PENYATUAN HARI RAYA ISLAM DI INDONESIA

Tinggalkan komentar

KONSEPSI PENYATUAN KRITERIA HISAB – RUKYAT DI INDONESIA

Pengantar : Oleh Fachruddin.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama nampaknya juga mengikuti gaya gaya kepemimpinan SBY, yaitu pembiaran terhadap permasalahan yang dihadapi olehmasyarakat, barangkali juga menurut gaya SBY yang mengatakan tidak akan campur tangan terhadap penegakan hukum, maka Kementerian Agama juga nampaknya bersikap sama,  yaitu tidak akan mencampuri urusan internal agama agama yang ada.  Kalau memang demikian sikap Kementerian Agama, mengapa pula setiap tahun Kementerian Agama selalu memutuskan dan mengumumkan awal Romadhon, hari Idul Fitri, Idul Adha.  Gejala gejala tidak adanya upaya menyatukan hasil hisab dan rukyat ini ditandai dengan memuji muji sikap toleransi, artinya menerima perbedaan ini sebagai sesuatu yang baku.

Padehal generasi muda kita selalu bertanya tanya bagaimana mungkmin ada penanggalan hijriyah yang dua versi, dalam satu wilayah, dan pada saat yang sama pula. Lalu nantinya dalam dokumentasi penting, apakah akan ditulis dalam dua fersi itu.  Secara gampang gampangan Pemerintah dari dahulu hingga sekarang mengaksep yang satu dan menafikan yang lain. tetapi itu bukanlah menyelesaikan masalah namanya.  Demikian tidak berharganyakah arti penanggalan dimata para pejabat kita.

Kita menghawatirkan pada saatnya perbedaan ini akan berakibat buruk, terutama imej generasi muda terhadap agama Islam, yang berakibat kurang hormatnya generasi muda kepada Agama. Sudah demikian hargamatikah bagi NU dan Muhammadiyah sehingga harus mempertahankan pendapat masing masing. Dan bagi Pemerintah tidak usah lagi mengumumkan awal Romadhon serta hari Raya Islam selama menggunakan politik belah bambu dan tidak berupaya menyelesaikan masalah dengan mencari serta menawarkan berbagai opsi.

Disaat kita dikecewakan dengan sikap NU dan Muhammadiyah yang tidak menyejukkan hati ummat dengan membiarkan perbedaan ini, kita dikejutkan lagi dengan perbedaan dengan hasil  Rukyat para Ulama Arab Saudi, sehingga kita harus berpuasa pada hari hari tasyrik.  berikut ini adalah tul;isan lama dari  T.Djamaluddin dari Lapan. Saya membuka blog beliau, tetapi sayang nampaknya blog tersebut sudah berbulan bulan tidak pernah entri. selamat membaca.

Dasar Pemikiran.

1. Perbedaan penentuan hari-hari besar Islam, khususnya Idul Fitri dan Idul Adha, selalu menimbulkan kebingungan di masyarakat. Alhamdulillah, sikap saling menghargai antarsesama ummat Islam dapat terwujud sampai saat ini. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya terus berlangsung, kalau ada upaya untuk mendapatkan titik temu di antara metode yang berbeda-beda.

2. Pada Seminar Nasional Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, di Jakarta pada 20 – 22 Mei 2003 dan dihadiri oleh perwakilan Ormas-ormas Islam dan para pakar astronomi telah dicapai konvergensi pemikiran untuk mendapatkan titik temu. Kegiatan tersebut berlanjut dengan Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Peradilan Agama, Departemen Agama RI, di Bogor pada 26 – 28 Mei 2003 yang dihadiri oleh para ahli hisab rukyat dan pakar astronomi yang membahas aspek teknis hisab rukyat. Kemudian sosialisasi akan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai daerah dan berbagai Ormas Islam. Tindak lanjut terpenting adalah keluarnya fatwa MUI 2004 tentang wajibnya ummat Islam mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha serta merekomendasikan upaya penyatuan kriteria sebagai pedoman bagi semua pihak.

3. PBNU telah membuat “Pedoman Rukyat dan Hisab” (1994) yang merujuk pada berbagai hadits dan pendapat ulama yang intinya tetap akan menggunakan hasil rukyatul hilal atau istikmal dalam penentuan awal bulan qamariyah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Namun, hasil rukyat dapat ditolak bila tidak didukung oleh ilmu pengetahuan atau hisab yang akurat. Sampai saat ini batasan yang digunakan adalah ketinggian hilal minimum 2 derajat, bila kurang dari itu hasil rukyat dapat ditolak. Prinsip yang digunakan adalah wilayatul hukmi, yaitu ulil amri (pemerintah) dapat menetapkan rukyatul hilal di suatu tempat di Indonesia berlaku untuk seluruh wilayah. Itsbat (penetapan) awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah yang dilakukan oleh Pemerintah (Depag RI) dapat diikuti selama didasari oleh hasil rukyat.

4. PP Muhammadiyah menetapkan awal bulan qamariyah dengan hisab wujudul hilal melalui metode hisab yang akurat. Hilal dianggap wujud bila matahari terbenam lebih dahulu dari bulan. Walaupun hisab dan rukyat diakui memiliki kedudukan yang sama, metode hisab dipilih karena dianggap lebih mendekati kebenaran dan lebih praktis. Muhammadiyah sebenarnya pernah menggunakan metode hisab ijtima’ qablal ghurub (ijtima’ sebelum maghrib) dan hisab imkanurrukyat (hilal yang mungkin dilihat, tidak sekadar wujud) dalam memaknai “hilal”. Tetapi karena kriteria imkanurrukyat yang memberikan kepastian belum ditentukan dan kesepakatan yang ada sering tidak diikuti, maka Muhammadiyah kembali ke hisab Wujudul Hilal. Prinsip wilayatul hukmi juga digunakan, yaitu bila hilal di sebagian Indonesia telah wujud maka, seluruh Indonesia dianggap telah masuk bulan baru.

5. PP Persis berpandangan bahwa rukyatul hilal bisa bermakna rukyat dengan mata, dengan akal, atau dengan hati. Hisab pada hakikatnya adalah rukyat dengan akal atau dengan hati, karenanya hisab digunakan sebagai penentuan masuknya awal bulan dengan memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah yang disepakati oleh ahlinya. Tetapi, batasan hisabnya dalam memahami “hilal” berubah-ubah. Mula-mula menggunakan kriteria ijtima’ qablal ghurub, kemudian kriteria imkanurrukyat (tinggi minimum 2 derajat), dan saat ini menggunakan kriteria wujudul hilal di atas ufuk mar’i di seluruh Indonesia (tanpa prinsip wilayatul hukmi).

6. Pola pemikiran hisab dan rukyat telah sedemikian kokoh dengan dukungan dalil-dalil fikih yang memperkuatnya. Penganut metode rukyat sulit untuk menerima hisab sebagai penggantinya. Sebaliknya, penganut metode hisab juga sulit menerima rukyat sebagai penentu karena hisab dianggap telah mencukupi dan lebih praktis. Namun, kenyataan bahwa Muhammadiyah dan Persis berganti-ganti kriteria menunjukkan bahwa ijtihad terus berjalan untuk memaknai “hilal”. Sementara itu NU pun telah berijtihad dalam memaknai “hilal” yang sesungguhnya dengan mengizinkan hisab mengontrol hasil rukyat yang mungkin terkecoh oleh objek terang bukan hilal. Ini peluang titik temu antara metode hisab dan metode rukyat, yaitu mencari kriteria baru yang berlaku bagi hisab maupun rukyat dalam memaknai “hilal” yang sesuai dengan syariat dan prinsip-prinsip ilmiah astronomis. Tidak ada satu pun dalil dalam dalam Al Quran maupun Al Hadits yang secara tegas bisa diambil sebagai kriteria kuantitatif (tidak ada isyarat langsung seperti waktu-waktu shalat yang relatif mudah diinterpretasikan secara kuantitatif astronomis). Satu-satunya cara adalah menggunakan ijtihad ilmiah astronomis.

7. Secara astronomis pengertian rukyatulhilal bil fi’ili, bil ain, bil ‘ilmi, atau bi qalbi, sama saja, yaitu merujuk pada kriteria visibilitas hilal. Kriteria bersama antara hisab dan rukyat tersebut dapat ditentukan dari analisis semua data rukyatul hilal dan dikaji dengan data hisab. Dari analisis itu dapat diketahui syarat-syarat rukyatul hilal, berupa kriteria hisab-rukyat. Kriteria itu dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para perukyat bil fi’li/bil ‘ain (secara fisik dengan mata) untuk menolak kesaksian yang mungkin terkecoh oleh objek terang bukan hilal. Kriteria itu juga dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para ahli hisab yang melakukan rukyat bil ilmi/bi qalbi (dengan ilmu atau dengan hati) untuk menentukan masuknya awal bulan.

8. Secara astronomis, kriteria visibilitas hilal untuk hisab-rukyat telah banyak tersedia yang didasarkan pada data rukyatul hilal internasional. Namun, data rukyatul hilal Indonesia perlu juga dikaji secara astronomis dalam membuat “Kriteria Hisab Rukyat Indonesia”. Sebagai titik awal, kajian oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dapat dijadikan sebagai embrio kriteria tersebut. Para ahli hisab-rukyat dari semua Ormas Islam bersama para pakar astronomi dari Observatorium Bosscha/Departemen Astronomi ITB, Planetarium/Observatorium Jakarta, LAPAN, Bakosurtanal, dan lainnya secara bertahap dapat mengkaji ulang kriteria tersebut dengan bertambahnya data rukyatul hilal di Indonesia.

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia

Berdasarkan kajian astronomis yang dilakukan LAPAN terhadap data rukyatul hilal di Indonesia (1962 – 1997) yang didokumentasikan oleh Departemen Agama RI diperoleh dua kriteria yang rumusannya disederhanakan sesuai dengan praktek hisab-rukyat di Indonesia. Awal bulan ditandai dengan terpenuhi kedua-duanya, bila hanya salah satu maka dianggap belum masuk tanggal. Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Umur hilal minimum 8 jam
  2. Tinggi bulan minimum tergantung beda azimut bulan – matahari.
Beda Azimut Tinggi minimum (o)
0,0 8,3
0,5 7,4
1,0 6,6
1,5 5,8
2,0 5,2
2,5 4,6
3,0 4,0
3,5 3,6
4,0 3,2
4,5 2,9
5,0 2,6
5,5 2,4
6,0 2,3

Implementasi

1. Perlu diupayakan pertemuan besar ormas-ormas Islam, MUI, Badan Hisab Rukyat, dan pakar astronomi dari instansi terkait untuk merumuskan satu Kriteria Hisab Rukyat Indonesia. Kriteria Hisab Rukyat merupakan titik temu antara metode hisab dan metode rukyat yang selama ini dianggap berbeda sama sekali dan sulit dipersatukan. Sebagai produk kesepakatan Ormas-ormas Islam, MUI, dan Badan Hisab Rukyat, bersama para pakar astronomi yang difasilitasi oleh Departemen Agama RI, Kriteria Hisab Rukyat Indonesia menjadi kriteria baru menggantikan kriteria MABIMS yang telah ada. Pada tingkat Ormas Islam, kriteria ini akan menggantikan kriteria yang berlaku saat ini di masing-masing ormas, setelah disosialisasikan untuk difahami bersama. Untuk tingkat regional, kriteria ini dapat diusulkan sebagai kriteria MABIMS yang baru.

2. Bila ada data rukyatul hilal yang lebih rendah dari kriteria yang dilaporkan oleh tiga atau lebih lokasi pengamatan yang berbeda dan tidak ada objek terang (planet atau lainnya) sehingga meyakinkan sebagai hilal, maka rukyatul hilal tersebut dapat diterima dan sebagai data baru untuk penyempurnaan kriteria.

3. Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia merupakan kriteria dinamis yang masih harus disempurnakan berdasar data-data baru rukyat di Indonesia. Namun, untuk memberikan kepastian, kriteria ini diberlakukan dan bersifat mengikat untuk masa tertentu yang disepakati (misalnya setiap 5 tahun).

4. Dalam hal masih terjadi perbedaan karena masalah penafsiran fikih dalam beberapa kasus (misalnya, kasus penerapan istikmal pada saat mendung padahal posisi hilal telah memenuhi kriteria dan kasus penentuan Idul Adha yang berbeda hari dengan Arab Saudi) atau ditemukannya rukyatul hilal yang lebih rendah dari kriteria, prinsip Ukhuwah Islamiyah hendaknya dikedepankan dalam mengatasi masalah ijtihadiyah ini.

T. DJAMALUDDIN’S DOKUMENT

MENELUSURI KERAJAAN PURBA DI LAMPUNG

5 Komentar


DALAM CATATAN KRONIK-KRONIK CINA

oleh
IRFAN ANSHORY

SUATU HAL yang banyak membantu penyusunan dan penulisan sejarah Asia Tenggara adalah kebiasaan para musafir Cina di masa lampau untuk menuliskan kisah perjalanan mereka, serta kebiasaan istana Cina untuk mencatat berita kedatangan utusan-utusan dari negeri lain. Hubungan negeri Cina dengan negeri-negeri di Asia Tenggara telah terjalin sejak zaman purba. Para musafir Cina yang berziarah ke India dengan menggunakan jalan laut pasti melewati satu atau beberapa negeri di Asia Tenggara. Di lain pihak, kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara sering mengirimkan utusan-utusan ke negeri Cina sebagai tanda persahabatan atau meminta pengakuan dari kaisar Cina. Tidaklah aneh jika dalam kronik-kronik Cina banyak tercantum nama-nama negeri di Asia Tenggara.

Nama-nama tempat (toponimi) yang disebutkan itu tertulis dalam bahasa Cina yang berbeda dengan nama aslinya. Oleh karena itu nama-nama tersebut perlu diidentifikasi dengan cermat lalu dilokasikan di mana letaknya. Sudah pasti usaha ini tidaklah mudah. Identifikasi yang salah mengakibatkan penulisan sejarah yang keliru. Harus kita akui bahwa identifikasi yang pernah dilakukan para ilmuwan (ahli sejarah dan arkeologi) merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi penelitian sejarah. Namun tidaklah berarti bahwa pendapat-pendapat mereka mutlak dan final.

Di daerah Lampung dijumpai beberapa prasasti sebagai sumber-sumber sejarah yang sahih secara ilmiah: prasasti Palas Pasemah, prasasti Hujung Langit (Harakuning), prasasti Ulu Belu dan prasasti Batu Bedil. Sayangnya, prasasti-prasasti itu belum diteliti secara mendalam oleh para ilmuwan. Tetapi tidak dapat dipungkiri prasasti-prasasti itu membuktikan bahwa pada zaman purba pernah berdiri kerajaan di daerah Lampung, sebab dahulu hanya raja yang berhak membuat prasasti. Siapa tahu, kerajaan yang pernah ada di Lampung sebenarnya tercantum juga dalam kronik-kronik Cina.

KAN-TO-LI

Pada abad kelima dan keenam Masehi, di kawasan Asia Tenggara terdapat sebuah negeri atau kerajaan yang disebut oleh kronik Cina dengan nama Kan-to-li. Uraian tentang negeri ini terdapat dalam Sejarah Dinasti Liang (502-556), yang diterjemahkan Prof. W.P. Groeneveldt dalam bukunya, Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources, Bhratara, Djakarta, cetak ulang 1960 (edisi pertama 1876), hal. 60, sebagai berikut: “The country of Kan-to-li is situated on a great island in the southern sea. Its customs and manners are about the same as those of Cambodia and Siam. It produces flowered cloth, cotton and areca-nuts.” (Negeri Kan-to-li terletak di sebuah pulau besar di laut selatan. Adat-istiadatnya kira-kira sama dengan Kamboja dan Siam. Negeri ini menghasilkan pakaian yang berbunga, kapas dan pinang).

Dari kronik Cina yang lain diketahui bahwa negeri Kan-to-li mengirimkan utusan ke negeri Cina pada tahun-tahun 441, 455, 502, 518, 520, 560 dan 563. Hal ini tercantum dalam tulisan Prof. Wang Gungwu, “The Nanhai Trade: A study of the early history of Chinese trade in the South China Sea”, dalam majalah ilmiah Journal of Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, Volume 31 No.2, Singapore, 1958, hal. 120-122.

Prof. Oliver W. Wolters dari Universitas Cornell, dalam bukunya Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca, New York, 1967, hal. 160, mengatakan bahwa ada dua kerajaan di Asia Tenggara yang mengembangkan perdagangan dengan Cina pada abad kelima dan keenam, yaitu Kan-to-li di Sumatera dan Ho-lo-tan di Jawa.

Di manakah letak negeri Kan-to-li? Hampir semua ahli sejarah berpendapat bahwa Kan-to-li terletak di Sumatera. Tetapi di mana? Oliver Wolters (op.cit. hal.162) mengikuti pendapat Gabriel Ferrand bahwa Kan-to-li terletak di Singkil (Barus), pantai barat Aceh, berdasarkan keterangan musafir Arab, Ibnu Majid, tahun 1462 bahwa pelabuhan Singkil dahulu disebut “Kandari”. Prof. Slametmulyana dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hal. 18, berpendapat bahwa Kan-to-li transliterasi dari nama asli “Kuntali” (Kuntala), kemudian nama Kuntal mengalami metatesis menjadi Tungkal, nama daerah di Jambi.

Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa Kan-to-li mungkin transliterasi dari nama asli “Kenali” di daerah Lampung Barat. Ada semacam legenda dalam masyarakat Lampung bahwa nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Sekalaberak, dan sampai kini banyak pemuka adat Lampung yang bangga mengaku keturunan Sekalaberak. Meskipun informasi tentang Sekalaberak kebanyakan berupa legenda, besar kemungkinan di daerah Lampung Barat dahulu memang pernah ada Kerajaan Sekalaberak yang namanya tertinggal dalam cerita turun-temurun.

Bahwa di Lampung Barat pernah berdiri sebuah kerajaan, hal ini terbukti dengan ditemukannya prasasti Hujung Langit (Harakuning) bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997) di daerah Liwa dekat Gunung Pesagi, yang dibahas dalam buku Prof. Dr. Louis-Charles Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hal. 26-45. Nama raja yang mengeluarkan prasasti itu tercantum pada baris ke-7, menurut pembacaan Prof. Damais namanya Sri Haridewa. Inilah nama raja di daerah Lampung yang pertama kali ditemukan pada prasasti! Melihat lokasinya, barangkali prasasti tersebut ada hubungannya dengan Kerajaan Sekalaberak yang legendaris itu, dan mungkin kerajaan itu sudah ada sejak abad kelima dengan beribukota di Kenali, yang disebut Kan-to-li dalam kronik Cina.

TO-LANG-PO-HWANG

Dalam kronik Tai-ping-huan-yu-chi dari abad kelima Masehi, disebutkan nama-nama negeri di kawasan Nan-hai (“Laut Selatan”), antara lain dua buah negeri yang disebutkan berurutan: To-lang dan Po-hwang. Negeri To-lang hanya disebut satu kali, tetapi negeri Po-hwang cukup banyak disebut, sebab negeri ini mengirimkan utusan ke negeri Cina tahun 442, 449, 451, 459, 464 dan 466. Prof. Gabriel Ferrand, pada tulisannya dalam majalah ilmiah Journal Asiatique, Paris, 1918, hal. 477, berpendapat bahwa kedua nama itu mungkin hanya satu nama: To-lang-po-hwang, lalu negeri itu dilokasikan Ferrand di daerah Tulangbawang, Lampung.

Prof. Purbatjaraka, dalam bukunya Riwajat Indonesia I, Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, hal. 25, menyetujui kemungkinan adanya kerajaan Tulangbawang, meskipun diingatkannya bahwa anggapan itu semata-mata karena menyatukan dua toponimi dalam kronik Cina, serta belum ditemukannya data arkeologis yang membuktikan bahwa di daerah Tulangbawang pernah berdiri suatu kerajaan. Kita berharap semoga segera ditemukan data arkeologis dari kawasan Tulangbawang.

YEH-PO-TI

Negeri Yeh-po-ti hanya tercatat dalam uraian perjalanan pendeta Fa-Hsien pada tahun 414 yang berjudul Fo-kuo-chi (Catatan Negeri-negeri Buddha). Prof. Paul Wheatley, dalam bukunya The Golden Khersonese, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1961, hal.37-38, merangkum uraian tentang negeri Yeh-po-ti sebagai berikut: “Dalam perjalanan pulang dari India ke Cina kapal yang ditumpangi Fa-Hsien terserang badai sehingga terpaksa berlabuh di negeri Yeh-po-ti di kawasan laut selatan. Di Yeh-po-ti berkembang agama Hindu, sedangkan agama Buddha dalam kondisi yang tidak memuaskan. Sesudah tinggal di Yeh-po-ti selama lima bulan, Fa-Hsien berangkat ke Cina dengan menumpang kapal dagang yang lain. Berlayar ke arah timur laut, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.”

Identifikasi para ilmuwan tentang negeri Yeh-po-ti juga masih simpang siur. Pada tahun 1876 W.P. Groeneveldt (op.cit. hal 6-7) beranggapan nama Yeh-po-ti transliterasi dari nama Yawadwipa (Pulau Jawa). Pendapat ini diikuti oleh banyak ahli sejarah. Tetapi Prof. Paul Wheatley dan Prof. Oliver Wolters menyangsikan identifikasi ini, sebab nama “Jawa” biasa ditransliterasikan She-po dalam kronik-kronik Cina. Seandainya nama Yeh-po-ti menyatakan Jawa, tentu nama ini banyak dijumpai. Kenyataannya, nama Yeh-po-ti hanya ada dalam kisah pelayaran Fa-Hsien dan tidak pernah disebutkan dalam kronik-kronik Cina yang lain. Hal ini berarti bahwa negeri Yeh-po-ti jarang dikunjungi musafir atau kapal Cina.

Wheatley dan Wolters berpendapat bahwa Yeh-po-ti negeri kecil yang terletak di pantai timur Sumatera bagian selatan, tetapi mereka tidak berusaha mencari di mana lokasinya. Tidaklah tertutup kemungkinan, jangan-jangan nama Yeh-po-ti transliterasi dari nama “Seputih”, daerah pantai timur Lampung.

Data-data arkeologi membuktikan bahwa daerah Seputih pernah berkembang pada zaman purba. Di daerah Pugung Raharjo, daerah Seputih, telah ditemukan lingga dan arca Hindu yang besar. Demikian pula di Gunung Sugih, di tepi Way Seputih, ditemukan patung seorang dewi Hindu (Lihat: “Hasil Survey Kepurbakalaan di daerah Lampung”, Berita Penelitian Arkeologi, No.2, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1976). Hal ini membuktikan bahwa di daerah Seputih pernah berkembang agama Hindu. Lagi pula, arah pelayaran dari pantai timur Lampung menuju Kanton memang ke arah timur laut dan diperkirakan memakan waktu sebulan. Jadi, identifikasi Yeh-po-ti dengan Seputih, selain berdasarkan kemiripan bunyi, juga cocok sekali dengan uraian-uraian Fa-Hsien.

Negeri Yeh-po-ti (Seputih) tidak pernah disebutkan oleh kronik-kronik Cina yang lain, karena letaknya kurang strategis sehingga jarang dikunjungi musafir Cina. Fa-Hsien terpaksa singgah di Yeh-po-ti akibat kapalnya terserang badai. Kiranya kapal-kapal Cina tidak setiap saat berlabuh di Yeh-po-ti. Itulah sebabnya Fa-Hsien tertahan sampai lima bulan di sana dalam menunggu kapal yang akan ditumpanginya pulang ke Cina.

Pada akhir abad ketujuh, negeri Seputih ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang sekarang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Sriwijaya di Palas Pasemah yang terletak di sebelah selatan Way Seputih dekat Kalianda. Prasasti ini terdiri dari 13 baris, dan telah dibahas oleh Prof. Buchari dari Universitas Indonesia pada tulisannya, “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, dalam buku kumpulan makalah Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hal. 19-40.

Prasasti Palas Pasemah merupakan salah satu “prasasti persumpahan”, yaitu prasasti yang berisikan ancaman bagi mereka yang tidak mau berbakti kepada raja Sriwijaya. Sampai saat ini prasasti-prasasti persumpahan telah ditemukan di Telaga Batu (Palembang), Kota Kapur (Bangka), Karang Berahi (Jambi) dan Palas Pasemah (Lampung). Hanya satu yang bertarikh, yaitu prasasti Kota Kapur: tanggal 1 Waisaka 608 Saka (28 Februari 686). Tetapi karena isinya persis sama, para ahli sejarah sepakat bahwa prasasti-prasasti persumpahan itu dibuat pada masa yang sama.

Wallahu a`lam bish-shawab.***

QURBAN : PRASYARAT KESUKSESAN DAN KEMENAG

Tinggalkan komentar

 

KHUTBAH IDUL ADHA MASJID ISTIQOMAH BANDUNG
(
10 DZULHIJJAH 1428 H)
 

Drs. H. IRFAN ANSHORY

As-salaamu `alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

Al-hamdu li l-Laahi l-ladzii arsala rasuulahuu bi l-hudaa wa diini l-haqq, li yuzh-hirahuu `ala d-diini kullih, wakafaa bi l-Laahi syahiidaa.
Asyhadu an laa ilaaha illa l-Laah, wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan `abduhuu wa rasuuluh, al-ladzii laa nabiyya ba`dah.
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa muhammad, wa `alaa aalihii wa shahbihii wa man waalah.
`Ibaada l-Laah, ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun
.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.
Laa ilaaha illa l-Laahu wa l-Laahu Akbar.
Allaahu Akbar wa li l-Laahi l-hamd
.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Pada hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh penjuru bumi, yang jumlahnya 1,5 miliar jiwa dan merupakan seperlima penduduk dunia, tersebar dari Maroko sampai Merauke, kini sedang merayakan Idul Adha. Kita sambut hari raya yang mulia ini dengan takbir dan tahmid. Kita agungkan kebesaran Allah, dan kita syukuri nikmat Ilahi. Sejak tadi malam, kalimah takbir dan tahmid menggema memenuhi angkasa, menyentuh rasa, menggugah jiwa, dan membangkitkan semangat pada lubuk hati setiap insan yang beriman kepada Allah SWT. Allahu Akbar! Maha Besar Allah! Selain dari Dia, kecil semuanya! Pada pagi yang cerah ini, kaum Muslimin dan Muslimat berbondong-bondong memenuhi lapangan, berbaris dalam susunan saf yang teratur rapi, menyatakan ruku’ dan sujud kepada Ilahi.

Pada hari yang mulia ini, di tengah gurun pasir Arabia, di suatu lembah bernama Mina, kini tengah berkumpul jemaah haji dari berbagai bangsa dan negara, dalam rangka menunaikan rukun Islam yang kelima. Kemarin, tanggal 9 Dzulhijjah, mereka telah melaksanakan puncak acara ibadah haji, yaitu wuquf atau berjambore di Padang Arafah. Tahun 1428 H sekarang ini, sekitar tiga juta saudara-saudara kita berdatangan dari segenap penjuru bumi, menempuh perjalanan darat yang melelahkan, mengarungi samudera luas bergelombang besar, dan menembus lapisan atmosfer berawan tebal, berdatangan ke tanah suci memenuhi panggilan Ilahi. LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. Kulan ya Gusti, kulan. Inilah saya ya Allah, inilah saya, datang memenuhi panggilan-Mu.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Perintah mengerjakan haji tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 97 yang berbunyi: Wa li l-Laahi `alaa n-naasi hijju l-baiti man istathaa`a ilaihi sabiilaa. Wa man kafara fa inna l-Laaha ghaniyyun `ani l-`aalamiin (“Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam.”)

Panggilan Ilahi kepada manusia untuk berhaji sudah berlangsung ribuan tahun sebelumnya, sejak perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. sekitar 4000 tahun yang silam, sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-Hajj ayat 27 dan 28: Wa adzdzin fi n-naasi bi l-hajj. Ya’tuuka rijaalan wa `alaa kulli dhaamir. Ya’tiina min kulli fajjin `amiiq, li yasyhaduu manaafi`a lahum (“Panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki dan dengan berkendaraan. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.”)

Ibadah haji dipenuhi oleh manasik-manasik (tatacara dan upacara) yang jika disadari dan dihayati akan menimbulkan rasa kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT, serta rasa persatuan dan persaudaraan di kalangan sesama manusia. Para jemaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka`bah, meniru gerakan elektron-elektron yang bertawaf mengelilingi inti atom serta meniru gerakan planet-planet yang bertawaf mengelilingi matahari. Seluruh isi jagad raya, dari partikel-partikel penyusun materi sampai benda-benda langit, senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah yang mengatur mereka. Dengan melakukan ibadah tawaf yang melambangkan ketaatan alam semesta, diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi. Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 83: Afa ghaira diini l-Laahi yabghuun, wa lahuu aslama man fi s-samaawaati wa l-ardhi thau`an wa karhan wa ilaihi yurja`uun (“Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepadaNya telah tunduk-patuh segala yang di langit dan di bumi dengan rela atau terpaksa, dan kepadaNya mereka akan dikembalikan.”)

Dalam menunaikan ibadah haji, beraneka ragam umat manusia yang berbeda-beda warna kulit, bahasa dan adat-istiadat, semuanya memakai pakaian ihram yang sama, melakukan tatacara dan upacara yang sama. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat jelata kecuali ketaqwaan mereka. Para jemaah haji melakukan wuquf di Padang Arafah, melakukan upacara gladi resik Padang Mahsyar di hari akhirat nanti, sekaligus melakukan reuni di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (Jannatun `Adn). Itulah sebabnya tempat itu dinamai Padang Arafah, artinya “Padang Pengenalan”, agar manusia menghayati persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13: Yaa ayyuhaa n-naas, innaa khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa, wa ja`alnaakum syu`uuban wa qabaa’ila li ta`aarafuu. Inna akramakum `inda l-Laahi atqaakum. Inna l-Laaha `aliimun khabiir (“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.”)

Dengan penegasan Allah SWT ini maka segala bentuk diskriminasi tidak mendapat tempat dalam masyarakat Islam. Agama Islam menentang habis-habisan faham rasialisme dan chauvinisme. Para penganut faham rasialisme memiliki rasa keunggulan ras dengan merendahkan ras-ras lainnya. Inilah yang dipraktekkan oleh bangsa Yahudi dan kaum Nazi, atau yang diperbuat oleh orang Amerika terhadap Indian dan Negro, atau seperti pernah dilakukan orang kulit putih di Afrika Selatan dengan politik apartheidnya terhadap kulit berwarna. Yang identik dengan faham rasialisme adalah faham chauvinisme, yaitu faham kebangsaan yang sempit dan fanatik sehingga menganggap bangsanya lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain. Faham inilah yang melahirkan imperialisme dan kolonialisme, penjajahan bangsa atas bangsa, serta menyeret manusia ke dalam dua kali Perang Dunia.

Adapun ajaran Islam sejak semula meniadakan dinding rasial dan jenis manusia lalu mengembalikan manusia itu kepada asal yang satu. Semua manusia berhak untuk berhimpun di bawah perlindungan ajaran Islam tanpa memandang warna kulit dan asal-usul keturunan, bahkan juga tanpa memandang agama dan keyakinan. Islam tidak mengenal batas teritorial, sebab bumi seluruhnya kepunyaan Allah dan segala isinya disediakan Allah untuk manusia. Namun hal ini tidaklah berarti Islam menghapuskan idea nasionalisme. Menurut Surat Al-Hujurat ayat 13 tadi, adanya manusia berbangsa-bangsa adalah kehendak Allah. Dalam ajaran Islam faham nasionalisme dipelihara dengan makna yang baik, yaitu bersatu untuk mencapai tujuan bersama dari seluruh anggota bangsa itu, serta menjalin hubungan baik dan saling membantu dengan bangsa-bangsa lain.

Allahu Akbar, wa lillahil-hamd.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Pada hari raya Idul Adha yang bersejarah ini, kita juga mengenang Peristiwa Qurban yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim a.s. dan putra beliau, Nabi Isma`il a.s. Kita mengenang peristiwa itu sebagai lambang puncak ketaqwaan dan kesabaran.

Perintah Allah kepada hambaNya, Ibrahim, bukanlah perintah untuk menyembelih hewan sembelihan, melainkan perintah untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, yaitu pemuda Isma`il yang baru berusia 13 tahun dan sangat dikasihi oleh sang ayahanda. Di samping sebagai anak kesayangan, Isma`il merupakan anak satu-satunya bagi Ibrahim saat itu (sebab Ishaq belumlah lahir pada saat perintah Allah itu datang). Isma`il merupakan anak yang diperoleh Ibrahim pada hari tuanya, melalui doa demi doa yang dipanjatkan Ibrahim dalam jangka waktu yang lama, dengan maksud agar memperoleh keturunan yang akan melanjutkan penyebaran ajaran Allah. Isma`il, seorang anak yang dibesarkan dan dididik secara sempurna sehingga tumbuh menjadi pemuda yang hampir tiada cacat dari segala aspeknya, kini diperintahkan untuk disembelih oleh tangan ayahnya sendiri.

Sungguh suatu cobaan yang amat sangat berat bagi seorang ayah, kita dapat merasakan dan membayangkannya. Namun karena yang memerintahkan itu adalah Allah, maka perintah penyembelihan itu disanggupi Ibrahim tanpa ragu-ragu. Ketika perintah Allah itu disampaikan oleh Ibrahim kepada sang anak, dan ketika Isma`il ditanyai pendapatnya oleh sang ayah, maka Isma`il yang masih dalam usia remaja itu menjawab: Yaa abati ‘f`al maa tu’mar. Sa tajidunii insyaa’a l-Laahu mina sh-shaabiriin (“Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah. Insya Allah, ayah akan mendapatiku sebagai anak yang shabar.”) (As-Shaffat 102)

Maka Ibrahim membawa Isma`il ke daerah Mina, ke suatu bukit yang kini disebut Jabal Qurban. Tiga kali Iblis menggoda Ibrahim untuk membatalkan niatnya, dan tiga kali pula Ibrahim menolak rayuan Iblis dengan lontaran kerikil. Penolakan terhadap godaan syaithan ini diabadikan Allah berupa syari`at melontar tiga jumrah di Mina bagi para jemaah haji. Setelah Isma`il direbahkan pada batu landasan penyembelihan, dan pedang ayahnya telah siap hendak menyentuh lehernya, maka ketika itu Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana berfirman agar Ibrahim mengganti sembelihannya dengan seekor domba yang besar. Firman Allah SWT: Inna haadzaa la huwa l-balaa’u l-mubiin, wa fadainaahu bi dzibhin `azhiim (“Sesungguhnya ini benar-benar hanya ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor domba yang besar.”) (As-Shaffat 106 – 107)

Peristiwa Qurban ini melukiskan perpaduan keinginan yang teguh dari ayah dan anak, generasi pendahulu dan generasi penerus, yang sama-sama menempatkan pengabdian dan ketaatan kepada Allah di atas segala-galanya. Peristiwa Qurban ini menggambarkan sifat keteguhan iman, ketabahan hati serta kerelaan berkorban, yang dilandasi sikap menumpahkan kecintaan hanya kepada Allah semata-mata. Istilah ‘qurban’ berasal dari kata sifat qarib (dekat) dan kata kerja qaraba (mendekat). Pengertian ini erat hubungannya dengan proses taqarub, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Mendekat” artinya “memperkecil jarak”, dan hal ini akan terlaksana jika seseorang memiliki kecintaan apa yang akan dia dekati. Tanpa adanya rasa cinta, tidak mungkin kita tergerak untuk mendekati sesuatu. Oleh karena itu ibadah qurban merupakan manifestasi kecintaan yang luhur kepada Sang Maha Kekasih, yaitu Allah SWT.

Setelah melaksanakan shalat Idul Adha, kita diperintahkan Allah untuk menyembelih hewan qurban, kemudian sebagian dagingnya boleh kita ambil dan sebagian yang lebih banyak kita bagikan kepada kaum fakir miskin di sekitar kita. Menyembelih hewan qurban, di samping untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah, juga untuk menyatakan rasa syukur kita atas segala nikmat kurnia yang senantiasa dilimpahkan Allah kepada kita.

Sudah tentu Allah tidak akan menerima daging dan darah hewan yang kita sembelih, seperti tradisi sesajen dalam kebudayaan primitif, tetapi ketaqwaan yang mendorong kita berqurban itulah yang akan diterima oleh Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam Surat Al-Hajj ayat 37: Layyanaala l-Laaha luhuumuhaa wa laa dimaa’uhaa, walaakin yanaaluhu t-taqwaa minkum. Ka dzaalika sakhkharahaa lakum, li tukabbiru l-Laaha `alaa maa hadaakum, wa basysyiri l-muhsiniin (“Daging dan darah qurban itu takkan sampai kepada Allah, melainkan taqwa kalian yang sampai kepadaNya. Demikianlah Allah menyediakan daging qurban itu bagi kalian, agar kalian mengagungkan Allah atas segala petunjukNya kepada kalian, dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.”)

Semangat dan kerelaan berqurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma`il a.s. hendaklah menjiwai sikap hidup kita, sehingga kita dapat menunaikan perintah Allah untuk berjuang dijalanNya dengan amwal wa anfus (harta dan potensi diri). Marilah kita jadikan Idul Adha sekarang ini sebagai momen penggugah kesadaran kita untuk secara bersama-sama mencurahkan pikiran, tenaga dan dana untuk membantu saudara-saudara kita yang saat ini tengah dilanda berbagai kesulitan hidup, misalnya tertimpa bencana alam atau pun yang putra-putrinya tidak dapat bersekolah karena kekurangan biaya.

Mudah-mudahan rasa persaudaraan di antara seluruh anggota masyarakat senantiasa terealisasi dengan perbuatan nyata, sehingga kita menjadi pribadi-pribadi taqwa, yaitu orang-orang yang “memberikan apa yang dia miliki untuk mensucikan diri, meski tidak seorang pun menganugerahinya balas jasa, melainkan semata-mata mencari Wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan pasti dia akan memperoleh ridha” (Al-Lail 18–21).

Allahu Akbar wa Lillahil-hamd.
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Sudah lebih dari seperempat abad kita berada pada abad ke-15 Hijriyah, dan sudah tujuh tahun kita menginjak abad ke-21 Masehi. Dengan penuh optimisme kita kaum Muslimin mendambakan agar alaf (millennium) ketiga ini merupakan Zaman Kebangkitan Kembali Peradaban Islam. Kalau kita meninjau perjalanan sejarah, dari abad ke-7 sampai ke-15 Masehi (abad ke-1 sampai ke-9 Hijriyah) umat Islam memimpin peradaban dunia. Universitas-universitas Islam di Baghdad, Qahirah (Cairo) dan Qurthubah (Cordova) merupakan tempat menuntut ilmu pengetahuan mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru, termasuk dari Eropa yang waktu itu masih berada dalam kebodohan. Kekuasaan Islam di bidang politik membentang dari Spanyol sampai Xinjiang, serta umat Islam menguasai bidang ekonomi dan perdagangan dari Mediterrania sampai Nusantara.

Sejak abad ke-16 Masehi atau ke-10 Hijriyah, Dunia Islam perlahan-lahan meluncur ke lembah kemunduran. Sementara itu bangsa-bangsa Eropa yang tadinya belajar ilmu kepada umat Islam mengambil alih supremasi tersebut, sehingga akhirnya pada abad ke-19 Masehi atau ke-13 Hijriyah, sebagian besar Dunia Islam berada dalam penjajahan bangsa-bangsa Eropa.

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, Dunia Islam pada abad ke-20 Masehi atau ke-14 Hijriyah bangkit dari tidurnya yang nyenyak, bergolak memutuskan belenggu penjajahan. Jika pada hari ini kita membuka peta dunia, maka kita melihat suatu bagian wilayah bumi yang sangat strategis dan sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Dunia Islam, yaitu wilayah yang penduduknya mayoritas beragama Islam, meliputi 58 negara, hampir sepertiga dari total jumlah negara di dunia, membentang dari Maroko sampai Merauke, melintang dari Chechnia sampai Tanzania.

Sudah banyak diakui para ilmuwan dan cendekiawan di dunia ini bahwa peradaban Barat (Western civilization) sekarang sudah sampai kepada “jalan buntu”. Perkembangan ekonomi dan teknologi yang mengikis habis sumber daya alam dan mencemari lingkungan hidup serta tujuan hidup yang konsumtif dan materialistis, telah menyebabkan umat manusia rindu terhadap nilai-nilai keruhanian atau spiritual. Sejarawan terkenal Prof.Dr. Arnold Toynbee pernah mengemukakan bahwa Islam is the future wave of the world, and the Islamic revival is a historical necessity (“Islam merupakan gelombang dunia masa depan, dan kebangkitan kembali Islam adalah suatu keharusan sejarah”). Itulah sebabnya di berbagai belahan dunia yang sudah makmur dari segi kehidupan dunia, terutama di Eropa dan Amerika, makin banyak orang yang memeluk agama Islam. Majalah termasyhur di dunia, National Geographic, edisi Januari 2002 dalam artikel berjudul “The World of Islam”, mengomentari Islam sebagai the fastest growing and most misunderstood religion on earth, lalu mengemukakan data bahwa pemeluk Islam di Amerika Serikat kini sudah mencapai enam juta orang.

Memang kita umat Islam harus senantiasa optimistis dengan masa depan Islam yang gemilang, dengan berpedoman kepada wahyu Allah bahwa wa la l-aakhiratu khairun laka mina l-uulaa (“sungguh masa depan akan lebih baik bagimu daripada sekarang”)(Surat Ad-Dhuha) serta inna ma`a l-`usri yusraa (“sesungguhnya masa kesukaran akan diikuti masa kemudahan”)(Surat Al-Insyirah). Akan tetapi janganlah kita terbuai oleh mimpi-mimpi indah, sehingga kita melalaikan tugas kita untuk mencerdaskan dan memajukan umat. Kita jangan mengharapkan terjadinya mukjizat ke arah kemajuan Islam tanpa jihad (perjuangan) dan sa`i (usaha) yang bersungguh-sungguh dari umat Islam itu sendiri. Salah satu hikmah yang terkandung dalam ibadah sa`i yang dilakukan jemaah haji adalah bahwa ternyata Allah SWT baru menganugerahkan air zamzam setelah Siti Hajar melakukan sa`i (usaha) secara maksimal. Sungguh Maha Benar firman Allah dalam Surat An-Najm ayat 39 dan 40: Wa an laisa li l-insaani illaa maa sa`aa, wa anna sa`yahuu saufa yuraa (“Manusia tidak memperoleh apa-apa kecuali yang diusahakannya, dan apa yang diusahakannya itu akan dia lihat hasilnya.”)

Allahu Akbar wa lillahil-hamd.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Allah SWT telah menakdirkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang umat Islamnya paling banyak di muka bumi. Suatu hal yang sering dilupakan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah adalah kenyataan dan fakta-fakta tak terbantah bahwa agama Islam telah menanamkan benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya. Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.

Sebagai contoh, Fatahillah dari Pasai menjadi panglima balatentara Demak, lalu mendirikan kota Jakarta. Ki Geding Suro dari Demak mendirikan Kesultanan Palembang. Syaikh Yusuf dari Makassar menjadi mufti Kesultanan Banten. Beberapa sultan Aceh adalah orang suku Melayu dan Bugis, bahkan ada yang keturunan Arab! Masih banyak lagi contoh yang lain. Pada zaman pra-Islam hal ini belum pernah terjadi, sebab belum ada rasa persaudaraan antar suku. Itulah sebabnya mengapa di Bandung ada Jalan Diponegoro dan Jalan Sultan Agung, tapi tidak kita jumpai Jalan Gajah Mada!

Berabad-abad sebelum lahir faham nasionalisme, jiwa dan rasa satu bangsa pertama kali ditanamkan oleh Islam. Perhatikan saja nama ulama-ulama termasyhur kita zaman dahulu: Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (Pansur), Syaikh Abdussamad al-Jawi al-Falimbani (Palembang), Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Arsyad al-Jawi al-Banjari (Banjar), Syaikh Syamsuddin al-Jawi as-Sumbawi (Sumbawa), Syaikh Yusuf al-Jawi al-Maqashshari (Makassar), dan lain-lain. Semua mengaku Jawi (‘bangsa Jawa’), dari suku mana pun dia berasal. Berabad-abad sebelum istilah ‘Indonesia’ diciptakan oleh ahli geografi James Richardson Logan tahun 1850, nenek moyang kita menamakan diri ‘bangsa Jawa’, sebab orang Arab sejak zaman purba menyebut kepulauan kita Jaza’ir al-Jawa (Kepulauan Jawa). Sampai hari ini, jemaah haji kita masing sering dipanggil ‘Jawa’ oleh orang Arab. “Samathrah, Sundah, Sholibis, kulluh Jawi!” demikian kata seorang pedagang di Pasar Seng, Makkah. “Sumatera, Sunda, Sulawesi, semuanya Jawa!”

Sebelum Islam datang ke Indonesia, bahasa Melayu hanya dipakai di Sumatera dan Semenanjung Malaka. Bahasa Melayu baru tersebar di Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam. Para ulama, di samping memperkenalkan agama baru, juga memperkenalkan bahasa baru sebagai bahasa persatuan. Sebagai huruf persatuan digunakan Huruf Arab-Melayu, yang dilengkapi tanda-tanda bunyi yang tidak ada dalam huruf Arab aslinya. Huruf `ain diberi tiga titik menjadi nga; huruf nun diberi tiga titik menjadi nya; huruf jim diberi tiga titik menjadi ca; dan huruf kaf diberi satu titik menjadi ga. Alhasil, masyarakat dari Aceh sampai Ternate berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama.

Dari seluruh data dan fakta yang telah kita bahas, jelas sekali betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.

Ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surat Alu Imran ayat 102: “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian (wahai bangsa Indonesia) kepada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan selalu ingatlah nikmat Allah atas kamu sekalian, ketika dahulunya kamu bermusuhan (antara Majapahit-Jawa dan Pajajaran-Sunda yang bertetangga saja merasa berbeda bangsa), maka Dia mempersatukan di antara hati kamu sekalian (dengan datangnya Islam ke Nusantara), sehingga jadilah kamu dengan nikmat-Nya satu bangsa yang bersaudara.”

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Akhirnya, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah `Azza wa Jalla. Semoga Dia berkenan mengabulkan segala permohonan kita.

Allahumma Ya Rabbana, telah banyak Engkau berkahi kami dengan rahmat karunia-Mu, namun kami sering menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, sehingga kami malu berdoa kepada-Mu. Namun, kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampun Ya Allah, kecuali hanya kepada-Mu. Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap pada-Mu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunan-Mu meliputi segala sesuatu.

Karena itu Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlaq dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan di antara kami, angkatlah bangsa kami Ya Allah dari jurang kehinaan, berilah kami pemimpin yang mampu membimbing kami ke arah kebaikan, dan tunjukkan bagi kami jalan keselamatan dunia dan akhirat agar kami tidak tersesat. Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Kabulkanlah doa permohonan kami.

Allaahumma innaa nas’aluka l-`afwa wa l-`aafiyah, wa l-mu`aafaata d-daa’imah, fi d-diini wa d-dunyaa wa l-aakhirah, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.

Allaahumma innaa nas’aluka muujibaati rahmatik, wa `azaa’ima maghfiratik, wa s-salaamata min kulli itsm, wa l-ghaniimata min kulli birr, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.

Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan kaamilaa, wa yaqiinan shaadiqaa, wa `ilman naafi`aa, wa rizqan waasi`aa, wa qalban khaasyi`aa, wa lisaanan dzaakiraa, wa halaalan thayyibaa, wa taubatan nashuuhaa, wa taubatan qabla l-mauut, wa raahatan `inda l-mauut, wa maghfiratan wa rahmatan ba`da l-mauut, wa l-`afwa `inda l-hisaab, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.

Rabbanaa aatinaa fi d-dunyaa hasanah, wa fi l-aakhirati hasanah, wa qinaa `adzaaba n-naar,wa adkhilna l-jannata ma`a l-abraar, yaa `aziiz, yaa ghaffaar, yaa rabba l-`aalamiin.

Wa s-salaamu `alaikum wa rahmatu l-Laahi wa barakaatuh.

MENGENAL KALENDER HIJRIYAH

Tinggalkan komentar

DAN KALENDER KALENDER YANG BERHUBUNGAN


oleh
IRFAN ANSHORY

“Dia (Allah) yang menjadikan matahari memancarkan sinar dan bulan memantulkan cahaya, dan Dia menentukan tahap-tahap peredarannya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan hal itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang berpengetahuan” (Al-Qur’an, Surat Yunus ayat 5).

MESKIPUN negara kita memakai kalender Masehi sebagai almanak resmi, kalender Hijriyah tidaklah mungkin diabaikan, sebab mayoritas bangsa kita memeluk agama Islam yang menggunakan kalender Hijriyah untuk menentukan puasa Ramadhan dan Idul Fitri, ibadah haji dan Idul Adha, masa iddah istri yang ditinggal suami, perhitungan zakat tahunan, dan sebagainya. Kenyataannya, sampai awal abad ke-20 kalender Hijriyah masih dipakai oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Bahkan raja Karangasem Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada gubernur jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 Masehi). Kalender Masehi secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda.

Jenis-jenis Kalender

Ada tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia penghuni planet ini. Pertama, kalender solar (syamsiyah, berdasarkan matahari), yang waktu satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari: 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari. Kedua, kalender lunar (qamariyah, berdasarkan bulan), yang waktu satu tahunnya adalah dua belas kali bulan mengelilingi bumi: 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari = 1 bulan) dikalikan dua belas, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari. Ketiga, kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat dari kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi (bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.

Kalender Masehi, Iran dan Jepang merupakan kalender solar, sedangkan kalender Hijriyah dan Jawa merupakan kalender lunar. Adapun contoh kalender lunisolar adalah kalender Imlek, Saka, Buddha, dan Yahudi. Semua kalender tidak ada yang sempurna, sebab jumlah hari dalam setahun tidak bulat. Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun tertentu menurut perjanjian yang dibuat sehari lebih panjang (tahun kabisat atau leap year).

Pada kalender solar pergantian hari berlangsung tengah malam (midnight) dan awal setiap bulan (tanggal satu) tidak tergantung pada posisi bulan. Adapun pada kalender lunar dan lunisolar pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam (sunset) dan awal setiap bulan adalah saat konjungsi (Imlek, Saka, dan Buddha) atau saat munculnya hilal (Hijriyah, Jawa, dan Yahudi). Oleh karena awal bulan kalender Imlek dan Saka adalah akhir bulan kalender Hijriyah, tanggal kalender Imlek dan Saka umumnya sehari lebih dahulu (kadang-kadang dua hari, jika hilal ternyata masih di bawah ufuk) dari tanggal kalender Hijriyah.

Kalender Arab Pra-Islam

Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w., masyarakat Arab memakai kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Tahun baru (Ra’s as-Sanah = “Kepala Tahun”) berlangsung setelah berakhirnya musim panas sekitar September. Bulan pertama dinamai Muharram, sebab pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan. Pada bulan Oktober daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai Shafar (“kuning”). Bulan November dan Desember pada musim gugur (rabi`) berturut-turut dinamai Rabi`ul-Awwal dan Rabi`ul-Akhir. Januari dan Februari adalah musim dingin (jumad atau “beku”) sehingga dinamai Jumadil-Awwal dan Jumadil-Akhir. Kemudian salju mencair (Rajab) pada bulan Maret.

Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya`ban (syi`b = lembah), saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau menggembala ternak. Pada bulan Mei suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada bulan Juni. Itulah bulan-bulan Ramadhan (“pembakaran”) dan Syawwal (“peningkatan”). Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini dinamai Dzul-Qa`dah (qa`id = duduk). Akhirnya, Agustus dinamai Dzul-Hijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim a.s.

Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari, sehingga 354 hari setahun, 11 hari lebih cepat dari kalender solar yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi’ yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzul-Hijjah.

Ternyata tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat mengenai tahun mana saja yang mempunyai bulan nasi’. Masing-masing kabilah seenaknya menentukan bahwa tahun yang satu 13 bulan dan tahun yang lain cuma 12 bulan. Lebih celaka lagi jika suatu kaum memerangi kaum lainnya pada bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang) dengan alasan perang itu masih dalam bulan nasi’, belum masuk Muharram, menurut kalender mereka. Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak menimbulkan permusuhan di kalangan masyarakat Arab yang saat itu masih dalam suasana jahiliyah.

Pemurnian Kalender Lunar

Setelah masyarakat Arab memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad s.a.w., maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam memakai kalender lunar yang murni dengan menghilangkan bulan nasi’. Hal ini tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 36 dan 37:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketentuan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, empat daripadanya bulan-bulan haram (Dzul-Qa`dah, Dzul-Hijjah, Muharram, Rajab). Itulah keputusan yang lurus (sesuai peredaran benda langit). Maka janganlah kamu menganiaya dirimu (dengan berperang) pada bulan-bulan haram itu. Dan (jika bulan-bulan haram telah lewat) perangilah kaum musyrikin seutuhnya sebagaimana mereka memerangimu secara utuh pula. Ketahuilah bahwa Allah menyertai orang-orang yang bertaqwa.

Sesungguhnya bulan nasi’ (interkalasi) hanyalah tambahan bagi kekafiran. Orang-orang kafir tersesat oleh bulan nasi’ itu. Mereka menghalalkan tahun yang satu dan mengharamkan tahun yang lain untuk memanipulasi bilangan bulan yang diharamkan Allah, sehingga mereka menghalalkan (perang) yang diharamkan Allah. Dihiaskan kepada mereka keburukan perbuatan mereka. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Dengan turunnya wahyu Allah di atas, maka Nabi Muhammad s.a.w. mengeluarkan dekrit bahwa kalender Islam tidak lagi tergantung kepada perjalanan matahari. Hal ini lebih dipertegas dalam khutbah Nabi di Arafah tatkala beliau menunaikan haji. Meskipun nama-nama bulan dari Muharram sampai Dzul-Hijjah tetap digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut bergeser setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadhan (“pembakaran”) tidak selalu pada musim panas dan Jumadil-Awwal (“beku pertama”) tidak selalu pada musim dingin.

Mengapa harus kalender lunar murni? Hal ini disebabkan agama Islam bukanlah hanya untuk masyarakat Arab di Timur Tengah saja, melainkan untuk seluruh umat manusia di berbagai penjuru bumi yang letak geografis dan musimnya berbeda-beda. Sangatlah tidak adil jika misalnya Ramadhan (bulan menunaikan ibadah puasa) ditetapkan menurut sistem kalender solar atau lunisolar, sebab hal ini mengakibatkan masyarakat Islam di suatu kawasan berpuasa selalu di musim panas atau selalu di musim dingin. Sebaliknya, dengan memakai kalender lunar yang murni, masyarakat Kazakhstan atau umat Islam di London berpuasa 16 jam di musim panas, tetapi berbuka puasa pukul empat sore di musim dingin. Umat Islam yang menunaikan ibadah haji pada suatu saat merasakan teriknya matahari Arafah di musim panas, dan pada saat yang lain merasakan sejuknya udara Makkah di musim dingin.

Perhitungan Tahun Hijriyah

Pada masa Nabi Muhammad s.a.w. penyebutan tahun tidaklah memakai angka melainkan berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad s.a.w. lahir tanggal 12 Rabi`ul-Awwal Tahun Gajah (`Am al-Fil), sebab pada tahun tersebut pasukan bergajah raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka`bah. Nabi Muhammad s.a.w. mengalami Isra’ dan Mi`raj tanggal 27 Rajab Tahun Dukacita (`Am al-Huzn), sebab pada tahun itu Khadijah (istri Nabi) dan Abu Talib (paman Nabi) wafat. Kelahiran Nabi dan peristiwa Isra’-Mi`raj masing-masing bertepatan dengan tanggal 23 April 571 dan 27 Februari 621 Masehi.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. wafat tahun 632, kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia. Pada tahun 638, gubernur Iraq Abu Musa al-Asy`ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun.”

Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini. Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Abdurrahman ibn Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (`Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama (`Am al-Bi’tsah, 610 M). Tetapi akhirnya yang disepakati panitia adalah usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah (`Am al-Hijrah, 622 M).

Ali ibn Abi Talib mengemukakan tiga argumentasi. Pertama, dalam Al-Qur’an sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladziina haajaruu). Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.

Maka Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan hari Jum’at 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriyah. Dokumen tertulis bertarikh Hijriyah yang paling awal (mencantumkan Sanah 17 = Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar ibn Khattab kepada seluruh penduduk kota Aelia (Jerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam dari penjajahan Romawi.

Sistem Kalender Hijriyah

Dari Muharram sampai Dzulhijjah, setiap bulan 30 atau 29 hari sehingga 354 hari setahun. Dalam setiap siklus 30 tahun, 11 tahun adalah kabisat (Dzul-Hijjah dijadikan 30 hari), yaitu tahun-tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29. Awal bulan (tanggal satu) ditandai dengan munculnya hilal (sehari atau dua hari sesudah konjungsi), yang dapat ditentukan dengan metode hisab (perhitungan astronomis) atau metode ru’yah (menyaksikan hilal dengan mata).

Dalam tahun 2008 Masehi terdapat dua kali tahun baru Hijriyah. Pada 10 Januari 2008, kita memulai tahun baru 1 Muharram 1429 Hijriyah, tahun ke-19 dalam siklus 1411-1440. Sebelum tahun 2008 berakhir, umat Islam merayakan tahun baru lagi, sebab tanggal 1 Muharram 1430 Hijriyah jatuh pada 29 Desember 2008.

Oleh karena peredaran bulan adalah sesuatu yang eksak, maka awal puasa dan Idul-Fitri pada masa mendatang sudah dapat kita hitung secara ilmiah! Kita akan memulai ibadah puasa Ramadhan tanggal 1 September 2008 dan merayakan Idul-Fitri tanggal 1 Oktober 2008. Kemudian kita akan berpuasa Ramadhan lagi mulai 22 Agustus 2009, lalu berlebaran pada 20 September 2009. Selanjutnya kita bertemu Ramadhan lagi tanggal 11 Agustus 2010 dan Idul-Fitri akan jatuh pada 10 September 2010. Mudah-mudahan nanti tidak ada perbedaan antara hisab dan ru’yah!

Setiap 32 atau 33 tahun, dalam satu tahun Masehi terjadi dua kali Idul-Fitri (awal Januari dan akhir Desember) seperti pada tahun 2000 yang lalu. Para pegawai memperoleh THR dua kali, serta Idul-Fitri berdekatan dengan Tahun Baru Masehi. Fenomena ini pernah terjadi pada tahun 1870, 1903, 1935, 1968, dan akan berlangsung lagi tahun 2033, 2065, 2098, 2130, dan seterusnya.

Konversi Kalender Hijriyah ke Masehi

1 Muharram 100 H = 3 Agustus 718 M
1 Muharram 200 H = 11 Agustus 815 M
1 Muharram 300 H = 18 Agustus 912 M
1 Muharram 400 H = 25 Agustus 1009 M
1 Muharram 500 H = 2 September 1106 M
1 Muharram 600 H = 10 September 1203 M
1 Muharram 700 H = 17 September 1300 M
1 Muharram 800 H = 24 September 1397 M
1 Muharram 900 H = 2 Oktober 1494 M
1 Muharram 1000 H = 18 Oktober 1591 M
1 Muharram 1100 H = 26 Oktober 1688 M
1 Muharram 1200 H = 4 November 1785 M
1 Muharram 1300 H = 12 November 1882 M
1 Muharram 1400 H = 21 November 1979 M
1 Muharram 1500 H = 29 November 2076 M

Oleh karena 32 tahun Masehi = 33 tahun Hijriyah (97 tahun Masehi = 100 tahun Hijriyah), maka konversi tahun Hijriyah ke tahun Masehi atau sebaliknya dapat dilakukan dengan memakai rumus:

M = 32/33 H + 622

H = 33/32 ( M – 622 )

Kalender Hijriyah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi, sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin mengecil. Angka tahun Hijriyah pelan-pelan ‘mengejar’ angka tahun Masehi, dan menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriyah. Saat itu kita entah sudah berada di mana. “Perhatikanlah waktu! Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian…” demikian pesan suci Al-Qur’an.

Kalender Saka

Sebelum membahas kalender Hijriyah-Jawa, ada baiknya kita membahas dahulu kalender Saka yang dipakai nenek moyang kita sewaktu masih memeluk agama Hindu. Kalender Saka dimulai tahun 78 Masehi ketika kota Ujjayini (Malwa di India sekarang) direbut oleh kaum Saka (Scythia) di bawah pimpinan Maharaja Kaniska dari tangan kaum Satavahana.

Tahun baru terjadi pada saat Minasamkranti (matahari pada rasi Pisces) awal musim semi. Nama-nama bulan adalah Caitra, Waisaka, Jyestha, Asadha, Srawana, Bhadrawada, Aswina (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Phalguna. Kalender Saka merupakan kalender lunisolar. Agar sesuai kembali dengan matahari, bulan Asadha dan Srawana diulang secara bergiliran setiap tiga tahun dengan nama Dwitiya Asadha dan Dwitiya Srawana.

Awal setiap bulan adalah saat bulan mati (konjungsi), sehingga tanggal kalender Saka umumnya lebih dahulu sehari dari tanggal kalender Hijriyah yang diawali munculnya hilal. Setiap bulan dibagi menjadi dua bagian yaitu suklapaksa (paro terang, dari bulan mati sampai purnama) dan kresnapaksa (paro gelap, dari selepas purnama sampai menjelang bulan mati). Masing-masing bagian berjumlah 15 atau 14 hari (tithi). Jadi kalender Saka tidak mempunyai tanggal 16. Misalnya, tithi pancami suklapaksa adalah tanggal lima, sedangkan tithi pancami kresnapaksa adalah tanggal dua puluh.

Konsep sunya (kosong) dalam ajaran Hindu mendasari kalender Saka untuk menghitung tahun dari Nol. Tanggal 1 Caitra tahun Nol bertepatan dengan tanggal 14 Maret 78. Tahun baru 1 Caitra 1930 jatuh pada tanggal 7 Maret 2008. Di Indonesia kita mengenal tahun baru Saka sebagai Hari Raya Nyepi.

Di daratan Asia Tenggara, dari Myanmar sampai Vietnam, berlaku kalender Buddha yang menghitung tahun dari 544 SM, tahun Siddharta Gautama dilahirkan. Sistem kalendernya sama dengan kalender Saka. Tahun baru 2552 jatuh pada tanggal 7 Maret 2008. Tetapi tanggal yang dimuliakan umat Buddha bukanlah tahun baru, melainkan malam purnama bulan Waisaka, saat kelahiran dan pencerahan Sang Buddha. Itulah Hari Raya Waisak yang tahun ini jatuh pada tanggal 20 Mei 2008.

Kalender Hijriyah-Jawa

Kalender Saka dipakai di Jawa sampai awal abad ke-17. Kesultanan Demak, Banten, dan Mataram menggunakan kalender Saka dan kalender Hijriyah secara bersama-sama. Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka atau 1043 Hijriyah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender lunisolar Saka dari Pulau Jawa, lalu menciptakan Kalender Jawa yang mengikuti kalender lunar Hijriyah. Cuma bilangan tahun 1555 tetap dilanjutkan. Jadi 1 Muharram 1043 Hijriyah adalah 1 Muharam 1555 Jawa, yang jatuh pada hari Jum`at Legi (Sweet Friday) tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Angka tahun Jawa selalu berselisih 512 dari angka tahun Hijriyah. Keputusan Sultan Agung ini disetujui dan diikuti oleh Sultan Abul-Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651) dari Banten. Dengan demikian kalender Saka tamat riwayatnya di seluruh Jawa, dan digantikan oleh kalender Jawa yang sangat bercorak Islam dan sama sekali tidak lagi berbau Hindu atau budaya India.

Nama-nama bulan disesuaikan dengan lidah Jawa: Muharam, Sapar, Rabingulawal, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Saban, Ramelan, Sawal, Dulkangidah, Dulkijah. Muharram juga disebut bulan Sura sebab mengandung Hari Asyura 10 Muharram. Rabi`ul-Awwal dijuluki bulan Mulud, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Rabi`ul-Akhir adalah Bakdamulud atau Silihmulud, artinya “sesudah Mulud”. Sya`ban merupakan bulan Ruwah, saat mendoakan arwah keluarga yang telah wafat, dalam rangka menyambut bulan Pasa (puasa Ramadhan). Dzul-Qa`dah disebut Hapit atau Sela sebab terletak di antara dua hari raya. Dzul-Hijjah merupakan bulan Haji atau Besar (Rayagung), saat berlangsungnya ibadah haji dan Idul Adha.

Nama-nama hari dalam bahasa Sansekerta (Raditya, Soma, Anggara, Budha, Brehaspati, Sukra, Sanaiscara) yang berbau jahiliyah (penyembahan benda-benda langit) juga dihapuskan oleh Sultan Agung, lalu diganti dengan nama-nama hari dalam bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa: Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jumuwah, Saptu. Tetapi hari-hari pancawara (Pahing, Pon, Wage, Kaliwuan, Umanis atau Legi) tetap dilestarikan, sebab hal ini merupakan konsep asli masyarakat Jawa, bukan diambil dari kalender Saka atau budaya India.

Dalam setiap siklus satu windu (delapan tahun), tanggal 1 Muharam (Sura) berturut-turut jatuh pada hari ke-1, ke-5, ke-3, ke-7, ke-4, ke-2, ke-6 dan ke-3. Itulah sebabnya tahun-tahun Jawa dalam satu windu dinamai berdasarkan numerologi huruf Arab: Alif (1), Ha (5), Jim Awwal (3), Zai (7), Dal (4), Ba (2), Waw (6) dan Jim Akhir (3). Sudah tentu pengucapannya menurut lidah Jawa: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir. Tahun-tahun Ehe, Dal dan Jimakir ditetapkan sebagai kabisat. Jumlah hari dalam satu windu adalah (354 x 8) + 3 = 2835 hari, angka yang habis dibagi 35 (7 x 5). Itulah sebabnya setiap awal windu (1 Muharam tahun Alip) selalu jatuh pada hari dan pasaran yang sama.

Menarik untuk dicatat bahwa jika umat Islam di luar Jawa hanya mengenal Senin 12 Rabi`ul-Awwal sebagai hari dan tanggal kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. maka umat Islam di Jawa menyebutkan saat lahirnya Junjungan kita yang mulia itu secara lebih komplit: Senin Pon 12 Rabingulawal (Mulud) Tahun Dal.

Oleh karena kabisat Jawa tiga dari delapan tahun (3/8 = 45/120), sedangkan kabisat Hijriyah 11 dari 30 tahun (11/30 = 44/120), maka dalam setiap 15 windu (120 tahun), yang disebut satu kurup, kalender Jawa harus hilang satu hari, agar kembali sesuai dengan kalender Hijriyah. Sebagai contoh, kurup pertama berlangsung dari Jum`at Legi 1 Muharam tahun Alip 1555 sampai Kamis Kliwon 30 Dulkijah tahun Jimakir 1674. Di sini 30 Dulkijah dihilangkan. Dengan demikian Rabu Wage 29 Dulkijah tahun Jimakir 1674 akhir kurup pertama langsung diikuti oleh awal kurup kedua Kamis Kliwon 1 Muharam tahun Alip 1675. Jadi, awal windu (1 Muharam tahun Alip) bergeser dari Jum`at Legi menjadi Kamis Kliwon. Setelah 120 tahun berikutnya, awal windu harus bergeser lagi menjadi Rabu Wage, kemudian pada gilirannya menjadi Selasa Pon, dan seterusnya.

Setiap kurup (periode 120 tahun) dinamai menurut hari pertamanya. Periode 1555-1674 (1633-1749 Masehi) disebut kurup jamngiah (Awahgi = tahun Alip mulai Jumuwah Legi), kemudian periode 1675-1794 (1749-1866 Masehi) disebut kurup kamsiah (Amiswon = Alip-Kemis-Kliwon), dan periode 1795-1914 (1866-1982 Masehi) disebut kurup arbangiah (Aboge = Alip-Rebo-Wage).

Sejak tanggal 1 Muharam tahun Alip 1915 (1 Muharram 1403 Hijriyah) yang bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1982, kita berada dalam kurup salasiah (Asopon = Alip-Seloso-Pon), yaitu periode 1915-2034 Jawa (1982-2099 Masehi), di mana setiap tanggal 1 Muharam tahun Alip pasti jatuh pada hari Selasa Pon.

1 Muharam Alip 1939 (1427 H) = Selasa Pon 31 Januari 2006
1 Muharam Ehe 1940 (1428 H) = Sabtu Pahing 20 Januari 2007
1 Muharam Jimawal 1941(1429 H)=Kamis Pahing 10 Januari 2008
1 Muharam Je 1942 (1430 H) = Senin Legi 29 Desember 2008
1 Muharam Dal 1943 (1431 H) = Jumat Kliwon 18 Desember 2009
1 Muharam Be 1944 (1432 H) = Rabu Kliwon 8 Desember 2010
1 Muharam Wawu 1945 (1433 H) = Ahad Wage 27 November 2011
1 Muharam Jimakir 1946(1434 H)=Kamis Pon 15 November 2012

1 Muharam Alip 1947 (1435 H) = Selasa Pon 5 November 2013
1 Muharam Ehe 1948 (1436 H) = Sabtu Pahing 25 Oktober 2014
1 Muharam Jimawal 1949(1437 H)=KamisPahing 15 Oktober 2015
1 Muharam Je 1950 (1438 H) = Senin Legi 3 Oktober 2016
1 Muharam Dal 1951 (1439 H) = Jumat Kliwon 22 September 2017
1 Muharam Be 1952 (1440 H) = Rabu Kliwon 12 September 2018
1 Muharam Wawu 1953 (1441 H) = Ahad Wage 1 September 2019
1 Muharam Jimakir 1954 (1442 H) = Kamis Pon 20 Agustus 2020

1 Muharam Alip 1955 (1443 H) = Selasa Pon 10 Agustus 2021
1 Muharam Ehe 1956 (1444 H) = Sabtu Pahing 30 Juli 2022
1 Muharam Jimawal 1957(1445 H)=Kamis Pahing 20 Juli 2023
1 Muharam Je 1958 (1446 H) = Senin Legi 8 Juli 2024
1 Muharam Dal 1959 (1447 H) = Jumat Kliwon 27 Juni 2025
1 Muharam Be 1960 (1448 H) = Rabu Kliwon 17 Juni 2026
1 Muharam Wawu 1961 (1449 H) = Ahad Wage 6 Juni 2027
1 Muharam Jimakir 1962 (1450 H) = Kamis Pon 25 Mei 2028

Kalender Pranata Mangsa

Di samping kalender Jawa yang identik dengan kalender Hijriyah, masyarakat Jawa mengenal juga kalender solar Pranata Mangsa (“Pengaturan Bulan”) yang diciptakan Sunan Paku Buwana VII (1830-1858) dari Surakarta tahun 1855. Kalender Pranata Mangsa berawal tanggal 22 Juni dan disusun berdasarkan musim yang berlaku di Pulau Jawa! Itulah sebabnya jumlah hari dalam setiap bulan sangat bervariasi: Kasa (41 hari, dari 22 Juni), Karo atau Kalih (23 hari, dari 2 Agustus), Katelu atau Katiga (24 hari, dari 25 Agustus), Kapat (25 hari, dari 18 September), Kalima (27 hari, dari 13 Oktober), Kanem (43 hari, dari 9 November), Kapitu (43 hari, dari 22 Desember), Kawalu (26 atau 27 hari, dari 3 Februari), Kasanga (25 hari, dari 1 Maret), Kadasa atau Kasapuluh (24 hari, dari 26 Maret), Desta atau Hapit Lemah (23 hari, dari 19 April), serta Sada atau Hapit Kayu (41 hari, dari 12 Mei). Kalender Pranata Mangsa digunakan para petani hanya untuk menentukan musim tanam dan musim panen, dan jarang digunakan untuk menghitung waktu sehari-hari.

Kalender Sunda

Seorang budayawan Sunda, Ali Sastramidjaja (Abah Ali), pada awal tahun 2005 memperkenalkan Kala Sunda, kalender lunar Sunda yang memulai perhitungan sejak tahun 122 Masehi. Sistem perhitungan Kala Sunda persis sama seperti Hijriyah-Jawa. Dalam sewindu ada tiga tahun kabisat, sehingga jika misalnya awal windu (indung poé) Ahad Manis, maka awal windu selanjutnya Ahad Manis juga. Setiap 120 tahun satu hari dihilangkan, sehingga indung poé bergeser dari Ahad Manis menjadi Sabtu Kliwon, kemudian pada gilirannya menjadi Jumat Wage, dan seterusnya.

Nama-nama bulan (Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, Asuji), nama-nama hari (Radite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek), serta pembagian bulan menjadi suklapaksa dan kresnapaksa sehingga tidak ada tanggal 16, semuanya itu diambil dari kalender Saka, kecuali nama hari Tumpek (Sabtu) yang asli Sunda. Tetapi berbeda dengan kalender Saka, Kala Sunda menetapkan tanggal satu saat bulan berwujud setengah lingkaran. Istilah Sansekerta suklapaksa (paroterang), yang pada kalender Saka berarti “separo bulan (half-month) sampai purnama”, pada Kala Sunda mempunyai arti lain yaitu “bulan terlihat separo (half-moon)”. Perbedaan lain: Kartika, bulan ke-8 kalender Saka, menjadi bulan pertama dalam Kala Sunda.

Hari-hari pasaran (pancawara) dalam Kala Sunda berselisih dua hari dengan kalender Jawa, misalnya Manis (Legi) dalam kalender Jawa menjadi Pon dalam Kala Sunda. Jika dalam kalender Jawa tahun dalam sewindu ditandai menurut numerologi huruf Arab (Alif-Ba-Jim-Dal-Ha-Waw-Zai), dalam Kala Sunda ditandai dengan nama hewan: Kebo (1), Keuyeup (2), Hurang (3), Embé (4), Monyét (5), Cacing (6), dan Kalabang (7).

Sekarang merupakan tunggul taun ke-17, periode 1921-2040 Kala Sunda (1985-2102 Masehi), di mana indung poé (1 Suklapaksa bulan Kartika Tahun Kebo) selalu jatuh pada hari Tumpek (Sabtu) Kaliwon. Kini kita berada dalam Tahun Hurang 1944 yang dimulai pada tanggal 17 Desember 2007.

Tahun baru (pabaru) Kala Sunda untuk satu windu mendatang adalah sebagai berikut:
1945 Kebo = Sabtu 6 Desember 2008
1946 Monyét = Rabu 25 November 2009
1947 Hurang = Senin 15 November 2010
1948 Kalabang = Jumat 4 November 2011
1949 Embé = Selasa 23 Oktober 2012
1950 Keuyeup = Ahad 13 Oktober 2013
1951 Cacing = Kamis 2 Oktober 2014
1952 Hurang = Senin 21 September 2015

Kalender Hijriyah Solar

Ditinjau dari hubungan terhadap kalender Hijriyah, kalender Jawa berkebalikan dengan kalender Iran (Persia). Jika di Jawa kalender mengikuti Hijriyah tetapi angka tahun tidak berubah, maka di Iran kalender tidak berubah tetapi angka tahun dihitung dari hijrah Nabi. Jadi kalender Iran adalah kalender Hijriyah Solar (kalender Hijriyah dengan perhitungan matahari). Selain berlaku di Iran, kalender ini juga dipakai di Afghanistan dan Tajikistan sebagai sesama rumpun bangsa Persia.

Kalender Iran diciptakan Raja Cyrus tahun 530 SM, dan dibuat lebih akurat pada awal abad ke-12 oleh ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan, Umar Khayyam (1048-1122). Tahun baru (Nawruz) selalu jatuh pada awal musim semi. Nama-nama bulan adalah Farwardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad, Shahriwar, Mehr, Aban, Azar, Dey, Bahman, Esfand. Enam bulan pertama 31 hari dan lima bulan berikutnya 30 hari. Bulan terakhir, Esfand, 29 hari (tahun biasa) atau 30 hari (tahun kabisat yang empat tahun sekali).

Dibandingkan dengan kalender solar yang lain, kalender Iran paling cocok dengan musim. Tanggal 1 Farwardin selalu 21 Maret (awal musim semi), tanggal 1 Tir selalu 22 Juni (awal musim panas), tanggal 1 Mehr selalu 23 September (awal musim gugur), dan tanggal 1 Dey selalu 22 Desember (awal musim dingin).

Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, tahun hijrah Nabi (622 M) dijadikan Tahun Satu, tetapi kalender tetap berdasarkan matahari. Tahun baru 1 Farwardin 1387 Hijriyah Solar jatuh pada 21 Maret 2008.

Khatimah

Marilah kita umat Islam membiasakan diri untuk menggunakan tarikh Hijriyah (di samping tarikh Masehi) dalam catatan harian, surat-surat, hari lahir anggota keluarga, dan sebagainya. Banyak di antara kita yang mungkin belum tahu bahwa proklamasi kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia berlangsung pada hari Jum`at Legi tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah atau 9 Ramelan (Pasa) Ehe 1876, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Masehi.***

SHOLAT IED, ARAB SAUDI LEBIH DAHLU DARI INDONESIA, MUNGKINKAH.

Tinggalkan komentar

 

Perbedaan hari pelaksaanaan  Sholat Iedul Adha  antara Arab Saudi – Indonesia  ( Selasa – Rabu) tidak urung membuat pertanyaan besar orang awam. Mengapa ini bias terjadi. Sebenarnya masarakat sudah mulai muak melihat perbedaan hari raya atau puasa antar NU dan Muhammadiyah. Keduanya dianggap memiliki ego masing masing sementara ummat  yang sebagain besar adalah di luar komunitas keduanya menjadi terumbang ambing. Kini justeru perbedaan itu bukan hanya dengan Muhammadiyah tetapi juga dengan Arab Saudi. Bagaimana memamahaminya. Ini tulisan lama yang ditulis oleh T.Djamaluddin darai Lapan, semoga bermanfaat.

Dahulu tahun 1997, Arab Saudi mengumumkan hari wukuf jatuh pada 16 April 1997. Dengan demikian Idul Adha di sana jatuh pada 17 April 1997 (Republika, 10/4). Sedangkan Departemen Agama RI, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura mengumumkan Idul Adha jatuh pada 18 April (Republika, 12/4).

Perbedaan serupa pernah terjadi tahun 1411 H/1991. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991.

Banyak orang bingung waktu itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara Asia bagian timur. Ada juga yang mengecam perbedaan itu seolah-olah tidak berdasar. Bahkan ada tokoh yang mempertanyakan perbedaan itu, mengapa Indonesia yang letaknya lebih ke timur ketimbang Arab Saudi beridul adha belakangan. Ada yang bertanya-tanya mengapa perbedaan waktu yang hanya empat jam antara Arab Saudi dan Indonesia bisa menyebabkan perbedaan hari raya.

Ada dua aspek yang terkait dengan perbedaan itu yang perlu dijelaskan: aspek astronomis penentuan awal bulan Dzulhijjah dan aspek syariah yang berkaitan dengan puasa hari Arafah. Aspek kedua yang mungkin paling merisaukan banyak orang. Bila kita di Indonesia berpuasa hari Arafah 9 Dzulhijjah pada 17 April sementara kita mendengar hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha, mungkin ada bimbang. Berpuasa pada hari raya adalah haram. Lalu haramkah berpuasa pada 17 April itu?

Sebenarnya keduanya bukan masalah bila kita mengetahui duduk soalnya.

Garis Tanggal

Terjadinya perbedaan hari Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi beralasan secara astronomis. Perhitungan astronomi menyatakan ijtimak awal Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan demikian di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia.

Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Walaupun secara astronomis itu masih di bawah kriteria visibilitas hilal, tetapi itu menunjukkan bahwa bulan sudah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Sehingga 1 Dzulhijjah di Arab Saudi jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997.

Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 dan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 dan matahari terbenam pukul 17:52. Di kawasan Indonesia tengah dan timur perbedaan waktu terbenam bulan dan matahari lebih besar lagi. Secara umum di seluruh Indonesia bulan sudah berada di bawah ufuk pada saat maghrib. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.

Untuk melihat kondisi yang lebih global, sebab perbedaan itu bisa kita lihat pada garis tanggal awal Dzulhijjah. Garis tanggal itu menyatakan daerah yang saat terbenam matahari dan bulan bersamaan. Di sebelah barat garis itu pada tanggal 7 April bulan sudah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Sedangkan di sebelah timurnya bulan sudah berada di bawah ufuk pada saat maghrib. Garis tanggal itu melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal itu memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia.

Bila kita gambarkan peta berdasarkan garis tanggal qamariyah (lunar date line) kita akan jelas melihat bahwa perbedaan hari Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi hanya semu belaka (lihat gambar). Perbedaan itu hanya disebabkan oleh definisi tanggal syamsiah (solar calendar) yang dipisahkan oleh garis tanggal internasional yang melalui lautan pasifik.

Karena adanya garis tanggal internasional, wilayah di sebelah timur garis itu tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Idul Adha 10 Dzulhijjah di wilayah Asia Timur jatuh pada 18 April sedangkan di Amerika, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah jatuh pada 17 April.

Pengaruh definisi garis tanggal internasional yang menyebabkan kejadian yang sama dinyatakan dengan tanggal yang berbeda sebenarnya bukan hal yang aneh. Contoh lain yang terkenal adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Sedangkan di Amerika Serikat menyebutnya penyerahan itu terjadi pada 14 Agustus 1945. Ini analog dengan perbedaan Idul Adha tersebut.

Jadi, “perbedaan” hari Idul Adha itu sebenarnya tidak berbeda secara hakiki bila dilihat menurut kalender qamariyah dengan garis tanggal qamariyah juga. Merancukan waktu ibadah yang dinyatakan menurut kalender qamariyah dengan tanggal menurut kalender syamsiah bisa menyebabkan timbul kesan seolah-olah ada perbedaan.

Menyamakan dengan Saudi?

Menghadapi kasus “perbedaan” seperti itu sering timbul pertanyaan mengapa tidak diseragamkan saja hari raya itu. Orang yang berpendapat seperti itu menghendaki bila di Arab Saudi Idul Adha tanggal 17 April mengapa di Indonesia dan belahan dunia lainnya tidak mengikutinya saja. Dengan kata lain, waktu Mekkah dijadikan sebagai acuan.

Alasannya sederhana atau disederhanakan. Bukankah Mekah tempatnya Ka’bah, kiblatnya umat Islam sedunia. Sudah sewajarnya penentuan waktu ibadah pun (seperti hari raya) mengiblat juga ke Mekah. Di sisi lain, perbedaan waktu antara Arab Saudi dan Indonesia bagian barat hanya empat jam, semestinya hari rayanya pun bisa dilaksanakan pada hari yang sama.

Sepintas pendapat itu tampak benar dan sederhana. Tetapi bila dikaji lebih mendalam hal itu tidak mempunyai landasan syar’i dan landasan ilmiahnya. Pendapat seperti itu muncul karena menghendaki keseragaman menurut tanggal syamsiah, tetapi mengabaikan tanggal qamariyah. Padahal waktu ibadah dalam Islam ditentukan menurut kalender qamariyah. Menyeragamkan Idul Adha, dalam kasus tahun ini, menjadi tanggal 17 April berarti memaksakan pelaksanaannya di Indonesia menjadi tanggal 9 Dzulhijjah, bukan 10 Dzulhijjah seperti disyariatkan.

Bagaimana dengan puasa hari Arafah? Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah r.a., puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya.

Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena itulah hari pelaksanaan wukuf di Arafah.

Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih mendalam sebenarnya pendapat itu pun keliru. Bila alasannya hanya karena beda waktu yang pendek (hanya empat jam antara waktu Arab Saudi dan WIB) untuk menyamakan harinya, hal itu pun rancu.

Apakah definisi “sama” harinya? Pengertian “sama” sangat relatif. Secara astronomi bisa berarti mengalami waktu siang secara bersamaan, dengan kata lain bila beda waktunya kurang dari 12 jam. Bila itu diterapkan dalam kasus di Hawaii yang beda waktunya dengan dengan Arab Saudi (dihitung ke arah timur) hanya 11 jam, definisi “sama” harinya malah berbeda tanggal. Tanggal 16 April di Arab Saudi berarti tanggal 15 April di Hawaii.

Lagi pula, pola pikir untuk menyamakan puasa hari Arafah di Indonesia sama dengan hari wukuf 16 April hanya terjadi bila kita tunduk pada sistem kalender syamsiah dan mengabaikan sistem kalender qamariyah yang disyariatkan.

Pada tanggal 16 April di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijjah, jadi bukan waktunya untuk melaksanakan puasa hari Arafah. Kalau begitu, waktu yang tepat untuk melaksanakan puasa hari Arafah di Indonesia adalah 17 April agar tidak melanggar syariat. Dan secara ilmiah hal itu pun beralasan.

Hal itu dapat dijelaskan dengan meruntut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Di Hawaii, puasa Arafah juga masih 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13 jam setelah Arab Saudi.

Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 7 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah yang dilakukan pada 17 April 1997 berarti tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi.

MENGAPA HARI RAYA IDUL ADHA ADA DUA ?

6 Komentar

 

Tahun ini untuk sekian kalinya terjadi lagi perbedaan penetapan hari raya khususnya hari raya Idul adha. Sebenarnya ada apa sebenarnya sehingga perayaan Idul Adha ada dua versi?Perbedaan jatuhnya hari raya Islam itu terkait dengan penggunaan kalender bulan atau kelender matahari. Peneliti senior astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan sistem kalender yang mapan memiliki tiga syarat yaitu otoritas yang menentukan, batas wilayah dan kriteria.Seperti kalender matahari, ketiga syarat tersebut dapat dipenuhi. Pertama, otoritas yang menentukan adalah Paus Gregorius XII. Wilayah yang dicakupi adalah seluruh dunia dengan batas yang disepakati berpatokan lautan pasifik. Sedangkan kriterianya berdasarkan tahun kabisat.
Sebaliknya, menurut Thomas kalender bulan memiliki beberapa kelemahan. Di antaranya otoritas belum ada, meskipun secara nasional dipegang oleh Kementerian Agama. “Mereka bisa dianggap penentu kalender komariah khusus di Indonesia karena secara internasional yang disepakati bersama belum ada. Keberlakuan juga belum ada, karena garis tanggal kalender komariah selalu bergeser. Kemudian, terkait kriteria, baik nasional maupun internasional belum disepakati,” kata Thomas. Ketiadaan kesepakatan dan kriteria ini akar dari penyamaan persepsi penentuan tanggal atau perayaan Islam di seluruh dunia. Dalam menentukan penanggalan terdapat dua cara, yaitu metode hisab (penghitungan) dan rukyat (pengamatan) dengan melihat hilal (bulan sabit baru).
Secara astronomi hisab dan rukyat mudah disatukan dengan menggunakan kriteria visibilitas hilal (ketampakan bulan sabit pertama) atau imkanur rukyat (kemungkinan bisa dilihat). Kriteria itu didasarkan pada hasil rukyat jangka panjang yang dihitung secara hisab, sehingga dua pendapat hisab dan rukyat itu dapat terakomodasi. Kriteria itu digunakan untuk menghindari rukyat yang meragukan, dan untuk penentuan awal bulan berdasarkan hisab.
Thomas menjelaskan Muhammadiyah menggunakan kriteria wujud hilal, di mana hilal dilihat apakah muncul di atas ufuk atau belum. Hal itu berdasarkan prinsip wilayatul hukmi, atau wujud di sebagian wilayah diberlakukan untuk seluruh wilayah hukum di seluruh Indonesia.
Meskipun menggunakan prinsip pembacaan hilal yang sama, Persatuan Islam (Persis) menggunakan kriteria wujud hilal berbeda. Sedangkan di kalangan penganut rukyat, Nahdlatul Ulama (NU) misalnya menggunakan prinsip ketinggian hilal minimal dua derajat.
Untuk Idul Adha tahun ini kembali terjadi keraguan karena Arab Saudi telah melakukan wukuf di hari Senin (15/11). Ini berarti di Indonesia, Idul Adha harusnya bertepatan dengan Selasa (16/11).

“Sebenarnya, rukyat di Arab Saudi sendiri cukup kontroversial,” ujar Thomas. Bulan masih terlalu rendah untuk dirukyat. “Apa betul yang dilihat itu hilal atau objek lain? Tapi, secara hukum, pandangan ini sah menjadi dasar pengambilan keputusan.”
Hisab dan rukyat dipakai mestinya tidak dipertentangkan jika kriterianya sama, tegas Thomas. Artinya, walau menggunakan hisab atau penghitungan astronomi, tetapi tetap menggunakan penghitungan yang bisa dirukyat atau kriteria visibilitas bilal.
Akar masalah berupa ketiadaan kesepakatan kriteria juga diakui oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Dr H Rohadi Abd Fatah.

“Perbedaan itu hanya penentuan masuknya bulan. Kalau soal kriteria, sebenarnya memang belum disepakati apakah satu, dua, empat atau enam derajat,” ujar Rohadi. Kementerian Agama telah menyepakati aturan 2 derajat. Saat Sidang Isbat awal November lalu, Rohadi mengaku belum melihat jarak bulan dengan matahari sebesar minimum dua derajat. “Saat 33 provinsi melihat posisi bulan, belum ada,” kata Rohadi. “Boro-boro dua, satu derajat saja belum,” katanya.

Ia menambahkan berdasarkan pertemuan Majelis Ulama se-Asia Tenggara, disepakati bahwa 10 Zulhijah bertepatan pada 17 November. Mereka menggunakan teknologi dan ilmu falak. Rohadi mengatakan bahwa batasan spesifik sulit diberikan. Menurutnya, beberapa organisasi masyarakat masih tetap berpegang teguh dengan rumusan masing-masing. “Belum ada kesepakatan dari ormas. Ketika dirapatkan, sama-sama memperkuat pendapat masing-masing,” ujar Rohadi menyayangkan.
Meskipun begitu, Rohadi mengembalikan kepercayaan soal ini ke masyarakat sendiri. Pemerintah Indonesia sendiri dengan tegas mengatakan 10 Zulhijah bertepatan pada 17 November

Sumber : Blog populer.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: