Pancasilais dan Diktator.

Hampir dapat dipastikan bahwa tdak ada hubungannya antara Pancasilais dan Diktatur, dan dari pakar manapun tak akan menmukan korelasi antara Pansila dengan sikap diktator seseorang dalam memimpin, dan kalaupun ada maka kita akan sepakat menolaknya karena justeru  bertentangan sila sila dalam Pancasila, tetapi kenapa Presiden yang paling lantang klaim  tentang Pancasila terpancing menjadi diktator. Presiden yang paling lantang mengklaim diri sebagai Pancasilais itu adalah tiga Presiden Indonesia, Sokekarno, Soeharto dan yang ketiga adalah Jokowi. Dua terdahulu tidak disangsikan lagi benar sebagai Presiden yang memimpion secara diktator sesuai zamannya, tetapi Presiden Jokowi masih harus menunggu waktu untuk disimpulkan ya atau tidak. Tetapi yang pasti bukan lagi di era kepemimpinan diktatur.

Walaupun Presiden Soekarno disebut sebut sebagai penggali Pancasila tetapi tidaklah berarti Soekarno telah melaksanakan Pancasila, ternyata tidak banyak pihak yang mengatakan Soekarno justeru mencoba mengoplos ulang Pancasila menjadi Nasakom. bahasa beliau mampu menyandingkan antara agama dengan komunis.  Sibuk dengan kampanye Nasakomnya, maka Pancasila itu sendiri sangat keteter, bukan hanya gagal mewujudkan ambisinya Presiden Soekarno justeru lengser dengan cara yang kurang terhormat.

Muncul Presiden kedua Sueharto yang mengumumkan akan melaksanakan Pancasila yang murni dan konsekuen. Pemerintah tampilsebagai badan tunggal penafsir Pancasila dan menyusun Pedoman Penghayatan Pancasila yang ujung ujungnya berisikan omongkosong dengan istilah pandangan hidup, pegangan hidup dan perjuangan hidup yang diimagekan sebagai nuansa kamasutra, alias ngeres, pembicaraan dan pembangunan tentang Pancasila yang menampilkan para pejabat tinggi sebagai personifikasi Pancasilais yang murni dan konsekuen. Ketika KKN Korupsi, Koneksi dan Nepotisme maka segala sesuatu justeru berantakan. Sehingga tetkala diselenggarakan Ijian Akhir Nasional bagi Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan tidak perlu menjawab sejumlah pertanyaan terkait Pancasila.

Kedua Presiden terdahulu walaupun memimpin secara diktator, tetapi itu semua dapat diterima kepemimpinanya karena sesuai zamannya, sayang keduanya memimpin terlalu lama, sehingga ending kepemimpinan keduanya kurang indah dikenang. Apakah nanti Presiden Jokowi yang menunjukkan gejala gejala seperti Presiden Soeharto yang mengaku paling Pancasilais  dan berkembang diktator serta akan berujung pada kekecewaan dan bahkan kehinaan. Entahlah. Dibutuhkan waktu.

Sebagai perbandingan belaka maka fenomena Ahok dan Ahoker adalah sangat menarik. Ketakutan sejumlah orang terhormat kepada Ahok membuat Ahok memiliki wibawa jauh melampaui jabatannya. Serasa Ahok sudah menjadi Presiden, maka ketika terjadi Pilgub DKI yang juga diikuti Ahok sebagai calon petahana serasa Pilgub DKI adalah Pilpres adanya. Itu karena Ahok telah lama diperlakukan melebihi Presiden adanya. Yang kita tak tahu dari mana awal mulanya maka  “Siapa yang menentang Ahok maka berarti menentang Pancasila, Siapa yang menentang Ahok berarti anti UUD 1945, siapa yang menentang Ahok berarti anti NKRI” dan selanjutnya dan sterusnya. Tentu Ahoker dan tergabung dalam netizen memiliki peran yang signifikan.

Dahulu dizaman Suharto yang belakangan kita sepakat sebagai menerapkan kepemimpinan secara diktator maka siapa yang menentang Presiden Soeharti berarati anti pancasila dan anti pembangunan. Wajar saja pada saat itu Soeharto sebagai Presiden dan Panglima tertinggi. Tetapi bagaimana dengan Ahok yang baru menjadi Gubenrnur pengganti setelah jabatan itu ditinggalkan oleh Jokowi yang terpilih sebagai Preside. Serasa nayata dipelupuk mata Ahok akan tampil sebagai pengganti Jokowi, pada saatnya. Sekali lagi fenomena Ahok sebagai pengandaian, bahwa mengklaim diri sebagai Pancasilais berkembang menjadi diktator. Gejala gejala diktator besar bagi Ahok memang tergambar di pelupuk mata.

Lalu apakah nanti Presiden Jokowi akan terjebak ke jalan yang pernah ditempuh Presiden Soeharto dengan menerapkan kepemimpjnan yang diktator, Dahulu orang tak sanggup menentang Suharto larena manakala berselisih paham akan dituduh sebagai anti Pacasila dan anti pembangunan, dahulu Presiden Soehatro anti kritik karena sama saja dengan mengeritik Pancasila, apakah nantinya akan sama ketika Presiden Jokowi sudah mengatakan Saya Jokowi, Saya Indonesias, Saya Pancasila. Apakah para pengeritiknya nanti akan dicap sebagai pengeritik Indinesia, penegeritik Pancasila. Ini membutuhkan waktu karena sejarah yang akan mencatatnya.

Hanya saja perlu diingat bahwa Presiden Suharto yang mengklaim diri sebagai Pancasilai justeru tidak memiliki kemampuan sedikitpun bahwa dia adalah pengemban Pancasila karena belakangan justeru keadaan masyarakat semakin jauh dari kreteria yang ditetapkan dalam sila sila Pancasila. Bagaimana dengan sekarang.

Memakmurkan Masjid Belajar Ke Jogokariyan

Masjid kita belum makmur, maka belajarlah kepada Masjid Jogokariyan Yogyakarta, karena masjid itu mulai dari zero, hingga menjadi masjid yang selain makmur juga mampu memfasilitasi berbagai kebutuhan, dari anak anak bermain sehingga kebutuhan manusia dewasa. Masjid ini terletak di suatu komunitas yang semua muslim, lalu menjadi komunis, lalu non muslim pasca 1965 kamunis berontak, yang ada sekitar 8 keluarga yang bertahan muslim. Semula masjid ini dibangun Muhammadiyah, tetapi pengelolaannya diserahkan kepada ummat, tampa harus sistem Muhammadiyah.

Kini masjid itu sangat makmur, ukuran kemakmuran di Masjid itu dapat dilihat dari jumlah jama’ah. Jumlah jama’ah subuh semula ditargetkan 70%, konon kini sudah mencapai 80% kali jama’ah sholat Jum’at. Kehebatan muslim bisa diukur dari jumlah jama’ah subuhnya. Manakala suatu komunitas muslim masjidnya makmur sama dengan sholat jum’at. Maka berarti komunitas itu banyak melaksanakahan kehidupan menurut ajaran Islam.

Anda ingin membangun bangsa ini, maka sebetulnya gampang sekali, yaitu libatkan diri untuk mengusahakan masjid makmur dan memperbesar jama’ah subuh. Maka manakala itu terlaksana, maka sesungguhnya kita telah melakanakan pembangunan angsa dan Negara. Lalu bagaimana caranyabisa membuat sholat subuh menjadi makmur, semua membutuhkan langkah panjang. Mesjid makmur harus diawali dengan masyarakat suka mendatangi masjid.

Makmurnya masjid bukan hanya sejumlah orang dewasa melaksanakan sholat berjamah saja. Tetapi ibu ibu juga harus memiliki aktivitas di masjid, seperti menyelenggarakan pengajian ibu ibu, pelatihan kewanitaan dan lain sebagainya. Ibu ibu juga harus berpartisipasi atas berbagai kegiatan. Dan kegiatan dimasjid sejatinya bukan hanya sholat. Tetapi juga dakwah dan ada semacam pelatihan dan pendidikan yang bermanfaat bagi jama’ah. Lalu juga masjid harus memberikan memberikan ruang bagi remaja dan anak anak secara terpisah, artinya remaja memiliki ruang sendiri, dan anak anak juga memiliki ruang yang harus mendapatkan perhatian yang serius.

Selain itu semua masjid juga harus memberikan perhatian atas kebutuhan bagi orang yang berlalu atau orang dalam perjalanan, itulah sebabnya maka dimasjid harus tersedia air yang cukup representatif, bukan hanya untuk wudlu, tetapi juga BAB dan bahkan madi.  Artinya masjid yang akan makmur bukan hanya masjid yang memfasilitasi sejumlah orang dewasa, melainkan juga harus berfungsi mempersiapkan mereka yang lebih mudan dan bahkan anak anak yang juga harus dipersiapkan menjadi calon jama’ah aktif di masjid itu.  Itulah sebabnya masjid juga dirasakan oleh masyarakat sekitar dan bahkan mereka yang sedang dalam perjalanan. Selanjutnya lisakan simak youtube di atas.

Menyimak Perubahan Sikap Ulil

Sepertinya sudah ada kesadaran pada diri Ulil. Ulil secara terus terang (dalam tulisannya ini) menyatatkan sudah berubah pandangan. Ulil menyatakan sekarang ini menempatkan kembali Kitab Suci sebagai acuan, bukan lagi sebagai ma’mum atas perkembangan zaman seperti yang dulu didakwahkannya.

“Saya dulu mengikuti, bahkan mendakwahkan secara antusias pendekatan ini (Kitab Suci hanyalah makmum bagi perkembangan zaman -red). Saya sekarang (mungkin karena umur yang bertambah dan penjelajahan intelektual terus-menerus) mulai merevisi pandangan saya sendiri. Saya sekarang bergerak ke pendekatan ketiga yang akan saya jelaskan dalam bagian berikut,” kata Ulil dalam tulisannya yang terbaru “Tiga Sikap Atas Kitab Suci” yang ditulis di akun fb-nya (30/4/2017).

Semoga husnul khotimah.

Selamat menyimak tulisan Ulil:

“Tiga Sikap Atas Kitab Suci”

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Saya harus mohon maaf karena menulis status yang mungkin akan membikin jidat mengernyit pada hari Minggu. Ini adalah tindakan yang tidak “empan papan”. Seharusnya, status di hari Minggu adalah yang asyik-asyik saja, semacam ajakan minum kopi atau menyantap singkong goreng. ?

Dengan tetap meriskir untuk “merusak” akhir pekan Anda, perkenankan saya menuliskan renungan ini.

Salah satu tema yang banyak didiskusikan oleh para sarjana Muslim, baik di era klasik atau modern, adalah bagaimana cara menyikapi ayat-ayat yang seolah-olah sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman. Atau, bagaimana cara mengatasi ayat-ayat dalam Kitab Suci yang dalam penampakan lahiriahnya berlawanan dengan akal atau pengalaman manusia pada suatu zaman.

Lanjutkan membaca “Menyimak Perubahan Sikap Ulil”

Jadilah Pembela Islam Mulai Sekarang, Bagaimana Caranya ?

new-pictureIndonesia sebagai negeri kaya mulai dilirik oleh kekuatan luar yang ingin menguasai kekayaan negeri tercinta ini,  pintu masuk mereka adalah dengan cara melemahkan ummat Islam,  karena dalam dada ummat Islam ada semangat yang disebut jihad, dan dengan semangat jihad itu akan melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan.  oleh karena itu kelompok Muslim harus dilumpuhkan lebih awal. Dengan demikian maka tugas kita sekarang adaah membela Islam dengan berbagai cara.

Berikut ini adalah sikap standar yang harus kita tanamkan, walaupun bula ini kita laksanakan, kita masih jauh dari sebutan sebagai pejuang Islam, disebut pejuang Islam adalah menyiapkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya untuk Islam. Rasul dahulu untuk berjuang sering berangkat pagi, pulang sare bahkan malam, berangkat rapih dan bersih, pulang lusuh dan bahkan berdarah, hingga gigi gerahamnya tanggal. Apa yang saya tuliskan ini hanya standar dan tak ikut bikin kisruh, belum berhak disebut mujahid.

Allah Maha Benar,  Sikap yang pertama yang harus kita tanamkan adalah bahwa Allah Maha Benar, bahkan kebenaran dari Allah adalah kebenaran mutlak. Bila muncul teori teori yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Allah melalui Al-Quran, maka segeralah bahas dan kalahkan teori itu dan menangkan teori Allah, misalnya teori Darwin,janganlah sekali kali memangkan teori Darwin.

Mulyakan Al-Quran. Benarkan seluruh isi Al-Quran, bacalah dan anjurkan orang lain membacanya. Mulyakan juga fisik kitabnya, jangan ditaruh sebarangan dan jangan dipegang sembarangan. Manakala ada yang menyerang atau merendahkan al-Quran, maka belalah dengan berbagai dalih, bila tak mampu  berdalih maka marahlah, tunjukkan kemarahan atau ketidak senangan terhadap orang yang meremehkan Al-Quran.  Agar orang orang tahu kita sangat menghormati Al-Quran

Menangkan Rasul Allah.  Bacalah hadis sebanyak banyaknya.  Benarkan apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan oleh Rasul Allah. Manakala  ada orang atau kelompok yang menghinakan Rasul maka belalah dengan berbagai dalih, manakala anda tidak memiliki kemampuan berdalaih maka tunjukkan kemarahan dan ketidaksenangan ketika ada orang yang meremehkan ztzu menghina Rasul.

Muliakan Para Ulama Dan Habaib, Ulama adalah pewaris Nabi sedangkan para Habaib adalah cucu cucu Rasul, Rasul sendiri meminta agar mennyayangi dan menghormati anak keturunanya. Belalah ulama dan habaib manakala ada yang menghina dan meremehkan mereka. Carilah dalih dan dalil membela ulama dan Habaib manakala ada yang meremehkan dan bahkan menyerang mereka. Manakala kita tidak memiliki kemampuan berdalil dan berdalih maka tunjukkan ketersinggungan dan ketidak senangan kita terhadap orang atau pihak yang meremehkan dan menghina Ulama dan Habaib, termasuk juga Kiyai, ustadz, guru agama dan lain sebagainya.

Muliakanlah Para Pemimpion Islam di Indonesia. Dalam rangka membela Islam maka biasakanlah bersikap hormat terhadap para pemimpon Islam,  tidak terbatas kepada pemimpn dari organisasi yang kita ada di lingkungan komuniotas yang dipimpin, tetapi juga pemimpin Islam dari komunitas yang lain manakala terdapat organisasi atau kelompok komunitas lain. Manakala terdapat perbeaan yang mendasar antara satu dengan komunitas atau organisasi lain, maka perbedaan itu cukup dibahas pada kalangan terbatas saja, tidak mengumbar perbedaan yang terjadi. Perbedaan yang besar, kecilkan, dan perbedaan yang kecil hilangkan. Jangan biarkan perselisihan pendapat di kalangan pimpinan ummat berkembang, dan tetaplah memiliki rasa hormat kepada para pemimpin, walaupun dalam perbedaan yang sulit dipersamakan.

Tambahkan Ilmu Keislaman. Bacalah al-Quran dan hadits setiap hari upayakan hingga tamat, kita akan salah bersikap manakala kita tak banyak mengenal al-Quran dan hadits. Bagaimana akan membela Allah, Rasul, Islam, Ulama, Kiyai, Ustadz, pemimpin Islam lainnya, jika tak tahu dengan ajaran islam.

Bersahabat Dengan Orang Sholeh. Carilah sahabat yang sholeh, memiliki sikapkeislaman yang  lurus dan benar, tidak memanfaatkan agama untuk mencari keuntungan pribadi, mereka yang mampu menambahkan ilmu keagamaan, keislaman, sahabat yang memiliki kemampuan menegur kita manakala kita salah. Carilah sahabat yang bisa mengajak kita ke syurga.

Upayakan Sholat Lima Waktu Berjama’ah di Masjid, Sholat berjama’ah di masjid memiliki manfaat ganda.  sholat kita akan lebih sempurna, tidak asal selesai, sholat sunnat rawatib, qobliyah dan ba’diyah rutin dilaksanakan. Komunikasi dengan sahabat, tetangga, seiman akan terbina, bisa mendapatkan informasi yang baik baik.

Carilah Guru atau Ustadz. Bergabunglah di jama’ah pengajian yang dipimpinm atau dikelola diajar oleh orang yang benar benar faham Islam dan melaksanakannya. Atau bentuklah  kelompokpengajian. Anda bisa membentuk kelompok baru, carilah guru yang bisa menjelaskan sedetilnya tentang suatu kitab, tentukan jadwal pertemuannya serta target apakah untuk satu buku atau bab bab tertentu yang dipilih. Bicarakanlah dan pilihlah sistem belajarnya, sebagai pendengar dan bertanya alakadarnya, atau benar benar berdiskusi, yang setiap kali pertemuan masing masing telah membaca buku yang sama. Tetapi ini harus disesuaikan dengan jama’ah, masing masing harus memiliki level pendidikan dan pengalaman yang tak terlalu jauh berbeda.

Buatlah Naik Kelas.  Masing masing pribadi atau kelompok buatlah pemahaman keagamaan kita setiap tahun bisa mengalami naik kelas. Artinya jika tahun ini menamatkan buku, maka tahun berikutnya ganti buku yang lain yang  juga untuk di tammatkan. Bila tahun ini menyelasaikan satu masalah maka tahun berikutnya membahas masalah yang lain lagi. Bila dipandang perlu maka untuk menghindari kebosanan dan untuk penyegaran bisa mencari guru baru, untuk itu bisa juga kita memintakan guru yang sekarang untuk mencarikannya. Karena guru guru itu tahu siapa diantara guru guru itu yang lebih mumpuni.

Apa yang dituliskan ini jelas sangat tidak memadai, apalagi lalu dibilang mujahid, belum,  tetapi manakala ini telah kita lakukan maka kita akan memiliki peluang untuk menjadi mujahid. Mari kita coba saja, manakala ada yang belum kita lakukan, makala lakukanlah mul;ai dari sekarang.

 

Trend Membubarkan Ceramah

Pasca sambutan Ahok sebagai Gubernur Jakarta yang dirasakan sebagai penistaan agama oleh sebagaian besar ummat Islam, justeru berbalik menjadi pembubaran acara ceramah, hal ini dialami oleh Ust. Chalid Basalamah dan yang paling akhir adalah Ust. Felix, beliau semula semula akan berceramah dengan tema etika muda mudi sebelum memasuki masa perkawinan. Semula acara akan dilaksanakan di di sebuah Perguruan Tinggi, tetapi tiba tiba pihak Tuan Pergiruan membatalkan dan terpaksa diadakan di sebuah Hotel, lalu giliran Kepolisian bertindak, menyedihkan karena Kepolisian ternyata bertindak atas desakan sebuah organisasi besar dan berwibawa.

Kita tidak tahu apakah ini semua terkait dengan 9 larangan dalam ceramah di rumah ibadah, dan lalu apakah mereka yang telah berhasil membubarkan acara ceramah agama baik oleh organisasi besar dan berwibawa dan atau Kepolisian sudah sejalan dengan aturan yang barusan dikeluarkan oleh Kementerian agama.

Kita belum tahu apakah Kemenag itu hanya mengatur agar para dai tidak boleh menyampaikan ini dan itu, apakah Kemenag juga mengatur pembubaran acara ceramah agama sebagai pegangan dan bimbingan pihak organisasi besar dan berwibawa atupun pegangan pihak Kepolisian untuk membubarkan acara ceramah.

Satu lagi pertanyaan kepada Kemenag terkait materi para muallaf menceritakan bagaimana pegalaman dan suasana batin ketika mereka menetapkan masuk Islam,  dan untuk itu suklit dihindari menyebut nyebut agama lain, lalu apakah ini termasuk yang harus diantisipasi. Aturan kemenag tentang ini sangat membukakemungkinan maraknya kelompok yang senang membubabrkan sebuah pengajian atau ceramah yang tidak mereka sukai.

Politik Bahasa Bunga

Diujung periode kekuasaan Ahok Jarot sebagai Gubernur Ribuan karangan bunga ke Balaikota, ini dimaknakan sebagai kecintaan warga kepada Ahok Jarot yang berhasil membangun Jakarta. Tidak hanya itu bunga bunga itu sejatinya mampu berbicara banyak tentang Ahok Jarot. Sayangnya kata kata itu akan tidak selalu diartikan sama oleh pengirim dan penerima,   tetapi kta berharap kata kata itu akan menjadi sesuatu yang  bermakna atau menjadi pelajaran bagi warga, terlepas berbedanya ungkapan dan pemahaman, karena bahas yang digunakan adalah bahasa bunga.

Setidaknya politikus kesohor Fadlizon mengatakan bahwa itu tak lebih dari pencitraan, dan ucapan politikus kenamaan itu menjadi  kontroversi yang tak akan mungkin terselesaikan, karena masing masing syah syah saja memberikan makna. Kini giliran Kepolisian dibanjiri kiriman karangan bunga, ada seribu kata mungkin mampu diungkap dengan bahasa bunga itu, tetapi akan lebih banyak lagi makna yang tidak dijamin akan sama.

Ini politik baru, apakah penilaian Fadlizon akan semakin nyata kebenarannya, kita masih menunggu dalam waktu yang cukup lama.  Disebut pencitraan, pasti banyak yang menolak, tetapi bila mendatangkan citra yang baik itu justeru yang diharapkan.

Di dunia perusahaan pengiriman karangan bunga adalah benar sebagai pencitraan adanya,   ketika dibukanya mal atau kantor perusahaan atau apapun yang memiliki merk dagang, pengiriman karangan bunga itu adalah harus diartikan bahsa merk dagang yang bersangkutan adalah merupakan perudsahaan yang bonafide, dan bisa juga  diartikan bahwa yang bersangkutan terkait korparasi besar dan berwibawa, Bahasa itu akan beranekawarna dan kana.antar satu pengirim dengan pengirim yang lain terbuka makdan dan maksud yang berbeda. Dan nantinya penyelengatra nanti akan menjadi penikmat yang utama.

Bila anda memiliki sebuah dokumen fota yang terdapat sejumlah tokoh tokoh kenamaan dari berbagai sektor, maka foto itu akan lebih memiliki makna bagi kita manakala wajah kita juga nampak terpampang diantara sekian banyak wajah. Tetapi kecanggihan para pengedit foto, maka bisa saja wajag dan fisik kita akan nampak jelas diantara para tokoh yang difoto. Tetapi kita akan tahu persis bahwa sejatinya kehadiran kita di foto  hanya rekayasa. Dan kita akan malu bila orang lain tahu bahwa itu hanya hasil edit, itupun bila kita masih punya rasa malu.

Demikikan juga dengan pristiwa pengiriman karangan bunga, sejatinya kita tahu apakah kita layak mendapatkan kiriman bunga itu, sebab jika mengacu kepada prilaku taktik dagang, kiriman karangan bunga pada saat peresmian dan semacamnya memag tak lebih dari pencitraan, dan dalam rangka mencari keuntungan belaka.

Saya tutup tulisan ini dengan sedikit cerita, dahulu di suatu Kabupaten orang dikejutkan oleh kehadiran karangan bunga dari seseorang, seringkala diacara itu hanya ada satu karangan bunga, dari orang tersebut, baik acara, perkawina, sunatan, dan bahkan kematian. Dan orang orangpun bertanya siapakah gerangan si pengirimkarangan buka yang tak pilih alamat itu, baik perhelatan besar, kecil, mewah ataupun hanya sederhana karangan bunga hampir dipastikan datang.

Belakangan orangpun tahu bahwa yang bersangkutan akan ikut bertarung dalam Pilkada. Sang calan berhasil bicara dengan bahasa bunga.  Bahasa bunga dipastikan artinya adalah pasti disekitar sekitar sana. Hayo siapa lagi yang ingin dikirimi karangan bunga, semua bisa diatur, pasti akan dipermudah, tak ada yang melarang, bicaralah dengan bahasa bunga selagi anda berkuasa, rekayasalah sebelum ada larangan dari pihak yang lebih berkuasa.

Ulama Penjilat Memang Ada ?

18222418_1482439551787900_670597004008016640_n

MARI BERDOA UNTUK PARA ULAMA AGAR MENDAPAT HIDAYAH

18194111_1482439485121240_3154087562682265347_nBila tak mendapat hidayah dari AllahSwt, maka keluasan ilmu seseorang belum tentu menjadi liniar dengan keimanannya, dan dengan demikian akan mendatangkan sejumlah kontroversi  dan bahkan perpecahan dikalangaan ummat. Maka tugas kita sebagai Ummat adalah memahon kepada Allah agar ulama kita senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah, sebagai perbandingan dan antisipasi agar negeri Indonesia tercinta tetap kondusip. Marilah kita jadikan bandingan tulisan  Sufyan Jazairi merangkumnya secara apik dalam kitabnya yang berjudul  Ashnaful Ulama wa Aussafuhum, buku ini telah diterjemahkan oleh Muhammad  Syaefuddin dan Editor Yasir Amri, buku ini diterbitkan oleh Jazera Solo tahun 2011, 232 halaman (XXVIII)

Buku ini menjadi penting diterbitkan, kata penerbit adalah karena terdapat sejumlah orang yang terlanjur dikenal sebagai ulama, tetapi mereka ternyta tidak konsisten melaksanakan tugas sebagau ulama, tetapu justeru memusuhi ulama yang yang lain yang dikenal gigih melaksanakan missionnya sebagai ulama, berarti ada ulama yang konsisten dan ada ulama yang penjiolat dan menyaru sebagai ulama (hal Vl).  Firman Allah, “Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantara kalian dan orang orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Maidah 11)

Firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba hamaba-Nya hanyalah ulama” (Fatir 28)

Nabi bersabda,  “Yang akan membawa ilmu (agama) ini dari tiap generasi adalah orang yang adilnya.Mereka akan membersihkannya dari (1) penyelewengan orang orang yang berlebihan, (2) kedustaan ara pendusta, (3) dan takwil orang orang bodoh”

18221551_1482439411787914_6966365959691878741_nBuku ini menegaskan bahwa memang ada sejumlah orang yang berbaju ulama, bermerk sebagai ulama tetapi sesungguhnyamereka tidak lagi sepenuhnya mewarisi peninggalan Rasul, yakni Al-Quran dan sunnah, tetapi mereka beraktivitas yang kurang konsisten dan bahkan mereka mencari keuntungan dari stempel ulama yang mereka miliki, mereka lebih mendekatkan diri kepada penguasa dan pemilik modal, dan mereka tak segan segan memfatwakan sesuatu untuk keuntungan penguasa dan pemilik modal, walaupun jelas jelas bertentangan dengan apa yang digariskan dalam al-Quran dan sunnah.

Para Ulama dimusihi dan bahkan Diusir dari Negerinya.        Saikh Abu Muhammad Al Maqdisy, dipercayai menuliskan pengantar di buku ini, beliau banyak bercerita tentang nasib para ulama diberbagai negara terbelah, ada yang berjuang untuk Islam, dan juga yang merapat ke Penguasa dan Pemilik Modal, beliau menghabarkan  perkembangan terakhir diberbagai tempat ulama yang rabbani semakin langka, karena ulama yang ada mengalami, pembunuhan, pengusiran, pemenjaraan (kriminalisasi), pemboikotan dan pemerangan. Para ulama tidak lagi bebas menyhampaikan Risalah, manakala mereka melaksanakan dakwah dan pembinaan ummat, maka langsung majelis yang mereka bina melalui ceramah ceramag mereka, maka tak segan segan pihak untuk membubarkannya, ulama benar benar menjadi barang langka kata Syaikh Abu Muhammad Al Makdisy.

Lanjutkan membaca “Ulama Penjilat Memang Ada ?”