Al-Quran Sumber Segala Imu Bagi Ummat

Tinggalkan komentar

Minggu, 07 August 2011 00:16
(Tafsir Al-Misbah)

EPISODE Tafsir Al Mishbah di Metro TV (grup Lampung Post) kali ini akan membahas Ayat 52 hingga 58, surah Al A’raf. Dua ayat pertama merupakan lanjutan dari kelompok ayat sebelumnya.

وَلَقَدْ جِئْنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

7.52. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami ; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.


هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبْلُ قَدْ جَاءتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَاء فَيَشْفَعُواْ لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ قَدْ خَسِرُواْ أَنفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَفْتَرُونَ

7.53. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”. Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.


إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

7.54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.


ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

7.55. Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas .


وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

7.56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.


وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَاباً ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

7.57. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.


وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

7.58. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.


Ayat-ayat ini menguraikan kepada manusia bahwa Allah swt. tidak semena-mena memberikan siksaan kepada kaum kafir yang menutupkan pintu-pintu surga bagi mereka. Namun, Allah sebenarnya telah memberikan peringatan terlebih dahulu lewat Alquran yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Orang-orang kafir, pada ayat berikutnya, diceritakan tetap enggan memercayainya walaupun kitab yang diturunkan itu (Alquran) sudah sangat jelas bukti-bukti kebenarannya dengan sangat terperinci dan mudah dimengerti.

Sedangkan ayat berikutnya, yakni 54 hingga 58, adalah kelompok ayat baru yang berbicara tentang hal-hal yang sepintas tidak berhubungan dengan uraian-uraian sebelumnya.

Ayat-ayat tersebut, antara lain menjelaskan mengapa Allah harus diesakan, yakni karena Dia yang menciptakan langit dan bumi. Allah kemudian mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan makhluk-Nya dalam satu sistem yang sangat rapi dan berkaitan erat.

Allah pula yang menyediakan rezeki, dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang dapat manusia nikmati. Itu dilakukan-Nya dengan cara yang menakjubkan dan lemah lembut, yaitu dengan menurunkan hujan sehingga Dia adalah Tuhan dan tidak ada Tuhan selain-Nya.

Ayat seterusnya berisi tentang larangan melampaui batas, yakni larangan merusak bumi. “Sesungguhnya rahmat Allah akan senantiasa amat dekat kepada para muhsinin, yakni orang yang berbuat baik dan menjaga bumi dari perusakan sekaligus memperbaiki dan merawatnya.”

Kesimpulan dari dua ayat pertama, yakni memerintahkan kepada kita untuk seantiasa mempelajari Alquran karena kitab ini merupakan sumber segala ilmu yang mudah untuk dipelajari dan niscaya akan membawa keberkahan. Selain itu, Alquran mampu menghindarkan umat manusia dari kekafiran yang amat dibenci Allah. (*/L-1)

Sedangkan ayat-ayat berikutnya mengenai titah Allah kepada manusia semesta alam untuk menjaga bumi dari kerusakan sekaligus perusakan. Manusia juga diajak untuk memerhatikan rahasia-rahasia alam yang terpendam serta fenomena yang tampak agar manusia memeliharanya sebagai bentuk ibadah.

Oleh seba itu, Allah sangat menghargai siapa pun yang memelihara alam ini. Apalagi timbul kesadaran untuk memperbaikinya dan golongan ini senantiasa disebut muhsinin dan Allah mendeklarasikan kedekatannya dengan golongan tersebut.

Allah Ciptakan Surga dan Neraka (Tafsir al-Misbah)

Tinggalkan komentar

Sabtu, 06 August 2011 00:57
 

MetroTV (grup Lampung Post) pada episode kali ini adalah Ayat 44 sampai Ayat 51 Surah Al A’raf.

 


وَنَادَى أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَن قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّاً فَهَلْ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقّاً قَالُواْ نَعَمْ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَن لَّعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

7.44. Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,


الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجاً وَهُم بِالآخِرَةِ كَافِرُونَ

7.45. (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.”


وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلاًّ بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْاْ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَن سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

7.46. Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum “. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).


وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاء أَصْحَابِ النَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

7.47. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.


وَنَادَى أَصْحَابُ الأَعْرَافِ رِجَالاً يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُواْ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ

7.48. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfa’at kepadamu.”


أَهَـؤُلاء الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لاَ يَنَالُهُمُ اللّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ

7.49. (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mu’min itu dikatakan): “Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.”


وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَاء أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

7.50. Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: ” Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,

الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُواْ لِقَاء يَوْمِهِمْ هَـذَا وَمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

7.51. (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

Ayat-ayat ini menjelaskan bagaimana aktivitas orang-orang beriman yang memperoleh surga Allah swt. Dalam keadaan penuh syukur dan sangat menyenangkan, para penghuni surga akan sibuk mengecam penghuni neraka yang dahulu melecehkan kaum yang beriman. Penghuni surga harus berteriak agar suara mereka terdengar oleh penghuni neraka yang banyak berbuat zalim selama di dunia karena jarak surga dengan neraka itu amat jauh, sampai-sampai para pendurhaka yang meluncur ke jurang neraka harus menunggu 50 tahun lamanya untuk sampai ke dasar. Selanjutnya dijelaskan terdapat pagar pemisah di antara calon para penghuni surga dan neraka. Di antara kedua golongan ini terdapat beberapa orang yang berada di tempat tinggi bernama A’raf yang menyaksikan perihal kedua kelompok ini. Bagi golongan yang belum boleh masuk surga, mereka memohon dengan sangat agar tidak dimasukkan ke api neraka karena kengerian yang dilihat saat Allah memalingkan pandangan mereka untuk melihat neraka. Golongan yang berada di tempat yang tinggi berseru bahwa tidak berguna untuk kamu, himpunan kamu, yakni apa yang kamu himpun di dunia, baik berupa uang atau kelompok, dan lainnya yang kamu anggap sebagai sumber kekuatan yang selalu kamu sombongkan sehingga kamu melecehkan dan menganiaya umat beriman. Ayat ini menjelaskan bahwa materi, kekuasaan, atau kekuatan apa pun yang kita punya di dunia tidak akan membantu kita untuk masuk surga, kecuali amal ibadah yang kita lakukan pada saat kita masih hidup. Di sini dijelaskan pula bahwa orang-orang kecil yang beriman tetapi terpinggirkan di dunia, bisa jadi akan melenggang masuk surga, meninggalkan petinggi-petinggi yang dahulu menghina dan meremehkan keimanan mereka, serta terus berbuat zalim selama masa hidupnya di dunia. Pada Ayat 50 dikisahkan bahwa orang-orang penghuni neraka nanti akan meminta sedikit saja rezeki yang Allah swt. berikan kepada para penghuni surga, tetapi penghuni surga menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan, yakni mencegah keduanya, yakni air yang sejuk dan makanan yang baik itu atas orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang menjadikan agama yang mereka anut dan agungkan hanya sebagai permainan.” (*/L-1)

Mengenal Kitab Kitab Tafsir Bil Maktsur

Tinggalkan komentar

 

*   Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari
Nama asli tafsir ini adalah Jami’ Al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an, penulisnya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thobari. Beliau dikenal dengan Abu Ja’far. Lahir 224 H dan wafat 310 H. Kitab beliau ini adalah kitab terbaik dalam ilmu tafsir. Bahkan menurut penilaian Imam An-Nawawi, kitab tafsir yang tidak ada bandingnya.

Keutamaan tafsir Ibnu Jarir ini diantaranya, karena ia bersumber dari hadis-hadis Nabi saw, komentar para sahabat dan tabiin. Juga karena keluasan penafsirannya yang meliputi nasikh dan mansukh, tarjih riwayat, keterangan kualitas hadis antara shahih dan dhaif, I’rob Al-qur’an dan istinbath (memberi kesimpulan) terhadap ayat-ayat hukum. Memang tak dapat dipungkiri ada beberapa kekurangan dalam tafsir ini seperti terdapatnya riwayat Israiliat yang tidak jelas. Walaupun demikian, para mufassir setelah Imam Ibnu Jarir menjadikan tafsir beliau sebagai referensi utama. Karena memang kualitas dan validitas tafsir ini tidak diragukan lagi.

*    Tafsir As-Samarqandi
Ditulis oleh Imam Nasr bin Muhammad As-Samarqandi, dikenal dengan Abu Laits (Wafat 373 H). Kitab tafsir ini berjudul Bahrul Ulum dan tergolong sebagai tafsir bil ma’tsur. Dalam menulis tafsir ini, Al-Imam menempuh jalan penafsiran para sahabat dan tabiin. Beliau banyak mengutip komentar mereka tetapi tidak menyebut sanad-sanadnya. Beliau menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an semata-mata dengan rasionya sendiri sedang ia tidak mengerti kaedah-kaedah bahasa dan kondisi di saat Al-Qur’an itu turun. Ia harus memahami betul ilmu tafsir terlebih dahulu.
Manuskrif tafsir ini terdapat dalam dua jilid dan tiga jilid. Naskah aslinya terdapat di perpustakaan universitas Al-Azhar dan di Darul Kutb Al-Misriyah.

*   Tafsir Al-Baghawi
Pengarang tafsir ini adalah Imam Husain bin Mas’ud Al-Farra’ Al-Baghawi. Beliau juga seorang faqih lagi muhaddist, bergelar Muhyi As-sunnah (yang menghidupkan sunnah). Beliau wafat tahun 510 H. Beliau memberi nama tafsirnya dengan Ma’alim At-Tanzil.

Dalam menafsirkan Al-Qur’an beliau mengutip atsar para salaf dengan meringkas sanad-sanadnya. Beliau juga membahas kaedah-kaedah tata bahasa dan hukum-hukum fiqh secara panjang lebar. Tafsir ini juga banyak memuat kisah-kisah dan cerita sehingga kita juga bisa menemukan diantaranya kisah-kisah Israiliat yang ternyata batil (menyelisihi syariat dan tak rasional). Namun secara umum, tafsir ini lebih baik dan lebih selamat dibanding sebagian kitab-kitab tafsir bil ma’tsur lain.
Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah diantara Al-kassyaf, Al-Qurtubi atau Al-Baghawi. Beliau menjawab:”adapun diantara tiga tafsir yang ditanyakan, tafsir yang paling selamat dari bid’ah dan hadis dhaif adalah Tafsir Al-Baghawi, bahkan ia adalah ringkasan tafsir Atsa’labi dimana beliau menghapus hadis palsu dan bid’ah di dalamnya.”

*    Tafsir Ibnu Atiyyah
Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz ialah nama asli tafsir ini. Penulisnya adalah Imam Abu Muhammad Abdul Haq bin gholib bin ‘Atiyyah Al-Andalusy. Beliau adalah seorang Qodhi yang adil, cerdas dan terkenal faqih. Ahli dalam hukum, hadis dan tafsir. Ibnu Khaldun menilai tafsir ini paling tinggi validitasnya. Adapun Ibnu Taimiyah dalam fatwanya mengungkapkan,”tafsir Ibnu ‘Atiyyah lebih baik dibandingkan tafsir Az-Zamakhsyari, lebih shahih dalam penukilan dan pembahasannya. Juga lebih jauh dari bid’ah…”
Namun sayang, kaum muslimin belum dapat mengkaji tafsir ini lebih jauh karena masih dalam bentuk manuskrif  klasik dan kini masih tersimpan di Darul Kutb Al-Misriyah berjumlah sepuluh jilid besar.

*    Tafsir Ibnu Katsir
Kitab tafsir buah karya Al-Hafizh Imaduddin Ismail bin Amr bin Katsir  (700-774 H) ini adalah kitab yang paling masyhur dalam bidangnya. Kedudukannya berada pada posisi kedua setelah Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari. Nama aslinya adalah Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Tafsir yang diterima di khalayak ramai umat Islam.

Beliau menempuh metode tafsir bil ma’tsur dan benar-benar berpegang padanya. Ini diungkapkan sendiri oleh beliau dalam muqaddimah tafsirnya,: “bila ada yang bertanya, apa metode penafsiran yang terbaik? Jawabannya, metode terbaik ialah dengan menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Sesuatu yang global di sebuah ayat diperjelas di ayat lain. Bila engkau tidak menemukan penafsiran ayat itu, carilah di As-Sunnah karena ia berfungsi menjelaskan Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’I menegaskan bahwa semua yang ditetapkan oleh Rasulullah saw, itulah hasil pemahaman beliau terhadap Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan kebenaran, agar engkau memutuskan perkara di antara manusia dengan apa yang Allah ajarkan kepadamu. (QS. An-Nisa’ 105) dan Rasul saw bersabda: sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan bersamanya yang semisal (As-sunnah).

Murid Imam Ibnu Taimiyah ini menafsirkan dengan menyertakan ilmu al-Jarh wa at-ta’dil. Hadis-hadis mungkar dan dhoif beliau tolak. Terlebih dahulu beliau menyebutkan ayat lalu ditafsirkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan ringkas. Kemudian disertakan pula ayat-ayat lainnya sebagai syahidnya. Beberapa ulama setelah beliau telah mengambil inisiatif menulisnya dalam bentuk mukhtasar (ringkasan). Bahkan hingga saat ini.

*    Tafsir As-Suyuthi
Kitab yang bernama Ad-Dur Al-Mantsur fi Tafsir bi Al-Ma’tsur ini ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi, ulama produktif yang memiliki ratusan karya cemerlang. Beliau lahir tahun 749 H dan wafat tahun 911 H.

Tafsir ini pada dasarnya adalah ringkasan dari kitab Tarjuman Al-Qur’an yang beliau karang sendiri. Beliau bermaksud meringkas hadis-hadis dengan hanya menyebutkan matannya saja tanpa menyertakan sanad yang panjang. Ini untuk menghindari kebosanan.

Imam As-Suyuthi menulis tafsir ini dengan mengutip riwayat-riwayat dari Al-bukhori, Mulim, An-Nasa’I, At-Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Jarir, Ibnu Hatim dan lain-lain. Namun beliau tidak memilah antara riwayat shahih dan dhaif bahkan mencampur keduanya. Padahal beliau terkenal sebagai ahli riwayat dan sangat memahami seluk beluk ilmu hadis. Sehingga terkesan aneh bila kemampuan tersebut tidak dioptimalkan dalam tafsir ini. Namun berbeda dengan kitab tafsir lainnya, tafsir ini merupakan satu-satunya tafsir bil matsur yang hanya memuat hadits-hadits saja.

Referensi: At-Tafsir wal Mufassirun dan At_tibyan fi Ulumil Qur’an.
Wallohu A’lam

MAZHAB TAFSIR IGNAZ GOLDZIHER

Tinggalkan komentar

PENDAHULUAN

Sejarah penafsiran al-Qur’an telah melewati berbagai fase yang panjang, rumit dan kompleks. Awalnya, penafsiran merupakan usaha menemukan maksud yang sesuai dengan teks, namun pada tahap selanjutnya proyeksi penafsiran terkontaminasi dengan usaha menundukkan al-Qur’an demi kepentingan kelompok keagamaan dan individu.

Jika diteliti, produk-produk penafsiran al-Qur’an dari generasi ke generasi memiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah adanya perbedaan situasi sosio-historis di mana seorang mufassir hidup. Bahkan situasi politik yang terjadi ketika mufassir melakukan kerja penafsiran juga sangat kental mewarnai produk-produk penafsirannya. Tidak berlebihan jika Micheil Fucoult pernah menyatakan suatu tesa bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari adanya relasi kekuasaan/politik.

Di samping cakupan makna yang dikandung oleh al-Qur’an memang sangat luas, perbedaan dan corak penafsiran itu juga disebabkan perbedaan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing mufassir. Al-Qur’an itu memang merupakan kitab yang yahtamil wujuh al-ma’na (mengandung kemungkinan banyak penafsiran). Sehingga adanya pluralitas penafsiran al-Qur’an adalah sah-sah saja, sepanjang dapat dipertanggung-jawabkan secara moral dan ilmiah. Penafsiran itu dapat diibaratkan sebuah “organisme” yang selalu tumbuh dan berkembang. Ia akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan seiring dan senafas dengan kemajuan tantangan yang dihadapi manusia.

Disinilah kelebihan Ignaz Goldziher, dengan kritis dan objektif menjelaskan berbagai upaya kelompok-kelompok keagamaan atau individu untuk menafsirkan al-Qur’an, sejak jaman klasik sampai jaman awal kedatangan dunia modern, serta membongkar motif-motif kepentingan yang tertuang dalam penafsiran mereka.

PEMBAHASAN

A. -Biografi Ignaz Goldziher

Ignaz Goldziher adalah orientalis Hungaria yang dilahirkan dari keluarga Yahudi pada tahun 1850 Masehi. Ia belajar di Budapest, Berlin dan Leipzig. Ignaz Goldziher merupakan anak yang selalu ingin tahu, keinginannya untuk memperdalam keilmuannya sangat kuat. Banyak guru-guru yang memuji kepiawaiannya dalam mendefinisikan suatu permasalahan.

Semasa di Budapest, Berlin dan Leipzig dia belajar tentang kajian Islam dan pengetahuannya tentang Islam itulah yang membuatnya merasa perlu untuk menimba ilmu langsung di dunia Islam.

Pada tahun 1873 ia pergi ke Syiria dan belajar pada Syaikh Thahir al-Jazairi. Kemudian pindah ke Palestina lalu ke Mesir dimana ia belajar dari sejumlah ulama al-Azhar.

Sepulangnya dari al-Azhar ia diangkat menjadi guru besar di Universitas Budapest. Karya-karya tulisannya yang membahas masalah keislaman banyak dipublikasikan dalam bahasa Jerman, Inggris dan Prancis. Bahkan sebagaian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan yang paling berpengaruh dari karya-karya tulisannya adalah buku yag berjudul: Muhammadanische Studien, di mana ia menjadi sumber rujukan utama dalam penelitian hadis di Barat. Di samping karyanya yang lain seperti: Le Dogme et Les Lois de L’Islam (The Principle of Law is Islam), Introduction to Islamic Theology and Law, Etudes Sur La Tradition Islamique. Ignaz Goldziher meninggal pada tahun 1921.[1]
-Ignaz Goldziher Tentang Mazhab Tafsir

Ignaz Goldziher adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah Mazhab Tafsir dalam bukunya Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung yang diterjemahkan oleh oleh Ali Hasan Abd al-Qadir, menjadi Madzahibu al-Tafsir al-Islami (1955), kemudian diedit oleh Abdul Halim al-Najjar. Sejak saat itu, muncul banyak karya dalam bidang madzahibut tafsir atau sejarah tafsir oleh sarjana-sarajana Muslim sendiri, seperti Muhammad Husain al-Dzahabi dengan karyanya Al-Tafsir wal Mufassirun (1961), Abu Yaqdzan ‘Atiyya al-Jaburi dengan kitabnya Dirasah fi al-Tafsir wa Rijalih (1971) dan Abdul ‘Adhim Ahmad al-Gubasyi dengan karyanya Tarikh al-Tafsir wa Manahij al-Mufassirin (1977) dan lain sebagainya.

Dalam setiap sirkulasi sejarah Islam, pemikiran yang muncul senantiasa cenderung mencari justifikasi kebenaran bagi dirinya untuk menunjukkan kesesuaian pemikirannya dengan Islam dan dengan apa yang dibawa oleh Rasulallah. Sebab dengan begitu, maka pemikiran tersebut akan mendapat posisi yang kuat di hati para pengikutnya dalam sistem keberagamaan mereka.

Kecenderungan ini dan interaksinya dengan penafsiran secara otomatis merupakan wadah bagi tumbuhnya penulisan tafsir aliran yang kemudian pada episode selanjutnya menjadi persaingan dengan penafsiran yang panjang lebar, baik dalam uraian maupun cakupannya.

Munculnya Madzahib al-Tafsir, sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan sejarah, sebab setiap generasi selalu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bahkan kadang-kadang sebagai legitimasi bagi tindakan dan kepentingannya.

Al-Qur’an sendiri memang sangat terbuka untuk ditafsirkan (multi interpretable), dan masing-masing mufassir ketika menafsirkan al-Qur’an biasanya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural di mana ia tinggal, bahkan situasi politik yang melingkupinya juga sangat berpengaruh baginya. Di samping itu, ada kecenderungan dalam diri seorang mufassir untuk memahami al-Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga meskipun objek kajiannya tunggal, yaitu teks al-Qur’an, namun hasil penafsiran al-Qur’an tidaklah tunggal, melainkan plural. Oleh karenanya, munculnya Madzahib al-Tafsir tidak dapat dihindari dalam sejarah pemikiran umat Islam. Ia merupakan keniscayaan sejarah.

Ignaz Goldziher membagi sejarah dan perkembangan tafsir menjadi tiga periode.

1. Tafsir pada masa perkembangan madzhab-madzhab yang terbatas pada tempat berpijak Tafsir bi al-Ma’tsur.

Pada masa awal Islam, para sahabat menafsirkan al-Qur’an dengan pemahaman mereka tentang bahasa Arab dan pengetahuan mereka tentang Azbabun Nuzul. Jika terjadi kemusykilan berkaitan dengan makna al-Qur’an, mereka merujuk langsung kepada nabi. Begitu pula para tabi’in, mereka belajar kepada para sahabat dan mengambil banyak tentang tafsir disamping pengetahuan mereka akan bahasa Arab, kemampuan mereka sangat baik dalam memahami bahasa Arab.

Pada mulanya tafsir diriwayatkan dari seorang kepada seorang lainnya. Para sahabat meriwayatkan tafsir dari nabi, kemudian para tabi’in meriwayatkan dari sahabat dan meriwayatkannya kepada generasi selanjutnya dan begitulah seterusnya.[2]

Menurut Ignaz Goldziher, disyaratkannya bagan (sanad) Hadits merupakan poin yang cukup diperhitungkan dalam wilayah ilmu-ilmu keagamaan dan secara khusus untuk memberikan parameter dalam bidang tafsir. Tafsir bi al-Ma’tsur adalah tafsir yang dapat disaksikan keshahihannya, yakni tafsir yang didasarkan pada “ilmu” atau tafsir yang dapat ditetapkan bahwa nabi sendiri atau para sahabatnya bersentuhan langsung dalam wilayah pengajaran hal itu dan telah menjelaskannya dengan penjelasan makna al-Qur’an dan dalalahnya. Karena sudah sangat jelas, nabi sendiri sering ditanya tentang makna kosakata dan ayat al-Qur’an, lantas beliau menjelaskan itu semua. Demikianlah beliau tidak menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan pendapatnya sendiri, tetapi beliau menerima tafsirnya dari malaikat Jibril yang mengajarkan kepada beliau dengan nama Allah (dengan riwayat dari Allah).[3]

Disini Ignaz Goldziher secara eksplisit membatasi Tafsir bi al-Ma’tsur hanyalah tafsir pada masa nabi dan masa sahabat. Hal ini sepaham dengan apa yang disampaikan oleh al-Zarqani yang membatasi pada tafsir yang diberikan oleh ayat-ayat al-Qur’an, sunnah dan para sahabat. Namun sebagian ulama tidak sepakat dengan batasan tersebut.[4] Para ulama ada yang memasukkan tafsir generasi Tabi’in dalam cakupan Tafsir bi al-Ma’tsur.

Pada fase ini yang paling mengemuka adalah mengenai perdebatan seputar tata cara bacaan al-Qur’an. Dimana banyaknya ragam bacaan al-Qur’an merupakan topik yang sangat panas pada saat itu. Pertarungan argumen tentang cara baca yang benar membentuk mazhab-mazhab yang saling klaim bahwa bacaan merekalah yang paling benar.

Munculnya perdebatan seputar bacaan al-Qur’an pada masa ini menurut Ignaz Goldziher tidak lain merupakan usaha untuk menjaga, melestarikan dan menegakkan kitab suci ini. Ragam bacaan mencerminkan usaha untuk menafsirkan firman Tuhan, karena pada tahap selanjutnya memiliki implikasi yang sangat jauh dalam memahami dan memaknai teks al-Qur’an.

2. Tafsir pada masa perkembangannya menuju madzhab-madzhab ahli ra’yi yang meliputi aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, dan aliran politik keagamaan.

Pada fase ini orientasinya tidak lagi untuk menjaga keotentikan dan penafsiran yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan al-Qur’an, tetapi lebih berorientasi pada bagaimana penafsiran al-Qur’an ini dapat melegitimasi kelompok-kelompok tertentu, seperti aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, bahkan penafsiran al-Qur’an ini menjadi tunggangan aliran politik keagamaan tertentu.

Dalam pandangan Ignaz Goldziher pada generasi terdahulu telah terjadi perpecahan dalam tafsir al-Qur’an bi al-Ma’tsur. Perpecahan ini pada awalnya tidak dimaksudkan agar penafsiran mereka menyimpang dari karakter riwayat dan naql. Perpecahan ini pertama kali terjadi dari kaum rasionalis yaitu sekelompok orang pemeluk suatu mazhab keagamaan yang hendak menafikan segala bentuk konsepsi seorang muslim dalam keyakinannya tentang uluhiyah (ketuhanan), baik itu hakikatnya atau tatanan ketuhanan lainnya, dan semua hal yang menyingkirkan peran akal. Karena kalau tidak demikian, maka posisi ketuhanan akan turun drastis sampai pada wilayah material yang sangat tidak layak. Kelompok ini juga berusaha menghilangkan semua ikhtiar yang bertentangan dengan tuntutan hikmah dan keadilan.[5] Tentu dapat ditebak bahwa kelompok ini adalah adalah kaum Mu’tazilah.

Tafsir bi Ra’yi adalah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya atau maksudnya, mufassir hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan (istinbath) pun didasarkan pada logikanya semata. Kategori penafsiran seperti ini di dalam memahami al-Qur’an tidak sesuai dengan ruh syari’at yang didasarkan pada nash-nashnya. Rasio semata yang tidak disertai bukti-bukti akan berakibat pada penyimpangan terhadap Kitabullah.[6]

Selain itu, pemahaman akan al-Qur’an terutama didekatkan pada pendekatan filologis-gramatikal. Pendekatan ayat per ayat atau kata per kata ini tentunya menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong) tentang pesan al-Qur’an. Bahkan, sering terjadi penafsiran semacam ini secara keterlaluan menanggalkan ayat dari konteks dan aspek kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu seperti dalam pandangan akidah (teologis), filosofis dan sufistis, gagasan-gagasan asing sering dipaksakan ke dalam al-Qur’an tanpa memperhatikan konteks kesejarahan dan kesusastraan al-Qur’an.[7]

3. Tafsir pada masa perkembangan kebudayaan/keilmuan Islam yang ditandai dengan timbulnya pemikiran baru dalam keislaman oleh Ahmad Khan, Jamalauddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Menurut kacamata Ignaz Goldziher, permasalahan antara kebudayaan dan Islam merupakan permasalahan yang bertolak belakang, dan jawaban dari keduanya sudah diupayakan sejak lama oleh kebanyakan tradisi keilmuan yang beragam dalam dunia Islam, baik secara teoritis maupan ilmiah. Islam selama ini tidak dianggap sebagai ajaran yang mengabaikan tujuan dasar untuk kemajuan rasional dan kemajuan sosial, kecuali disebabkan karena adanya pengaruh keagamaan yang keliru dan bentuk-bentuk penafsiran yang salah dari para ulama mutakhir.[8]

Penyelewengan ajaran Islam itulah yang selama ini menjadi penyebab utama adanya paradoks bagi makna dan hakikat Islam berupa tidak adanya mobilisasi Islam ke arah paradigma kebudayaan modern. Nilai-nilai etis secara final ditetapkan bagi segala urusan yang tidak memiliki relevansi kecuali hanya sebatas temporal-relatif; sementara kewajiban-kewajiban dicanangkan, dengan kebenaran syari’at (legitimasi agama) yang tidak bisa menerima perubahan dan pergantian. Inilah yang menyebabkan kejumudan kehidupan dalam Islam, dan kekhurafatan (mitos) menampakkan diri hadapan dunia nyata yang asing, yaitu bahwa klaim tentang kesempurnaan Islam barangkali menyerupai sebuah wilayah empat persegi (terbatas). Seandainya masalah-masalah yang memiliki nilai relatif-temporal di dalam Islam itu dipahami secara proporsional, artinya didasarkan pada nilai-nilai relatif-temporalnya – begitu juga segala sesuatu itu tidak harus selalu dikembalikan kepada akidah dan moralitas, tetapi kepada prinsip-prinsip dasar sosial, ekonomi dan konstitusional, sebagaimana ia dikembalikan kepada pengetahuan ilimiah – tentu umat Islam tidak akan menjadi batu sandungan bagi sistem sosial yang selalu menuntut adanya dinamisasi dan kesinambungan zaman yang selalu berubah, bukan sekedar menawarkan produk-produk pemikiran belaka.

Secara spesifik, menurut Ignaz Goldziher, Islam tidak bertolak belakang dengan kemajuan ilmu, karena jika bertolak belakang maka berarti Islam itu bertentangan dengan semangat pembawanya. Padahal Muhammad adalah nabi yang sangat menghargai pentingnya pola pemikiran dengan akal, sebagai karya manusia yang paling tinggi dan mulia.[9]

Ignaz Goldziher berpendapat bahwa zaman baru menuntut adanya sebuah sistem baru dan pembebasan dari sistem dan pola-pola pengajaran yang telah ditetapkan oleh generasi klasik. Tidak mungkin mempersiapkan generasi muda Islam kecuali dengan membimbing pola pikir mereka secara wajar, melalui gagasan-gagasan pemikiran setiap generasi sebagai sebuah kebutuhan (tuntutan) pada masanya dan sejalan dengan ukuran (standar) serta kaidah yang terus berkembang dan tidak statis. Agama Islam bukanlah remukan bangkai yang tidak memiliki ruh kehidupan lagi, tetapi Islam adalah penggerak sejarah dan pola kehidupan, yang spirit kehidupannya tidak boleh dibekukan dalm permasalahan-permasalahan para ulama klasik semenjak zaman dahulu kala.[10]
-Pandangan Para Ulama

Para ulama berbeda-beda dalam memetakan mazhab tafsir. Ada yang membagi perkembangan tafsir menjadi empat periode, yaitu pertama, periode Rasulullah SAW.; kedua, periode mutaqaddimin; ketiga, periode mutaakhirin; dan keempat, periode modern (al-‘Asri).

Ada juga yang membagi berdasarkan periodesasinya atau kronologis waktunya, sehingga menjadi mazhab tafsir periode klasik, pertengahan, modern atau kontemporer. Ada pula yang berdasarkan kecenderungannya, sehingga muncul mazhab teologi mufassiranya, sehingga muncul istilah tafsir Sunni, Mu’tazili, Syi’i, dan lain sebagainya. Ada pula yang melihat dari sisi perspektif atau pendekatan yang dipakainya, sehingga muncul istilah tafsir sufi, falsafi, fiqhi, ‘ilmi, adabi ijtimai’ dan lain sebagainya. Bahkan ada pula yang melihat dari perkembangan pemikiran manusia, sehingga mazhab tafsir itu dapat dipetakan menjadi mazhab tafsir yang periode mitologis, ideologis, dan ilmiah.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an melalui penafsiran-penafsirannya mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat. Sekaligus penafsiran-penafsiran tersebut dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.[11]

KESIMPULAN

Dalam disiplin keilmuan apapun, mulai dari ilmu Tafsir, Tasawuf, Filsafat, dan ilmu-ilmu umum lainnya, selalu ada yang namanya mazhab atau aliran. Munculnya Madzahib al-Tafsir atau aliran-aliran dalam penafsiran al-Qur’an sesunguhnya merupakan salah satu bentuk pluralitas dalam memahami al-Qur’an yang disebabkan oleh adanya dialektika antara teks yang terbatas dan konteks yang tak terbatas.

Mengkaji Madzahib al-Tafsir secara baik akan menjadikan kita lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan-perbedaan penafsiran yang ada, sehingga kita tidak perlu menganggap final suatu penafsiran, apalagi memutlakkan kebenaran dari hasil penafsiran seseorang, sebab yang mutlak dan absolut sesungguhnya hanya Allah. Apapun hasil penafsiran adalah relatif kebenarannya.

Ignaz Goldziher membagi fase sejarah dan perkembangan tafsir menjadi tiga periode. Dimana tiga fase ini merupakan kesimpulan dari karyanya yang berjudul Mazhab Tafsir yang diterjemahkan dari bukunya yang berbahasa Arab Madzahib al-Tafsir al-Islami, yaitu: Periode pertama, Tafsir pada masa perkembangan madzhab-madzhab yang terbatas pada tempat berpijak Tafsir bi al-Ma’tsur. Periode kedua, Tafsir pada masa perkembangannya menuju madzhab-madzhab ahli ra’yi yang meliputi aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, dan aliran politik keagamaan. Dan periode ketiga, Tafsir pada masa perkembangan kebudayaan/keilmuan Islam yang ditandai dengan timbulnya pemikiran baru dalam keislaman oleh Ahmad Khan, Jamalauddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qaththan, Syaikh Manna’, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006

Amal, Taufik Adnan, Tafsir Kontekstual al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1994

Baidan, Nasruddin, Metode Penafsiran al-Qur’an, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Goldziher, Ignaz, Mazhab Tafsir; Dari Aliran Klasik Hingga Modern, Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006

Kholid, Abd., Buku Panduan Mata Kuliah Madzahib al-Tafsir, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya

Suryadilaga, M. Alfatih, Metodologi Ilmu Tafsir, Jogjakarta: Teras, 2005

 


[1] Abd. Kholid, (Buku Panduan Mata Kuliah Madzahib al-Tafsir Fakultas Ushuluddin)

[2] Abd. Kholid, (Buku Panduan Mata Kuliah Madzahib al-Tafsir Fakultas Ushuluddin) hlm. 31-35

[3] Ignaz Golziher, Mazhab Tafsir, (Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006) hlm. 87

[4] Nasruddin Baidan, Metode Penafsiran al-Qur’an, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hlm. 42

[5] Ignaz Golziher, Mazhab Tafsir, (Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006) hlm. 129

[6] Syaikh Manna’ al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006) hlm. 440

[7] Taufik Adnan Amal, Tafsir Kontekstual al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994) hlm. 16

[8] Ignaz Golziher, Mazhab Tafsir, (Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006) hlm. 380

[9] Ibid, hlm. 381

[10] Ibid, hlm. 400

[11] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Ilmu Tafsir, (Jogjakarta: Teras, 2005) hlm. 108

MENGHINDARI SUBJEKTIFITAS AKAL DALAM MENAFSIRKAN AL-QURAN

1 Komentar

Untuk memahami kandungan dan maksud-maksud ayat al-Quran, diperlukan penafsiran oleh orang yang memenuhi kualifikasi. Meski kualifikasi itu tidak mutlak, namun para ulama tafsir menetapkan syarat-syarat yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat menafsirkan al-Quran. Perbedaan produk tafsir selain karena kompetensi, juga karena berbeda dalam menggunakan metode tafsir. Dalam menafsirkan suatu ayat, peran akal terbatas. Akal berfungsi mencari ayat lain atau hadits yang membicarakan suatu masalah. Berikut petikan wawancara Tim Reportase CMM bersama Dr. Isnawati Rais, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufasir dan masalah-masalah seputar penafsiran al-Quran:

Adakah syarat-syarat seseorang menjadi mufassir?
Pertama, kelayakan untuk menafsir yang meliputi: akidah yang kokoh, niat yang ikhlas, menguasai ilmu-ilmu Alquran, sunnnah Nabi, ilmu alat, seperti bahasa Arab dan ilmu yang terkait dengan ayat yang ditafsirkan, misalnya kalau menafsirkan ayat hukum harus ahli ilmu ushul fikih dan lain sebagainya. Kedua, prosedur penafsiran. Terlebih dahulu menafsirkan ayat dengan ayat dan menafsirkan ayat dengan hadits. Ketiga, larangan Nabi Muhammad menafsirkan ayat Alquran dengan akal. Nabi bersabda, man fassaral qur’an bi ra’yihi fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar; barang siapa yang menafsirkan Alquran dengan semata-mata dengan akal (logika), dia akan mengambil tempatnya di neraka.

Kenapa tidak boleh menafsirkan Alquran dengan akal atau logika?
Karena kebesaran Allah dan kemahatahuan Allah tidak akan bisa dijangkau oleh semata akal manusia yang terbatas. Allah berfirman, “kalian tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit” (QS al-Isra’ [17]: 85).

Lalu, apa peran akal dalam menafsirkan Alquran?
Akal berfungsi mencari ayat lain atau hadits yang lain yang membicarakan suatu masalah. Mencari ayat yang dijelaskan oleh ayat lain, didukung oleh sebuah hadits, atau dijelaskan oleh prinsip atau tujuan umum dari penetapan syariah. Tujuan penetapan hukum dalam Alquran biasanya disebut sebagai maqashidus syariah; tujuan dari penetapan hukum oleh Allah. Tujuan syariah adalah lil mashlahatil ‘ammah (untuk kebaikan umum) sesuai yang dikehendaki Allah. (maqashidus syariah meliputi lima hal, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, harta dan keturunan).

Ketika ada seseorang yang mempunyai kualifikasi untuk menafsirkan Alquran, kemudian ia menulis sebuah kitab tafsir, siapa yang berhak memeriksa dan menetapkan bahwa kitab tafsirnya layak untuk diedarkan?
Apabila telah memenuhi prosedur yang tadi saya sebutkan, tentu ahli-ahli lain akan memberikan komentar, masukan, dan kritikan untuk perbaikan, menyetujui, atau memberikan koreksi.

Apakah penetapan layak tidaknya sebuah penafsiran ditentukan oleh sebuah lembaga atau oleh pribadi-pribadi?
Bisa lembaga, seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia) kalau di Indonesia atau lembaga-lembaga keagamaan lainnya yang berkompeten. Bisa juga individu yang dianggap lebih tahu dan lebih ahli dalam bidang itu.

Ada sekelompok orang yang melegitimasi tindak kekerasan yang dilakukannya dengan ayat-ayat Alquran yang diberi nama ayat-ayat saif (pedang). Bagaimana menafsirkan ayat-ayat saif ini dalam zaman sekarang?
Kita harus sadar, bahwa jihad dalam arti sempit bermakna perang. Tapi jihad dalam arti luas adalah bersungguh-sungguh menegakkan agama Allah. Jadi, jihad tidak selalu bermakna perang. Jihad juga bisa menggunakan pemikiran, pendidikan, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Jihad tidak selalu bermakna memegang senjata.(CMM)

Syarat Syarat menafsirkan Al-Quran

1 Komentar

syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, antara lain:

1. Sehat Aqidah

Seorang yang beraqidah menyimpang dari aqidah yang benar tentu tidak dibenarkan untuk menjadi mufassir. Sebab ujung-ujungnya dia akan memperkosa ayat-ayat Al-Quran demi kepentingan penyelewengan aqidahnya.

Maka kitab-kitab yang diklaim sebagai tafsir sedangkan penulisnya dikenal sebagai orang yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah, tidak diakui sebagai kitab tafsir.

2. Terbebas dari Hawa Nafsu

Seorang mufassir diharamkan menggunakan hawa nafsu dan kepentingan pribadi, kelompok dan jamaah ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Juga tidak terdorong oleh ikatan nafsu, dendam, cemburu, trauma dan perasaan-perasaan yang membuatnya menjadi tidak objektif.

Dia harus betul-betul meninggalkan subjektifitas pribadi dan golongan serta memastikan objektifitas, profesionalisme dan kaidah yang baku dalam menafsirkan.

3. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran

Karena Al-Quran turun dari satu sumber, maka tiap ayat menjadi penjelas dari ayat lainnya, dan tidak saling bertentangan. Sebelum mencari penjelasan dari keterangan lain, maka yang pertama kali harus dirujuk dalam menafsirkan Al-Quran adalah ayat Al-Quran sendiri.

Seorang mufassir tidak boleh sembarangan membuat penjelasan apa pun dari ayat yang ditafsrikannya, kecuali setelah melakukan pengecekan kepada ayat lainnya.

Hal itu berarti juga bahwa seorang mufassir harus membaca, mengerti dan meneliti terlebih dahulu seluruhayat Al-Quran secara lengkap, baru kemudian boleh berkomentar atas suatu ayat. Sebab boleh jadi penjelasan atas suatu ayat sudah terdapat di ayat lain, tetapi dia belum membacanya.

4. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah

Berikutnya dia juga harus membaca semua hadits nabi secara lengkap, dengan memilah dan memmilih hanya pada hadits yang maqbul saja. Tidak perlu menggunakan hadits yang mardud seperti hadits palsu dan sejenisnya.

Tentang kekuatan dan kedudukanhadits nabi, pada hakikatnya berasal dari Allah juga. Jadi boleh dibilang bahwa hadits nabi sebenarnya merupakan wahyu yang turun dari langit. Sehingga kebenarannya juga mutlak dan qath”i sebagaimana ayat Al-Quran juga.

5. Merujuk kepada Perkataan Shahabat

Para shahabat nabi adalah orang yang meyaksikan langsung bagaimana tiap ayat turun ke bumi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi objek sasaran diturunkannnya ayat Al-Quran.

Maka boleh dibilang bahwa orang yang paling mengerti dan tahu tentang suatu ayat yang turun setelah Rasulullah SAW adalah para shahabat nabi SAW.

Maka tidak ada kamusnya bagi mufassir untuk meninggalkan komentar, perkataan, penjelasan dan penafsiran dari para shahabat Nabi SAW atas suatu ayat. Musaffri yang benar adalah yang tidak lepas rujukannya dari para shahabat Nabi SAW.

6. Merujuk kepada Perkataan Tabi”in

Para tabi”in adalah orang yang pernah bertemu dengan para shahabat Nabi SAW dalam keadaan muslim dan meninggal dalam keadaan muslim pula. Mereka adalah generasi langsung yang telah bertemu dengan generasi para shahabat.

Maka rujukan berikutnya buat para mufassir atas rahasia dan pengertian tiap ayat di Al-Quran adalah para tabi”in.

7. Menguasai Bahasa Arab, Ilmu dan Cabang-cabangnya

Karena Al-Quran diturunkan di negeri Arab dan merupakan dialog kepada kepada orang Arab, maka bahasanya adalah bahasa Arab. Walaupun isi dan esensinya tidak terbatas hanya untuk orang Arab tetapi untuk seluruh manusia.

Namun kedudukan Arab sebagai transformator dan komunikator antara Allah dan manusia, yaituAl-Quran menjadi mutlak dan absolut.Kearaban bukan hanya terbatas dari segi bahasa, tetapi juga semua elemen yang terkait dengan sebuah bahasa. Misalnya budaya, adat, ”urf, kebiasaan, logika, gaya, etika dan karakter.

Seorang mufassir bukan hanya wajib mengerti bahasa Arab, tetapi harus paham dan mengerti betul budaya Arab, idiom, pola pikir dan logika yang diberkembang di negeri Arab. Karena Al-Quran turun di tengah kebudayaan mereka. Pesan-pesan di dalam Al-Quran tidak akan bisa dipahami kecuali oleh bangsa Arab.

Tidak ada cerita seorang mufassir buta bahasa dan budaya Arab. Sebab bahasa terkait dengan budaya, budaya juga terkait dengan ”urf, etika, tata kehidupan dan seterusnya.

Dan kalau dibreak-down, bahasa Arab mengandung beberapa cabang ilmu seperti adab (sastra), ilmu bayan, ilmu balaghah, ilmul-”arudh, ilmu mantiq, dan lainnya. Semua itu menjadi syarat mutlak yang harus ada di kepala seorang mufassir.

8. Menguasai Cabang-cabang Ilmu yang Terkait dengan Ilmu Tafsir

Kita sering menyebutnya dengan ”Ulumul Quran. Di antara cabang-cabangnya antara lainilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh, ilmu tentang al-”aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan seterusnya.

Tidak pernah ada seorang mufassir yang kitab tafsirnya diakui oleh dunia Islam, kecuali mereka adalah pakar dalam semua ilmu tersebut.

9. Pemahaman yang Mendalam

Syarat terakhir seorang mufassir adalah dia harus merupakan orang yang paling paham dan mengerti tentang seluk belum agama Islam, yaitu hukum dan syariat Islam. Sehingga dia tidak tersesat ketika menafsirkan tiap ayat Al-Quran.

Dia juga harus merupakan seorang yang punya logika yang kuat, cerdas, berwawasan, punya pengalaman, serta berkapasitas seorang ilmuwan.

Demikian sekelumit syarat mendasar bagi seorang mufassir sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Manna” Al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits fi ”Ulumil Quran. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

Wallahu a”lam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Mengapa Harus Belajar Tafsir Al-Quran

2 Komentar

Jauhar Ridhoni Marzuki

Apabila keutamaan sebuah disiplin ilmu dilihat dari objek kajiannya, maka tafsir-lah yang menduduki tingkat pertama. Hal ini tak lain karena tafsir adalah ilmu yang mengungkap makna yang dikehendaki oleh Allah dalam setiap lafadz al-Quran untuk kemudian mengambil kesimpulan dan menetapkan sebuah hukum untuk setiap permasalahan kehidupan.

Al-Quran adalah kitab paling fenomenal yang ada di muka bumi ini. Ia adalah satu-satunya kitab yang tidak pernah lapuk dimakan zaman. Ia bukan hanya pedoman bagi umat Islam, tapi juga petunjuk dan peringatan bagi seluruh umat manusia, pemisah dari yang baik dan buruk, obat dari penyakit hati, serta penjelas dari segala sesatu. Bahkan kalau mau sedikit ekstrim, “kalam Allah” yang menjadi ‘prediketnya’ sudahlah cukup untuk menunjukkan keagungnan dan kemuliaanya.

Kemuliaan al-Qur’an inilah yang kemudian menebarkan keutamaan kepada setiap apapun yang bersandar (berpangkal) dan menuju (berujung) kepadanya. Jumhur ulama secara aklamasi mengamini pendapat ini. Imam al-Asbahani mengatakan bahwa pekerjaan paling mulia yang dikerjakan oleh manusia adalah tafsir al-Qur’an. Penjelasan kalimat ini menurut Imam As-Syuyuti adalah, bahwasanya al-Qur’an berhak menduduki peringkat utama dalam kemuliaan sebuah disiplin ilmu, dikarenakan tiga hal: pertama, dari segi objek kajiannya; kedua, dari segi tujuan pembahasannya; dan ketiga, dari urgensi dan besarnya kebutuhan akan mempelajarinya.

Dari segi objek kajiannya –seperti diterangkan di atas—tidak lain karena objek kajiannya adalah al-Qur’an yang merupakan sumber dari segala hikmah dan kebaikan. Dari segi tujuannya, ilmu tafsir adalah bertujuan untuk mengajak manusia supaya berpegang teguh pada tali agama Allah dan mencapai kebahagiaan hakiki yang abadi. Sedangkan dari segi besarnya kebutuhan untuk mempelajarinya adalah karena kesempurnaan duniawi dan ukhrowi membutuhkan ilmu syariat yang mengatur segala kehidupan manusia, dan ilmu itu tidak lain adalah bersumber pada pengetahuan tentang kitab Allah yaitu al-Qur’an. (‘Ushul at-Tafsir wa Qowaiduhu, Dar el-Nafais: Damaskus).

Yusuf al Qardhawi juga sependapat dengan ini. Dia beranggapan bahwa keutamaan ini bukan hanya dibandingkan dengan ilmu-ilmu syariah saja, tetapi meliputi seluruh disiplin ilmu yang ada, termasuk ilmu kedokteran yang saat ini dianggap sebagai disiplin ilmu yang paling pritise dan membanggakan.
Menurutnya, ilmu kedokteran memang sangat dibutuhkan oleh umat manusia, tapi itu hanya terbatas pada orang dan waktu tertentu, sedangkan kebutuhan manusia akan tafsir tidak mengenal batas orang dan waktu, karena ia adalah landasan bagi ilmu fiqh, sebuah ilmu yang mengatur setiap gerak kehidupan manusia, bukan hanya di dunia, tapi juga yang akan membawa mereka sampai ke akhirat sana.

Sungguh keutamaan ilmu tafsir tidak akan tertutupi bagi siapa saja yang mau mempergunakan akalnya. Tiga landasan di atas ditambah dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah adalah argument yang tidak bisa dipatahkan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Dan barang siapa yang diberikan (kepadanya) al-hikmah, maka ia telah diberikan kebaikan yang banyak.” Menurut Ibnu Abbaa arti ‘al-hikmah’ dalam ayat ini adalah pengetahuan tentang al-Qur’an; baik tentang nasikh-mansukh, muhkam-mutayabih, muqoddam-muakhkhor ataupun halal dan haram. Riwayat ini secara jelas menunjukkan bahwa ilmu tafsir sebanding dengan banyak kebaikan. Karena orang yang diberikan kemampuan oleh Allah dalam menafsirkan al-Qur’an, berarti ia telah diberikan kebaikan yang banyak.

Dalam riwayat lain, Rasulullah telah menganjurkan kepada setiap umatnya untuk mempelajari al-Qur’an. Beliau bersabda: “Al-Qur’an ini adalah jamuan Allah yang ada di bumi. Maka pelajarilah dari ‘jamuan’ itu semampu kalian.” Selain itu beliau juga menegaskan kemuliyaan orang yang mempelajari al-Qur’an ini. Bahkan mereka akan dijadikan sebagai ‘keluarga dan kerabat Allah’. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai ‘keluarga’ dari manusia.” Sahabat kemudian bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah para ahli al-Qur’an. Mereka itulah ‘keluarga Allah dan kerabat-Nya.” Menurut Syeikh Khalid Abdurrahman, para mufassir adalah yang paling berhak mendapatkan ‘title’ ini, karena merekalah orang yang paling tahu tentang al-Qur’an, dan mereka juga orang-orang yang salalu mencurahkan segenap waktu dan pikirannya untuk mengabdi pada al-Qur’an.

Namun yang dimaksud dengan tafsir di sini tentu bukanlah sembarang tafsir. Menafsirkan al-Qur’an tidaklah semudah menafsirkan buku-buku lainnya. Dalam menafsirkan al-Qur’an banyak kaidah dan syarat-syarat yang harus depenuhi oleh seorang mufassir. Hal ini dikerenakan al-Qur’an adalah rujukan abadi untuk umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Semua aktifitas kehidupan umat islam baik untuk yang menyangkut hal-hal duniawi maupun ukhrowi bersandar kepadanya. Penafsiran yang salah akan berakibat pada tindakan yang salah. Pemahaman yang salah inilah yang akan memberikan jariyatus suu’, sebuah amal kejelekan yang terus mengalirkan dosa pada pencetusnya. Rasulullah telah mengingatkan kita tentang bahaya ini dalam salah satu sabdanya: “Al-Qur’an adalah hujjah bagi kita atau atas kita.”

Kemunculan aliran-aliran yang menyimpang tidak lain adalah bersumber pada penafsiran yang salah terhadap al-Qur’an. Penafsiran inilah yang kemudian berimplikasi pada pemahaman, lalu menjadi keyakinan, dan pada akhirnya berujung pada amal perbuatan. Tentu sesuatu yang berawal dari kesalahan akan berujung pula pada kesalahan. Orang yang menafsirkan ‘shalat’ hanya sebatas pada arti generiknya yang bermakna ‘doa’, maka ia tidak akan repot-repot jungkir-balik rukuk dan sujud. Cukup dengan mengheningkan cipta sejenak sambil berdoa dia sudah menganggap dirinya telah mendirikan shalat. Orang yang menafsirkan ‘Islam’ hanya pada makna ‘kepasrahan’, maka ia tidak perlu berucap kalimat syahadat, tidak perlu shalat, zakat, puasa Ramadhan, juga haji. Cukup dengan memasrahkan jiwanya kepada Allah, dia mengangap telah menjadi seorang muslim.

Kesimpulan dari semua tulisan di atas, maka mempelajari ilmu tafsir adalah sebuah keharusan bagi umat Islam. Jumhur ulama secara ijma’ menghukuminya dengan fardlu kifayah, harus ada sebagian golongan yang mempelajarinya untuk menjatuhkan kewajiban bagi sebagian lainnya.

Saya sangat bersyukur karena di Al-Azhar sendiri jurusan Tafsir dan Ulum Qur’an adalah jurusan yang paling banyak digemari oleh para mahasiswa. Ini berarti masih banyak di antara kita yang peduli dengan masa depan umat. Pandangan negatif yang mengangap bahwa kebanyakan mahasiswa memilih tafsir hanya sebagai pelarian karena dianggap sebagai jurusan yang paling mudah harus jauh kita buang. Kalau menfasirkan ‘perkataan Tuhan’ dianggap mudah, maka hal apalagi yang layak dianggap susah?!.

Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq ( kru Qommunittradio Kairo )

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: