Ahmad Ubaidillah

Mahasiswa Magister Studi Islam UII Yogyakarta

PADA Minggu 5 Februari lalu seluruh umat Islam merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw. Peringatan Maulud Nabi merupakan warisan peradaban Islam turun-temurun.

Para pemimpin mulai presiden, menteri, DPR, gubernur, bupati, dan wali kota harus menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum penting meneladani sifat-sifat kepemimpinan beliau. Di tengah para pemimpin kita yang masih gemar melakukan tindakan yang melabarak etika dan moral seperti korupsi, suap, pencucian uang, dan sebagainya, Maulid Nabi akan menjadi momentum yang tepat.

Empat Kriteria

Dalam konteks sifat-sifat kepemimpinan Nabi, setidaknya ada empat kriteria pokok pada diri Rasullullah. Pertama, ash-shidiq, yakni kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap, serta berjuang melaksanakan tugasnya. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seorang pemimpin, terutama presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, harus bersikap benar dan sungguh-sunguh dalam ucapan dan tindakan.

Pernyataan harus sesuai dengan perbuatan. Misalnya, ketika presiden mengatakan akan berdiri paling depan dan memimpin sendiri pemberantasan korupsi, ia juga harus membuktikan dengan langkah konkret. Ia harus menyuruh secara serius dan tegas para penegak hukum sebagai bawahannya untuk memberantas korupsi dan mengadili para koruptor.

Kedua, al-amanah, atau kepercayaan yang menjadikan seorang pemimpin memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya, baik dari Tuhan maupun yang dipimpinnya, sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak. Artinya, kepercayaan yang diberikan rakyat kepada pemimpin harus benar-benar dijaga dan dipelihara. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan itu. Kedamaian rakyat harus tetap dijaga pemimpin. Kejahatan, misalnya, berupa pembunuhan atau pemerkosaan yang akhir-akhir semakin meresahkan harus menjadi perhatian serius seorang pemimpin.

Ketiga, al-fathonah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul mendadak sekalipun. Dalam konteks kekerasan yang terjadi di Indonesia belakangan ini, misalnya pembantaian di Papua, Mesuji, dan Bima, yang menelan korban jiwa dan melukai banyak orang, presiden sebagai pemimpin harus secara cerdas dan cepat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dan yang paling penting, ia harus menyusun strategi agar segala bentuk kekerasan tidak terulang lagi.

Keempat, al-tabliq, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab atau dengan kata lain “keterbukaan”. Ini mengandung arti apapun yang terjadi pada kondisi bangsa ini, baik menyangkut prestasi atau keumunduran (misalnya pertumbuhan ekonomi), harus disampaikan secara jujur dan terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia. Seorang pemimpin tidak harus menyembunyikan realitas, memutarbalikkan fakta, dan berbagai bentuk ketidakjujran lainnya yang menyebabkan kebingungan masyarakat luas.

Sebenarnya, kepemimpinan, apa pun bentuk atau nama dan cirinya serta ditinjau dari sudut pandang mana pun, tidak terlepas atau berdasarkan pada kebajikan dan kemaslahatan dan mengantarkan kepada kemajuan suatu bangsa.

Seorang pemimpin harus dapat menentukan arah, menyusun strategi, menciptakan peluang, menghadapi tantangan, dan melahirkan terobosan-terobosan besar melalui kreativitas dan inovasinya. Semua itu menuntut kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual.

Tidak Tegas

Maju-mundurnya suatu negara akan dipengaruhi apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya. Presiden adalah representasi negara. Sebesar apa pun negaranya, berapa pun jumlah rakyatnya, dan siapa pun yang bernaung di bawahnya, presidenlah yang memutuskan ke mana nasib bangsa ini akan dibawa dan bagaimana cara membawanya.

Pemimpin bangsa harus mengarahkan seluruh rakyatnya ke arah yang lebih baik. Inilah salah satu nilai terdalam dan terluhur yang berangsur mulai hilang dari pemimpin di negeri ini.

Sementara yang kita saksikan, sifat para pemimpin di negeri ini terkesan ragu-ragu, bimbang, tidak tegas, dan tidak berani mengambil keputusan yang menyangkut persoalan bangsa. Padahal, inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan dengan tegas dan berani.

Oleh karena itu, seorang pemimpin di negeri ini harus menyerap, menyelaraskan, dan mengaktualisasikan serta merealisasikan nilai-nilai kepemimpinan pada diri Rasulullah. Para pemimpin perlu mengambil keputusan kepemimpinan berdasarkan pada nilai-nilai tersebut. Hal ini juga penting untuk membangun kepercayaan (trust) serta komitmen. Karakter ini harus dapat ditemukan dalam sosok pemimpin/presiden sehingga rakyat tidak menjadi korban dan dikorbankan.

Sebenarnya, selain menerapkan nilai-nilai kepemimpinan Nabi tersebut, banyak cara yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin untuk membangun bangsa ini dan mendapat kepercayaan masyarakat.

Rakyat membutuhkan sosok pemimpin dengan sifat kepemimpinan Nabi. Tentu saja ini tidak bisa dicapai hanya dengan wacana dan retorika, tapi perlu niat, keseriusan, dan tindakan nyata. (*)

========

About these ads