Harian Singgalang : umat, 03 Desember 2010
NOVELIS MUSDA

Minangkabau dulunya merupakan gudang ulama. Ada dua golongan ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Pertama, ulama yang berafiliasi dengan tarekat, terutama aliran Syatariah dan Naqshbandiah-Khalidiah. Di antara ulama tarekat yang terkenal, Syekh Burhanuddin Ulakan, Tuanku Nan Tuo, Syekh Ismail Minangkabawi, Syekh Amrullah (kakek Hamka) dan Syekh Abdurrahman Batuhampar (kakek Muhammad Hatta).
Kedua, adalah bukan golongan ulama tarekat, seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabawy, Haji Rasul (Syekh Abdul Karim Amrullah), Syekh Jamil Jambek dan Hamka. Selain itu ada juga pemimpin Paderi yang bertitelkan ulama (Tuanku), tapi belum jelas apakah mem praktekkan tarekat atau tidak, seperti Tuanku nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Lintau.
Sekarang, Minangkabau mengalami kelangkaan ulama. Ada kecenderungan mulai sulitnya mendefinisikan apakah sebenarnya ulama dalam konteks kontemporer Minangkabau.
Apakah ulama seorang lulusan surau bertahun-tahun kemudian menyempurnakan ilmu agama ke Timur Tengah seperti dahulu? Atau apakah seorang ulama lulusan perguruan tinggi agama dan menyandang gelar profesor? Atau cukupkah seseorang itu disebut ulama jika fasih membaca kitab-kitab Arab dan sering memberikan pengajian serta telah mendirikan pesantren?
Ketidakseragaman versi ulama pada kita tidak dialami di Jawa yang mana seorang disebut ulama jika telah bergelar kiai dengan basis pesantren. Ketidakjelasan itu merupakan bukti kuat ada semacam krisis ulama di Sumatra Barat.
Setidaknya, ada empat sebab melunturnya keulamaan di Sumatra Barat, yang satu sama lainnya sebenarnya saling bertalian. Sebab pertama adalah pergeseran nilai dalam bentuk melunturnya nilai-nilai tradisional.
Nilai-nilai tradisional Minangkabau mendapat serangan signifikan dari dua sumber, yang pertama oleh kaum agama ultra ortodoks di zaman Paderi dan kedua adalah Eropa (Belanda).
Setelah mengalami dua serangan tersebut, pelan-pelan nilai-nilai tradisional, yang berciri mistis dan lokal, mulai tergerus di Minangkabau, untuk digantikan nilai-nilai yang lebih praktis dan global.
Karena seorang ulama dibesarkan masyarakat, kebesarannya akan sangat dipengaruhi nilai-nilai apa yang lebih kuat pada masyarakat tersebut.
Pada masyarakat tradisional, seorang ulama adalah sosok yang memiliki kualitas-kualitas pengetahuan, moral dan spiritual luar biasa dan akan diakui besar jika dia dapat membuktikannya dengan kesaktian dan keramat yang dia miliki baik sewaktu hidup maupun sesudah wafat.
Sang ulama akan menjadi teladan dan segala petunjuk serta nasehatnya akan diperhatikan. Apabila masyarakat itu mulai modern dan progresif seperti sekarang, orang-orang tak merasa ada yang salah jika cukup beramal dengan apa-apa yang diketahui dari buku-buku agama, atau dari ceramah-ceramah tanpa harus ada ikatan emosional dengan satu ulama lokal tertentu. Pergeseran peneladanan ini diperparah dengan meningkatnya gaya hidup materialis dan individualis serta serbuan budaya televisi.
Sebab kedua, langkanya penyegaran dan pembangkitan melalui sumber eksternal. Dahulu para pemuda berbakat Minangkabau, setelah mantap dengan ulama-ulama lokal, merantau menuntut ilmu agama sampai ke Timur Tengah, terutama Hijaz, dan berinteraksi dengan kaum muslimin dari berbagai bangsa di dunia.
Zaman sekarang jelas masih banyak pemuda Minangkabau yang merantau menuntut ilmu agama ke negara-negara Arab, tapi perbedaan yang nyata adalah dulu ulama-ulama kita menuntut ilmu bertahun-tahun dari satu ulama terkenal ke ulama yang lain. Sistem pengajaran dan apa yang diajarkan pun berbeda, belum lagi spirit belajarnya.
Sumber eksternal merupakan sumber terpenting berbagai gerakan pembaharuan keagamaan di Minangkabau, baik pada masa sebelum, selama dan sesudah Perang Paderi.
Disebabkan para penuntut ilmu ke negeri yang terbilang amat jauh tersebut menghormati ulama-ulama tempat mereka belajar, ada berkat dan kharisma yang tertularkan untuk dibawa pulang. Apabila ulama yang mereka jadikan guru berwatak pembaharu, maka para murid akan sangat bersemangat untuk membawanya ke kampung masing-masing.
Sebab ketiga kelangkaan ulama Minangkabau masa sekarang, adalah lenyapnya basis ulama Minangkabau, yakni surau. Surau zaman dulu jauh beda dengan surau zaman sekarang. Surau zaman sekarang hanyalah sekedar musala, kesuali surau tarekat.
Surau zaman dulu tak hanya tempat belajar ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu duniawi seperti adat dan silat. Ulama Minangkabau masa lalu semuanya berbasis surau, memiliki murid-murid, dicirikan dengan sistem pengajaran yang khas sesuai dengan aliran dan kompetensi sang ulama.
Dengan adanya surau, mereka jadi bagian organis dari masyarakat, sebab para penghulu menghormati ulama karena dia merupakan guru dan penasehat yang berpengaruh bagi seluruh kalangan masyarakat. Masyarakat itu pula yang membesarkannya dan sang ulama juga membalasnya dengan memberikan pengabdian sepenuh hati untuk kemaslahatan umat lahir dan batin.
Sebab keempat, perubahan paradigma pendidikan. Sejak sekolah (sekolah Barat) dalam arti kata yang kita kenal masuk di Minangkabau, pendidikan makin berorientasi duniawi.
Ilmu pengetahuan yang dipandang bergengsi adalah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Barat, terutama sains dan teknologi. Ilmu-ilmu Barat tersebut menurut sifatnya mendorong memajukan peradaban material dan sebenarnya taklah bertentangan dengan pesan agama.
Yang menjadi masalah, jika terjadi pembandingan yang tidak fair sehingga orang-orang yang berniat fokus menuntut ilmu agama dipandang lebih inferior.
Hal ini sejalan dengan yang terjadi di tengah masyarakat di mana profesi keagamaan dianggap kurang menjanjikan di masa depan.
Dilema terbesar yang dimiliki saat ini, yakni orang-orang Minangkabau baik yang di Sumatra Barat, apalagi yang di rantau mengeluh ulama besar Minangkabau yang sejati sudah langka, tapi secara nyata sedikit sekali atau tak ada yang dilakukan untuk mencari solusi. Yang ada hanyalah wacana tanpa serius memikirkan apa sebenarnya yang telah salah.
Keadaan-keadaan terkini membuktikan bahwa lahan subur yang akan menanam ulama-ulama besar sudah sulit didapatkan. Peranan signifikan yang dulu biasa disumbangkan oleh ulama-ulama di Minangkabau, seperti pembaharuan pemikiran dan teladan masyarakat, sekarang tidak dimainkan lagi. Yang terpenting masyarakat itu sendiri kurang siap menanam ulama besar.(*)