya. Yang bila dihitung  jumlah pewaris dan uang itu akan cukjup mendirikan partai, serentak melantik Pengurus Wilayah dan Cabang di seluruh Indonesia, lengkap mendirikan sekretariat serta baju seragam Pengurus dan Kader dan perlengkapan kantor sehingga partai ini menjadi partai yang mewah, dan pengeluaran itu belum seberapa dibanding pengeluarannya, yang berarti keuangan Partai untuk ikut Pemilu dan Pilpres sangat di mungkinkan.

Walaupun Presiden Jokowi tidak jadi minta maaf dan juga tidak jadi membayar uang konvensasi, tetapi karena anggota sudah terdaftar rapih, maka para kader itu konon sudah lama dipersiapkan. Ummat Islam dan TNI angkatan Darat yang bahu membhu dalam membrantas PKI thn 1965 dan beberpa tahun sesudahnya..Sayamenjadi yakin kebenaran jumlah mereka kini jauh lebih banyak dibanding jumlah anggota mereka pada tahun 1965, karena mereka sekarang adalah dalam status anak dan cucu bahkan cicit para anggota PKI tahun 1065 itu, sehingga manakala mereka mendirikan partai dan ikut dalam Pemilu Legislatif, maka kemungkinan jumlah mereka ada di barisan atas.

Syukur Presiden tidak jadi minta maaf yang berarti juga tidak jadi pula mereka menerima dana kompensasi itu, tetapi bukan PKI namanya bila mereka kehilangan akal untuk merebut kekuasaan di Indonesia ini. Sekalipun hanya beberapa gelintir saja yang sudah menunjukkan batang hidungnya di dunia perpolitikan, tetapi pengaruh mereka sangat luar biasa, untuk menghindari menatakan mereka dominan. Dengan strategi lama mereka kenyataannya mereka mampu membuat kita kisruh.

Manakala kita tidak bersabar sabar hati  maka kitapun telah lama saling curiga mencurigai,  salinmg caci mencaci dan  serta saling membenci sesama ummat Islam. Sempat para pimpinan kita demikian mudahnya memberikan komentar kritikan  yang tidak perlu antar sesama muslim, demikian  gemarnya mereka yang membenci Islam mengipas dan memanasi umat Islam untuk saling membenci.

Tidak tanggung tanggung kini mereka telah secara terang terangan mengajak ummat Islam untuk membenci para ulamanya….. kegiatan semacam ini adalah merupakan kebiasaan kelompok komunis PKI dahulu sebelum meletus penghiatan PKI tahun  1965; berbagai fitnah keji mereka hunjamkan kepada para ulama kita maksudnya tak lain agar para ulama kehilangan wibawa di mata ummatnya. Waspadalah … PKI sudah ada di depan mata kita.